Penerapan Compassion-based Interventions Berbasis Virtual Reality Sebagai Sarana untuk Meningkatkan Resiliensi Emosional dalam Menghadapi Tantangan Kehidupan Kenormalan Baru – Dela Pranaya Wisesa

Penerapan Compassion-based Interventions Berbasis Virtual Reality Sebagai Sarana untuk Meningkatkan Resiliensi Emosional dalam Menghadapi Tantangan Kehidupan Kenormalan Baru

Dela Pranaya Wisesa

(Universitas Indonesia)

 

Krisis berkelanjutan berupa pandemi tidak hanya menimbulkan epidemi penyakit fisik, namun juga epidemi masalah psikologis. Trauma massal, gejala depresi, emosi negatif, kecemasan berlebih, panik dan paranoid adalah beberapa masalah mental dan emosional yang meningkat secara signifikan akibat dari adanya epidemi berkelanjutan yang kini tengah mewabah. WHO (World Health Organization) telah memperingati dunia akan kemungkinan terjadinya krisis gangguan mental global akibat ketidakpastian, isolasi, ketakutan dan kekacauan yang mengancam masyarakat dunia (Kompas, 2020).

Indonesia, sebagai salah satu negara yang masih belum ideal dalam pelayanan kesehatan jiwa juga tidak lepas dari risiko ‘epidemi gangguan mental’ yang diprediksi oleh WHO. Per tengah tahun 2020, sebanyak 77 persen masyarakat Indonesia mengalami trauma psikologis, 68 persen mengalami masalah kecemasan, dan 67 persen memiliki gejala depresi selama masa pandemi (PDSKJI, 2020). Tidak hanya berpengaruh di level individu, masalah ini juga mengakibatkan komunitas menjadi tidak sehat secara psikologis. Beberapa orang mengadopsi sikap apatis, beberapa menjadi takut berlebih, beberapa lagi menjadi agresif, tingkat empati menurun, perilaku-perilaku kriminalitas dan kejahatan semakin marak terjadi, mengalami peningkatan sebanyak 11,8 persen selama masa pandemi COVID-19 (CNN, 2020).

Selain itu, banyak juga masalah yang berkembang menjadi gangguan, yang tadinya gejala depresi menjadi depresi, dan yang tadinya rasa panik dapat menjadi gangguan panik. Singkatnya, keseimbangan sosial rusak dan kemungkinan terjadinya isolasi sosial semakin tinggi. Jika ditelusuri ke akarnya, salah satu alasan yang dapat menjelaskan fenomena ini adalah kurangnya kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan situasi mengancam (Taylor, 2019), sehingga penanganan yang tepat adalah dengan menumbuhkan resiliensi emosional, yaitu kemampuan untuk menangani situasi yang sulit secara konstruktif.

Resiliensi emosional memungkinkan seseorang untuk dapat pulih dari keadaan krisis, menggunakan sumber daya yang ia miliki dengan baik dan efektif, serta menjaga hubungan sosial yang positif dengan sesama. Namun sayangnya, resiliensi emosional belum menjadi prioritas di Indonesia. Sepengetahuan penulis, tidak ada program intervensi khusus yang menyasar pada kemampuan untuk meningkatkan resiliensi emosional masyarakat. Jika berbicara mengenai upaya yang telah dilakukan, pemerintah telah membuat hotline yang menghubungkan masyarakat dengan tenaga profesional seperti psikolog klinis atau psikiater yang mungkin dalam beberapa situasi dapat berperan dalam meningkatkan resiliensi masyarakat. Layanan edukasi dan konsultasi pun telah disediakan, seperti Layanan Psikologi Sehat Jiwa atau SEJIWA, yaitu program yang diciptakan oleh Kantor Staf Kepresidenan, HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia), dan Kemen PPPA (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), di mana selain melibatkan tenaga profesional, Kemen PPPA juga bekerja bersama para aktivis dalam menjalani konsultasi bagi anak-anak pedesaan yang mengalami kekerasan.

Namun masalahnya, jumlah tenaga profesional sangatlah terbatas, Indonesia masih kekurangan sekitar 24.000 praktisi kesehatan mental jika mengacu pada data Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2018, yang mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki 600-800 psikiater, dan data dari IPK (Ikatan Psikolog Klinis) dalam Utari (2019), yang menemukan bahwa hanya ada 1.143 psikolog klinis yang berkecimpung ke dunia kesehatan. Angka-angka ini tentu kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yaitu sekitar 250 juta, menurut standar WHO pun jumlah tenaga profesional kesehatan jiwa Indonesia masih berada di bawah batas yang seharusnya.

