MENTAL HEALTH: DEPRESSION AND ANXIETY DISORDER KESEHATAN MENTAL GENERASI MILLENIAL DI KAMPUS “Bersama Bukan Disamakan, Bergantung Bukan Digantungkan”

DITULIS OLEH:

Noor I’anah

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU

Pendahuluan

Ketika kita membahas mengenai generasi, maka bukanlah sesuatu yang asing lagi terkait generasi millenial. Ada empat generasi yang kita kenal seiring dengan perkembangan zaman, mulai dari Baby Boomers, Generasi X, Generasi Y, hingga generasi Z. Generasi Z (Gen Z) merupakan generasi pertama yang sejak lahir mengenal internet dan telah akrab dalam kesehariannya (Adam, 2017). Gen Z, yang juga dikenal dengan sebutan postmillenial, ialah individu yang lahir dari tahun 1997 hingga seterusnya (Boroujerdi & Wolf, 2015; Dimock, 2018). Gen Z tertua saat ini berumur 21 tahun, yang artinya dapat diasumsikan sedang menempuh studi di perguruan tinggi ataupun masuk dalam dunia kerja.

Dari definisi tersebut, maka dapatlah kita pahami terkait definisi dari generasi Z sendiri, dan apa perbedaannya dengan generasi millenial. Dibanding generasi sebelumnya, generasi millennial memang unik, hasil riset yang dirilis oleh Pew Researh Center menjelaskan keunikan generasi millennial dibanding generasi-generasi sebelumnya. Yang mencolok dari generasi millennial ini dibanding generasi sebelumnya adalah soal penggunaan teknologi dan budaya pop/ musik. Kehidupan generasi millennial tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet, entertainment/ hiburan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini (Supriyoko, 2019). Menurut WHO, kesehatan mental didefinisikan sebagai keadaan yang baik dimana individu menyadari potensi diri mereka yang sebenarnya, bisa coping dengan stres normal dari hidup, bisa bekerja dengan produktif dan mampu memberi kontribusi pada lingkungannya.

Era globalisasi telah menyebabkan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan di dunia ini. Namun, di satu sisi kondisi dunia yang tidak dapat dikatakan stabil dalam era globalisasi ini bisa menyebabkan pertumbuhan angka pengidap penyakit mental. Penyakit mental dapat didefinisikan sebagai kondisi kesehatan yang mengubah cara berpikir, perasaan, atau perilaku seseorang (atau ketiganya) yang menyebabkan kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Individu yang memiliki penyakit mental tidak mutlak terlihat sebagaimana orang mengidap  penyakit pada umumnya, namun bukan berarti penyakit mereka tidak lebih berat daripada orang yang mengidap penyakit yang menyerang fisik (Phangadi, 2019). Oleh karena itu, sebagaimana yang kita ketahui sesuatu yang terlihat samar inilah yang perlu diberikan perhatian lebih. Berikut ini penulis akan membahas lebih mendalam terkait kesehatan mental remaja akhir dan dewasa awal alias generasi Z khususnya yang terkait kehidupan kampus.

Pembahasan

Mahasiswa, sekilas yang terbesit di bayangan orang-orang adalah mereka yang rajin belajar memiliki kemampuan otak yang bagus atau bahkan mereka yang sehat jasmani dan rohani hingga memiliki jaminan masa depan yang lebih baik. Penulis kurang setuju dengan argumen tersebut, namun bukan berarti menganggapnya salah. Hanya saja, terdapat kekeliruan kecil yang berarti fatal di balik kalimat itu. Berbicara tentang kesehatan mental, sekilas orang awam akan memahaminya dengan klasifikasi orang waras dan orang gila. Tentu saja tidak demikian, jika kita kaji berdasarkan ilmu pskologi. Karena individu yang nampak sehat dan segar bugar bahkan tersenyum lebar tidak menutup kemungkinan memiliki masalah pada kesehatan mentalnya. Kembali kita ingatkan bahwa mental seseorang tidak dapat dilihat secara kasat mata namun bukan berarti tidak mungkin untuk mendiagnosisnya melalui tingkah laku karena tingkah laku merupakan manifestasi dari jiwa manusia. Disadari atau tidak, faktanya kesehatan mental menjadi isu yang hangat di lingkungan kampus tempat dimana biasanya kita menemukan individu yang biasa disebut dengan mahasiswa. Bahkan, tidak menutup kemungkinan penulis ataupun pembaca juga merupakan mahasiswa dan ditengarai mengalami masalah kesehatan mental. Hal ini wajar, karena kita merupakan manusia dan makhluk yang berpikir.

Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh dosen filsafat penulis, Prof. Ersis Warmansyah Abbas, beliau mengatakan bahwa manusia itu adalah makhluk yang berpikir. Berpikir ini membuat kita mampu bertahan dan menjalani hidup. Namun, seperti pedang bermata dua, tidak menutup kemungkinan karena berpikir ini juga kehidupan kita menjadi terhenti karena kita mencapai batas atau gagal
mengendalikannya hingga lahirlah berbagai masalah mental yang sering kali jarang disadari hingga menggerogoti diri dan bahkan mengancam keselamatan jiwa. Berbicara mengenai mahasiswa dan kesehatan mental, ada berbagai jenis gangguan kesehatan mental yang terjadi pada mahasiswa, baik itu disadari atau tidak, bahkan hal yang lazim kita lakukan bisa jadi merupakan salah satu tanda atau gejala dari gangguan kesehatan mental sendiri, khususnya yang sering dilakukan mahasiswa millenial seperti bergaul dan mengikuti gaya kekinian termasuk di dalamnya penggunaan teknologi seperti smartphone.

Pada kesempatan kali ini penulis akan membicarakan empat gangguan kesehatan mental yang terjadi pada generasi millenial di kampus hasil observasi langsung ke teman-teman mahasiswa di lingkungan kampus dan riset dari beberapa artikel dan jurnal terkait yang mendukung. Karena yang akan kita bahas adalah terkait mahasiswa maka masalah yang menurut penulis cocok untuk diletakkan di posisi pertama yaitu academic procastination atau penundaan akademik. Baik penulis sendiri maupun pembaca tidak terlepas dari hal tersebut. Penundaan akademik ialah sifat menunda-nunda atau mengundur waktu untuk mengerjakan suatu pekerjaan (tugas, belajar, dan sebagainya) dengan alasan adanya pekerjaan lain yang sebenarnya tidaklah lebih penting atau bermanfaat. Selain penundaan akademik, Fear of Missing Out (FoMO) menempati posisi kedua terkait permasalahan kesehatan mental yang terjadi pada generasi millenial di kampus. Fear of Missing Out (FoMO) diartikan sebagai keadaan dimana seseorang ingin selalu melihat aktivitas orang lain melalui internet dan menganggap apa yang dilakukan oleh orang lain tersebut lebih berharga dari apa yang bisa dilakukannya sehingga menyebabkan terjadinya kecemasan pada dirinya atau sederhananya dipahami sebagai kecemasan digital. Kita ketahui bahwa generasi millenial sejak lahir dan dalam kehidupannya selalu akrab dengan internet. Sehingga permasalahan mental generasi millenial di kampus yang penulis pilih di kedudukan ketiga adalah General Patologies Internet Using (GPIU).

