KAMPANYE KESEHATAN MENTAL MELALUI STRATEGI AISAS DI LINGKUNGAN KAMPUS DALAM UPAYA PENGURANGAN FENOMENA NOMOPHOBIA

Ditulis Oleh :
Fanny Tirmidzi Airlangga Hadi

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

    Perkembangan teknlogi dan informasi tidak hanya dirasakan oleh negara maju saja melainkan dirasakan oleh negara berkembang salah satunya di Indonesia. Berkembangnya teknologi dan informasi bersamaan dengan tumbuhnya generasi yang disebut dengan generasi millenial. Menurut The Millennial Generation Research Review NCF menjelaskan bahwa generasi millenial adalah generasi yang lahir kisaran tahun 1980-1999 (Badan Pusat Statistik, 2018). Generasi ini tumbuh seiring dengan proses kemajuan teknologi sehingga dapat merasakan perubahannya sepanjang kehidupannya. Oleh karenanya generasi millenial selalu dikelilingi oleh suatu hal yang baru. Menurut King (2010), individu cenderung tertarik dan memberikan atensi kepada hal baru, sehingga tidak mengherankan generasi millenial selalu tertarik dengan yang namanya smartphone beserta isinya yang semakin hari semakin baru.

Adanya perkembangan smartphone di kalangan geneasi milenial dapat meningkatkan penggunaan smartphone yang berlebihan. Hal ini berdasarkan hasil survey 2017 yang dilakukan oleh APJII bahwasannya penetrasi pengguna internet 143,26 juta jiwa dari total populasi penduduk indonesia 252 juta orang. Sedangkan laporan e-Marketer, pengguna aktif smartphone di Indonesia tumbuh dari 55 juta orang pada 2015 menjadi 100 juta orang di 2018 (Kompas, 2018). Indonesia menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah China, India dan Amerika. Penelitian terbaru menemukan bahwa generasi millenial lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi dan gangguan kecemasan atau anxiety (okezone, 2018). Hal ini tidak terlepas dari aktivitas penggunaan smartphone yang berlebihan, dimana ini menjadi kebiasaan yang dipandang lumrah bagi banyak orang. Namun tanpa disadari intensitas yang berlebihan dalam berinteraksi dengan smartphone tentunya dapat menyebabkan berbagai dampak bagi penggunanya. Fenomena yang terjadi di akhir-akhir ini muncul di kalangan generasi millenial adalah mengenai fenomena nomophobia.

NOMOPHOBIA Nomophobia di definisikan sebagai “ketakutan ketika berada jauh dari kontak ponsel”. Istilah nomophobia adalah singkatan untuk no-mobile-phone phobia dan itu pertama kali diperkenalkan atau diciptakan pada sebuah kajian riset yang dilakukan pada tahun 2008 oleh Post Office United Kingdom (Inggris) untuk menyelidiki kecemasan-kecemasan yang di derita oleh para pengguna ponsel. Nomophobia merupakan kecemasan yang dirasakan pengguna ketika berada jauh dari mobile phone yang dimilinya. Nomophobia memiliki karakteristik yang bervariasi seperti (Pavitra, Madhukumar & Murthy, 2015):

  1. menggunakan smartphone secara teratur dan menghabiskan banyak waktu untuk melakukannya;
  2. selalu membawa charger;
  3. merasa cemas dan gugup saat memikirkan kehilangan handset atau ketika smartphone tidak bisa digunakan karena tidak ada pulsa, kuota internet, jaringan atau baterai;
  4. memberikan banyak perhatian untuk melihat layar smartphone guna melihat apakah terdapat pesan atau panggilan masuk;
  5. tidur disamping smartphone di tempat tidur;
  6. sedikit interaksi tatap muka dengan orang lain dan memilih berkomunikasi melalui smartphone. Sedangkan menurut Kalaskar (2015) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya nomophobia yaitu tingkat penggunaan, kebiasaan dan ketergantungan yang berdampak terhadap kecemasan dalam penggunaan smartphone.

