#kamuharustau lapar mata (EMOTIONAL EATING)

#kamuharustau lapar mata (EMOTIONAL EATING)

Oleh BPPK Ilmpi wilayah 3

Di bulan ramadhan ini tentunya salah satu dari kita pasti pernah mengalami yang namanya “lapar mata” saat berbelanja, entah itu makanan ataupun barang lainnya. Nah kali ini kita akan membahas fakta menarik di balik fenomena “lapar mata” khususnya saat berburu takjil ataupun menu untuk berbuka puasa. Sebagai manusia ada saatnya kita mengingkan sesuatu walau sebenarnya kita tidak membutuhkan itu. Misalnya saja saat kita menginginkan makanan jenis tertentu karena didorong faktor psikologis, bukan saat tubuh kita membutuhkannya.

Di mata masyarakat luas, kondisi biasa dikenal dengan istilah lapar mata. Sementara dalam dunia psikologi, keadaan seperti ini biasa dikenal dengan istilah emotional eating. Dilansir dari laman womenshealthmag.com dalam sebuah penelitian yang diterbitkan International Journal of Behavioral Medicine, kebanyakan dari kita mengonsumsi makanan secara berlebihan karena adanya dorongan psikologis (emosional). Emotional eating juga dapat membuat kita tak bisa mengontrol nafsu makan karena sedang stres atau dalam masalah. Manusia dapat bertahan hidup sampai tiga bulan tanpa makan. Tapi jika tidak mampu mengubah metabolisme tubuh, misalnya karena sakit infeksi, kematian terjadi lebih cepat. Evolusi mempersiapkan manusia untuk fase tubuh bertahan hidup tanpa persediaan makanan yang mencukupi.

Ketika berpuasa, kadar gula darah dalam darah akan menurun dan hal ini memicu hypotalamus yang berfungsi sebagai pusat rasa lapar di otak menjadi aktif segera setelah tingkat kadar gula dalam darah menurun. Bagian otak ini terutama berfungsi mengaktifkan produksi hormon stress adrenalin, agar manusia melakukan segala cara untuk berhasil mencari makanan. Hal ini lah yang sering kali memicu manusia untuk berbelanja secara berlebihan khususnya saat membeli hidangan untuk berbuka puasa, baik di pasar ramadhan atau di rumah – rumah makan.

Tips untuk menghindari lapar mata;

Lapar secara fisik

  1. Secara fisiologis seseorang merasakan perut lapar dan tak bertenaga
  2. Keinginan makan tidak akan hilang walaupun Anda mencoba untuk menunggu
  3. Keinginan makin besar seiring berjalannya waktu
  4. Tidak ada kegiatan lain yang dapat menghilangkan lapar, selain makan

Hasrat lapar atau keinginan psikologis

  1. Secara fisiologis Anda tidak merasa lapar
  2. Keinginan makan akan menghilang jika mencoba untuk menunggu
  3. Keinginan tidak meningkat seiring waktu
  4. Melakukan hal yang lain dapat mengalihkan keinginan Anda untuk makan
OPTIMALISASI SASIRANGAN RAMAH LINGKUNGAN SEBAGAI BENTUK KAMPANYE GERAKAN SLOW FASHION

OPTIMALISASI SASIRANGAN RAMAH LINGKUNGAN SEBAGAI BENTUK KAMPANYE GERAKAN SLOW FASHION

        Image result for slow fashion

Oleh Rifki Zidan dari Universitas Lambung Mangkurat

Pada era modern saat ini inovasi-inovasi dalam berbagai sektor semakin bermunculan dengan tujuan mempermudah kehidupan manusia dalam berbagai aspek. Mulai sektor teknologi, kesehatan, hingga sektor industri pakaian atau industri fashion berkembang pesat dengan berbagai perubahan dalam waktu yang singkat.

Pada sektor industri pakaian, berbagai merek dagang semakin sering memasarkan berbagai koleksi pakaian yang baru di setiap musim. Di lain sisi para konsumen menjadi semakin mudah dalam menemukan jenis atau style pakaian yang sesuai dengan keinginannya, dengan pilihan harga yang beragam, serta kemudahan dalam mengaksesnya. Merek seperti Zara dan H&M merupakan salah satu contohnya. Dinamika yang cepat dan terus diperbarui dari merek dagang tersebut sering dikenal dengan istilah fast fashion. Fast fashion merupakan istilah yang digunakan pada merek-merek pakaian yang berfokus pada kecepatan dan harga yang terjangkau dengan tujuan untuk menjual koleksi-koleksi yang baru dalam kurun waktu yang cukup singkat (Perry, 2018).

Seiring berjalannya waktu, fast fashion dengan berbagai promosi dan kemudahan yang ditawarkannya semakin diminati banyak konsumen. Akan tetapi dinamika tersebut menuai banyak kritik karena dianggap tidak ramah lingkungan dengan sebab tekanan terhadap merek tersebut untuk menghasilkan sejumlah produk dalam waktu yang cepat dan dengan harga yang terjangkau menjadikannya tidak berfokus terhadap dampak yang dapat ditimbulkannya terhadap lingkungan. Beberapa komponen fast fashion yang terbukti berdampak buruk terhadap lingkungan adalah penggunaan kain dan pewarna sintetis yang beracun, mikroplastik yang dihasilkan dari bahan bakunya, limbah tekstil yang terus meningkat, dan limbah produksi yang mencemari air (Perry, 2018). Permasalahan tersebut mendorong lahirnya gerakan slow fashion atau sustainable fashion sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam industri fashion.

Slow fashion atau sustainable fashion merupakan gerakan dalam industri pakaian yang tidak hanya menuntut adanya dampak yang positif terhadap aspek ekonomi dan sosial, tetapi juga adanya kesadaran terhadap dampak yang akan ditimbulkan terhadap lingkungan yang diwujudkan melalui proses produksi, distribusi, pemasaran, dan pengolahan limbah yang ramah lingkungan (Kuruppu, 2018). Model bisnis atau dinamika dari gerakan slow fashion berdasarkan pada tujuan yang memuat awareness atau kesadaran, tanggung jawab, dan hubungan yang mutual antara produsen dengan konsumen (Preuit & Yan, 2017).

Sebagai gerakan yang belum lama muncul, studi akademik terhadap slow fashion masih tergolong rendah (Preuit & Yan, 2017). Di Indonesia, edukasi mengenai slow fashion untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gerakan tersebut masih rendah dan dilain sisi opsi merek dagang yang berdasar pada gerakan slow fashion masih terbatas. Sehingga sangat diperlukan suatu bentuk kampanye mengenai gerakan slow fashion sebagai media untuk mengedukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat luas mengenai gerakan tersebut mengenai gerakan tersebut. Selain itu juga diperlukan tindakan nyata berupa hadirnya merek dagang yang berdasarkan pada gerakan tersebut.