GPIU adalah suatu kondisi dimana individu mengalami ketergantungan yang tinggi pada internet dan menganggapnya sebagai sesuatu yang umum dan sarana pelarian dari ketidakmampuan beradaptasi dengan keadaan sekitar hingga membuatnya menjadi suatu penyakit interpersonal di mata orang lain. Atau sederhananya kita sebut dengan ketergantungan internet. Terakhir, di posisi ke empat penulis menempatkan Nonsuicidal self-injury (NSSI) atau sederhananya kita pahami sebagai membahayakan diri tanpa maksud mematikan. Masalah mental satu ini tidak hanya bisa kita lihat di webtoon, dramadrama, ataupun film-film saja karena jika kita teliti maka kita bisa menemukannya langsung di kehidupan sehari-hari. Selain empat permasalahan mental tersebut, tentunya masih banyak permasalahan mental yang terjadi dan dialami oleh generasi millenial di kampus. Namun, penulis ingin memfokuskan kepada empat masalah tersebut dengan alasan bahwa masalah tersebut sering dialami oleh generasi millenial di kampus khususnya mahasiswa tahun pertama seperti penulis, di mana kehidupan berubah 180 derajat dari sekolah menjadi perkuliahan, beberapa mungkin merantau jauh dan terpisah dari orang tua, hingga teman-teman dan lingkungan yang baru, masalah mental ini juga sering tidak disadari atau dianggap biasa atau bahkan diabaikan sama sekali, serta dampak yang ditimbulkannya bahkan bisa sampai mengancam nyawa penderitanya. Jadi, tidak hanya ancaman keselamatan mental namun bahkan kehidupan individu tersebut.

Teringat sebuah ungkapan lama “Tidak Ada Asap Tanpa Adanya Api”, klise memang namun begitulah pula yang penulis sadari terkait permasalahan kesehatan mental ini. Sebuah masalah tidak akan timbul tanpa adanya penyebab. Kita ambil contoh dari permasalahan mental academic procastination atau penundaan akademik tadi, hal tersebut tidak serta-merta terjadi dengan sendirinya. Hasil observasi penulis kepada teman-teman seangkatan menemukan fakta bahwa penundaan akademik ini dapat terjadi karena keterbatasan waktu, kurangnya kontrol diri, hingga pola pikir yang keliru. Mungkin bukanlah suatu hal yang baru kita dengar jika alasan keterbatasan waktu dan kontrol diri terjadi pada sebuah kaum yang memiliki kutukan sebutan maba (mahasiswa baru), karena mereka terbiasa dimanja dan disuapi ketika masih di sekolah menengah lalu kemudian tiba-tiba saja harus mengahadapi kerasnya kehidupan kampus. Adapun untuk masalah kesehatan mental kedua, yakni Fear of Missing Out (FoMO) atau kecemasan digital dapat terjadi karena adanya perasaan rendah diri, pola pikir yang keliru hingga tidak adanya atau tidak memiliki role model yang sesuai dengan hatinya. Sehingga, dia terus menerus mencari sesuatu yang dianggapnya cocok dengan hatinya, namun di sinilah kekeliruannya, karena yang dia cari adalah apa yang dia inginkan bukan apa yang dia butuhkan sehingga segala sesuatu yang ditemuinya senantiasa dirasa tidak cocok dan menyebabkan dirinya menjadi orang yang plin-plan dan berujung pada perasaan rendah diri.

Permasalahan mental yang ketiga yakni General Patologies Internet Using (GPIU) atau ketergantungan internet disebabkan oleh faktor utama yakni lingkungan baru yang kemudian melahirkan faktor-faktor lainnya yaitu kognisi maladaptif sehingga individu tidak mampu atau gagal menyesuaikan diri dengan lingkungannya karena merasa tidak sesuai dengan pikirannya yang kemudian timbullah sifat malu yang membuatnya menjadi depresi dan kesepian. Kemudian, menjadikan internet sebagai satu-satunya tepat pelarian dan sarana atau teman terbaik dalam benaknya. Permasalahan kesehatan mental yang keempat yakni Nonsuicidal self-injury (NSSI) atau menyakiti diri tanpa maksud mematikan. Faktor penyebabnya adalah kecemasan, perasaan butuh pelarian, hingga pencarian kepuasan tanpa melibatkan orang lain. Keadaan ini bisa terjadi karena individu merasa tidak ada memiliki tempat bergantung atau sebenarnya ada tempat untuk bergantung hanya saja dirinya masih belum bisa percaya. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW “Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali penyakit itu telah ada obatnya” (H. R. AlBukhari dari Abu Hurairah dalam Nawawi, 2011). Begitu pula dengan permasalahan mental yang dikemukakan di atas. Ada cara penyelesaian atau solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi hingga menghilangkannya tanpa harus dengan mengkonsumsi obat-obatan, datang ke terapis atau bahkan rawat inap di RSJ, namun dengan catatan bahwa tingkatnya masih dalam tahap yang rendah.Berikut beberapa saran penyelesaian yang dikemukakan penulis.

