Family Support System Sebagai Solusi Pencegahan Depresi Pada Remaja Pengguna Sosial Media

Ditulis Oleh

M Sahal Machfudh

Universitas Diponegoro

   “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”. Mungkin kalimat tersebut sudah tidak asing lagi di telinga kita atau bahkan sering kita dengar. Namun, apakah benar seperti itu? Apakah ketika tubuh sehat maka jiwa pun sehat? Padahal belum tentu juga orang yang terlihat secara fisik bisa dikatakan sehat secara mental. Lalu, sehat secara mental itu bagaimana?
Pribadi yang normal atau bermental sehat adalah pribadi yang menampilkan tingkah laku yang adekuat & bisa diterima masyarakat pada umumnya, sikap hidupnya sesuai norma & pola kelompok masyarakat, sehingga ada relasi interpersonal & intersosial yang memuaskan (Kartono dalam Kartika, 2012). Sedangkan menurut Karl Menninger (dalam Kartika, 2012), individu yang sehat mentalnya adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk menahan diri, menunjukkan kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain, serta memiliki sikap hidup yang bahagia.

Jadi, seorang individu dikatakan sehat secara mental dapat disimpulkan memiliki makna sehat secara perilaku dan afeksi yang mana bersifat positif secara keseluruhan di dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang bisa sehat secara fisik namun, belum tentu ia juga sehat secara mental. Mental di sini mencakup juga bagaimana relasi sosial kita dengan orang lain dan lingkungan. Mental seseorang juga dapat mengalami gangguan seperti, depresi, kecemasan dan gejala psikopatologis lainnya.  Sebagaimana kasus-kasus yang marak terjadi saat ini pada masyarakat kita yang banyak mengalami masalah mental dan gangguan kejiwaan. Terutama semenjak berkembangnya media sosial sebagai bagian dari kehidupan masyarakat baik dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa atau bahkan orang tua atau adiyuswa. Bagi kalangan remaja sendiri sosial media seakan menjadi kebutuhan yang wajib untuk di penuhi. Hal itu seperti rutinitas yang sudah menjadi skema yang tertanam pada perilaku remaja sehari-hari.

Menurut penelitian yang dilakukan We Are Social, perusahaan media asal Inggris yang bekerja sama dengan Hootsuite, rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam 23 menit sehari untuk mengakses media sosial. Dari laporan berjudul “Essential Insights Into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around The World” yang diterbitkan tanggal 30 Januari 2018, dari total populasi Indonesia sebanyak 265,4 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 130 juta dengan penetrasi 49 persen (tekno.kompas.com).
Angka itu menunjukkan bahwa mengakses sosial media memang sudah menjadi kebiasaan (habbit) bagi usia-usia remaja yang tengah mencoba untuk menjalin relasi dengan orang lain atau teman sebayanya. Namun, ada dampak yang diakibatkan dari penggunaan sosial media pada remaja. Sosial media seperti pisau bermata dua yang memiliki dmapak positif dan negatif. Dampak positif yang ditimbulkan akibat penggunaan sosial media diantaranya, yaitu menambah relasi sosial di dunia maya, menambah informasi dan berita, menambah kesenangan dan hiburan, menambah wawasan pengetahuan atau bahkan mendapatkan pasangan hidup melalui sosial media.

Selain itu, dampak negatif dari penggunaan sosial media juga cukup diwaspadai bagi remaja saat ini. Adapun dampak negatif dari kebebasan bersosial media tanpa batasan apapun, yaitu terjadinya kecemburuan sosial, berita hoax, ujaran kebencian dan intimidasi atau kekerasan berbentuk verbal di sosial media. Dari sekian banyaknya dampak negatif yang paling menjadi sorotan adalah intimidasi kekerasan di sosial media yang bisa menjurus kearah cyberbullying. Cyberbullying adalah perlakuan yang ditujukan untuk mempermalukan, menakut-nakuti, melukai, atau menyebabkan kerugian bagi pihak yang lemah dengan menggunakan sarana komunikasi Teknologi Informasi (Rahayu, 2012). Perilaku seorang pengguna sosial media atau yang akrab di sebut netizen sering kali mencuatkan bentuk-bentuk kekerasan verbal di sosial media seperti, berkata jorok dan kasar, body shaming, ataupun tindakan anacaman kekerasan dan pembunuhan. Remaja merupakan pengguna sosial media yang paling sering menjadi korban cyberbullying di dunia maya. Tercatat data yang diperoleh UNICEF pada 2016, sebanyak 41 hingga 50 persen remaja di Indonesia dalam rentang usia 13 sampai 15 tahun pernah mengalami tindakan cyberbullying (2016). Beberapa tindakan di antaranya adalah doxing (mempublikasikan data personal orang lain), cyber stalking (penguntitan di dunia maya yang berujung pada penguntitan di dunia nyata), revenge pom (penyebaran foto atau video dengan tujuan balas dendam yang
dibarengi dengan tindakan intimidasi dan pemerasan) dan beberapa tindakan cyberbullying lainnya (Kumparan.com).