Sasirangan sebagai salah satu kain tradisional Indonesia yang berasal dari Kalimatan Selatan merupakan objek yang potensial untuk dikembangkan dalam rangka mengedukasi masyarakat mengenai gerakan slow fashion dan menjadi bentuk nyata dari gerakan tersebut di Indonesia khususnya di Kalimantan Selatan. Dalam sejarahnya, kain sasirangan pada mulanya dibuat dari bahan baku yang sangat alami, mulai dari kainnya, benang untuk menyirang, hingga bahan pewarnanya. Akan tetapi seiring berkembangnya zaman dan modernisasi, proses pembuatan kain sasirangan menjadi semakin kurang ramah lingkungan karena menggunakan bahan pewarna dan kain sintetis yang beracun dan mencemari lingkungan khususnya wilayah sungai. Meskipun demikian akhir-akhir ini kain sasirangan yang ramah lingkungan, sudah mulai dikembangkan oleh sebagian produsen.

Kain sasirangan yang merupakan kain khas Kalimantan Selatan sangat berpotensi untuk dikembangakan dalam rangka meningkatkan keberhasilan sektor kewirausahaan dan pariwisata (Anwar & Elrifadah, 2012). Disamping itu dengan kembali pada pola produksi sasirangan tradisional yang ramah lingkungan menjadikan kain sasirangan berpotensi untuk lebih diminati khususnya oleh para konsumen yang sadar akan dampak negatif bahan baku sintetis terhadap lingkungan. Terlebih lagi tren fashion yang ramah lingkungan akan terus berkembang di masa mendatang (Zainuddin, 2018). Potensi tersebut menunjukkan bahwa kain sasirangan semakin dikembangkan berdasarkan pada filosofi dari gerakan slow fashion, yang artinya sasirangan dapat menjadi media yang tepat dalam mengampanyekan gerakan tersebut secara spesifik di wilayah Kalimantan Selatan.

Akan tetapi saat ini hanya beberapa produsen saja yang memproduksi sasirangan yang ramah lingkungan (Zainuddin, 2018). Selain itu dalam promosi kain sasirangan yang ramah lingkungan di beberapa event maupun platform masih belum memuat edukasi dan kampanye gerakan slow fashion yang dikaitkan dengan kehadiran sasirangan ramah lingkungan. Sehingga perlu adanya upaya dalam mengoptimalisasi kehadiran sasirangan ramah lingkungan sebagai bentuk kampanye gerakan tersebut dan menjadi opsi merek pakaian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan bagi masyarakat. Beberapa langkah yang dapat diimplementasikan dalam upaya optimalisasi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Edukasi oleh pemerintah terhadap para produsen mengenai pembuatan sasirangan yang ramah lingkungan dengan output yang diharapkan adalah untuk mendorong para produsen memproduksi kain sasirangan yang ramah lingkungan.
  2. Edukasi oleh pemerintah dan komunitas gerakan slow fashion mengenai gerakan tersebut kepada para produsen kain sasirangan dengan output yang diharapkan adanya pemahaman para produsen tersebut mengenai korelasi antara gerakan slow fashion dengan kain sasirangan ramah lingkungan.
  3. Produsen sasirangan ramah lingkungan melakukan kampanye dan edukasi mengenai gerakan slow fashion dengan sasirangan sebagai medianya. Dengan demikian disamping memberikan edukasi mengenai gerakan slow fashion dimana sasirangan ramah lingkungan merupakan salah satu bentuknya, juga tetap mempromosikan sasirangannya sendiri sebagai suatu produk.
  4. Pihak-pihak yang terkait aktif dalam melakukan kampanye dan promosi melalui berbagai platform media sosial sehingga dapat menjangkau populasi masyarakat yang lebih luas.

Dengan adanya gerakan optimalisasi tersebut output yang diharapkan adalah para produsen semakin terdorong untuk mengembangkan usaha kain sasirangan yang berdasarkan pada gerakan slow fashion dan para konsumen semakin teredukasi mengenai gerakan tersebut sehingga semakin sadar untuk menjadi lebih selektif dalam memilih opsi produsen pakaian yang lebih ramah lingkungan. Selain itu konsumen juga mendapatkan opsi lebih dalam berbelanja produk pakaian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sehingga dengan optimalisasi kain sasirangan ramah lingkungan dapat menjadi media yang tepat dalam mengampanyekan dan mengimplementasikan gerakan slow fashion khususnya di Kalimantan Selatan. Disamping itu kain sasirangan yang merupakan warisan budaya dapat terus dilestarikan.

 

REFERENSI

 

Anwar, K., & Elrifadah. (2012). Karakteristik, Potensi, Keberhasilan Usaha Industri Kain Sasirangan dan Kebijakan Pengembangan Kain Sasrangan sebagai Produk Unggulan Kalimantan Selatan. Jurnal Aplikasi Manajemen, 852-859.

Kuruppu. (2018). Customer Perceptions on Sustainable Fashion and Strategy for Competitiveness. Journal of Fashion Technology & Textile Engineering, 6(2).

Perry, P. (2018, January 08). Lifestyle: Fashion: The Environmental Costs of Fast Fashion. Retrieved from Independent.co.uk Web site: https://www.independent.co.uk/life-style/fashion/environment-costs-fast-fashion-pollution-waste-sustainability-a8139386.html

Preuit, R., & Yan, R.-N. (. (2017). Fashion and Sustainability: Increasing Knowledge About Slow Fashion Through an Educational Module. International Journal of Environmental & Science Education, 1139-1154.

Zainuddin, H. (2018, March 07). Seputar Kalsel: Rumah Produksi Sasirangan Mulai Gunakan Pewarna Alam. Retrieved from Antara News Kalsel Web site: https://kalsel.antaranews.com/berita/64131/rumah-produksi-sasirangan-mulai-gunakan-pewarna-alam

 

Biodata penulis

Nama                                 : Rifki Zidan
Tempat tanggal lahir      : Banjarmasin, 09 Desember 1999
Alamat                               : Jalan Tokyo 3, Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Status                                 : Mahasiswa Psikologi Semester 5 Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat
Email                                 : rifkizidannn@gmail.com & rifkizidan@outlook.com

 

#BukberbagiKasih

#BukberbagiKasih

Berbagi, tidak melulu tentang Materi.
Berbagi, tak pernah memandang besar kecil secara kuanti.
Berbagi, tidak sekedar berbelas namun juga tentang Kasih.
Begitu niatnya kegiatan ini dilaksanakan, Bukberbagi Kasih, bersama mereka para lansia yang ada di Panti Layanan Sosial Lansia. Mereka yang mungkin merindukan keramaian, mungkin merindukan tawa ceria bersama, dan mungkin merindukan rasanya muda. Dengan Bukberbagi Kasih, setidaknya hal kecil yang dilakukan, seperti bernyanyi bersama, berjoget gembira, buka puasa bersama, dan bercerita tentang pengalaman hidup yang bisa di ambil nilai positifnya, dapat membuat hati kembali bersyukur atas semua yang sudah dimiliki saat ini, dapat membuat sesimpul senyum bahagia tersungging dengan indah di wajah para lansia. Mungkin, inilah salah satu definisi dari Wujudkan Indonesia Tersenyum dengan Psikologi.
“Tidak pernah ada yang salah dari berbagi, kecuali ketidakikhlasan mengiringi”-Anonim

Minggu, 19 mei 2019.

