PENTINGNYA LAYANAN KESEHATAN MENTAL BAGI MAHASISWA DI MASA PANDEMI – Annisa Shaliha Nurisman

PENTINGNYA LAYANAN KESEHATAN MENTAL BAGI MAHASISWA DI MASA PANDEMI

Annisa Shaliha Nurisman

Universitas Indonesia

Adanya wabah virus Covid-19 merupakan situasi yang sangat menggemparkan dunia. Tidak hanya para pekerja dan orang dewasa, pandemi ini juga mempengaruhi mahasiswa dan pelajar. Sebagai upaya pencegahan penyebaran virus Covid-19, pemerintah provinsi DKI Jakarta telah menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2020. Hal ini juga menyebabkan pelaksanaan pembelajaran yang asalnya dilakukan secara tatap muka harus dialihkan ke sistem daring. Beberapa sekolah dan universitas sudah memilih untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari Maret 2020 hingga sekarang. Dampak pelaksanaan PJJ terhadap kesehatan mental mahasiswa merupakan salah problematika yang layak disorot di Indonesia.

Penelitian pada mahasiswa program S1 Keperawatan menunjukkan bahwa 25,7% mahasiswa mengalami gangguan mood ringan dan 8,1% mengalami depresi ringan. Depresi yang dialami selama masa pandemi ini dapat berkaitan dengan akademik, finansial, maupun waktu yang mempengaruhi kesehatan fisik maupun mental. (Santoso, A., dkk, 2020). Menurut penelitian yang dilakukan di Universitas Andalas, 30,1% mahasiswa mengalami stres sedang, 20,9% mengalami kecemasan sedang, dan 27,6% mahasiswa mengalami depresi sedang (Meri, H., 2020). Hasil penelitian di Uni Emirat Arab menunjukkan bahwa tingkat kecemasan pada mahasiswa non-kedokteran meningkat dengan pembelajaran daring (Saddik, B., dkk, 2020 dalam Hasanah, U., 2020). Sedangkan, sebuah penelitian pada Universitas Muhammadiyah Semarang menunjukkan sebanyak 41,58% mahasiswa mengalami kecemasan ringan dan 16,84% mengalami kecemasan sedang (Hasanah, U., dkk, 2020). Hal ini menggambarkan kondisi kesehatan mental mahasiswa yang kurang baik selama pandemi berlangsung. Oleh karena itu, peran layanan kesehatan mental daring bagi mahasiswa menjadi sangat krusial, khususnya saat pandemi seperti ini.

Kondisi kesehatan mental mahasiswa saat pandemi memang sangat mengkhawatirkan. Menanggapi hal ini, mulai banyak platform layanan kesehatan mental secara daring yang muncul ke permukaan. Layanan kesehatan mental daring dapat berbentuk konseling online bersama psikolog, konselor sebaya, ataupun support peer group. Beberapa aplikasi yang telah menyediakan layanan konsultasi psikolog adalah KALM, Riliv, dan HaloDoc. Meskipun tengah dilanda pandemi, inovasi teknologi memungkinkan konsultasi dilakukan via chat maupun telfon atau video call. Layanan kesehatan mental daring dapat membantu mahasiswa untuk bertahan dalam masa pandemi yang sulit ini.

