MENGARUNGI KESEHATAN MENTAL MAHASISWA 4.0 DI KAMPUS

MENGARUNGI KESEHATAN MENTAL MAHASISWA 4.0 DI KAMPUS

Oleh: Annisa Nur H.S Mahasiswa Fakultas Psikologi Undip

 

Ada apa dengan mahasiswa 4.0?

Setiap waktu yang berlalu akan menghasilkan perubahan yang baru. Generasi muda saat ini termasuk dalam generasi milenial dan telah memasuki portal 4.0 atau revolusi industri yang keempat. Gambaran zaman ini adalah manusia mengandalkan teknologi seperti gadget, sosial media, dan menyukai sesuatu yang instan. Dilansir dari katadata.co.id (2016), pengguna smartphone di Indonesia pada tahun 2019 dipredikasi akan mencapai 92 juta unit. Apabila berbicara tentang mahasiswa, pasti tidak akan jauh dari dunia digital. Bahkan Mahasiswa memiliki kebutuhan untuk mempergunakan gadget yang cukup tinggi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Putri (2016), mahasiswa memanfaatkan gadget sebagai sarana berkomunikasi dan mencari sensasi, sarana mencari informasi, hiburan, mengerjakan tugas, dan sebagai gaya hidup. Mahasiswa cenderung khawatir dan merasa cemas ketika jauh dari gadgetnya seperti hilang, ketinggalan, dan lain sebagainya. Mahasiswa juga tak jarang eksis di berbagai macam sosial media seperti facebook, instagram, dan twitter. Selain itu, mahasiswa juga menyukai sesuatu yang instan seperti mencari informasi lewat google sehingga malas membaca buku, menggunakan berbagai layanan berbasis teknologi seperti gojek, gofood, dan lain sebagainya agar lebih cepat dan praktis.

Ketika terlalu mengandalkan gadget, maka mahasiswa akan mengalami ketergantungan. Berdasarkan penelitian Muflih., dkk (2017), menyebutkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan smartphoene dengan ketergantungan pada smartphone. Ketika sudah ketergantungan, maka akan menyebabkan adanya kecemasan (anxiety). Berdasarkan hasil penelitian Palupi., dkk (2018), diketahui adanya hubungan antara ketergantungan smartphone terhadap kecemasan. Disamping itu, berdasarkan penelitian Prasetiya (2014) terdapat dampak yang ditimbulkan internet adiictions yakni terganggunya hubungan interpersonal lingkungan sosial, biaya penggunaan internet yang
berlebihan, penurunan prestasi akibat dari tidak dapat mengikuti perkuliahan dengan baik, cenderung kurang tidur yang menyebabkan keletihan dan menurunkan daya imun. Ibarat dua mata pisau, gadget dan internet dapat bermanfaat ataupun mencelakai. Hal ini menunjukkan adanya dampak positif, tetapi juga dapat berdampak negatif ketika menjadi sebuah candu dan tidak dipergunakan dengan tepat bagi mahasiswa. Menurut penelitian Hakim (2017), kecanduan internet (internet addiction) ini lebih banyak dampak negatifnya dibandingkan positifnya. Lantas bagaimana kesehatan mental mahasiswa 4.0 di kampus?

Kacamata kesehatan mental mahasiswa 4.0

Perlu digarisbawahi bahwa mempergunakan gadget untuk keperluan perkuliahan memang tidak masalah. Namun, akan menjadi gangguan ketika menggunakannya secara berlebihan hingga menjadi kecanduan dan ketergantungan. Ketika sudah menjadi candu, maka hal ini akan mempengaruhi kesehatan mental mahasiswa. Kesehatan mental merupakan suatu keadaan yang berhubungan dengan psikologi seseorang yang mempengaruhi pemikiran, kejiwaan serta perilakunya di masyarakat. Menurut WHO dalam Dewi (2012), kesehatan mental merupakan kondisi yang disadari dari kesejahteraan individu sehingga dapat mengelola stress dalam kehidupan, menghasilkan dan bekerja secara produktif, serta dapat berpean dalam komunitasnya. Secara sederhana orang yang memiliki kesehatan mental adalah yang tidak memiliki gangguan psikis seperti kecemasan (anxiety), depresi, dan masalah psikologis lainnya.