BPPM wilayah 3 kolaborasi dengan jalan pelan (jaga lansia peduli lansia).

Lansia dalam Perspektif Psikososial Erickson

Lansia dalam Perspektif Psikososial Erickson

Oleh: Ayu Dinyati, Universitas Lambung Mangkurat

Bayangkan diri anda memasuki mesin waktu dan terdampar di diri anda alam usia 55 tahun. Apa yang anda harapkan? Cucu-cucu yang lucu? Pengalaman hidup yang selalu bisa anda ceritakan kepada tetangga? Ataukah panti werdha? Tempat anda bersenang-senang dengan teman-teman seusia anda.

 

Bagi beberapa orang panti werdha mungkin adalah mimpi buruk, tetapi banyak yang tidak ketahui tentang dinamika perasaan yang dihadapi oleh seorang lansia. Bahkan mungkin di panti werdha, kebutuhan masa tua dapat dipenuhi tanpa harus bergantung dengan keluarga yang sedang dalam masa produktif. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia menetapkan, bahwa batasan umur lansia di Indonesia adalah 60 tahun ke atas. Saat ini,angka harapan hidup secara keseluruhan wanita adalah 80,7 tahun dan untuk pria 75,4 tahun (Santrock, 2012). Sebagian besar lansia di Indonesia pada tahun 2012 berstatus kawin (57,81%) dan cerai mati (39,06 %). Pada tahun 2005 – 2012 sebagian besar penduduk lansia (sekitar 90%) masih memegang peranan penting di dalam lingkungan rumah tangga berstatus sebagai kepala rumah tangga dan persentase penduduk laki-laki lansia (61,17%) yang menjadi kepala rumah tangga lebih tinggi dibandingkan penduduk perempuan lansia (37,05) (Buletin,). Angka- angka ini menunjukkan perlunya perhatian bagi lansia sebagai manusia yang mempertahankan keturunan dan manusia yang perlu memenuhi kebutuhannya.

 

Noorkasiani (dalam Heningsih, 2014) mengungkapkan masalah psikososial yang paling banyak terjadi pada lansia seperti, kesepian, perasaan sedih, depresi dan kecemasan (Annisa, D.F., Ibrahim, Y., & Ifdil, I., 2017). Adanya kecemasan menyebabkan kesulitan mulai tidur, masuk tidur memerlukan waktu lebih dari 60 menit, timbulnya mimpi yang menakutkan dan mengalami kesukaran bangun pagi hari,bangun di pagi hari merasa kurang segar). penelitian tentang gambaran perilaku lansia terhadap kecemasan di Panti Sosial Tresna Werdha Theodora Makassar dapat disimpulkan bahwa dari 11 lansia yang diteliti ada 27,3% mengalami cemas dan depresi dan hanya 9,1% cemas namun tidak depresi, 18,2% mengalami cemas dan insomnia dan 27,3% yang cemas namun tidak insomnia,18,2% mengalami cemas namun ada dukungan keluarga dan 18,2% cemas tapi tidak ada dukungan keluarga, 9,1% mengalami cemas tapi tidak terganggu dengan kondisi lingkungan panti dan 27,3% cemas sehingga terganggu dengan kondisi lingkungan panti. (irto titus)

Erick H. Erickson menjelaskan perkembangan sosio-emosi manusia dalam beberapa konsep dan tahapan. Menurut Erickson, meskipun kepribadian sebagian dibentuk oleh sejarah dan kultur manusia memiliki kendali yang terbatas akan takdir mereka. Manusia dapat mencari identitas mereka sendiri dan tidak dibatasi oleh kultur dan sejarah. Anda tentu seringkali merasa bertanggung jawab terhadap anak-anak anda ketika anda mulai memasuki masa tua. Anda mungkin khawatir apakah anak anda telah berlaku baik kepada atasannya atau apakah anak anda tidak lupa menyapa tetangga yang baru pindah. Semua ini dijelaskan Erickson dalam konsep generativitas vs stagnasi. Generativitas sebagai “generasi akan manusia baru sebagaimana produk dan gagasan baru”. Generativitas diungkapkan sebagai tindakan mngajar, membimbing, menciptakan dan aktivitas pembacaan cerita yang membawa pengetahuan baru dalam keberadaan dan menyampaikan pengetahuan lama kepada generasi sebelumnya (Feist, J., & Feist, G.J., 2012). Menurut Erickson, manusia mempunyai insting untuk mempertahankan jenisnya. Insting tersebut disebut prokreativita (Alwisol, 2008). Mengajar orang lain tentang budaya adalah dorongan yang ditemui di semua masyarakat, untuk menjamin kesinambungan masyarakat itu sendiri (Alwisol, 2008). Dalam hal ini seorang lansia akan bertanggung jawab terhadap pengetahuan yang harus diwariskan dan dipertahankan kepada generasi di bawahnya. Seorang lansia yang merasa lebih mementingkan pengalaman untuk dirinya sendiri sebenarnya sedang merasakan tekanan karena tanggung jawab untuk menjaga kesinambungan masyarakat tersebut menjadi tidak mampu ia laksanakan. adanya konsep generativitas kemudian berlawanan dengan konsep stagnansi. Siklus generativitas dari produktivitas dan kreativitas bakal lumpuh kalau orang terlalu mementingkan diri sendiri, menyerap untuk diri sendiri dan perkembangan budaya menjadi mandeg (Alwisol, 2008).

Teori aktivitas dari Erickson menyatakan bahwa pada orang lanjut usia, semakin besar aktivitas dan keterlibatan mereka, semakin puas mereka terhadap kehidupannya. Para peneliti menemukan bahwa apabila orang lanjut usia itu aktif, enerjik dan produktif, mereka akan lebih baik dalam menghadapi masa tua dan lebih bahagia dibandingkan mereka yang dijauhkan dari masyarakat. Teori ini menyatakan bahwa apabila peran-peran mereka dihapuskan, seperti di awal pensiun, mereka perlu menemukan peran pengganti yang dapat membuat mereka tetap aktif terlibat (Santrock, J.W., 2012). Hal ini dapat pula menjelaskan fenomena post power syndrome yang biasa dialami oleh lansia. Lansia butuh waktu untuk menyesuaikan kehilangan peran di suatu pekerjaan. Hal ini juga akan membantu dalam mempertahankan fungsi otak lansia. Tentu anda dapat membayangkan betapa sepinya hari-hari tua anda ketika tiba-tiba anda tidak lagi memiliki aktivitas rutin yang sebenarnya juga melibatkan kebutuhan interaksi social anda. Dalam lanjutannya Erickson menyatakan masa lansia sebagai masa integritas vs keputusasaan. Pada tahap ini, melibatkan refleksi terhadap masa lalu dan entah menyimpulkan secara positif pengalamannya atau menyimpulkan bahwa kehidupannya belum dimanfaatkan secara baik (Santrock, J.W., 2012). Integritas berarti perasaan akan keutuhan dan koherensi, kemampuan untuk mempertahankan rasa “kesayaan” serta tidak kehilangan kekuatan fisik dan intelektual (Feist, J., & Feist, G.J., 2012).