Program yang melibatkan aktivis juga baru di pedesaan dan kebanyakan melayani masalah khusus anak-anak yang terkena dampak KDRT. Hal ini menyebabkan penanganan cenderung hanya dilakukan pada gangguan yang lebih berat, daripada masalah-masalah yang masih berada di tahap awal. Jadi, masyarakat tidak berkesempatan untuk meningkatkan daya tahan psikologisnya sebelum masalah mereka semakin parah. Tenaga kesehatan mental pun rentan mengalami fatigue karena semakin banyaknya klien dan kasus. Teknologi yang digunakan juga cenderung bersifat konvensional yaitu telepon, padahal dengan keadaan di mana hampir segala aktivitas terjadi secara remote, semestinya kita dapat melakukan optimalisasi pada penggunaan teknologi terutama dalam meningkatkan kesehatan mental.

Melihat menurunnya tingkat resiliensi emosional, adanya kekurangan SDM tenaga profesional, semakin banyaknya masalah mental dan emosional masyarakat, serta adanya tuntutan untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi, penulis mengusulkan penerapan Compassion-based Intervention dengan menggunakan teknologi berbasis VR (Virtual Reality) untuk meningkatkan resiliensi masyarakat di tengah krisis pandemi. Compassion sendiri dapat diartikan sebagai kepekaan terhadap penderitaan diri dan orang lain, sikap hangat dan pengertian terhadap sesama dan diri sendiri yang tengah kesulitan, disertai dengan komitmen untuk mengurangi rasa sakit akibat kesulitan tersebut. Compassion meliputi 4 tahap yakni kesadaran, keprihatinan, harapan, dan respons atau aksi untuk mengurangi penderitaan (Kirby, 2017).

Seperti kita ketahui, krisis pandemi COVID-19 memunculkan berbagai macam tantangan hidup yang baru, mulai dari penyebaran virus, kehilangan pekerjaan, pemotongan gaji, interaksi sosial yang berkurang drastis, pembatalan rencana, dan disrupsi pada rutinitas. Compassion menjadi sangat krusial karena memungkinkan tiap orang untuk dapat menenangkan pikiran, menciptakan emosi positif, sekaligus merasa terhubung dan bersedia membantu orang lain, sehingga dapat menumbuhkan kekuatan psikologis kolektif untuk menghadapi ancaman.

Compassion-based interventions atau CBI adalah metode paling umum digunakan dan terbukti efektif dalam meningkatkan empati, compassion, dan resiliensi, serta mengurangi tingkat depresi, kecemasan, distres (Cebolla dkk., 2019). Metode ini dapat diterapkan dengan latihan Compassion Coach (CC) dan Loving Kindness Meditation (LKM). CC adalah latihan di mana seseorang diminta untuk menciptakan visualisasi bentuk fisik dan karakter dari pelatih compassion yang ideal bagi dirinya dalam pikiran mereka, yang kemudian akan menuntun mereka untuk bersikap hangat dan peduli ketika menghadapi situasi yang sulit yang perlu mereka ciptakan, dalam pikiran mereka pula. Selain kemampuan visualisasi mental, CC juga membutuhkan banyak latihan di situasi yang menyerupai pengalaman nyata agar dapat menghasilkan efek yang signifikan.

Sedangkan LKM adalah meditasi yang fokus dalam meningkatkan kemampuan individu untuk melihat orang lain sebagai sumber kenyamanan dan bukan ancaman. Dalam proses LKM, individu diminta untuk memvisualisasikan dirinya berada di suatu lingkungan yang menimbulkan perasaan hangat dan membayangkan perlakuan orang lain yang positif seperti tersenyum, sembari berefleksi pada kualitas positif diri dan orang lain, serta mengucapkan frasa-frasa tertentu secara internal. Pada kedua latihan, kemampuan melakukan visualisasi mental menjadi sangat penting untuk dimiliki (Brown dkk., 2020).

Ada 4 (empat) kemampuan visualisasi atau penggambaran mental yang saling berinteraksi dalam proses CC dan LKM: tahap kreasi, keberlanjutan, inspeksi, dan transformasi (Pearson dkk., 2013). Dalam tahap kreasi, individu memilih gambaran atau elemen yang akan digunakan dalam latihan. Misalnya, pada latihan CC individu memilih objek fisik yaitu dirinya sendiri sebagai pelatih compassion , atau memilih konteks yaitu ruang kelas dan teman-teman dekatnya dalam latihan LKM. Selanjutnya, pada tahap keberlanjutan, gambaran yang telah dipilih harus dipertahankan agar menetap dalam pikiran. Lalu pada tahap inspeksi, individu mulai menginterpretasi karakteristik objek, seperti kecerahan dan definisi. Terakhir, tahap transformasi, yaitu ketika gambaran dan objek diputar dan diubah bentuknya agar bersifat lebih nyata. Adanya kekurangan dalam kemampuan melakukan 4 (empat) aspek ini dapat menghambat proses intervensi dan mengakibatkan sikap compassion tidak terbentuk secara utuh.

