Kesehatan Mental Istri Korban KDRT saat Pandemi – Andra Lieng Shia Sitio

Kesehatan Mental Istri Korban KDRT saat Pandemi

Andra Lieng Shia Sitio

(Universitas Katolik Soegijapranata)

 

Pandemi Covid-19 mengancam kehidupan manusia di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia. Jumlah kasus Covid-19 per tanggal 9 November 2020 adalah 50,030,121 orang, sebanyak 1,252,072 orang terkonfirmasi meninggal dunia di tanggal tersebut (WHO dkk. tanggal 9 November 2020 pada 04.07 PM WIB). Pertambahan jumlah penderita Covid-19 yang sangat pesat setiap harinya di Indonesia memaksa pemerintah untuk mengambil kebijakan-kebijakan penanganan Covid-19 ini. “Bekerja dari rumah, Belajar dari rumah, dan Beribadah dari rumah” merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang menganjurkan kita untuk melindungi kesehatan diri sendiri dan kesehatan orang-orang yang kita cintai. Tanpa kita sadari, banyak kejadian yang terjadi di rumah sehingga sisi psikologis kita bergejolak semasa pandemi ini salah satunya karena adanya kekerasan  dalam  rumah  tangga.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menyebut, pandemi Covid-19 bukan sekadar bencana kesehatan. Lembaga ini bahkan menyebutkan pandemi Covid-19 juga merupakan bencana yang diduga memicu meningkatnya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Tercatat ada ratusan kasus KDRT sepanjang pandemi Covid-19. Berdasarkan data aduan ke Kementerian PPPA, pada 10 – 22 Mei 2020 terdapat 453 kasus kekerasan terhadap wanita dan anak-anak, 227 kasus di antaranya terjadi di rumah, dan pada 211 kasus yang dilaporkan itu, kekerasan dalam rumah tangga dilakukan oleh suami terhadap istri dan anak-anak. Kekerasan yang dilakukan suami terhadap istri mendominasi hampir setengah kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di Indonesia.

Seperti yang dilaporkan Idon Tanjung (2020) dalam Kompas.com, seorang istri di Pekanbaru menyebutkan bahwa ia mengalami kekerasan yang dilakukan oleh suaminya sendiri. Ketika ia meminta uang belanja untuk kebutuhan makan keluarganya. “Kepala saya dibenturkan ke tembok rumah serta di caci maki”, tutur sang istri. Hal ini selaras dengan pernyataan Komisioner Komnas HAM Maria Ulfah Anshor, bahwa survei daring terhadap 2.285 responden berpenghasilan di bawah 5 juta rupiah per bulan pada April hingga Mei 2020 menunjukkan bahwa sebanyak 80% responden perempuan pada kelompok tersebut mengaku bahwa kekerasan yang mereka alami cenderung meningkat selama masa pandemi.

Sepenggal kisah penuturan istri korban KDRT serta data-data yang penulis temukan, semakin menguatkan fakta bahwa fenomena KDRT terhadap istri marak terjadi selama pandemi ini. KDRT terhadapp istri menjadi keprihatinan yang juga perlu ditangani selama masa Pandemi Covid-19 ini. KDRT tentunya sangat merugikan korban-korbannya, menimbulkan berbagai ancaman salah satunya adalah ancaman psikis. Peluang keluarga lapisan menengah kebawah untuk mengakses layanan perlindungan kekerasan cenderung rendah tanpa adanya upaya perluasan jangkauan layanan yang holistik. Layanan perlindungan kekerasan ada, namun seringkali layanan tersebut belum dapat diakses oleh keluarga lapisan menengah kebawah karena berbagai faktor, termasuk keterbatasan pengetahuan tentang apa, mengapa dan bagaimana terjadinya KDRT, maupun kontrol diri dari keluarga menengah kebawah untuk mencegah terjadinya kekerasan. Penting sekali bagi kita untuk memahami faktor yang menyebabkan maraknya KDRT pada masyarakat ekonomi menengah ke bawah terutama di masa pandemi Covid-19, serta upaya, khususnya dari ilmu psikologi, yang secara inovatif dapat mengatasi permasalahan tersebut.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Pasal 1 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT) menyebutkan, bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis dan/ atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dan lingkup rumah tangga.

Dilansir dari medcom.id, dalam konferensi pers APBN pada tanggal Selasa, 22 September 2020, Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 mengalami kontraksi kisaran 2,8 persen hingga satu persen. Sehingga faktor penyebab maraknya KDRT selama pandemi pada masyarakat ekonomi menengah kebawah tak lain adalah faktor ekonomi. situasi konflik dimana pelaku dan pasangannya saling adu argumentasi menggunakan kata-kata provokatif, dan pasangannya mengancam keberhargaan diri si pelaku (Wilkinson & amp; Hammerschlag, 2005, dalam Finkel & amp; Eckhardt, 2013).

