Program Grup Dukungan Daring sebagai Fasilitas Pendukung Coping demi Menjaga Kesejahteraan Psikologis Remaja dan Dewasa Muda Indonesia di Masa Pandemi – Dela Pranaya Wisesa

Program Grup Dukungan Daring sebagai Fasilitas Pendukung Coping demi Menjaga Kesejahteraan Psikologis Remaja dan Dewasa Muda Indonesia di Masa Pandemi

Dela Pranaya Wisesa

(Universitas Indonesia)

 

Keadaan pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak signifikan pada orang dewasa, namun juga mereka para remaja dan dewasa muda. Memasuki bulan ke-sebelas masa pandemi, keadaan mental anak muda Indonesia bukannya semakin stabil, tetapi justru semakin memprihatinkan. Survei PDSKJI (2020) mengungkapkan bahwa kelompok usia 17-29 tahun mengalami masalah psikologis berupa trauma sebesar 75 persen, kecemasan sebesar 65 persen, depresi sebesar 62 persen, serta keinginan bunuh diri dan melukai diri sebesar 48 persen yang didominasi oleh mereka yang dengan usia remaja sampai dengan dewasa di bawah 30 tahun. Menurut data Satgas IPK (Ikatan Psikologi Klinis), klien berusia remaja selalu bertambah pada tiap periode sejak masa pandemi berlangsung, dengan masalah paling banyak, sekitar 25 persen, adalah ketidakmampuan menyesuaikan diri dan stres dengan rutinitas yang baru (CNN, 2020).

Hal yang sama mengkhawatirkannya juga ditemukan oleh survei Anak Kemen PPA (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan), bahwa populasi yang berusia sampai dengan 18 tahun paling rentan mengalami depresi selama masa pandemi COVID-19, dengan gejala paling umum adalah gangguan emosi, termasuk perasaan tertekan sebesar 26 persen, iritabilitas dan kemarahan sebesar 26 persen, dan sedih berkelanjutan sebesar 42 persen. Tidak hanya itu, beberapa studi pun menemukan hasil yang serupa, bahwa anak muda Indonesia yang berusia antara 12-20 tahun mengalami peningkatan level kecemasan yang signifikan dan gejala depresi ringan selama masa pandemi (Fitria & Ifdil, 2020; Hasanah dkk., 2020).

Sebagian besar masalah dan gangguan psikologis di atas disebabkan oleh kombinasi dan akumulasi berbagai masalah lain. Sebagai contoh, remaja dan dewasa muda sedang berada di tahap eksplorasi diri dan karier, di mana mereka memerlukan banyak pengalaman di dunia fisik serta interaksi dengan orang lain terutama sebaya. Namun, keadaan pandemi justru membatasi hal ini, dan menyebabkan mereka merasa tertekan serta kesepian. Belum lagi, perubahan rutinitas yang mendadak dengan intensitas tinggi dikarenakan adanya sistem belajar yang baru di sekolah dan perkuliahan.

Satu penyebab yang mungkin paling mendasar adalah jarak yang jauh antara jumlah kebutuhan dan jumlah tenaga ahli kesehatan mental yang tersedia di bagi remaja dan dewasa muda. Menurut Kementerian Kesehatan pada tahun 2018, dengan penduduk sekitar 250 juta jiwa, Indonesia baru memiliki 600 – 800 psikiater, yang berarti 1 psikiater melayani 300.000 – 400.00 pasien Sedangkan psikolog klinis yang berkecimpung langsung ke bidang kesehatan dan rumah sakit hanya 1.143 orang, dengan prioritas menangani klien dewasa menengah. Hal ini mengakibatkan layanan kesehatan mental bagi remaja dan dewasa muda menjadi tidak optimal. Apalagi, belum ada program intervensi yang ditujukan khusus untuk para anak muda dalam menghadapi krisis pandemi, kebanyakan layanan masih berupa hotline atau edukasi serta konsultasi seperti layanan SEJIWA yang diciptakan oleh HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia), Kantor Staf Kepresidenan, dan Kemen PPA. Padahal kini remaja justru menjadi salah satu kelompok yang paling membutuhkan intervensi psikologis karena masih cenderung tidak stabil dalam menghadapi kondisi krisis yang tidak terduga.

