Mereduksi Tonic Immobility bagi Korban PTSD

Peristiwa-peristiwa yang dialami oleh korban-korban di atas pasti akan menimbulkan traumatis yang begitu mendalam dan dapat menghasilkan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang berujung pada depresi. Mengutip pendapat dari Kaplan & Sadock (1997) dalam buku karyanya yaitu Synopsis Psikiatri, seseorang yang teridentifikasikan sebagai penderita ganguan stress paska trauma yaitu mereka yang mengalami suatu kondisi tekanan (stres) secara emosional yang besar yang menimbulkan traumatis dan kelumpuhan untuk tindakan.
Menurut Stamm (1999) pengalaman traumatis yang begitu dalam merupakan respon alamiah terhadap kondisi yang dilewati seseorang yang mengandung kekerasan fisik dan psikis (seperti pelecehan seksual, intimidasi, kecelakaan, bencana alam) atau peristiwa yang mengerikan (seperti kemiskinan, deprivasi, dan kondisi ekstrim lainnya). Kondisi yang dipaparkan tersebut dapat menimbulkan PTSD pada korban.
Sementara, gejala-gejala yang muncul stres paska trauma wujudnya dapat berupa penghayatan yang berulang-ulang dari mulai trauma seperti ingatan yang berulang dan menonjol tentang peristiwa itu, mimpi-mimpi yang berulang, perilaku atau perasaan yang timbul secara tiba-tiba dengan seolah-olah peristiwa traumatis itu sedang muncul kembali karena berkaitan dengan suatu rangsang (Hawari, 1996: 416-417). Sedangkan untuk dampaknya sendiri dari pada korban PTSD adalah tonic immobility. Kondisi ini akan menyebabkan kelumpuhan secara sementara seperti halnya seseorang mengalami shock setelah melewati peristiwa tertentu.
Berdasarkan penelitian yang ada oleh Moller, dkk (2017), menunjukkan kelumpuhan semantara tersebut dikatakan mirip dengan kondisi katatonia, yaitu kondisi seseorang tidak dapat merespon, tidak bisa bergerak, berbicara dari stimulasi apapun yang diterima oleh tubuhnya. Sehingga, korban PTSD akan cenderung menghasilkan tonic immobility seperti kasus-kasus pada pelecehan
seksual yang kemudian terjadi sampai dengan berulang kali pada salah seorang korban.
Biasanya, dalam persidangan di pengadilan akan ditanya oleh hakim mengapa korban tidak menolak atau melawan ketika terjadi peristiwa yang merugikan pada korban ketika itu datang kembali. Padahal, peristiwa itu terjadi sampai dengan berulang kali sehingga kondisi ini dapat meringankan hukuman dari pelaku. Bukan berarti korban dalam hal ini menikmati adanya peristiwa tersebut, melainkan kondisi reaksi alamiah tubuh karena adanya aktivitas hormon tertentu yang menyebabkan tubuh menjadi kaku.

Kondisi tonic immobility atau sensasi kelumpuhan pada korban PTSD dapat diatasi melalui beberapa intervensi psikologis agar menurunkan tingkat hormon yang berpengaruh terhadap reaksi pada fisik korban. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mereduksi kelumpuhan tersebut melalui desenstisasi sistematis, yaitu salah satu teknik untuk memodifikasi perilaku.
Menurut Munro, dkk (dalam Abimanyu & Manrihu, 1996: 333) mengemukakan bahwa desenstisasi sistematis merupakan teknik yang digunakan untuk mengubah tingkah laku melalui perpaduan beberapa teknik yang terdiri dari pemikiran sesuatu, menenangkan diri dan membayangkan sesuatu. Teknik ini dapat bermanfaat untuk upaya mereduksi adanya ketegangan-ketegangan yang melumpuhkan.
Intervensi ini cocok digunakan karena merubah persepsi yang digunakan untuk merekonstruksi pemikiran negatif dengan melawan pemikiran tersebut dengan sebaliknya. Setelah korban memiliki pemikiran yang baru tentang peristiwa tersebut korban diarahkan untuk menengkan diri dengan menemukan katarsis yang tepat. Dengan demikian korban PTSD tidak akan mengalami kondisi kelumpuhan sementara atau tonic immobillity yang dapat berdampak pada resistensi sebuah peristiwa dan dapat berulang.

penulis : Bhatara Dharma Wijaya uin walisongo

refrensi:

Referensi: Abimanyu, S & Manrihu, 1996. Teknik dan Laboratorium Konseling. Jakarta: Proyek Pendidikan Tenaga Akademik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Hawari, Dadang. 1996.Al-Quran, Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta: Victory Jaya Abadi.
Kaplan, Harold I, Sadock, Benjamin J, & Grebb, Jack. A. 1997. Sinopsis Psikiatri. Jakarta: Binarupa Aksara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.