Alasan pertama mengapa layanan kesehatan mental daring saat pandemi dapat membantu mahasiswa adalah sebagai wadah untuk berkeluh kesah. Beban akademik dan ekspektasi tinggi yang ditanggung mahasiswa saat masa pandemi ini cukup berat dan dapat menyebabkan berbagai gangguan mental. Keterbatasan PJJ dan adaptasi cara belajar seringkali menyebabkan mahasiswa kesulitan untuk mengerti materi yang diajarkan. Dalam pembelajaran tatap muka, akan ada penyampaian konsep pembelajaran dan tujuannya terlebih dahulu dan berlanjut pada pemahaman dan pengembangannya. Tahapan-tahapan tersebut dinilai tidak berjalan dengan baik dalam situasi darurat seperti sekarang (Charismiadji, 2020 dalam Hasanah, U., dkk, 2020). Meskipun begitu, dosen ataupun orangtua tetap mengharapkan mahasiswa untuk mencapai performa akademik yang tinggi, meskipun tengah berada dalam situasi yang sulit seperti ini. Hal ini dapat menyebabkan mahasiswa mengalami kecemasan, khususnya dalam kelangsungan performa akademiknya. Menurut Hasanah, U., dkk (2020), kecemasan merupakan masalah psikologis yang paling banyak dialami oleh mahasiswa. Oleh karena itu, adanya layanan kesehatan mental daring dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk sekedar bercerita tentang beban yang sedang dialaminya. Bercerita juga menjadi salah satu cara agar mahasiswa tidak mengalami stres yang berkepanjangan. Psikolog, konselor sebaya, maupun peer support group tidak akan menilai ataupun menghakimi cerita mahasiswa tersebut, melainkan akan mendengarkan dan menawarkan ruang yang aman bagi mahasiswa untuk mengutarakan perasaannya dengan leluasa.

Alasan kedua adalah PSBB dan swakarantina turut mempunyai dampak bagi kesehatan mental mahasiswa. Meskipun kondisi ini menyebabkan mahasiswa lebih sering bersama keluarga, tidak semua mahasiswa nyaman untuk bercerita dan berbagi beban yang dirasakannya kepada orangtua dan lebih memilih teman sebaya. Jika kuliah dilaksanakan secara tatap muka, mahasiswa dapat dengan mudah bertemu dengan teman-temannya seusai kelas untuk bercerita ataupun pergi bermain keluar untuk refreshing. Karena akses keluar sangat dibatasi, mahasiswa rentan untuk merasa kesepian dan terisolasi. Menurut survei yang dikelola oleh YoungMinds, 83% responden muda setuju bahwa pandemi turut berdampak buruk bagi kesehatan mental karena penutupan sekolah, kehilangan rutinitas, dan koneksi sosial terbatas (Thomas, 2020 dalam Santoso, A., dkk., 2020). Penelitian pada mahasiswa di Texas, Amerika Serikat menunjukkan bahwa 86% mahasiswa merasa pandemi telah meningkatkan tingkat isolasi sosial, dan setengah dari partisipan ini mengatakan bahwa keseluruhan interaksi mereka dengan orang lain (seperti teman) telah menurun secara signifikan. Oleh karena itu, layanan kesehatan mental daring berbentuk konselor sebaya atau peer support group dapat menjadi salah satu solusi dari kebutuhan untuk bersosialisasi ini. Sudah banyak platform layanan kesehatan mental yang menyediakan sesi konseling via telfon atau panggilan video dan tidak hanya terbatas lewat chat saja.

Masa pandemi merupakan masa yang sulit karena semuanya berada dalam keadaan tidak pasti. Hidup dalam ketidakpastian khususnya dalam waktu yang lama dapat memunculkan sikap pesimisme dan pasrah terhadap masa depan. Mahasiswa mungkin merasa putus asa karena tidak bisa mengetahui kapan keadaan bisa kembali seperti semula. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, keadaan pandemi berpotensi untuk memunculkan berbagai gangguan kesehatan mental seperti depresi dan stres. Penelitian di Universitas Patras, Yunani melaporkan peningkatan gejala depresi pada mahasiswa dengan gejala pesimisme, penurunan produktivitas, mudah lelah, serta kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan (Konstantopoulou, G., dan Raikou, N., 2020). Dalam menyikapi keadaan ini, mahasiswa membutuh coping mechanism yang baik agar mereka bisa bertahan dan meregulasi keadaan stres. Platform layanan kesehatan mental daring mempunyai peran penting karena turut berperan dalam meningkatkan kesadaran dan mengurangi stigma terkait kesehatan mental. Platform ini dapat digunakan untuk menjangkau mahasiswa dan memberikan edukasi terhadap coping mechanism yang baik, seperti self management (Son, C., dkk., 2020).