Masyarakat kalangan ekonomi bawah dengan tingkat pendidikannya rendah dan lingkungan yang keras, erat diidentikkan dengan rendahnya kesadaran dan kontrol perilaku yang nampak dengan tutur kata yang “nyablak” apa adanya. Stimulus berupa kata-kata yang provokatif, menyinggung, dan merendahkan diri pasangan inilah, yang diasosiasikan dengan reaksi penolakan yang keras dari pelaku. Bila kondisi konflik memanas, stimulus-stimulus yang demikian sangat sering memantik tindak kekerasan dalam rumah tangga.

Beberapa masalah kesehatan mental yang bisa terjadi dari kekerasan dalam rumah tangga adalah depresi, penyalahgunaan zat, kecemasan, gangguan kepribadian, gangguan stres pasca trauma, gangguan makan dan tidur, disfungsi sosial, dan bunuh diri (Abbot & Williamson, 1999. Gerlock, 1999. Howard, Trevillion, & Agnew Davies, 2010 Mc Caw dkk., 2007). Penelitian yang dilakukan oleh Alexander (2000) mengemukakan bahwa perempuan yang selalu menahan perasaan dan memendam gejolak batinnya akan cenderung mengarahkan kemarahannya ke dalam diri sehingga menimbulkan rasa takut dan cemas yang berujung pada depresi. Kecemasan menurut Spielberger (1972) merupakan reaksi emosional yang tidak menyenangkan terhadap bahaya nyata atau imajiner yang disertai dengan perubahan sistem syaraf otonom dan pengalaman subjektif sebagai “tekanan“, “ketakutan“ dan “kegelisahan“. Sedangkan menurut Atwater (1983), kecemasan merupakan perasaan tidak nyaman dan ancaman bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Pada banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi selama Pandemi Covid-19 seperti yang dikemukakan oleh Pietromonaco (2020), tetangga, kerabat dekat, maupun keluarga (misalnya ibu mertua) seringkali tidak dapat hadir dan memberikan dukungan sosial seperti melerai langsung pasangan yang bertikai. Kebijakan social distancing membuat dukungan sosial pasangan dari lingkungan eksternal menjadi minim sekali. Pelaku dengan kecenderungan “main fisik” yang terkungkung di satu tempat tertutup dengan sumber kemarahannya sementara pihak lain yang turut mengawasi sekaligus memberi sanksi sosial tidak ada, menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga menjadi tak terhindarkan (Finkel & amp; Foshee, 2009, dalam Slotter & amp; Finkel, 2012).

Cara yang dapat mengatasi dampak psikis korban kekerasan dalam rumah tangga terutama istri pada saat pandemi adalah psikoedukasi dan roleplay. Psikoedukasi yang penulis adakan bertujuan untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga dengan cara memberikan pengetahuan mengenai jenis-jenis kata-kata yang provokatif dan respon-respon perilaku agresif yang perlu diwaspadai dan disikapi dengan komitmen pada pasangan dan kemampuan mengendalikan diri. Dalam psikoedukasi, penulis menyampaikan materi mengenai faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga melalui penyuluhan singkat. Psikoedukasi bermanfaat memberi pengetahuan, pemahaman, strategi perbaikan diri maupun strategi pemecahan masalah yang berguna untuk meningkatkan kualitas hidup individu dan kelompok (Bhattacharjee dkk., 2011).

Sebuah studi eksperimental yang dilakukan oleh Bridges, dkk. (2014) menunjukkan bahwa dengan mengikuti psikoedukasi, peserta mengalami peningkatan pengetahuan yang signifikan mengenai kekerasan terhadap pasangan, dan peningkatan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan itu dalam mengenali konflik dalam konteks ekonomi maupun sosial yang berujung kekerasan terhadap pasangan. Pada psikoedukasi ini, penulis secara umum menjelaskan bagaimana faktor pemicu yaitu perdebatan yang secara langsung menyulut faktor kerentanan diri pelaku, serta bagaimana dorongan kekerasan itu menjadi semakin parah maupun menjadi relatif mudah dikendalikan dengan faktor-faktor di luar perdebatan yang terjadi.