Penjelasan yang telah disampaikan di atas dapat disimpulkan bahwa nomophobia muncul karena adanya pengaruh kontrol emosi terutama rasa takut, cemas, khawatir yang dikendalikan oleh diri sendiri. Melihat hal tersebut upaya yang di tawarkan dalam pembahasan ini adalah upaya kampanye kesehatan mental melalui strategi AISAS di lingkungan kampus dalam upaya pengurangan fenomena nomophobia.
AISAS Model AISAS merupakan model perilaku konsumen online yang diciptakan oleh Dentsu, agen periklanan di Jepang pada tahun 2005 (Sugiyama & Kotaro, 2010). AISAS model terbentuk dari Attention (perhatian), Interest (ketertarikan), Search (pencarian), Action (aksi) dan Share (berbagi). Model AISAS ini merupakan strategi marketing yang digunakan dalam ilmu ekonomi akibat semakin berkembangnya
teknologi komunikasi dan informasi yaitu internet yang sampai sejauh ini menciptakan era digital atau online.

Oleh karena itu, dari penjelasan mengenai AISAS yang biasanya digunakan sebagai strategi marketing dalam ilmu ekonomi kami gunakan sebagai upaya kampanye kesehatan mental. Penggunaan strategi AISAS dipilih dalam kampanye karena memanfaatkan teknologi yang banyak di gunakan pada saat ini seperti smartphone. Hampir setiap hari generasi millenial bersentuhan dengan smartphonenya terutama media sosial yang hampir setiap waktu dapat diakses. Upaya yang dilakukan dimulai dari menarik perhatian target, menarik rasa ingin tahu target, memberi informasi pada target dan mempersuasi target hingga target membagi informasi kepada teman-temannya melalui akun media sosial pribadinya. Harapannya melalui kampanye media sosial dengan strategi AISAS dapat dengan mudah diterima terkhususnya di kalangan mahasiswa. Adapun pelaksanaannya dijelaskan sebagai berikut :

  1. Attention (Perhatian) Attention berisi informasi mengenai kesehatan mental dan masalah nomophobia yang terjadi, dimana informasi tersebut dapat dibuat melalui Eposter yang di sebarluaskan melalui media sosial instagram Ads dan instastory milik universitas. Hal tersebut merupakan langkah awal dalam upaya pemberian informasi dengan tujuan untuk menarik perhatian mahasiswa.
  2. Interest (Ketertarikan) Tahapan ini membahas menganai bagaimana kualitas informasi dan gambar yang akan disampaikan, diharapkan dari mahasiswa memiliki ketertarikan untuk membaca informasi tersebut.
  3. Search (Pencarian) Pada tahapan ini akun instagram kampus membuat E-poster berisi informasi mengenai monophobia, gejala, dampak dan tips untuk mengurangi atau menghindarinya. E-poster ini akan di posting secara bertahap di akun instagram kampus. Selain instagram dalam hal menunjang informasi yang lebih banyak, universitas bisa memberikan link terkait informasi mengenai fenomena nomophobia.
  4. Action (Aksi) Kampus bisa membuat beberapa gimmick yang dibuat sebagai pelengkap kampanye yang berfungsi untuk mengingatkan kembali mengenai fenomena nomophobia. Saat bekumpul dengan orang-orang terdekatnya diharapkan mahasiswa mampu bersosialisasi tanpa asyik dengan smartphonenya, agar mahasiswa memiliki komunikasi yang harmonis dengan teman terdekatnya. Selain gimmick ada juga beberapa aksesoris yang di buat dengan background nuansa nomophobia seperti kalender, buku, bullpen, cash handphone dan sebagainya.
  5. Share (Berbagi) Share ini akan terjadi ketika mahasiswa telah mengetahui gejala nomophobia dan muncul keinginan untuk memposting kampanye yang dilakukan oleh pihak kampus di media sosial pribadinya, agar dapat dilihat oleh orang lain. Dimana perilaku generasi milenial saat ini ketika mendapatkan informasi di insta story dan dianggapnya bagus maka biasanya informasi tersebut akan di repost ulang atau di screenshoot untuk di jadikan status di media sosial miliknya, secara tidak langsung ia membantu memberikan informasi mengenai kesehatan mental dan masalah nomophobia kepada teman-temannya.
    Berdasarkan hasil pembahasan yang telah disampaikan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa gejala nomophobia ini telah banyak dirasakan oleh banyak orang terutama generasi millenial.

Gejala ini dianggap gejala yang wajar dan biasa saja karena belum mengetahui jika hal yang dialami adalah gejala dari nomophobia. Harapannya dengan adanya kampanye ini yang dilakukan di lingkungan kampus melalui strategi AISAS, para mahasiswa dapat lebih memahami apa itu nomophobia beserta dampaknya, agar para mahasiswa dapat membatasi penggunaan dan membentuk pola pikir baru agar muncul perilaku bijak ketika menggunakan smartphone.