Tugas Selama Masa Pembelajaran Daring : Ancaman Kesehatan Mental Siswa Indonesia – Vania Diva Salsabila Hamzah

Tugas Selama Masa Pembelajaran Daring : Ancaman Kesehatan Mental Siswa Indonesia

Vania Diva Salsabila Hamzah

(Universitas Padjadjaran)

 

Pandemi Covid-19 tidak hanya menimbulkan kegoyahan pada perekonomian Indonesia, tetapi juga meruntuhkan kesehatan mental pelajar di Indonesia. 23% siswa, dari responden survei yang diadakan Ikatan Psikolog Klinis, mengalami stres akibat pembelajaran daring (Halidi & Fikri, 2020). Perubahan sistem pendidikan ke pembelajaran daring mengakibatkan sejumlah sekolah melakukan adaptasi pembelajaran, salah satunya adalah dengan memberikan pekerjaan rumah (PR) yang lebih banyak dibandingkan ketika pembelajaran tatap muka. Akan tetapi, berdasarkan survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia tahun 2020, pemberian PR yang banyak justru memberikan beban kepada siswa dan mengakibatkan kelelahan (Tirto, 2020). Survei yang melibatkan 1.700 siswa dari 54 kabupaten/kota dengan 20 provinsi yang berbeda ini, menyatakan bahwa 77% responden merasa kelelahan akibat tugas yang banyak dan dikerjakan dalam waktu yang singkat. Selain itu, sebanyak 73,2% responden merasa terbebani dengan PR yang banyak.

Dampak dari pemberian tugas ini tidak hanya menimbulkan stres dan kelelahan, tetapi juga memakan korban bunuh diri. Dilansir dari Manado Tribunnews, siswa SMP di Kota Tarakan mengalami tekanan akibat tugas yang menumpuk dan tuntutan untuk menyelesaikan tugas apabila korban ingin naik kelas. Penumpukan tugas ini tidak dikarenakan kemalasan pada korban, akan tetapi dikarenakan ketidakpahaman korban terhadap tugas yang dikerjakannya. Berbagai macam tekanan ini mengarahkan siswa tersebut untuk mengakhiri hidupnya pada 30 Oktober 2020.

Pemaparan hasil survei dan kasus tersebut menimbulkan tanda tanya, apakah pemberian tugas selama masa pembelajaran daring adalah metode yang tepat bagi pembelajaran siswa di Indonesia. Sebagai salah satu instrumen pembelajaran, pemberian tugas dapat meningkatkan pencapaian pembelajaran siswa (Eren dan Henderson, 2008). Studi lebih lanjut dari Fan, Xu, Cai, He, dan Fan (2017) mengungkapkan bahwa pemberian tugas berdampak positif pada pencapaian akademik dalam bidang matematika dan sains. Bahkan, menurut Bempechat (2010), pemberian tugas dapat meningkatkan motivasi untuk berprestasi pada siswa dan juga mempersiapkan siswa sebagai pembelajar yang mandiri.

Namun, dampak positif pada pemberian tugas tidak sejalan dengan kesehatan mental siswa. Semakin lama durasi waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan suatu tugas dapat meningkatkan stres dan juga gangguan mood pada siswa (Kouzma dan Kenedy, 2002). Beban tugas yang berlebihan memiliki korelasi yang positif pada peningkatan rasa kesepian dan depresi (Zuzanek, 2008). Di sisi lain, beban tugas yang berlebih tidak hanya memperburuk kesehatan mental, tetapi juga kesehatan secara fisik (Craif & Anitei, 2012).