Dalam perjalanan individu hingga mencapai tahap ini, lansia mungkin memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Ketika berbagai ingatan dalam mengenai masa lalu bermunculan, orang lanjut usia melakukan survey, observasi dan refleksi. Dari sini muncul berbagai pertimbangan kembali terhadap pengalaman-pengalaman sebelumnya dan makna-makna yang menyertai, seringkali disertai dengan pemahaman yang telah direvisi atau diperluas (Santrock, J.W., 2012). Meskipun pengalaman ini tidak selalu tentang hal yang baik, tetapi bagaimana seorang lansia memaknai masa lalu sebagai hal yang positif akan membantu individu mendapatkan integritas dan mental yang sehat. Sebaliknya, apabila lansia mendapatkan pengalamannya sebagai sesuatu yang negative, maka lintasan kenangan semasa hidupnya dapat menjadi hal yang negative berbentuk keputusasaan atau kecemasan. Putus asa berarti tanpa harapan. Reorganisasi terhadap masa lalu dapat memberikan suatu gambaran yang lebih tepat mengenai individu, memberujan makna baru dan berarti bagaimana seseorang menjalani kehidupannya (Santrock, J.W., 2012).

Evaluasi terhadap pengalaman hidup dapat meningkatkan harapan hidup seseorang ketika refleksi masa lalunya di maknai sebagai sesuatu yang positif dan sebaliknya. Seperti seorang lansia yang menyesali perbuatannya ketika masih muda, lansia tersebut akan mengalami kecendrungan putus asa dan cemas terhadap kematian. Dukungan social adalah salah satu solusi efektif dari dinamika psikologis pada orang lanjut usia dalam menangani maupun mencegah kecemasan. Dukungan social berkaitan dengan kurangnya simtom-simtom penyakit dan dengan kemampuan memenuhi perawatan kesehatan diri dan kematian (Santrock, J.W., 2012). Dengan dukungan social juga dapat mengurangi kemungkinan seorang lanjut usia untuk tinggal di institusi atau panti werdha. Pasangan, anak, cucu, menantu dan teman sebayanya merupakan lingkungan social yang tepat dibandingkan dengan lingkungan institusi. Oleh karena itu, setiap dari anda akan berpengaruh dalam menurunkan tingkat kecemasan pada lansia dengan dukungan anda.

Daftar Pustaka

Alwisol. (2008). Psikologi Kepribadian. UMM Press: Malang

Annisa, D.F., Ibrahim, Y., & Ifdil, I. (2017). Kondisi Kecemasan Lansia Di Panti Sosial Tesna Werdha Sabai Nan Aluih (PTSW) Sicincin. Jurnal Fokus Konseling, 3(1), 57-66.

Feist, J., & Feist, G.J. (2012). Teori Kepribadian. Penerbit Salemba Humanika: Jakarta.

Irto Titus, I., Rachman,A.W, Rahman, A. (2017). GAMBARAN PERILAKU LANSIA TERHADAP KECEMASAN DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA THEODORA MAKASSAR. Jurnal Bagian Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku FKM Unhas Makassar.

Santrock, J.W. (2012). Life-Span Development. Edisi Ketigabelas Jilid 2. Penerbit Erlangga: Jakarta.

 

Deskripsi Penulis

Nama Ayu Dinyati. Lahir di Banjarbaru, 13 April 1997. Saya  tinggal di Komp.Hunian Bumi Damai Jalan Pintu Air Kec. Martapura Kalsel. Seorang mahasiswa dan penyiar radio local juga pengajar privat bahasa inggris untuk anak-anak. Nomer telepon 085751002633 dan email ayu.dinyati@gmail.com.

Hate speech : sebuah fenomena atau kebebasan berpendapat ?

 

Di Era digital ini, semua hal terasa begitu mudah. Hanya dengan satu klik saja benyak informasi yang bisa kita dapatkan dengan cepat dengan akses internet melalui gawai. Begitu juga dengan proses komunikasi, tinggal satu-dua klik saja informasi dengan cepat tersampaikan bahkan tersebar entah itu pesan positif maupun negatif.

Kemajuan teknologi yang begitu pesat di abad 21 telah membawa manusia ke fase kebebasan, kebebasan berekspresi atau kebebasan menyampaikan pendapat atau kebebasan-kebebasan lainnya, yang kadang, menurut saya, cenderung sulit untuk dikendalikan.

Belakangan ini, ujaran kebencian (hate speech ) begitu marak, khususnya di dunia maya (internet). Orang yang sentimen dengan orang lainnya atau kelompok lainnya dengan begitu mudahnya dapat melontarkan kata-kata atau ujaran yang tidak membangun nilai-nilai persatuan dan perdamaian, hanya karena berbeda pendapat atau berbeda haluan (ideologi). Atau karena berita yang belum tentu kebenarannya (berita hoax).

Ujaran kebencian adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu, atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual, kewarganegaraan, agama dan lain-lain.

Terkait hal tersebut, psikolog Elizabeth Santosa berkomentar bahwa memang orang yang sering menyebarkan hate speech punya masalah psikologis. Impulsif dan kurang percaya diri biasanya adalah sifat yang dimiliki seorang pelaku. Manajemen emosinya berantakan atau rendah dan cenderung rakus jadi enggak mau diam duduk lihat penjelasan dulu langsung gerak cepat. Reaktif, gampang terprovokasi dan tersulut

sebagian orang (netizen) menganggap bahwa berujar di dunia maya itu lebih leluasa ketimbang di dunia nyata. Padahal, prinsipnya sama saja. Kerika seseorang memuji atau mengapresiasi orang di dunia maya sama saja halnya bila ia memuji atau mengapresiasi orang secara berhadapan langsung di dunia nyata.

Sebenarnya bukan tanpa sebab orang menebar kebencian. Ada banyak pemicunya, selain masalah perbedaan pendapat (ideologi). Bisa karena ketidakadilan atau kesenjangan sosial-ekonomi, penegakan hukum yang tidak sesuai harapan, minimnya pemahaman netizen tentang literasi digital, dan mungkin masih banyak lagi penyebab lainnya.

Ujaran kebencian jelas membawa dampak negatif. Jika kita ingin menjadi bangsa yang maju, dan tidak ingin tercerai berai, maka kita harus menjaga lidah dan etika dalam pergaulan, baik saat di dunia maya maupun di dunia nyata.

