SELF-COMPASSION: BERBAIK HATI TERHADAP DIRI, SATU STRATEGI HADAPI CYBERBULLYING

Ditulis Oleh:
Assanatul Laras Hapsari

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

1. Pendahuluan

Memasuki era digital, jumlah pengguna internet di Indonesia semakin bertambah setiap tahunnya. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) per tahun 2018, pengguna internet telah mencapai 64,8% dari total 264,16 juta penduduk. Jumlah tersebut meningkat sebanyak 10,12% dari tahun sebelumnya. Penetrasi pengguna internet paling tinggi diketahui berada pada rentang usia 15-19 tahun, yang mana 91% di antaranya merupakan pengguna internet (APJII, 2019).
Dunia maya, tentu saja, merupakan dunia yang sangat luas. Seseorang dapat melakukan nyaris apa saja melalui dunia maya. Dapat dikatakan internet mempermudah kehidupan manusia. Beberapa alasan seseorang menggunakan internet antara lain untuk berkomunikasi melalui pesan, menggunakan media sosial, mencari informasi terkait pekerjaan, dan sekadar mengisi waktu luang (APJII, 2019). Berkomunikasi melalui pesan merupakan alasan utama penggunaan internet, disusul oleh menggunakan media sosial sebagai alasan kedua.
Menilik tingginya jumlah remaja yang menggunakan internet serta tingginya minat penggunaan media sosial di Indonesia, tampaknya penting untuk memperhatikan secara saksama dampak dari hal-hal tersebut. Fenomena cyberbullying salah satunya. Berdasarkan survei yang dilakukan APJII (2019), sebanyak 49% pengguna internet mengaku pernah di-bully di media sosial dan 31,6% membiarkan saja perilaku cyberbullying tersebut. Bentuknya antara lain berupa penyebaran informasi rahasia, pengabaian secara sengaja, serta penghinaan dan pelecehan secara berulang yang melibatkan ancaman atau menimbulkan ketakutan.
Tingginya angka cyberbullying seharusnya membuat kita prihatin, terlebih karena kebanyakan pengguna media sosial adalah kelompok usia remaja yang tengah mencari identitas diri. Lebih jauh lagi, akan sangat berbahaya apabila cyberbullying menimbulkan dampak secara psikologis terhadap korban. Masih banyak korban cyberbullying yang tidak berani melapor kepada pihak berwenang dan lebih memilih
untuk diam saja, bahkan terlalu memikirkan apa yang ditulis oleh pelaku cyberbullying dan justru turut mengkritik dirinya sendiri. Akibatnya, tidak jarang korban cyberbullying, khususnya remaja, berakhir mengalami gangguan psikologis seperti depresi dan gangguan kecemasan.

2. Pembahasan

“Kita tidak bisa mengendalikan apa yang diperbuat orang lain, tapi kita bisa mengatur respon kita terhadap perbuatan mereka.”
˗˗ Anonim

    Teori Perkembangan Erik Erikson (1950, 1968; Santrock, 2012) menyebutkan bahwa tahap perkembangan yang dialami individu pada remaja adalah tahap identitas versus kebingungan identitas (identity versus identity confusion). Pada masa ini, remaja harus menentukan siapa dirinya, bagaimana dirinya, serta tujuan yang ingin diraihnya. Bagi remaja yang menjadi korban cyberbullying, sangat dimungkinkan ia akan mengalami kebingungan identitas. Pasalnya, dalam usahanya mencari identitas diri, remaja justru disuguhi dengan kata-kata atau konten negatif yang menjatuhkan self-image-nya. Misalnya saja, apabila remaja mendapat komentar dari orang lain bahwa swafoto yang diunggahnya terlihat jelek dan remaja tersebut terus-menerus memikirkannya, mungkin ia akan beranggapan bahwa dirinya memang buruk dan tidak pantas mengunggah swafoto. Contoh lain misalnya seorang penyanyi remaja membuat kesalahan teknis saat bernyanyi di sebuah acara televisi yang kemudian akun media sosialnya dibanjiri oleh komentar negatif dari para netizen atau seorang remaja yang menulis status berbahasa Inggris tetapi tata bahasanya salah yang lantas teman-temannya mengejek kesalahan tersebut di kolom komentar. Dampaknya, mungkin mereka akan merasa gagal dan tidak berani lagi bernyanyi maupun menulis dengan bahasa Inggris. Padahal, bisa jadi hal-hal tersebut merupakan kegiatan yang mereka sukai dan tekuni. Akibatnya,remaja menjadi bingung dalam menentukan identitas dirinya.

Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa terdapat kaitan antara kebingungan identitas pada remaja terhadap munculnya gangguan psikologi seperti depresi, kecemasan, serta gangguan impulsivitas (Donovan et al, 2013). Self-compassion merupakan sebuah konsep yang digagas oleh Kristin Neff. Definisinya ialah sikap positif terhadap diri sendiri yang melindungi dari akibat negatif self-judgment, isolation, dan rumination (Neff, 2003). Komponen utama dari self-compassion meliputi self-kindness, common humanity, dan mindfulnes. Ketiga komponen tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain, sehingga apabila satu komponen dalam diri seseorang rendah maka komponen lain juga rendah, begitu pula sebaliknya. Neff (2003) mendefinisikan self-kindness sebagai sikap baik terhadap diri sendiri serta memahami dan tidak mengkritik, common humanity yakni melihat pengalamannya sendiri sebagai bagian dari pengalaman manusiawi yang dirasakan oleh setiap orang di dunia, serta mindfulness yaitu melihat pengalaman buruk secara seimbang dan tidak mengidentifikasi suatu masalah secara berlebihan. Berbagai penelitian membuktikan bahwa self-compassion memberikan berbagai macam manfaat dalam kesehatan mental seperti berkurangnya depresi, berkurangnya gangguan kecemasan, berkurangnya perfeksionisme yang neurotik, serta meningkatnya kepuasan hidup (Neff, 2003). Individu dengan self-compassion yang tinggi cenderung lebih adaptif dalam menghadapi pengalaman buruk.
Meninjau banyaknya manfaat yang didapatkan dari self-compassion yang tinggi pada diri seseorang, maka tampaknya penting untuk meningkatkan selfcompassion. Meningkatkan self-compassion tentu dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk para remaja.
Dalam kasus cyberbullying, self-compassion dapat menjadi salah satu strategi untuk mengatasinya. Jika seorang remaja menjadi korban cyberbullying, terdapat beberapa langkah yang dapat diterapkan:

  1. Bersikap baik terhadap diri sendiri (self-kindness). Siapa pun pasti akan terkejut ketika tiba-tiba ada yang menulis komentar atau menyebarkan informasi buruk tentang dirinya di media sosial. Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan tidak terburu-buru menelan mentah-mentah konten cyberbullying tersebut dan menyalahkan diri.
    Misalnya, jika ada yang mengejek tata bahasa dalam status yang ditulis menggunakan bahasa Inggris, maka jangan terburu-buru merasa bahwa kita benar-benar bodoh dan tidak pandai berbahasa Inggris. Kesalahan memang sudah terlanjur terjadi, tapi bukan berarti kita tidak bisa belajar dari kesalahan tersebut. Selalu ada kesempatan-kesempatan berikutnya untuk menjadi lebih baik. Jangan mengkritik diri secara berlebihan hanya karena sebuah kesalahan yang selalu dapat diperbaiki pada kesempatan berikutnya.
  2. Sadari bahwa baik kebahagiaan dan kesedihan merupakan bagian manusiawi yang dialami oleh seluruh orang di dunia (common humanity). Itu artinya, pengalaman buruk menjadi korban cyberbullying tidak hanya dialami oleh dirinya sendiri. Setiap orang pasti pernah mengalami perasaan sedih dan terpuruk meski dalam situasi yang berbeda-beda.
    Untuk itu, kita tidak perlu merasa sendirian dan terisolasi ketika mengalami keterpurukan. Berusaha mencari bantuan dari orang lain mungkin pula dapat membantu.
  3. Cermati terlebih dahulu konten dan konteksnya, apa kira-kira penyebab ia dibully? Dengan melihat segala sesuatunya secara luas dan tidak terpusat pada diri sendiri (mindfulness), individu tersebut dapat mengidentifikasi masalah dengan baik dan membuat keputusan yang tepat terkait apa yang harus ia lakukan. Misalnya apabila seseorang menulis komentar negatif pada postingan yang bahkan tidak mengandung unsur negatif dan cenderung tidak ada kaitannya, maka ia dapat menulis pesan secara privat kepada pelaku cyberbullying untuk menanyakan kejelasan terkait komentar tersebut. Jika kemudian yang didapat hanyalah serangan terus-menerus tanpa kejelasan, maka ia bisa melaporkan komentar tersebut melalui layanan yang diberikan oleh media sosial bersangkutan.

Pada intinya, kita tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain lakukan terhadap kita, entah perbuatan baik atau buruk. Maka dari itu, kita sendirilah yang harus mengatur bagaimana respon kita. Dengan usaha meningkatkan self-compassion, segala bentuk dampak psikologis dari pengalaman buruk, termasuk menjadi korban cyberbullying, dapat diminimalisir

3. Kesimpulan

Fenomena cyberbullying yang merebak di era digital yang serba mudah dan cepat ini menimbulkan kekhawatiran terkait dampak psikologis yang diterima korban, seperti depresi dan kecemasan. Hal ini khususnya pada remaja yang tingkat penggunaan media sosialnya tinggi dan di saat bersamaan tengah berada dalam masa pencarian identitas diri. Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak gangguan psikologis yang mungkin muncul adalah dengan meningkatkan self-compassion, yakni berbaik hati pada diri sendiri meskipun sedang mengalami pengalaman buruk berupa cyberbullying.