Hal yang perlu digaris bawahi pada pemberian tugas selama masa pembelajaran daring adalah keterlibatan penggunaan media sosial baik sebagai media pembelajaran maupun media interaksi sehari-hari antara guru dan murid. Penggunaan media sosial dalam intensitas tinggi memiliki dampak pada social media fatigue, yang mana social media fatigue berhubungan positif dengan tingginya rasa kecemasan serta depresi (Dhir, Yossatorn, Kaur, & Chen, 2018) . Selain itu, penggunaan media sosial sebagai media pembelajaran justru menurunkan prestasi siswa, menurunkan jumlah informasi yang dapat diterima oleh siswa, serta membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk  mengerjakan tugas yang diberikan (Flanigan, & Babchuk, 2015). Padahal, berdasarkan hasil penelitian Kouzma dan Kenedy (2002), peningkatan waktu pengerjaan tugas akan menimbulkan stres pada siswa.

Implementasi pembelajaran daring memiliki banyak kekurangan, namun bukan berarti bentuk pembelajaran daring ini harus dicabut, terutama ketika masa pandemi. Untuk menangani tugas sebagai ancaman kesehatan mental siswa, maka dibutuhkan strategi untuk mengurangi dampak buruk tersebut. Hal yang paling penting dalam mengurangi dampak stres adalah melalui support dari orang-orang terdekat (Cohen & Wills, 1985). Oleh karena itu, terdapat beberapa pihak yang diharuskan untuk turut serta dalam mengurangi dampak buruk terutama bagi kesehatan mental siswa.

Pihak pertama adalah keluarga. Sebagai sistem terdekat dengan individu (McGoldrick, Preto, & Carter, 2016), keluarga dapat menjadi support system pertama bagi siswa. Hal menarik yang terjadi dalam interaksi keluarga dan siswa adalah keluarga dapat merasakan stres akibat tugas yang dimiliki  siswa (Pressman, Sugarman, Nemon, Desjarlais, Owens, & Schettini-Evans,  2015). Stres ini diakibatkan oleh waktu kebersamaan dalam keluarga yang terganggu akibat tugas yang dimiliki anak dan juga self-efficacy orang tua yang  rendah dalam membantu pengerjaan tugas anak (Pressman et. al, 2015). Pengurangan stres akibat tugas baik pada siswa maupun pada keluarga siswa dapat dilakukan dengan kesadaran akan faktor yang dapat berpengaruh terhadap  stres  akibat tugas, yang mana faktor-faktor tersebut berupa banyaknya tugas yang didapatkan serta kemampuan anak dalam pengerjaan tugasnya (Moè, Katz, Cohen, & Alesi, 2020). Selain itu, orang tua dapat memberikan pengalaman yang positif bagi anak ketika mengerjakan tugasnya dan tidak merasa frustasi dengan tugas siswa yang mana hal tersebut dapat meningkatkan stres pada siswa (Moè et al, 2020). Orang tua juga dapat merestrukturisasi tugas siswa dan mengaplikasikan tugas tersebut dalam kehidupan sehari-hari (Pressman et. al, 2015).

Pihak kedua adalah guru. Kiat yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan mengurangi beban tugas yang memakan banyak waktu siswa (Kouzma & Kenedy, 2002; Zuzanek, 2008). Selain itu, guru juga dapat membantu siswa untuk menentukan goals apa saja yang ingin dicapai dalam pengerjaan tugas dan memberitahukan bagaimana cara mengurangi distraksi ketika mengerjakan tugas (Flanigan, & Babchuk, 2015). Guru juga dapat mengarahkan siswa untuk fokus pada pembelajaran dengan mengarahkan siswa untuk aktif dalam berdiskusi dan berpendapat dalam kelas(Flanigan, & Babchuk, 2015). Hal ini dilakukan agar pemahaman siswa terhadap materi meningkat sehingga siswa dapat lebih mudah dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Guru juga dapat berperan sebagai informational support yang mampu membantu siswa untuk memahami permasalahan siswa dan membantu siswa untuk bisa coping terhadap masalah tersebut (Cohen & Wills, 1985).