Salah satu yang mempengaruhi kesehatan mental mahasiswa yaitu tinggi atau rendahnya kecemasan (anxiety). Menurut Nevid., dkk, (2005), kecemasan adalah keadaan emosional yang memiliki ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan kekhawatiran bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk. Berdasarkan penelitian Puspitorini (2017), menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kecemasan maka kesehatan mental akan semakin menurun. Hasil penelitian Azka., dkk (2018), menunjukkan mayoritas mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung mempunyai kecemasan sosial dan ketergantungan media sosial dalam kategori sedang. Apa yang menyebabkan kecemasan (anxiety) meningkat ketika ketergantungan dengan gadget, internet, dan sosial media?

Pertama, mahasiswa akan cemas ketika jauh dari gadget seperti lupa membawa, tertinggal, ataupun hilang. Penyakit mental karena tidak bisa jauh dari smartphone biasa disebut nomophobia. Tidak tanggung-tanggung, mungkin mahasiswa akan kembali ke kost dan mengambil smartphone nya. Berdasarkan hasil penelitian Palupi., dkk (2018), yang dilakukan pada mahasiswa fakultas kedokteran universitas diponegoro didapatkan hasil adanya hubungan antara ketergantungan smartphone terhadap kecemasan

Kedua, dengan adanya internet, mahasiswa dapat mengakses informasi dan berita secara luas bahkan global. Padahal, dalam berita tersebut tidak semuanya positif. Tidak sedikit berita-berita yang menunjukkan adanya kekerasan, pembunuhan, terorisme, dan lain sebagainya. Hal ini juga dapat menyebabkan adanya ketakutan dan kecemasan. Berdasarkan penelitian Parameswari (2008), terdapat pengaruh antara berita kriminal terhadap tingkat kecemasan. Parahnya lagi, ketika berita yang sering di share dan dipertontonkan adalah hoax.

Ketiga, mahasiswa yang selalu mengandalkan gadget cenderung kurang dalam berinteraksi secara langsung kecuali ketika sedang dalam perkuliahannya. Contohnya, saat berdiskusi dan membuat tugas hanya berkomunikasi secara online dengan membagi tugas kemudian disatukan. Hal ini tak menutup kemungkinan akan menyebabkan kecemasan ketika komunikasi terhambat seperti mengabaikan ketika berbicara, slow respon dan diskusi tidak jalan ataupun tidak sesuai dengan yang diinginkan. Selain itu, jarangnya berinteraksi secara langsung juga dapat menyebabkan kecemasan ketika merasa tidak memiliki teman, merasa kesepian, dan lain sebagainya. Penelitian Muflih., dkk (2017), menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat ketergantungan smartphone dengan interaksi sosial.

Keempat, mahasiswa yang sering membuka media sosial dan tidak mempergunakannya secara bijak, kemungkinan akan mengalami cyber bullying. Sehingga, hal itu akan menyebabkan adanya rasa takut ataupun kecemasan (anxiety). Selain itu, terkadang ada perasaan negatif seperti iri, tidak puas, dan cemas ketika melihat orang lain dalam sosial media jauh lebih baik darinya. Hasil
penelitian Febrianti., dkk (2014) menunjukkan sebanyak 77% mahasiswa UI pernah terlibat dalam cyberbullying.