Melihat akar masalah di atas yaitu terbatasnya jumlah tenaga kesehatan mental, masalah psikologis yang terus bertambah, dan tuntutan besar untuk beradaptasi dengan keadaan, penulis mengusulkan diadakannya program grup dukungan daring sebagai fasilitas pendukung coping yang konstruktif untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis remaja Indonesia di masa pandemi. Coping adalah penggunaan strategi kognitif dan perilaku untuk memodifikasi aspek yang dianggap mengancam dari lingkungan, serta meminimalisir atau menjauh dari ancaman internal yang dipicu oleh stres dan trauma (Folkman & Lazarus, 1980, di Kramer, 2009). Singkatnya, coping dapat dikatakan sebagai segala hal yang dilakukan untuk mengurangi serta mengatasi dampak stres.

Seperti kita ketahui, pandemi COVID-19 tentu menimbulkan stres dan trauma dalam tingkat tertentu, maka itu coping sangat penting karena memungkinkan para remaja untuk dapat mengurangi tingkat persepsi akan ancaman, kecemasan sehari-hari, dan pengalaman emosi negatif yang berlebih. Program ini melibatkan ‘para-profesional’ atau non tenaga ahli, yaitu seluruh masyarakat, mulai dari mereka yang memiliki profesi sebagai pekerja sosial, mahasiswa jurusan psikologi, sampai mahasiswa jurusan lain, untuk kemudian diberi pelatihan agar mampu menjadi pemimpin grup dukungan atau bisa disebut ‘mentor’. Kemudian para anggota grup dapat direkrut dengan cara menyebar form GMHQ (General Mental Health Questionnaire) untuk melakukan seleksi dan mengerucutkan intervensi pada mereka yang paling membutuhkan. Mentoring dapat dilakukan rutin selama beberapa bulan secara virtual untuk membantu para mentee mendalami masalah mereka dan mempelajari strategi mengatasi stres. Walau begitu, program ini juga akan memiliki supervisor yang merupakan ahli dalam bidang kesehatan mental yaitu satu atau beberapa psikolog klinis, agar dapat menghasilkan dampak positif yang optimal dan dijalani secara etis.

Metode grup dukungan akan meningkatkan kemampuan coping dengan menyediakan manfaat yang serupa dengan terapi kelompok, ditambah dengan psikoedukasi atau pengetahuan dan informasi yang diberikan tiap minggu. Terapi kelompok adalah proses intervensi psikologis yang bertujuan untuk membantu beberapa klien dalam satu waktu. Terapi kelompok biasanya dipimpin oleh seorang psikolog klinis, dengan masalah pada umumnya adalah depresi, kecanduan alkohol, panik, kecemasan sosial, emosi negatif, dan juga terbuka bagi mereka yang kesepian dan baru kehilangan orang yang dicintai. Perlu diketahui bahwa terapi kelompok lebih dari sekedar membantu banyak orang sekaligus, namun juga menyediakan dukungan sosial dari anggota kelompok, sehingga para klien dapat meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan sosial, serta mengatasi rasa kesepian yang mereka alami.

Grup dukungan daring memiliki fungsi yang hampir sama, namun daripada hanya profesional, grup dukungan dapat dipimpin oleh seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, grup dukungan daring juga berfokus untuk melayani mereka yang tidak mengalami gangguan mental bersifat klinis. Maka itu, program ini dapat menjadi intervensi dini yang berperan besar dalam mengurangi jumlah kebutuhan layanan kesehatan mental di masa depan yang mungkin tidak akan dapat teratasi bila hanya mengandalkan tenaga ahli.

Terdapat beberapa faktor teraupetik unik yang dimiliki oleh program grup dukungan dan terapi kelompok yang dapat menjaga kesejahteraan psikologis yang tidak akan ditemukan baik dalam konseling maupun terapi individu. Pertama, berbagi informasi. Informasi dan umpan balik yang akan didapatkan oleh anggota tidak hanya berasal dari pemimpin kelompok atau mentor seorang, namun juga oleh anggota kelompok lain. Hal ini diperlukan karena terkadang, umpan balik dari sesama anggota akan terasa lebih berpengaruh dibanding hanya dari pemimpin kelompok saja. Kedua, menumbuhkan harapan. Perubahan positif yang dialami seorang anggota akan mendapatkan apresiasi dari anggota lain, sehingga menimbulkan rasa percaya diri dan meningkatkan optimisme. Ketiga, universalitas. Berada dalam grup dukungan akan menunjukkan bahwa orang lain juga memiliki masalah dalam hidup mereka masing-masing, sehingga tiap anggota bisa merasa saling terhubung, dan dapat pula mengurangi kecemasan serta perasaan kesepian dalam menghadapi hidupnya.