Hal ini dikarenakan remaja yang tengah memasuki fase perkembangan dalam mencari identitas diri, dan mecoba untuk role play terhadap orang lain. Artinya remaja sangat rentan tergerus arus sosial media yang berdampak negatif bagi dirinya. Padahal seperti yang kita ketahui remaja merupakan tahap perkembangan untuk mengembangkan potensi dalam diri dengan membangun relasi yang positif dengan lingkungan. Akan tetapi, faktanya berimplikasi sebaliknya, yaitu banyak remaja terpedaya oleh dampak negatif sosial media sehingga menyebabkan emosi negatif, rasa rendah diri, rasa bersalah, identity confusion, dan bisa menyebabkan depresi akibat tekanan atau intimidasi di sosial media. Menurut Aron (dalam Rahayu, 2012) Cyberbullying atau kekerasan dunia maya ternyata lebih menyakitkan jika dibandingkan dengan kekerasan secara fisik. “Korban cyberbullying sering kali depresi, merasa terisolasi, diperlakukan tidak manusiawi, dan tak berdaya ketika diserang”. Intimidasi secara fisik atau verbal pun menimbulkan depresi. Namun, ternyata para peneliti menemukan korban cyberbullying mengalami tingkat depresi lebih tinggi dibandingkan intimidasi secara fisik.

Remaja yang mengalami depresi akibat cyberbulling atau intimidasi kekerasan di sosial media harus lebih diperhatikan oleh keluarga. Ketika reamaja sudah menunjukkan gejala-gejala yang mengarah kepada depresi seperti tidak bersemangat hidup setiap harinya, merasa letih lesu dan tidak mau berinteraksi dengan siapapun, maka hal itu bisa menjadi indikasi awal bahwa mungkin saja remaja tersebut sedang mengalami depresi ringan. Oleh karena itu keluarga sebagai supporting system dapat membantu mencegahnya.  Sebagai Supporting system remaja, pola asuh orang tua didalam keluarga turut berpengaruh terhadap perkembangan psikologis dan perkembangan sosial pada remaja. Melalui pola asuh orang tua dapat membantu tumbuhnya kemampuan penyesuaian diri pada remaja, sejak awal sebaiknya anak diajarkan untuk lebih memahami dirinya baik kekurangan maupun kelebihannya agar ia mampu
mengendalikan dirinya sehingga dapat bereaksi secara wajar dan normatif dalam proses perkembangannya. Pola asuh demokratis merupakan pola asuh yang cocok dipakai saat anak sudah remaja. Pola asuh demokratis sendiri merupakan suatu bentuk pola asuh dimana anak diberikan suatu kebebasan, tetapi orang tua tetap memberikan batasan-batasan untuk mengendalikan sikap dan tindakan-tindakan mereka (Sochib, 2008).

Kemudian, orang tua dapat meluangkan wakunya untuk quality time bersama dengan anaknya disela-sela kesibukan. Hal itu, setidaknya dapat membuat anak merasa aman dan nyaman saat berada di dekat orang tua. Kemudian sebisa mungkin selalu menjaga komunikasi yang baik dan jika memang diperlukan penanganan ahli, maka segeralah untuk berkonsultasi dengan seorang psikolog terkait depresi yang dialami anak remaja tersebut. di Indonesia sendiri terbilang masih sedikit penyedia jasa layanan psikolog yang tersedia. Namun, di puskesmas atau rumah sakit sudah mulai ada layanan konsultasi dengan jasa psikolog. Jadi, orang tua harus lebih was-was terhadap perilaku sang anak sebelum menjadi depresi yang lebih tinggi dan akan memakan waktu yang lebih lama untuk disembuhkan. Dengan demikian, dukungan keluarga sangat penting perannya dalam mencegah depresi pada remaja. Keluarga juga bisa mengawasi aktifitas remaja dalam bersosial media dengan orang lain. Baik kelauarga maupun sang remaja dapat mencari psikoedukasi untuk gejala depresi dan penangannya di sosial media. Salah satunya akun sosial media yang baru saya buat bersama teman di Instagram dengan nama @menjagadirimu.id. Pada akun tersebut nantinya akan diposting isuisu dan psikoedukasi terkait kesehatan mental. Akun tersebut sebagai salah satu upaya bentuk kesadaran akan kepedulian terhadap kesehatan mental masyarakat Indonesia.

Di samping itu, keluarga sebagai tempat bersosialisasi pertama sebaiknya mengajarkan dan mendidik dengan baik anaknya untuk tidak merendahkan, mencaci, dan membuli orang lian sehingga tidak hanya korban saja yang dicegah, tetapi juga mencegah perilaku cyberbullying sejak dini pada remaja. Kerap kali perkataan kotor dan kasar dianggap normal dan wajar bagi netizen, akan tetapi
sesungguhnya hal itulah yang mungkin menjadi alasan dan penyebab seorang remaja menjadi depresi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa keluarga memiliki peran penting pada remaja yang bersosial media dengan cara mencegah depresi karena intimidasi kekerasan di sosial media. Sudah selayaknya kita peduli dengan apa yang terjadi dengan diri kita dan lingkungan kita. Kenali dirimu, kenali lingkunganmu dan sadari apa yang menjadi masalah pada dirimu. Pada dasarnya semua orang berhak bahagia karena bahagia itu kamu sendiri yang membuatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Kartika Sari D. (2012). Kesehatan Mental. Semarang: CV. Lestari Mediakreatif
Rahayu Sapty Flouresnsia. (2012). Cyberbullying Sebagai Dampak Negatif Penggunaan Teknologi Informasi. Journal of Information Systems, Volume 8, Issue 1, April 2012
Scohib M. (2008). Pola Asuh Orang Tua. Jakarta: Rineka Cipta
Diakses dari online https://tekno.kompas.com/read/2018/03/01/10340027/risetungkap-pola-pemakaian-medsos-orang-indonesia pada tanggal 29 Juni 2019
Diakes dari online https://kumparan.com/@kumparanstyle/41-persen-remajaindonesia-pernah-alami-cyberbullying pada tanggal 29 Juni 2019