Pertama, untuk masalah kesehatan mental academic procastination atau penundaan akademik dapat diintervensi dengan penanaman nilai spiritual melalui terapi ibadah dan membaca kitab suci yang kemudian melahirkan budaya taat akan perintah, meningkatkan kesadaran diri akan tanggung jawab hingga manajemen waktu yang lebih baik. Bahkan hal ini sudah pernah dipraktekkan oleh Yana Dwi Cristianti dan Rosyida Nurul Anwar pada 23 mahasiswa Politeknik negeri Madiun yang mengalami penundaan akademik dan hasilnya berdampak positif.

Kedua, untuk masalah kesehatan mental Fear of Missing Out (FoMO) atau kecemasan digital penulis sarankan untuk melakukan intervensi dengan cara dibentuknya organisasi-organisasi tertentu yang sesuai dengan minat dan bakat mahasiswa sehingga mahasiswa mempunyai wadah untuk mengaktualisasikan dirinya dan jika memang sudah ada organisasinya maka kemudian diharapkan mahasiswa terkait aktif di organisasi tersebut meskipun mungkin diawali dengan bantuan saran dan perhatian dari dosen pembimbing akademik (DPA) atau himpunan mahasiswa (HIMA), serta menambah bahan bacaan positif sehingga perlahan-lahan mengalihkan kemudian menghilangkan rasa kecemasan akan digital yang sebenarnya sifatnya hanya maya.

Ketiga, untuk masalah kesehatan mental General Patologies Internet Using (GPIU) atau ketergantungan internet, dapat dilakukan intervensi dengan cara program mentoring (sejenis kakak asuh namun dalam bentuk grup) sehingga membantu individu terkait untuk mencari zona nyamannya, berkumpul dengan orang-orang yang sevisi dengannya kemudian mampu beradaptasi dengan lebih baik, selain itu penulis juga menyarankan agar individu tersebut melakukan olahraga fisik meskipun olahraga ringan saja karena olahraga fisik dipercaya mampu menghilangkan pikiran-pikiran negatif dan membuat orang lebih bersemangat.

Terakhir, terkait masalah kesehatan mental yang keempat ini, yakni Nonsuicidal self-injury (NSSI) atau menyakiti diri tanpa maksud mematikan maka saran yang dapat diberikan penulis adalah dilakukan intervensi dengan ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di wilayah kampus sehingga membantu menyegarkan pikiran dan menenangkan jiwa individu terkait tanpa harus mengaktualisasikan kecemasannya dengan menyakiti dirinya, bisa juga dengan melakukan hobi/ kesukaan bukan malah sebaliknya, serta individu terkait harus meningkatkan kesadarannnya bahwa dia merupakan makhluk sosial yang perlu teman atau sahabat, ketika ada masalah silakan berbagi dengan teman atau sahabat tanpa harus menyimpannya sendiri apalagi menyakiti diri dan jangan takut merepotkan orang lain.