Roket Menuju Kesehatan Mental 4.0

Kesehatan mental dapat dirasakan sendiri oleh setiap individu. Jadi, kesehatan mental dapat ditingkatkan dan dioptimalkan. Untuk mengurangi kecemasan mahasiswa sehingga memiliki kesehatan mental yang baik dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain dengan 4.B yang saya cetuskan. Pertama dengan “bijak” menggunakan gadget. Mahasiswa dapat menggunakan gadget bila dirasa perlu seperti untuk berkomunikasi, mencari informasi, mencari bahan kuliah, dan membaca berita yang positif. Kedua dengan “bijak” menggunakan media sosial. Mahasiswa dapat memberi batasan waktu untuk membuka media sosial dan menghindari perselisihan di media sosial. Ketiga dengan “bijak” dalam berkegiatan dan berinteraksi. Mahasiswa dapat megatur kapan waktu yang tepat untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara online maupun langsung. Contohnya dapat memperbanyak diskusi secara langsung dengan teman ketika mengerjakan tugas, mengikuti kegiatan kampus, dan mengikuti organisasi di kampus. Keempat dengan “bijak” dalam mengelola emosi. Mahasiswa dapat menekankan untuk besyukur, berfikir positif, percaya diri, meregulasi diri, dan mengontrol diri.

Jadi??

Mahasiswa di Era Milenial rentan memiliki kecemasan yang menyebabkan kurang optimalnya kesehatan mental. Ketika Mahasiswa dapat mempergunakan gadget, internet, dan media sosial dengan tepat, maka akan membawa dampak yang positif. Namun, ketika tidak tepat mempergunakannya seperti berlebihan sehingga menjadi kecanduan, maka akan menyebabkan keemasan (anxiety) yang akan menurunkan kesehatan mental. Namun kesehatan mental dapat dioptimalkan dengan cara 4.B.

 

Daftar Pustaka:

Azka, Fatih., dkk. (2018). Kecemasan Sosial dan Ketergantungan Media Sosial pada Mahasiswa. PSYMPATHIC: Jurnal Ilmiah Psikologi Volume 5, Nomor 2, 2018: 201-210. DOI: 10.15575/psy.v5i2.3315.

Dewi, Kartika Sari. (2012). Buku Ajar Kesehatan Mental. Semarang: UPT UNDIP Press Semarang.

Febrianti, Rianda., dkk. (2014). Cyberbullying Pada Mahasiswa Universitas Indonesia. F.Psi UI, 2014.

Hakim, Siti Nurina. (2017). Dampak Kecanduan Internet (Internet Addiction) Pada Remaja. Prosding Temu Ilmu Ilmiah X Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia. ISBN: 978-602-1145-49-4.

Katadata.co.id. (2016). Pengguna Smartphone di Indonesia 2016-2019. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/08/08/pengguna-smartphone-diindonesia-2016-2019.

Muflih., dkk. (2017). Penggunaan Smartphone Dan Interaksi Sosial Pada Remaja Di SMA Negeri 1 Kalasan Sleman Yogyakarta. Ida Nursing Journal Vol III No. 1, 2017 ISSN: 2087-2879, e-ISSN: 2580-2445.

Nevid, Jeffrey S, dkk. 2005. Psikologi Abnormal edisi kelima Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Palupi, Dyah Ayu., dkk. (2018). Hubungan Ketergantungan Smartphone Terhadap Kecemasan Pada Mahasiswa Fakultas Diponegoro. Jurnal Kedokteran Diponegoro Volume 7, Nomor 1, Januari 2018 Online http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico ISSN Online: 2540-884.

Parameswari, Maharani .(2008). Pengaruh Berita Kriminal Terhadap Tingkat Kecemasan Masyarakat Surabaya. Petra Christian University SurabayaIndonesia. http://dewey.petra.ac.id/jiunkpe_dg_9016.html

Prasetiya, Eka Citra. (2014). Fenomena Internet Addiction pada Mahasiswa. Naskah Publikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Puspitorini, Dian Lestari. (2007). Hubungan Antara Tingkat Kecemasan Dengan Kesehatan Mental Pada Siswa Program Akselerasi Di SMP Negeri 1 Surabaya. Naskah Publikasi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya.

Putri, Khusnul A. W. K. (2016). Pemanfaatan Gadget Pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta. Naskah Publikasi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.