Krisis Kesehatan Mental Dimasa Pandemi Covid-19 – Salma Dienhaq

Krisis Kesehatan Mental Dimasa Pandemi Covid-19

Salma Dienhaq

(Universitas Diponegoro)

Pandemi Covid-19 menjadi hal yang tidak siapapun sangka akan datang dan perlu seluruh dunia hadapi. Virus yang hadir secara tiba-tiba ini dan ditetapkan sebagai kondisi pandemi tentu menghadirkan ketidakpastian hingga mengubah banyak tatanan kehidupan, mulai dari segi ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, maupun kesehatan. Kesehatan menjadi aspek penting dalam berlangsungnya pandemi ini, baik secara fisik maupun mental. Hal ini kemudian menjadi fokus penulis dalam mengulik serta membahas tentang bagaimana dampak pandemi ini terhadap kesehatan mental masyarakat. Selain adanya krisis ekonomi, apakah pandemi Covid-19 ini dapat pula menjadi sebuah ancaman bagi dunia terhadap munculnya krisis pada kesehatan mental ?

World Health Organization (2001) menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan suatu kondisi dari kesejahteraan yang disadari dan di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan secara wajar, untuk bekerja secara produktif, dan berperan serta di komunitas atau lingkungannya. Definisi kesehatan mental tersebut pun disusul dengan penjelasan mengenai karakteristik individu dengan sehat mental oleh Lowenthal (2006) yang mengacu pada kondisi atau sifat-sifat positif, seperti kesejahteraan psikologis (psychological well-being) yang positif, karakter kuat, serta sifat-sifat baik atau pula kebajikan (virtues). Kesehatan mental dapat dipahami salah satunya dengan mengenal psikologi positif dimana ajaran ini bertujuan agar individu mampu mencapai kebahagiaan sehingga ia dapat memenuhi fungsi psikologis positif dan mencapai kesejahteraan psikologis. Berbagai penjelasan tentang kesehatan mental ini menggiring kita untuk melihat seberapa penting dan besarnya peran kesehatan mental dalam kehidupan sehari-hari serta dalam menjadi manusia yang seutuhnya.

Segala keterbatasan yang dituntut oleh kondisi pandemi menjadi sebuah risiko sekaligus ancaman bagi masyarakat terhadap tercapainya diri dengan mental yang sehat. Imbauan untuk tetap hanya di rumah atau isolasi mandiri dengan dibuntuti berkurangnya interaksi sosial, perlunya adaptasi, dan terjadinya berbagai perubahan situasi dan kondisi kehidupan menimbulkan banyak emosi negatif yang beragam, seperti khawatir, cemas, ataupun sedih. Badan Pusat Statistik pada 1 Juni 2020 melakukan survei tentang tingkat kekhawatiran masyarakat akibat pandemi Covid-19, yakni kekhawatiran saat keluar rumah dengan skala khawatir atau sangat khawatir sebesar 69,43%, kekhawatiran pada masifnya pemberitaan media tentang Covid-19 sebesar 65,03%, kekhawatiran pada kesehatan keluarga sebesar 57,27%, dan kekhawatiran pada kesehatan diri sebesar 48,53%. Data ini kemudian dapat menjadi sebuah rujukan bagi kondisi mental masyarakat, khususnya di Indonesia, dalam menghadapi pandemi Covid-19 bahwa, dengan didukung oleh data dari Ipsos pada 15 Oktober 2020, kesehatan mental 54% masyarakat Indonesia menurun.