Maka dari itu, diperlukan teknologi yang dapat ‘menciptakan’ lingkungan atau situasi dan mempermudah proses visualisasi mental. Virtual Reality dapat menjadi media yang tepat karena mampu menciptakan, mempertahankan, melakukan inspeksi, dan mengubah bentuk lingkungan atau objek yang digunakan dalam CBI dengan lancar dan menyerupai keadaan serta pengalaman nyata. VR dapat diartikan sebagai sistem teknologi visualisasi imajiner yang canggih dan efektif dalam memicu munculnya respons kognitif, emosional, dan perilaku (Ventura dkk., 2018). Artinya, VR dapat memodifikasi pengalaman internal di dalam diri individu dengan cara mengubah lingkungan eksternal dan memindahkan kesadaran tubuhnya.

Manfaat VR yang paling jelas adalah lingkungan termediasi yang akan memampukan seseorang untuk mengalami situasi, melihat stimulus, atau menyediakan umpan balik yang tidak akan dapat dikontrol atau diakses jika dilakukan tanpa teknologi, misalnya keadaan ramai, keadaan yang menimbulkan perasaan hangat, atau keadaan di mana seseorang menemukan dirinya terluka. VR dapat menyediakan visualisasi dari suatu situasi yang menantang di mana individu tetap memiliki kontrol sehingga tidak merasa terlalu terancam. Selain itu, VR juga berperan dalam menciptakan sinkronisasi antara apa yang disentuh dan dirasakan dalam momen waktu yang nyata. Hal ini berkaitan dengan konsekuensi embodiment, yaitu atribusi yang lebih nyata dikarenakan adanya pengalaman subjektif ketika individu merasa “memiliki” tubuh dalam suatu situasi, atau dapat dikatakan sebagai proses terjadinya ilusi akan kepemilikan tubuh. Kemampuan VR untuk dapat menempatkan seseorang di situasi nyata memungkinkan individu untuk ‘mengalami’ interaksi sosial dengan figur virtual, sehingga kemampuan compassion dapat dilatih dengan lebih akurat jika dibandingkan dengan metode visualisasi yang hanya dilakukan dalam pikiran individu.

Dengan adanya teknologi VR, klien tidak memerlukan keberadaan instruktur berupa psikolog atau terapis dalam tiap sesi latihan, karena bisa dirancang arahan dan bimbingan bertahap sesuai dengan keadaan psikologis dan masalah yang dihadapi tiap individu. Jika pun ada yang memerlukan instruktur, mereka tidak perlu terus-terusan berkontak fisik untuk melakukan supervisi dan menghabiskan banyak waktu dalam mengajari klien melakukan visualisasi atau imagery. Oleh karena itu, intervensi dini bersifat non klinis dapat terlaksana, sehingga jumlah gangguan psikologis di masa depan berkurang dan kesehatan mental komunitas tetap terjaga. Hasil intervensi juga dapat diperoleh dalam jangka waktu yang lebih pendek dan lebih signifikan.

Dapat disimpulkan bahwa penggunaan teknologi berbasis VR dalam pelaksanaan Compassion-based Interventions akan menumbuhkan sikap compassion secara efektif, yang kemudian dapat meningkatkan resiliensi emosional. Terdapat 2 latihan intervensi CBI yang dapat diterapkan yaitu LKM (Loving Kindness Meditation) dan CC (Compassion Coach). Kedua metode ini mengharuskan adanya kemampuan visualisasi mental yang tinggi dalam membuat, mempertahankan, melakukan inspeksi, dan mengubah bentuk elemen. VR dapat menjadi media yang tepat untuk mendukung program ini. Dengan menyediakan lingkungan, situasi, dan keberadaan orang lain yang terasa ‘nyata’, VR akan memaksimalkan proses visualisasi dan memunculkan efek embodiment sehingga compassion dapat dilatih dalam situasi nyata walaupun individu tidak banyak berpergian.

Solusi ini bersifat inovatif dan efektif. Hasil CBI yang memanfaatkan VR akan lebih signifikan jika dibandingkan dengan hasil CBI yang sepenuhnya mengandalkan kognisi manusia, karena proses terpenting dalam CBI, yaitu visualisasi, menjadi lebih maksimal dengan adanya VR. Tidak hanya itu, solusi ini juga memiliki prospek yang baik serta urgensi yang tinggi di masa pandemi. Compassion merupakan sikap utama yang berperan sebagai pemulih keadaan mental dan emosional agar dapat menumbuhkan resiliensi. Keadaan pandemi membatasi interaksi dan kontak fisik, maka diperlukan teknologi yang dapat bekerja dengan efektif tanpa kontak fisik yang terlalu intens, namun tetap memiliki dampak positif yang besar. Penggunaan teknologi VR dalam CBI juga bisa membuka jalan bagi jalan bagi penggunaan VR dalam intervensi lain yang juga melibatkan visualisasi mental seperti kecemasan atau fobia.