Keempat, altruisme. Adanya kelompok memberikan anggota kesempatan untuk menyadari bahwa mereka dapat saling membantu, sehingga emosi positif dan perasaan bahwa dirinya berharga akan meningkat. Kelima, pembelajaran interpersonal. Kelompok menyediakan kesempatan berulang untuk para anggota agar dapat melatih kemampuan dasar bersosialisasi, termasuk menerima serta memberikan umpan balik. Keenam, kohesivitas kelompok. Tiap anggota akan saling mendengar satu sama lain, siap berpartisipasi dalam kelompok, serta merasa aman dengan kelompok, dan karena hal ini, mereka akan mampu mempertahankan motivasi dalam menjalani proses intervensi. Studi membuktikan bahwa kohesivitas kelompok adalah salah satu faktor paling penting dalam terapi kelompok yang dapat membantu anggota pulih secara psikologis (Kramer dkk., 2009).

Enam aspek ini membentuk social support atau dukungan sosial, yang mana sangat dibutuhkan di masa krisis berkelanjutan seperti pandemi COVID-19, terutama bagi mereka yang sedang berusaha mengatasi dampak stres. Dukungan sosial terbukti dapat berfungsi sebagai aset untuk menghasilkan sumber daya personal dalam menghadapi keadaan krisis. Teori Developmental System Model menyatakan bahwa faktor lingkungan memiliki peran yang krusial dalam membentuk sumber daya individual seperti motivasi, kepercayaan diri, dan optimisme pada diri anak muda, yang kemudian akan menumbuhkan fleksibilitas mental serta perilaku bahkan setelah terpapar oleh pengalaman yang bersifat mengancam, atau dapat dikatakan sebagai kemampuan coping yang konstruktif. Dukungan sosial melibatkan dukungan emosional, umpan balik, bimbingan, asistensi, dan makna yang akan menciptakan pengalaman merasa dicintai, dipedulikan, dan perasaan memiliki atau belongingness walau kelompok tidak bertahan untuk selamanya. Maka itu, dukungan sosial adalah kunci bagi para anak muda yang merasakan trauma dan perasaan tertekan untuk dapat mengakomodasi pengalaman negatif mereka melalui coping, sehingga kesejahteraan psikologis tetap terjaga.

Dapat disimpulkan bahwa grup dukungan daring dapat menjaga kesejahteraan mental anak muda dengan mendukung coping konstruktif melalui penyediaan dukungan sosial dan psikoedukasi. Dengan enam faktor teraupetik yang secara bersamaan membentuk dukungan sosial, para remaja dan anak muda yang memiliki masalah psikologis dapat menumbuhkan kemampuan melakukan coping sehingga mereka akan menjadi lebih fleksibel secara mental dan perilaku, dan mampu mengurangi rasa tertekan, trauma, serta kesepian yang mereka alami. Selain meminimalisir aspek negatif, grup dukungan juga mengoptimalkan aspek positif seperti kemampuan bersosialisasi, kepercayaan diri, dan optimisme.

Solusi ini bersifat inovatif, aplikatif, efektif, serta krusial untuk dilakukan di masa pandemi. Dengan memberdayakan seluruh masyarakat untuk berpartisipasi dalam meningkatkan kesehatan mental komunitas, cakupan jumlah orang yang dapat dibantu akan menjadi semakin banyak daripada jika hanya mengandalkan tenaga profesional. Pemberdayaan masyarakat juga membuat program ini dapat berfungsi sebagai intervensi dini. Para remaja yang memiliki masalah psikologis dapat secara aktif mengatasinya sebelum masalah tersebut berkembang menjadi gangguan yang lebih berbahaya. Selain itu, grup dukungan yang dilakukan secara daring dapat menjangkau anak muda dari seluruh bagian Indonesia. Mengingat bahwa distribusi layanan kesehatan mental di Indonesia masih terpusat di perkotaan, maka menjadi sangat penting untuk diciptakannya intervensi yang mudah diakses dari berbagai daerah.