Pembelajaran daring merupakan bentuk adaptasi pada pandemi Covid-19 di bidang pendidikan, yang menggunakan instrumen tugas sebagai pembelajaran bagi siswa. Permasalahan yang dialami oleh siswa Indonesia adalah kesehatan mental yang terganggu, terutama akibat benyaknya tugas yang diberikan ketika masa pembelajaran daring. Berbagai studi menemukan bahwa tugas memiliki dampak positif pada pencapaian, akan tetapi pemberian tugas dengan durasi waktu yang lama serta beban tugas yang berat dapat menimbulkan masalah psikologis pada siswa. Masalah lain pada pembelajaran daring adalah penggunaan sosial media yang dapat menimbulkan kelelahan. Untuk mengatasi permasalahan ini, orang tua dan guru sebaiknya berperan sebagai support system pada siswa.

 

 

Daftar Pustaka

Bempechat, J. (2004). The Motivational Benefits of Homework: A Social- Cognitive Perspective. Theory Into Practice, 43(3), 189–196. doi:10.1207/s15430421tip4303_4

Chraif, M., & Anitei, M. (2012). Overload learning, attachment and coping styles predictors of mental and physical health of teenage high school students in romania. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 69, 1842–1846.

Cohen, S., & Wills, T. A. (1985). Stress, social support, and the buffering hypothesis. Psychological Bulletin, 98(2), 310–357.

Dhir, A., Yossatorn, Y., Kaur, P., & Chen, S. (2018). Online social media fatigue and psychological wellbeing—A study of compulsive use, fear of missing out, fatigue, anxiety and depression. International Journal of Information Management, 40, 141–152.

Eren, O., & Henderson, D. J. (2008). The impact of homework on student achievement. Econometrics Journal, 11(2), 326–348.

Fan, H., Xu, J., Cai, Z., He, J., & Fan, X. (2017). Homework and students’ achievement in math and science: A 30-year meta-analysis, 1986–2015. Educational Research Review, 20, 35–54.

Flanigan, A. E., & Babchuk, W. A. (2015). Social media as academic quicksand: A phenomenological study of student experiences in and out of the classroom. Learning and Individual Differences, 44, 40–45.

Halidi, R. & Fikri, L. (2020, 14 Oktober). Survei: 23 Persen Remaja Alami Stres Karena Belajar Daring. Suara. Diakses pada 26 November 2020 dari https://www.suara.com/health/2020/10/14/225135/survei-23-persen-remaja- alami-stres-karena-belajar-daring

Hidayat, R. (2020, 10 September). Stres, Burnout, Jenuh: Problem Siswa Belajar Daring Selama COVID-19. Tirto. Diakses pada 26 November 2020 dari https://tirto.id/stres-burnout-jenuh-problem-siswa-belajar-daring-selama- covid-19-f3ZZ

Kouzma, N. M., & Kennedy, G. A. (2002). Homework, stress, and mood disturbance in senior high school students. Psychological Reports, 91(1), 193–198.

McGoldrick, M., Preto, N., Carter, B. (2015). The expanding family life cycle individual, family, and social perspectives (Fifth edition). Pearson.

 

Moè, A., Katz, I., Cohen, R., & Alesi, M. (2020). Reducing homework stress by increasing adoption of need-supportive practices: Effects of an intervention with parents. Learning and Individual Differences, 82, 101921.

Piring, Frandi. (2020, Oktober 30). Terjadi Lagi Siswa SMP Bunuh Diri karena Tekanan Belajar Daring PJJ Tugas Numpuk, Disorot KPAI?. Manado Tribunnews.  Diakses   pada     26                     November   2020    dari https://manado.tribunnews.com/2020/10/30/terjadi-lagi-siswa-smp-bunuh- diri-karena-tekanan-belajar-daring-pjj-tugas-numpuk-disorot-kpai?page=4

Pressman, R. M., Sugarman, D. B., Nemon, M. L., Desjarlais, J., Owens, J. A., & Schettini-Evans, A. (2015). Homework and family stress: with consideration of parents’ self confidence, educational level, and cultural background. The American Journal of Family Therapy, 43(4), 297–313.

Zuzanek, J. (2008). Students’ study time and their “homework problem.” Social Indicators Research, 93(1), 111–115.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.