Karena kita hidup untuk bersama bukan disamakan* dan untuk bergantung bukan digantungkan**. *bersama sebagai makhluk sosial dan tolong menolong, disamakan bisa menimbulkan kehilangan jati diri (beresiko mengalami FoMO dan NSSI) **bergantung satu sama lain, membuat kita tidak merasa cemas dan hidup sendiri, digantungkan membuat aktualisasi diri kita terkekang (beresiko mengalami AP dan GPIU)

Penutup 

Generasi Z (Gen Z) merupakan generasi pertama yang sejak lahir mengenal internet dan telah akrab dalam kesehariannya. Gen Z, yang juga dikenal dengan sebutan postmillenial, ialah individu yang lahir dari tahun 1997 hingga seterusnya. Penyakit mental dapat didefinisikan sebagai kondisi kesehatan yang mengubah cara berpikir, perasaan, atau perilaku seseorang (atau ketiganya) yang menyebabkan kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Individu yang memiliki penyakit mental tidak mutlak terlihat sebagaimana orang mengidap penyakit pada umumnya, namun bukan berarti penyakit mereka tidak lebih berat daripada orang yang mengidap penyakit yang menyerang fisik.

Generasi millenial yang ada di kampus pun alias mahasiswa tidak terlepas darinya. Ada berbagai jenis masalah kesehatan mental yang dapat terjadi pada mahasiswa, di antaranya ada empat yang terdengar unik namun lazim terjadi dialami mahasiswa baik disadari maupun tidak, yakni academic procastination atau penundaan akademik, Fear of Missing Out (FoMO) atau kecemasan digital, General Patologies Internet Using (GPU) atau ketergantungan internet, dan Nonsuicidal Self-Injury (NSSI) atau melukai diri tanpa maksud mematikan. Ada berbagai faktor penyebabnya, di antaranya seperti kecemasan, depresi, rendah diri, kesepian, kurangnya kontrol diri hingga pola pikir yang keliru. Namun, belum terlambat untuk mengobatinya jika Anda menyadarinya sekarang, beberapa penyelesaian yang dapat dilakukan di antaranya yakni meningkatkan nilai spiritual, menggencarkan interaksi dengan sesama, turut aktif berorganisasi, hingga mencari teman dan melakukan olahraga mampu membantu mengobatinya sedikit demi sedikit dan akhirnya tertangani dengan baik

DAFTAR PUSTAKA

Christanti, Y. D., & Anwar, R. N. (2019). Hubungan Prokrastinasi Akademik Dengan Kecerdasan Spiritual Generasi Milenial. Pedagogik: Jurnal Pendidikan, 6(1), 31-65.

Epstein, I., Khanlou, N., Balaquiao, L., & Chang, K.-Y. (2018). University Students’ Mental Health and Illness Experiences in Health and Allied Health Programs: A Scoping Review. International Journal of Mental Health and Addiction.doi:10.1007/s11469-018-9987-4

Ewing, L., Hamza, C. A., & Willoughby, T. (2019). Stressful Experiences, Emotion Dysregulation, and Nonsuicidal self-injury among University Students. Journal of Youth and Adolescence. doi:10.1007/s10964-019-01025-y

Khanlou, N. Int J Ment Ketergantungan Kesehatan (2019) 17: 415. https://doi.org/10.1007/s11469-019-00105-1

Nugroho, I. S. (2018, August). Pendekatan Eksistensial-Humanistik berbasis nilai Budaya Jawa “narimo ing pandhum” untuk mereduksi kecemasan remaja di era disrupsi. In Prosiding Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling (Vol. 2, No. 1, pp. 46-54).

Phangadi, M. (2019, June 25). Peningkatan Pengidap Penyakit Mental pada Generasi Z Periode 2013-2018. https://doi.org/10.31227/osf.io/p6ms3

Qudah, M. F. A., Albursan, I. S., Bakhiet, S. F. A., Hassan, E. M. A. H., Alfnan, A. A., Aljomaa, S. S., & AL-khadher Mohammed Mohammed Ateik. (2019). Smartphone Addiction and Its Relationship with Cyberbullying Among University Students. International Journal of Mental Health and Addiction. doi:10.1007/s11469-018-0013-7