 

Referensi

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-3060430/fenomena-penyebar-hate-speech-dilihat-dari-kacamata-psikologi,diakses pada 18/04/2018 pukul 10.53 WIB

Kesehatan Mental Terkait Coping Stress pada Remaja dan Dewasa

Oleh :

Siti Nur Baiti, Universitas Muhammadiyah Purworejo, sitinur2108baiti@yahoo.com

Muchamad Rosid, Universitas Muhammadiyah Purworejo, muchamadrosid40@yahoo.com

HIMA Psikologi Universitas Muhammadiyah Purworejo

Persaingan adalah segala macam hal akan dilakukan untuk menang, persaingan yang sekarang ini tidak lepas dari sesuatu yang berada disekitar kita.Persaingan antara individu satu dengan individu lainnya sangat sengit. Seperti hukum alam, siapa yang kuat dialah yang menang. Masa remaja sampai dewasa adalah masa perkembangan dimana seseorang akan mencari jati dirinya. Mencari sesuatu yang akan menjadi passion mereka, namun tidk menutup kemungkinan banyak dari remaja tersebut terjerumus dalam hal yang tidak baik. Bullying, kekerasan dalam keluarga karena orang tua, persaingan antara teman dalam hal akademis maupun persahabatan. Jika saja mereka salah melangkah mereka akan terjatuh, bahkan jika mereka tidak sanggup bengkit lagi mereka akan semakin terprosok dalam keadaan yang lebih parah. Semua hal yang mereka alami jika tidak dikelola dengan baik dalam pikiran dan perasaan serta mendapat dukunagan dari orang terdekat serta keluarga mereka akan mengalami kesalahan dalam melangkah. Tekanan yang mereka rasakan, tidak ada teman untuk berbagi dan semakin lama menumpuk semakin lama juga mereka akan merepres emosi mereka dan disaat mereka sudah tidak snaggup meerasa begitu stess dan depresi mereka akan memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidup mereka. Sama halnya dengan tuntutan orangtua terhadap mereka untuk tetep perfect dalam segala hal termasuk juga nilai akademis. Coping stress yang tidak mereka terapkan mempengaruhi bebrapa kondisi dalam diri para remaja, kondisi fisik merek, psikis, social dan tentunya rohani mereka. Kesehatan yang seharusnya mereka jaga dari kondisi fisik, psikis, social dan juga rohani akan membentuk kesehatan mental mereka yang sehat.

 

Kata kunci : Kesehatan Mental, Coping Stres

Pendahuluan

Era globalisasi sekarang ini menyababkan orang menuntut penampilan yang perfect, sehingga persaingan antar individu semakin terlihat jelas. Jurang pemisah antara meraka pun juga semakin lebar, panggilan si kaya dan si miskin menjadi panggilan tranding topic. Persaingan mulai dari pendidikan, jabatan, dan ekonomi membuat mereka melakukan segala macam cara agar menjadi orang nomor satu. Dengan begitu pemicu permasalahan social semakin merajalela, pemuda yang mengalami depresi, stress bahkan melakukan bunuh diri. Dimisalkan seorang remaja dengan tuntutan dari orang tua untuk tampil lebih perfect dalam segala hal, dari pakaian sampai keunggulan dalam bidang akademis.

Tuntutan yang semakin besar, ketakutan menghadapi nilai memicu remaja tersebut semakin tertekan. Apalagi jika nilaitidak sesuai apa yang orang tua inginkan, membuat mereka mencari jalan pintas dengan misalnya bunuh diri. Tingkat kekerasan dalam lingkungan social diibaratkan bullying. Tingkat bullying yang tinggi memberikan ketakutan tersendiri pada remaja, semakin mereka taku semakin mereka tertekan dan akan mengakibatkan mereka stress dan depresi hingga memunculkan niatan dan perilaku untuk bunuh diri. Bahkan sekarang ini bukan hanya remaja yang merasa mudah untuk terkena stress ataupun depresi, orang dewasa pun sama. Tuntutan professional kerja membuat mereka harus tetap hidup dalam sebuah ruangan yang sudah tersetting, jam kerja yang kadang tidak sesuai dengan fee yang mereka dapatkan. Persaingan antar pegawai pun membantu mereka mengalahkan segala macam cara, tidak menutup kemungkinan kekerasan dan bulliying terjadi dalam lingkungan kerja. Manajemen stress yang tidak mereka terapkan mempengaruhi bebrapa kondisi dalam diri para remaja, kondisi fisik merek, psikis, social dan tentunya rohani mereka. Kesehatan yang seharusnya mereka jaga dari kondisi fisik, psikis, social dan juga rohani akan membentuk kesehatan mental mereka yang sehat.

  • Pembahasan

Kesehatan mental merupakan sebuah kondisi dimana individu terbebas dari segala bentuk gejala- gejala gangguan mental. Individu yang sehat secara mental dapat berfungsi secara normal dalam menjalankan hidupnya khususnya saat menyesuaikan diri untuk menghadapi masalah-masalah yang akan ditemui sepanjang hidup seseorang dengan menggunakan kemampuan pengolahan stres. Kesehatan mental merupakan hal penting yang harus diperhatikan selayaknya kesehatan fisik. Diketahui bahwa kondisi kestabilan kesehatan mental dan fisik saling mempengaruhi. Gangguan kesehatan mental bukanlah sebuah keluhan yang hanya diperoleh dari garis keturunan. Tuntutan hidup yang berdampak pada stress berlebih akan berdampak pada gangguan kesehatan mental yang lebih buruk (dalam prosiding Putri dkk.). Kesehatan mental akan selau mempengaruhi kondisi fisik, jika ada kendala dalam kesehatan mental maka secara otomatis kondisi fisik akan mengalami dampaknya.

World Health Organization (WHO, 2001), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat mereka yang memiliki kemampuan untuk menahan diri, menunjukkan kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain, serta memiliki sikap hidup yang bahagia. Jadi seperti sebuah pelngkap bahwa dalam diriseorang yang memiliki kesehatan mental yang baik aka nada sebuah factor yang membangun kesehatan mental tersebut. Pengelolaan dan pengaturan emosi yang baik menjadi salah satunya.

  • Copying Strees

Menurut Lazarus dan Folkman (dalam jurnal penelitian Saputra:164) mendefinisikan stress sebagai hasil (akibat) dari ketidakseimbangan antara tuntutan dan kemampuan. Sebagaiman mereka yang dituntut untuk tetap professional dalam pekerjaan selalu perfectsionis ataupun dalam masalah akademik, membuat keseimbangan antara tuntutan dan kemampuan yang tidak bisa seimbang akhirnya salah satu harus terjatuh. Perasaan stres selalu ada pada diri manusia, yang membedakan adalah apa yang membuat mereka stres dan bagaimana mereka mengelola atau memanajemen stres.

Manajeman stress bisa sering disebut coping stress. Menurut R. S. Lazarus dan Folkman (dalam jurnal penelitian Saputra:164 ), coping adalah proses mengelola tuntutan (internal atau eksternal) yang ditaksir sebagai beban karena di luar kemampuan diri individu. Manajemen stress atau coping stress yaitu suatu kemampuan pengendalian diri ketika seseorang, kejadian atau bahkan sesuatu yang menuntut mereka dengan kadar berlebihan dari kemampuan mereka.

