Banyak orang mengatakan bahwa proses berdamai dengan kenyataan pahit adalah proses yang sangat sulit. Terlebih jika kenangan pahit berasal dari kenangan yang awalnya begitu manis. Perihal asmara misalnya, bermula dari rasa suka, dijalani dengan rasa cinta hingga berakhir dengan rasa sakit. Banyak orang yang menyerah dan putus asa karenanya.

Lebay? Tentu saja tidak. Karena bagi sebagian orang, dapat keluar dari sebuah kenangan pahit adalah suatu hal yang nyatanya jauh lebih rumit. Di katakan sudah move-on tapi secara tidak sadar akan kembali teringat juga.

Menurut Kumar, ruminasi adalah pola berpikir mengenai suatu hal secara berulang-ulang, terlalu mengkhawatirkan masa lalu dan masa depan, atau terus terjaga sepanjang malam memikirkan hal yang sama.

Ruminasi dan kekhawatiran memiliki kesamaan, yaitu bersifat negatif, terdapat pola pikir yang sama secara terus-menerus, dan tidak dapat dikontrol. Selain itu terdapat perbedaan antara kekhawatiran dengan ruminasi. Perbedaannya terletak pada objek yang dipikirkan. Ruminasi berfokus kepada suatu peristiwa di masa lalu, suatu hal yang akan menimbulkan pertanyaan “kenapa” dan “mengapa” pada individu yang mengalaminya, dan biasanya diiringi dengan gangguan mental seperti depresi. Sementara kekhawatiran lebih berfokus pada masa depan dan mempertanyakan hal yang belum pasti terjadi.

Nah, ruminasi ini juga termasuk ke dalam overthingking. Kenapa? Hal ini dikarenakan orang yang overthinking akan selalu merasakan adanya beban hidup yang tak kunjung selesai sehingga akan sampai pada suatu titik mempertanyakan kualitas hidup yang telah dijalankan selama ini.

Ruminasi ini memiliki proses. Proses ini terdapat tiga tahapan, yaitu:

  1. Dapat menyebabkan seseorang terus-menerus memikirkan masa lalu yang menyakitkan dan tertekan.
  2. Ruminasi menghalangi seseorang untuk memecahkan masalah secara efektif.
  3. Ruminasi nantinya akan menghancurkan perilaku seseorang dan menempatkannya pada keadaan depresi. (Dewajani, 2020).

Ruminasi juga memiliki beberapa efek, seperti yang dituliskan Nolen Hoeksema et al. (2008), yaitu:

  • Mempertahankan dan memperburuk depresi dengan meningkatkan pemikiran negatif
  • Mengganggu pemecahan masalah, mengganggu perilaku instrumental
  • Mengikis dukungan sosial. Nolen Hoeksema (2000) menyatakan rumination dapat memprediksi gangguan depresi dan simtom kecemasan (anxiety).

Ruminasi ini bisa disebabkan oleh kejadian yang membuat stress. Selain itu, pikiran yang berulang-ulang, depresif, dan perasaan negatif yang muncul juga bisa menjadi penyebab munculnya ruminasi. Ada beberapa alasan mengapa sejumlah orang terjebak dalam perenungan yang berlebihan. Menurut American Psychological Association, sederet hal berikut ini bisa menjadi latar belakangnya:

  1. Individu meyakini bahwa dengan merenungkan suatu masalah, ia akan mendapatkan suatu insight atau wawasan tentang hidup atau isu tersebut.
  2. Seseorang memiliki riwayat trauma emosional atau fisik.
  3. Individu menghadapi stresor berkelanjutan yang tidak dapat dikendalikan.
  4. Ruminasi juga umum terjadi pada orang yang memiliki karakteristik kepribadian tertentu, misalnya perfeksionis.
  5. Individu yang fokus berlebihan terhadap hubungannya dengan orang lain. Ia mungkin terlalu berharap kepada pasangannya, sehingga melakukan banyak pengorbanan untuk mempertahankan hubungan.

Ketika pikiran terjebak dalam perenungan atau memikirkan suatu masalah dengan sangat intens, bisa jadi cukup sulit untuk keluar. Namun, ada baiknya dicoba beberapa cara disebutkan ini agar ruminasi tidak semakin mendalam dan berkembang menjadi depresi. Jadi, jika suatu masalah mulai merasuki pikiran kamu, coba hindari berlarut-larut memikirkannya dengan cara ini:

  1. Alihan perhatian dari pikiran negatif
  2. Alih-alih terus memikirkan pikiran negatif secara berulang-ulang, kalian bisa membuat rencana untuk mengatasi pikiran tersebut.
  3. Ambil satu langkah kecil untuk mengatasi masalah tersebut
  4. Perfeksionisme dan perencanaan tujuan hidup yang tidak realistis dapat menyebabkan seseorang terjebak dalam kondisi ruminasi. Jadi, kalau kalian membuat tujuan hidup yang tidak realistis, kalian mungkin hanya akan terfokus pada beribu alasan mengapa kalian belum sampai pada tujuan tersebut dan hal apa sekiranya yang bisa dilakukan untuk mencapainya.
  5. Meditasi. Meditasi dapat mengurangi kebiasaan untuk ruminasi, karena hal ini dapat menjernihkan pikiran dan membuat seseorang menjadi lebih tenang secara emosional. Carilah ruangan yang tenang, kemudian duduk dan bernapas dalam-dalam dan fokuslah hanya pada napas kalian. Buat juga mental notes tentang situasi yang kalian hadapi.

Summary

Dewajani, J. S. (2020). Analisis Permasalahan Ruminasi Dan Implikasinya Terhadap Layanan Bimbingan Dan Konseling. Teurapeutik jurnal bimbingan dan konseling, 339-344.

Faizah. (2019). Rumination Antara Usia Remaja Dan Dewasa. Junal fakultas ilmu sosial dan ilmu politik universitas brawijaya, 152.

Kartasasmita, S. (2017). The Relationship Between School Well-Being With Rumination. Journal Of Social Sciences, Humanities, And Art, 1(1), 248-252.

McCarrick, D., Prestwich, A., Prudenzi, A., & O’Connor, D. B. (2021). Health Effects Of Psychological Interventions For Worry And Rumination: A meta-analysis. Health Psychology.

Nolen-Hoeksema, S. (2000). The Role Of Rumination In Depressive Disorders And Mixed Anxiety/Depressive Symptoms. Journal of abnormal psychology, 109(3), 504.

Salama, Nadiatus (2008). Memaafkan sebagai Upaya Psikoterapi. Semarang: IAIN Walisongo.