Selanjutnya penulis akan menerapkan roleplay yang bertujuan untuk menempatkan para pasangan dalam permainan peran dimana mereka beradu argumen hingga memuncak lalu bersama-sama mencari solusi dengan mengedepankan pengendalian diri dan komitmen pada pasangan. Dengan bermain peran, diharapkan pasangan-pasangan dari kalangan masyarakat ekonomi bawah bisa mendapatkan insight tentang bagaimana kekerasan dalam rumah tangga terjadi dan bisa diatasi. Untuk menjangkau masyarakat ekonomi bawah, penulis menggunakan pendekatan terhadap keluarga, khususnya di RT dengan populasi masyarakat ekonomi bawah terbesar. Tim relawan akan berkoordinasi dengan pengurus RT untuk melaksanakan program ini. Program ini diadakan secara offline di aula kelurahan dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan. menggunakan pendekatan terhadap keluarga, khususnya di RT dengan populasi masyarakat ekonomi bawah terbesar.

Faktor lain yang turut membantu mengendalikan situasi konflik dalam rumah tangga adalah kemampuan individu, baik suami maupun istri, untuk mengendalikan diri sendiri (self regulatory). Menurut penelitian Hesmati dkk, 2016, self-regulatory merupakan upaya diri sendiri dalam mengatur perilaku, dimana seseorang mengidentifikasikan faktor penyebab, mengasah keterampilan berelasi, merumuskan kembali relasi dengan pasangannya, mengenali faktor yang “memanaskan konflik” lalu mencari solusinya, mempelajari cara bekerja sama satu dengan yang lain, sehingga bisa mengambil keputusan dengan kolaboratif.

Selaras dengan studi yang dilakukan Halford (2010) dalam Heshmati dkk. (2016) disimpulkan bahwa rendahnya ketrampilan self-regulatory terkait erat dengan tingginya tingkat kekerasan dalam hubungan rumah tangga. Ketika pelaku mengalami dorongan yang kuat, adanya self-control akan menghambatnya melakukan tindak kekerasan. Ia lalu “berpikir mundur sejenak untuk melihat perspektif yang lebih luas dan lebih positif pada kejadian itu, sehingga kemudian bisa mengatasi panasnya pertengkaran” (Holmes & amp; Murray, 1996, dalam Finkel & amp; Eckhardt, 2013). Dengan demikian diharapkan peserta penyuluhan menjadi lebih sadar dan memahami dinamika psikologis di balik tindak kekerasan dalam rumah tangga terhadap istri khususnya semasa Pandemi Covid-19, serta mendapatkan gambaran bagaimana memperbaiki diri masing-masing dan memecahkan masalah dalam relasi pernikahan mereka.

 

 

Daftar Pustaka

Atwater, E. (1983). Psychology of Adjustment : Personal Growth In A Changing World. 2nd. Ed.

Bhattacharjee, D. dkk. (2011). Psychoeducation: A Measure to Strengthen Psychiatric Treatment. Delhi Psychiatry Journal, 14(1), 33-39.

Bridges, A. dkk. (2014). The Effect of Brief, Passive Psychoeducation on Knowledge and Ratings of Intimate Partner Violence in the United States and Argentina. Journal of interpersonal violence. 30. DOI: 10.1177/0886260514534775.

Finkel, E. J. dkk. (2012). Using I 3 Theory to Clarify When Dispositional Aggressiveness Predicts Intimate Partner Violence Perpetration. Journal of Personality and Social Psychology, 102(3), 533-549.

Finkel, E. J., & Eckhardt, C. I. (2013). Intimate Partner Violence. In J. A. Simpson & L. Campbell (Eds.), Oxford library of psychology. The Oxford handbook of close relationships (p. 452–474). Oxford University Press.

Heshmati, dkk. (2016). Effectiveness of Self-Regulation Couple Therapy intervention on marital satisfaction and partner abuse (non-physical). Mediterranean Journal of Clinical Psychology. 4. DOI: 10.6092/2282- 1619/2016.4.1195.

Idon Tanjung. (2020). Video Viral Suami Aniaya Istri, Korban Akhirnya Lapor Polisi, Pelaku Pun Mulai Diburu. Diambil dari Kompas.com : https://regional.kompas.com/read/2020/06/03/10302021/video-viral-suami-aniaya-istri-korban-akhirnya-lapor-polisi-pelaku-punmulai?page=all pada tanggal 5 November 2020 pukul 12.00.

McCaw, B., Golding, J. M., Farley, M., & Minkoff, J. R. (2007). Domestic violence and abuse, health status, and social functioning. Women & Health, 45(2), 1 -23.

Pietromonaco, P. (2020). APS Backgrounder Series: Psychological Science and COVID-19: Pandemic Effects on Marriage and Relationships. Dikutip dari https://www.psychologicalscience.org/news/backgrounders/backgrounder- marriage-and-relationships.html pada tanggal 18 November 2020 pukul

19.00 WIB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.