Walau begitu penulis juga menyadari bahwa terdapat kendala yang mungkin dihadapi terkait pelaksanaan program grup dukungan daring. Akan sulit untuk mengelompokkan tiap orang sesuai dengan masalah yang mereka hadapi karena dalam masalah non klinis, satu masalah dengan masalah lain jauh lebih sering bertumpuk dibanding dalam masalah klinis, lalu, jumlah kelompok bisa jadi tidak seimbang jika diklasifikasikan berdasarkan masalah. Maka itu, penulis menyarankan kelompok diklasifikasikan sesuai skor swaperiksa GMHQ, dengan mereka yang berada di kisaran nilai rendah dikelompokkan dalam satu kelompok yang kemudian terbagi menjadi beberapa subkelompok, begitu juga dengan mereka yang memiliki skor di kisaran-kisaran lain.

Masalah lain yakni terkait kesadaran dan keinginan mengikuti program. Tingkat keparahan dari suatu masalah psikologis terkadang bisa menyebabkan menurunnnya perilaku mencari dukungan sosial, sehingga tidak jarang para remaja dan dewasa muda yang merasa masalahnya berat justru enggan menjalani intervensi yang melibatkan hubungan sosial. Hal ini dapat diantisipasi dengan memberi edukasi terlebih dahulu sebelum memulai program, agar mereka dapat menyadari pentingnya dukungan sosial dan meluruskan kesalahpahaman yang mungkin ada.

Menjaga kesejahteraan psikologis masyarakat bukan hanya pekerjaan psikolog, psikiater, atau tenaga profesional lainnya. Sudah menjadi kewajiban kita semua untuk memberdayakan satu sama lain, terutama di tengah keadaan krisis yang cenderung sulit untuk diprediksi dan dikontrol. Tiap individu bukanlah orang yang tidak berdaya, namun terkadang terhambat oleh kondisi lingkungan atau masalah struktural, sehingga beberapa dari mereka tidak menerima bantuan yang layak. Maka itu pemberdayaan komunitas dan masyarakat seperti penerapan grup dukungan sangat dibutuhkan untuk memberikan mereka kesempatan dan stimulasi yang layak mereka terima, sembari menciptakan komunitas yang terus menerus mengembangkan diri.

 

Daftar Pustaka

 

CNN Indonesia (2020, 15 Oktober). 6 Masalah Psikologis Tertinggi di Indonesia Selama Pandemi. CNN Indonesia.com. Diambil dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20201014200641-255-558505/6-masalah-psikologis-tertinggi-di-indonesia-selama-pandemi.

Fitria, L. & Ifdil, I. (2020). Kecemasan remaja pada masa pandemi Covid-19.

Jurnal Educatio Pendidikan Indonesia. 6(1). DOI: https://doi.org/10.29210/120202592.

Folkman, S. & Lazarus, R. S. (1980). An analysis of coping in a middle- aged community sample. Journal of Health and Social Behavior, 21, 219– 239.

Hasanah, U., Fitri, N., L., Supardi, Livana, P., H. (2020). Depresi Pada Mahasiswa Selama Masa Pandemi COVID-19. Jurnal Keperawatan Jiwa. 8(4). 421-424.

Kramer, G. P., Bernstein, D. A., & Phares, V. (2009). Introduction to clinical psychology. Upper Saddle River, NJ: Pearson Prentice Hall.

Lintang, A. (2019, 2 Februari). Tingkat Depresi Tinggi dan Minimnya Tenaga Kesehatan Jiwa di Indonesia. Diambil dari https://ultimagz.com/lifestyle/tingkat-depresi-tinggi-dan-minimnya-tenaga- kesehatan-jiwa-di-indonesia/

Media Indonesia (2020, 18 Oktober). Pandemi, Anak Perempuan Rentan Depresi.

Media Indonesia.com. Diambil dari https://m.mediaindonesia.com/amp/amp_detail/353727-pandemi-anak- perempuan-rentan-depresi

PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) (2020). Masalah Psikologis di Era Covid-19. Situs Resmi PDSKJI. Diambil dari http://pdskji.org/ home.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.