Kesehatan Mental Terkait Manajeman Stress Pada Remaja Dan Dewasa Mental akan sehat selagi didalamnya berfungsi dengan baik dari mulai kondisi fisik, konsisi psikis, kondisi social dan juga kondisi rohani. Dengan kondisi yang dalam keadaan baik semua menjadikan seseorang sehat secara mental, kondisi seperti stress yang dialami oleh remaja bahkan orang dewasa dapat memicu gangguan pada kesehatan mental. Seseorang yang mengalami berbagai macam permasalahan apa lagi seperti remaja yang masih dalam tahap mencari jati diri mereka, dengan emosi yang belum stabil membuat mereka rentan terhadap stress. Kesadaran akan kesehatan mental oleh remaja masih rendah, membuat mereka merasa informasi tersebut adalah hal yang tidak penting. Padalah dengan penerapan pengelola stres yang terjadi dalam remaja mereka akan terhindar dari stress yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada mental. Memang peranan orang-orang terdekat, adalah salah satu jalan bagi mereka untuk bisa terhindar dari stress. Misalnya saja peran orang tua, keterbukaan terhadap orang tua, berbagi cerita keluh kesah akan mengurangi sedikit beban dalam pikiran mereka. Dari kesehatan fisik, psikis, social dan rohani memiliki peran membantu pembentukan kesehatan mental yang baik.

Sehat fisik menjadikan seorang remaja atau dewasa merasa sama dengan remaja lainnya, sehat psikis cara mereka memandang suatu permasalahan dan kondisi kepribadian dari remaja tersebut. Sehat social yaitu sikap mereka sebagaimana mereka beradaptasi dengan lingkungan dan individu lainnya serta sehat ruhani menjadikan rasa kepasrahan, rasa syukur, dan rasa intropeksi diri membuat mereka tidak akan iri atau dengki terhadap remaja lain sehingga terhindar dari penyaki hati tersebut. Kesehatan yang mencangkup semuangya dapat diterapkan dalam pribadi masing-masing setiap remja atau dewasa sekalipun. rasa percaya diri dengan hasil yang didapatkan, rasa syukur apa yang dia peroleh, rasa bahagia dengan lingkungan social yang sehat membuat keadaan fisik kita menjadi sehat dan tentunya dengan beberapa aspek tersebut mengarah kepada kesehatan mental yang baik.

Permasalahan remaja yang sekarang ini sedang memanas yaitu stress yang berujung pada bunuh diri. Seharusnya pihak orangtua maupun sekolah mempunyai rasa kepedulian tinggi terhadap siswanya. Di rumah sikap orang tua yang menutut kesempurnaan anaknya, itu adalah sikap yang kurang baik, karena dapat menganggu perkembangan anak, entah itu dari segi fisik mauoun psikis. Seharusnya dengan adanya seminar atau talkshow parenting dapat membuat orang tua sadar apa yang selama ini mereka tuntutkan itu salah. Dan juga di arahkan dengan pendampingan pengelolaan stress yang di sebabkan dari berbagai permaslahan yang terjadi.

Coping stress yang dapat diterapkan bisa dalam jalur edukasi dimana ada pendampingan dan pengajaran kepada remaja untuk mengenali diri mereka sendiri. Selanjutnya pengajaran terhadap pengenalan dan menetralisir pikiran yang membuat mereka berfikir negative dan diarahkan kepada pemikiran yang positif.. dan terakhir pengajaran terhadap kemamuan untuk merelaksasikan diri yang dapat di gunakan untuk menurunkan stress yang mereka alami.

 

  • Kesimpulan & saran.

Berdasarkan literatur yang didapat penulis pada dasarnya persaingan merupakan bentuk dari perilaku

yang dlakukan dengan segala macam cara untuk menang, persaingan yang sekarang ini tidak lepas dari

sesuatu yang berada disekitar kita. Persaingan antara individu satu dengan individu lainnya sangat sengit.

Seperti hukum alam, siapa yang kuat dialah yang menang. Masa remaja sampai dewasa adalah masa

perkembangan dimana seseorang akan mencari jati dirinya.

 

  • Daftar rujukan.

Saputra, Sangaji Dwi. 2016. Pengaruh Religiusitas Terhadap Manajemen Stres Pada Siswa Kelas Xii Sma Negeri 1 Kasihan, (Online), E-Journal Bimbingan dan Konseling Edisi 8 Tahun Ke-5 (http://journal.student.uny.ac.id/ojs/index.php/fipbk/article/download/4317/3987, diakses 15 September 2018)

Kinantie, Oseatiarla Arian., Taty, Hernawaty. & Nur, Oktavia Hidayati. 2012. Gambaran Tingkat Stres Siswa SMAN 3 Bandung Kelas XII Menjelang Ujian Nasional 2012, (Online), (http://jurnal.unpad.ac.id/ejournal/article/download/739/785, diakses 15 September 2018)

Suprayogi, Muhamad Nanang, & Anisa Fauziah. Gambaran Strategi Coping Stress Siswa Kelas Xii Sman 42 Jakarta Dalam Menghadapi Ujian Nasional, (Online), (http://journal.binus.ac.id/index.php/Humaniora/article/download/3004/2393, diakses 15 September 2018)

Putri, Adisty Wismani, Budhi Wibhawa, & Arie Surya Gutama. (Online),

(http://jurnal.unpad.ac.id/prosiding/article/viewFile/13535/6321, diakses 14 September 2018)

 

 

Bystander Effect


Pernahkah Anda mengalami kecelakaan, seperti jatuh tersandung atau bahkan kecelakaan lalu lintas, tapi tak ada satu pun orang yang menolong sampai Anda mencoba bangun sendiri? Atau ketika anda membutuhkan bantuan di grup sosial media tapi tidak ada satupun yang merespon anda? Jangan khawatir, Anda tidak sendirian.

Fenomena ini dinamakan Bystander effect. Ketika seseorang membutuhkan bantuan, orang-orang di sekitarnya yang melihat akan berpendapat pasti ada yang membantu. Celakanya, semua orang berpikiran seperti itu dan akhirnya tak seorang pun datang membantu.

Ada dua penyebab bystander effect

  1. Merasa bahwa sesuatu yang terjadi dilihat oleh banyak orang, sehingga tidak terlalu bertanggung jawab untuk melakukan tindakan.
  2. Kebutuhan untuk bertindak benar secara sosial, sehingga ketika banyak orang tidak mengambil tindakan. Seseorang cenderung juga ikut tidak mengamil tindakan.

Apa yang perlu kita lakukan?

  1. Melihat sebuah situasi itu sebagai situasi yang darurat
  2. Meningkatkan kepedulian dalam diri kita
  3. Sadar bahwa seseorang membutuhkan bantuan kita, dan kita bertanggung jawab untuk menolong

Nah, sudah paham kan? Sekarang jangan hanya melihat ketika seorang butuh bantuan di dunia nyata maupun di dunia maya, tapi juga take action untuk menolong mereka.