Walau begitu, penulis menyadari bahwa ada hambatan dalam pelaksanaan strategi ini, terutama terkait teknologi VR. VR dikenal sebagai alat yang terbilang mahal dan belum memperoleh perhatian besar di Indonesia, terutama pemerintah dan institusi-institusi kesehatan jiwa. Namun hal ini dapat diatasi dengan mulai menginvestasikan dana yang dimiliki pada teknologi-teknologi canggih agar proses inovasi demi VR yang lebih terjangkau dapat terus berlangsung. Menurut firma riset Tratica (2016) dalam Neiger (2016), perusahaan-perusahaan teknologi kelas atas seperti Google dan Samsung terus berinovasi membuat VR yang lebih terjangkau, dan jika ketertarikan masyarakat terus meningkat, maka diprediksikan VR akan mengalami penurunan harga sekitar 15 persen setiap tahunnya. Selain memulai investasi, bisa juga memanfaatkan berbagai jenis alternatif VR yang tersedia seperti contohnya mobile VR yang dapat diintegrasikan dengan layar handphone, notebook, dan sistem tampilan VR dengan kartu grafis.

Jadi daripada melihat kelangkaan VR sebagai suatu ancaman lalu menolak untuk melibatkannya dalam layanan kesehatan, kita perlu melihat fenomena ini sebagai suatu kesempatan untuk mulai memberi perhatian pada integrasi teknologi dalam intervensi psikologis, sehingga layanan kesehatan mental dapat tetap menghasilkan dampak positif yang optimal bahkan dengan proses yang lebih efektif demi kehidupan kenormalan baru yang lebih baik bagi seluruh masyarakat Indonesia.

 

Daftar Pustaka

 

Brown, P., Waite, F., Rovira, A., Nickless, A. & Freeman, D. (2020). Virtual reality clinical-experimental tests of compassion treatment techniques to reduce paranoia. Scientific Reports. 10(1). DOI: 10. 8547. 10.1038/s41598-020-64957-7.

Cebolla, A., Herrero, R., Ventura, S., Miragall, M., Bellosta-Batalla, M., Llorens, R., & Baños, R. M. (2019). Putting Oneself in the Body of Others: A Pilot Study on the Efficacy of an Embodied Virtual Reality System to Generate Self- Compassion. Frontiers in psychology, 10, 1521. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2019.01521.

CNN Indonesia. (2020, 25 April). Corona, kriminalitas dan ragam imbas sosial masyarakat. Cnnindonesia.com. Diunduh tanggal 25 Mei 2020, diambil dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200424151758-12- 496997/coronakriminalitas-dan-ragam-imbas-sosial-masyarakat.

Kirby J. N. (2017). Compassion interventions: The programmes, the evidence, and implications for research and practice. Psychology and psychotherapy, 90(3), 432–455. https://doi.org/10.1111/papt.12104.

Kompas.com (2020, 15 Mei). WHO Peringatkan Krisis Gangguan Mental Global Akibat Pandemi. LifestyleKompas.com. Diunduh tanggal 24 November 2020. Diambil dari https://lifestyle.kompas.com/read/2020/05/15/135714920/who- peringatkan-krisis-gangguan-mental-global-akibat-pandemi.

Neiger, C. (2016). Virtual reality is too expensive for most people — but that’s about to change. Business Insider. Diunduh tanggal 25 Novermber 2020. Diambil dari https://www.businessinsider.com/why-is-virtual-reality-so-expensive-2016- 9?r=US&IR=T.

PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) (2020). Masalah Psikologis di Era Covid-19. Situs Resmi PDSKJI. Diambil dari http://pdskji.org/ home.

Pearson D., G., Deeprose C, Wallace-Hadrill S., M., A., Heyes S., B., Holmes E., A. (2013). Assessing mental imagery in clinical psychology: A review of imagery measures and a guiding framework. Clinical Psychology Review. 33(1). 1-23. DOI: 10.1016/j.cpr.2012.09.001.

Taylor, S. (2019). The psychology of pandemics: preparing for the next global outbreak of infectious disease. New Castle, UK: Cambridge Scholars Publishing.

Utari, S.D. (2019, 23 Desember). Butuh perhatian, ini kendala penanganan kesehatan mental di Indonesia. suara.com. Diunduh tanggal 25 Mei 2020, dari https://www.suara.com/yoursay/2019/12/23/121930/butuh-perhatian-ini-kendalapenanganan-kesehatan-mental-di-indonesia.

Ventura, S., Baños, R. M., & Botella, C. (2018). Virtual and Augmented Reality: New Frontiers for Clinical Psychology. State of the Art Virtual Reality and Augmented Reality Knowhow. doi:10.5772/intechopen.74344.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.