Meskipun layanan kesehatan mental daring mempunyai beberapa kekurangan seperti masih minimnya sosialisasi dan keterbatasan jaringan, konseling secara daring mempunyai beberapa keunggulan. Dilansir dari kompasiana.com, beberapa keuntungan dari konseling online adalah fleksibilitasnya yang bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Selain itu, layanan kesehatan mental daring tentunya dapat memastikan mahasiswa mempunyai wadah untuk bercerita tentang keluh kesah mereka. Mahasiswa yang umumnya merupakan remaja juga juga dikenal sebagai generasi digital yang mempunyai gaya tersendiri dalam berkomunikasi. Adanya layanan kesehatan mental secara daring ini diharapkan dapat menyeimbangi kebutuhan remaja dan berperan sebagai sarana yang aman bagi mahasiswa dalam bercerita.

Salah satu layanan kesehatan mental di Universitas Indonesia adalah Psyhope UI. Layanan ini berdiri dibawah BEM Fakultas Psikologi UI dan berbasis konselor sebaya. Konselor sebaya adalah mahasiswa S1 Psikologi UI yang telah lolos seleksi dan mendapatkan pelatihan. Konselor sebaya akan menghubungi mahasiswa satu kali dalam seminggu melalui kanal resmi Psyhope UI. Dengan begitu, mahasiswa mempunyai tempat bercerita tentang apa saja yang dialaminya dalam seminggu kebelakang, tanpa harus merasa takut akan dihakimi atau dinilai. Kedepannya, diharapkan pihak universitas mampu mempertimbangkan layanan kesehatan mental mahasiswa sebagai sesuatu yang krusial demi menunjang kesejahteraan hidup mahasiswanya. Berkaitan dengan kepentingan ini, dilansir dari kompas.com, Universitas Indonesia telah membuat empat rekomendasi kebijakan terkait kesehatan mental terhadap mahasiswa saat pandemi; salah satunya adalah memperluas jangkauan pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat dengan mempermudah akses (termasuk teknologi swaperiksa dan telekonsultasi), terintegrasi dalam layanan kesehatan fisik, panduan layanan yang terstandar, dan penjangkauan aktif di komunitas. Diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental juga meningkat, karena sesungguhnya tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental. Menjaga jiwa kita adalah salah satu usaha untuk menjaga fisik kita.

 

DAFTAR PUSTAKA

Adit, A. (2020, August 28). Ini 4 Kebijakan Kesehatan Mental Selama Pandemi Hasil Rekomendasi UI.

https://edukasi.kompas.com/read/2020/08/28/134553271/ini-4-kebijakan- kesehatan-mental-selama-pandemi-hasil-rekomendasi-ui.Kompasiana.com. (2019, December 9).

Plus Minus E-Konseling. KOMPASIANA.https://www.kompasiana.com/firmanag/5ded9e24d541df19c22f6ea2/plus- minus-e-counseling?page=all.

European Journal of Public Health Studies, 3(1).

Hasanah, U., Immawati, Ludiana & Liviana, P.H. (2020). GAMBARAN PSIKOLOGIS MAHASISWA DALAM PROSES PEMBELAJARAN SELAMA PANDEMI COVID-19. Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 8 No 3, Agustus 2020, Hal 299 – 306.

Meri, H. (2020). GAMBARAN TINGKAT STRES, KECEMASAN DAN DEPRESI PADA MAHASISWA UNIVERSITAS ANDALAS DALAM MENGHADAPI PANDEMI COVID-19 (Doctoral dissertation, Universitas Andalas).

Konstantopoulou, G., & Raikou, N. (2020). Clinical evaluation of depression in university students during quarantine due to covid-19 pandemic.

Santoso, A., Ardi, W. R., Prasetya, R. L., Dwidiyanti, M., Wijayanti, D. Y., Mu’in, M., … & Aisah, N. A. (2020). Tingkat Depresi Mahasiswa Keperawatan di Tengah Wabah COVID-19. Science, 3 Holistic Nursing and Health Journal of medical internet research, 22 (1), 1-8.

Son, C., Hegde, S., Smith, A., Wang, X., & Sasangohar, F. (2020). Effects of COVID-19 on college students’ mental health in the United States: interview survey study. (9), e21279.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.