Selain menyerang kondisi fisik, virus Covid-19 ini jelas menyerang pula kondisi mental individu. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kekhawatiran masyarakat pada golongan yang rentan dan lemah, ketidaksabaran akan kembali hidup secara normal, timbulnya kecemasan terhadap kesehatan diri, kesepian, serta munculnya emosi marah karena terbatasnya kebebasan yang disebabkan oleh penyelenggaraan isolasi mandiri (Ipsos, April 2020). Masyarakat, terutama anak-anak dan remaja, yang terisolasi berisiko mengalami gangguan kesehatan mental hingga hal ini terjawab oleh seorang psikolog bahwa anak-anak merasa cemas dan terjadi peningkatan kasus depresi di beberapa negara. Tidak berhenti di situ, kekerasan dalam rumah tangga pun meningkat akibat pengadaan isolasi dan tenaga kesehatan serta pasien terinfeksi virus Covid-19 pun rentan mengalami gangguan kesehatan mental sehingga mereka butuh adanya peningkatan akan dukungan psikologis. Kondisi mental yang terjadi pada skala global inilah yang menjadi sebuah ancaman terkait munculnya krisis kesehatan mental, sebagaimana dinyatakan oleh pakar kesehatan PBB.

Di sisi lain, masa pandemi ini bisa dikatakan dapat menjadi sebuah sarana dan waktu untuk mengenali, merefleksi, dan mengevaluasi diri. Proses mengenali diri ini selanjutnya akan menuntun masyarakat untuk menyadari eksistensi kesehatan mental pada dirinya dan bagaimana kesehatan mental memiliki peran yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik seseorang. Kemungkinan terkait munculnya ‘krisis’ kesehatan mental dapat secara bersama masyarakat kurangi dengan mencoba mengenali kesehatan mental itu sendiri, salah satunya melalui memahami cara meningkatkannya pada diri masing-masing, yakni dengan : (1) berpikir optimistis, hal ini bukan berarti mengesampingkan stressor dalam kehidupan namun merupakan suatu usaha untuk melihat tantangan atau hambatan sebagai hal yang sementara serta mampu bersikap positif. (2) bersyukur, hal ini bisa jadi merupakan proses yang memang tidak mudah namun dapat menjadi sebuah jawaban dari tiap permasalahan yang muncul dalam kehidupan dengan dipenuhi oleh penerimaan dan kebersyukuran. (3) menjalin hubungan sosial yang baik, hal ini kini dapat dilakukan meski secara daring namun memberi peran pada meningkatnya kesehatan mental. (4) menemukan tujuan hidup, hal ini dapat berupa agama, keluarga, sosial, maupun makna kehidupan. (5) dan cara- cara lain yang dapat diperoleh melalui refleksi diri.

 

 

Daftar Pustaka

 

Dewi, Kartika S. (2012). Buku Ajar Kesehatan Mental. Semarang: UPT UNDIP Press.

Databoks. (2020, 6 Agustus). Pandemi Covid-19 Sebabkan Gangguan Kesehatan

Mental di Sejumlah Negara. Diakses pada 27 November 2020, dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/08/10/pandemi-covid-19- sebabkan-gangguan-kesehatan-mental-di-sejumlah-negara.

Databoks. (2020, 1 Juni). Ragak Kekhawatiran Masyarakat Akibat Pandemi Covid-19. Diakses      pada 27 November 2020, dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/06/03/ragam-kekhawatiran- masyarakat-akibat-pandemi-covid-19

Databoks. (2020, 15 Oktober). Hanya Tinggal di Rumah, Kesehatan Mental 54% Masyarakat Indonesia Menurun. Diakses pada 27 November 2020, dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/10/23/hanya-tinggal-di-rumah-kesehatan-mental-54-masyarakat-indonesia-menurun

Databoks. (2020, 3 April). Isolasi Diri Mempengaruhi Psikologi Masyarakat. Diakses pada 27        November       2020,   dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/04/24/isolasi-diri-mempengaruhi-psikologi-masyarakat.

Kompas.com. (2020, 15 Mei). WHO Peringatkan Krisis Gangguan Mental Global

Akibat      Pandemi.      Diakses      pada      27      November      2020,      dari https://lifestyle.kompas.com/read/2020/05/15/135714920/who-peringatkan- krisis-gangguan-mental-global-akibat-pandemi.

Republika.co.id. (2020, 14 Mei). WHO: Pandemi Covid-19 Sebabkan Krisis Kesehatan Mental. Diakses pada 27 November 2020, dari https://republika.co.id/berita/qab5a0414/who-pandemi-covid19-sebabkan-krisis-kesehatan-mental.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.