Referensi

Meinarno, S. W. 2009. Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.

berita kesehatan. (2015, Maret 27). Retrieved Mei 14, 2018, from www.CNN.com: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150327130618-255-42332/bystander-effect-tak-hanya-terjadi-pada-orang-dewasa

KAMPANYE GENCAR PENCITRAAN VIRAL

Kampanye politik adalah satu hal lumrah yang seringkali ditemukan dalam  proses pertarungan politik dalam suatu negara. Terlihat pada hari ini yang ramai nya orang-orang untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin baik sebagai presiden, MPR, MPRD, DPR, DPRD, gubernur/wali kota, bupati, bahkan kepala desa yang dilaksanakan secara sistematis sesuai jangka waktunya.Tidak bisa di sangkal lagi bahwa melalui kampanye tersebut, aktor politik bisa dengan leluasa untuk mencari seluruh segmen pemilih untuk mendapatkan dukungan nantinya. Dalam politik setiap kandidat berhak melakukan kampanye sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan tentunya. Dan kampanye dilakukan dengan prinsip pembelajaran bersama dan tanggung jawab.

Kampanye tidak hanya di politik saja, ini terlihat dalam penjelasan Pfau dan Parrot (1993) di buku Persuasive communication campaigns tentang kampanye, yakni “A campaigns is conscious, sustained and incremental process designed to be implemented over a specified period of time for the purpose of influencing a specified audience” suatu proses yang dirancang secara sadar, bertahap, dan berkelanjutan yang dilaksanakan pada rentang waktu tertentu dengan tujuan mempengaruhi khalayak sasaran yang ditetapkan. Kampanye bisa dikatakan sebagai tindakan komunikasi yang terorganisir yang diarahkan pada khalayak tertentu, pada periode tertentu guna mencapai tujuan tertentu.

 

Charles U. Larson (1992 : 10) membagi 3 jenis model kampanye, diantaranya adalah:

  1. Product-oriented Campaign, yakni kampanye yang berorientasi pada produk. Umumnya terjadi pada dunia bisnis. Sudah tentu motivasinya adalah untuk mencari keuntungan finansial.
  2. Candidat-oriented Campaign, yakni kampanye yang berorientasi pada kandidat, umumnya di motivasi oleh hasrat untuk memperoleh kekuasaan  politik, jenis ini sering juga disebut Political Campaign.
  3. Ideologically campaign, yakni kampanye yang berorientasi pada tujuan-tujuan yang bersifat khusus dan seringkali berdimensi perubahan sosial. Disebut juga sebagai Sosial Change Campaign.

Nah, dalam kesempatan ini saya akan menjelaskan dari poin kedua perihal jenis model kampanye yakni, Candidat-oriented Campaign. Sebelum kesana akan kita bahas terlebih dahulu apa sih itu kampanye, apa sih itu politik, dan kenapa bisa juga berkaitan dengan kata pencitraan.

Pengertian kampanye politik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kampanye adalah:

1). gerakan (tindakan) serentak (untuk melawan, mengadakan aksi, dsb); 2) kegiatan yg dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yg bersaing memperebutkan kedudukan dalam parlemen dan sebagai nya untuk mendapat dukungan massa pemilih dalam suatu pemungutan suara.

Pengertian kampanye berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 2012 Tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah pada pasal 1 angka 26, Kampanye Pemilu adalah kegiatan Peserta Pemilu untuk meyakinkan para pemilih dengan menawarkan visi, misi, dan program Peserta Pemilu. Kemudian kita akan mengetahui apakah ada perbedaan dari propaganda, dan iklan pada kampanye.

  • Perbedaan Propaganda dengan Kampanye:

1). Propaganda tidak ada waktu.

2). Propaganda menginginkan perubahan cepat.

3). Kampanye tidak dibatasi waktu.

4). Kampanye memiliki pola-pola tertentu.

  • Perbedaan Kampanye dan Iklan

Kampanye sama dengan program kerja, butuh proses yang melibatkan jangka waktu yang panjang, kontinuitas dan konsistensi.Tujuan utama dari kempanye adalah pencitraan. Kampanye merupakan kegiatan peserta pemilu dengan tujuan untuk meyakinkan para pemilih dengan menawarkan visi, misi dan program peserta pemilu ( Pasal 1 angka 26 UU Nomor 10 tahun 2008). Kampanye ada sebuah istilah yang digunakan pada saat pemilu dan menonjolkan kelebihan program peserta pemilu.

 

Sedangkan iklan berguna untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan dan  produk-produk politik melalui media massa tertentu oleh kontestan tertentu. Bertujuan untuk menyampaikan informasi, meningkatkan ketanggapan seseorang pada suatu kandidat dan mempersuasi publik. Iklan merupakan sarana atau media yang dipakai/digunakan kampanye untuk mempublikasikan visi,misi dan program peserta pemilu. Iklan mementingkan komersial. Biasanya dalam praktiknya iklan-iklan di media itu membutuhkan biaya yang besar dan perusahaan pembuat iklan harus mendapat laba dari jasa pembuatan iklan tersebut. Iklan muncul sebagai media publikasi pada awalnya ditujukan untuk mendukung kegiatan komersial produsen, biasanya berupa pengenalan produk, informasidan menarik calon konsumen untuk membeli produknya. Iklan mencakup seluruh produk yang dapat dipublikasikan tanpa terkecuali.

 

Adapun metode kampanye menurut Peraturan Komisi Pemilihan Umum  Nomor 16 Tahun 2014 Tentang Pemillihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Pasal 15 diantaranya adalah:

  1. Pertemuan Terbatas
  2. Tatap muka dan dialog
  3. Penyebaran melalui media cetak dan media elektronik
  4. Penyiaran melalui radio dan atau televisi
  5. Penyebaran bahan kampanye kepada umum
  6. Pemasangan alat peraga di tempat umum
  7. Rapat umum
  8. Debat publik / debat terbuka antar calon
  9. Kegiatan Lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan

 

Dari pemaparan diatas lalu apa hubungan nya dengan pencitraan dari perihal kampanye dan politik, disini akan kita kaitkan dari tiga variabel itu sehingga bisa menjadi terkait dan inilah yang menjadi penjelasan saya terhadap tema ini, yakni kampanye gencar, pencitraan datang.

Pencitraan itu sendiri berasal dari kata Citra, Arti kata citra banyak ahli bahasa yang mengungkapkan, diantaranya :

  1. Huddleston dalam (Buchari Alma, 2008:55) memberikan definisi bahwa citra adalah ”Image is a set beliefs the personal associate with an Image as acquired trough experience”. Artinya citra adalah serangkaian kepercayaan yang dihubungkan denga sebuah gambaran yang dimiliki atau didapat dari pengalaman.
  2. Richard F. Gerson (1994) dalam Buchari Alma (2008:54) memberikan definisi bahwa citra merupakan tentang bagaimana konsumen, calon konsumen, dan pesaing melihat anda, reputasi anda adalah apa yang orang-orang katakan kepada pihak lain. Anda memerlukan baik citra penampilan fisik dan juga citra bisnis profesional sebagai reputasi positif, jika ada yang kurang maka bisnis anda bisa gagal.

Sedangkan politik pencitraan adalah politik yang dibuat untuk menggambarkan seseorang, pejabat, partai, ormas, dan lain-lain adalah baik atau buruk. Politik pencitraan positif digunakan untuk mengangkat elektibilitas diri dan golongannya sedangkan pencitraan negatif  untuk menjatuhkan musuh/lawannya.

Di tiap negara politik pencitraan ini biasa digunakan/dimanfaatkan untuk memunculkan tokoh yang diinginkan suatu golongan ataupun untuk mengangkat derajat dan kepangkatan dalam militer maupun dalam jabatan sipil. Karena ini namanya politik, tidak jarang dilakukan dengan jalan yang sangat radikal sehingga harus mengorbankan darah warga negaranya sendiri.

 

Alkisah di negeri antah berantah, ada seorang kolonel yang dirancang dalam 4 tahun naik pangkat menjadi Jenderal bintang 4. Maka dibentuklah sebuah tim sukses lengkap dengan biaya yang sangat besar bahkan dibiayai oleh orang asing. Bergeraklah tim ini merancang sebuah kerusuhan di tingkat masyarakat tertentu dan terciptalah kerusuhan besar itu. Si kolonel dirancang menyelesaikan kerusuhan besar itu dan bereslah dengan cepat. Penghargaan pertama kolonel naik pangkat menjadi jenderal bintang 1, begitu diciptakan hal lain sehingga si bintang satu segera naik jadi bintang 2 dan seterusnya hingga tercapailah target menjadi bintang 4 dalam 4 tahun.

Dikisah lain, saat proses politik pencitraan ada gagalnya karena persaingan proses pencitraan oleh kelompok lain sehingga bertabrakan. Hancurlah semua rencana bahkan hilang semua harapan masa depan karena harus dipecat dari kesatuan. Banyak cara politik ini dijalankan, ada yang namanya citra terdzalimi, citra suci, citra penjahat, dan lain sebagainya.

Maka dapat disimpulkan bahwa dalam pencitraan politik itu benar dan perlu adanya. Akan tetapi semua itu akan baik atau buruk, positif atau negatif tergantung pada individu dalam mempromosikan citra nya dan mampu bersaing dari individu lain. Dengan contoh pada penerapan pemilihin pemimpin di suatu negara khususnya di Indonesia. Dan hakikatnya kita pun tidak hanya perlu citra yang postif juga namun perlu adanya tindakan. Tidak hanya memaniskan diawal untuk masyarakat tapi memberikan kepastian. Tidak hanya omongan di depan keramaian tapi keaksian. Dan tidak hanya perkataan tapi ketepatan. Mari lakukan perubahan untuk indonesia menuju perbaikan dalam hal kebajikan akan keadilan untuk kehidupan sosial yang memastikan bahwa tindakan itu sesuai dengan citra yang individu ciptakan dalam hal berkampanye untuk mematahkan lawan.

 

 

 

Daftar Pustaka:

Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 16 Tahun 2014 Tentang Pemillihan Umum Presiden dan Wakil Presiden

Heryanto, Gun Gun. 2013.“ Regulasi Kampanye ”. Dalam Kompas, 8 Juni 2013. Jakarta. Mulyana, Deddy, M.A, Ph.D.2001.

Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Pawito, Ph. D. 2009.

Komunikasi Politik, Media Massa dan Kampanye Pemilihan. Yogyakarta: Jalasutra.

Pfau, M., dan Parrott, R. (1993). Persuasive communication campaigns

.Buku Elektronik. Needham Heights, MA: Allyn & Bacon. (diunduh pada 4 Juli 2014)

https://id.shvoong.com/social-sciences/communication-media-studies/2181313-definisi-atau-pengertian-citra/

 

Siti Aulia _ Universitas Muhammadiyah Surakarta

Manajemen Stress Mahasiswa

Istilah mahasiswa tentunya terdengar tidak asing ditelinga kita. Mahasiswa adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Saat menjadi mahasiswa tentunya berbeda dibandingan ketika menjadi siswa. Tuntutan sebagai calon ilmuwan membuat mereka mempunyai tanggung jawab yang besar dalam bidang akademik. Seperti dituntut untuk sering pergi ke perpustakaan mencarai buku referensi dan banyak membaca buku-buku serta jurnal penelitian guna memenuhi tugas yang diberikan sang dosen kepada mereka. Tugas yang diberikan dari dosen dapat dikatakan adalah hal yang ‘urgent’ untuk dikerjakan dan diselesaikan karena berkaitan dengan nilai IPK. Tidak hanya itu, dalam perguruan tinggi biasanya terdapat sebuah wadah pengembangan soft-skill atau bakat dan minat mereka berupa organisasi-organisasi mahasiswa. Dalam organisasi mahasiswa, tentunya terdapat serangkaian kegiatan-kegiatan sesuai tujuan organisasi tersebut. Misalkan rapat rutinan, mengadakan sebuah acara, dan lain-lain yang menyita waktu, pikiran, serta tenaga mereka yang bergabung didalamnya. Ada juga mahasiswa yang menyibukkan dirinya dengan bekerja. Seperti penjaga toko, kasir, ataupun pekerjaan yang lain. Yang tentunya juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit dan harus seimbang dengan padatnya jadwal perkuliahan.

Walaupun kesibukan dan rutinitas yang dijalani setiap mahasiswa itu berbeda-beda, namun dapat disimpulkan bahwa mahasiswa rentang akan stress karena beban akademik perkuliahan yang berat serta kegiatan diluar perkuliahan yang menyita kebanyakan waktu mereka. Stres pada mahasiswa dapat terjadi karena tekanan akademik, dinamika organisasi, ataupun tuntutan pekerjaan. Reaksi dari stress yang tinggi biasanya adalah ‘melarikan diri’ secara fisik maupun psikis. Melarikan diri secara fisik ialah meninggalkan perkuliahan (bolos kuliah/titip absen) atau enggan mengerjakan tugasnya lagi. Melarikan diri secara psikologis ialah melarikan diri dari dunia nyata ke dunia khayalan. Contohnya mencoba melupakan situasi yang penuh stress dengan cara minum alkohol, menghisap ganja, atau hal negatif lain. Dampak yang ditumbulkan akibat stress adalah penurunan kondisi fisik dan psikologis.
Stres yang berlebihan tersebut disebabkan salah satunya karena mahasiswa dituntut untuk banyak berpikir. Untuk menanganinya, bisa dengan teknik penenangan pikiran. Munandar (2001) menyebutkan teknik-teknik penenang pikiran meliputi :
a) Meditasi
Meditasi dapat dianggap sebagai suatu keadaan mental (mind). Seperti yoga dan berdzikir dapat menuju ke tercapainya keadaan mental tersebut. Dengan berkonsentrasi dan tidak bergerak dalam jangka waktu tertentu, mengendalikan kegiatan berpikir kit. Misalnya memusatkan pikiran kita pada satu kata seperti berdzikir menyebut nama Allah secara terus menerus. Penelitian menunjukkan meditasi menyebabkan adanya relaksasi fisik. Pada saat yang sama, kita mengendalikan secara penuh emosi, perasaan dan ingatan. Dan pikiran menjadi tenang.
b) Relaksai Autogenik
Secara harfiah diartikan relaksasi yang ‘ditimbulkan sendiri’. Teknik ini berpusat pada gambaran perasaan tertentu yang dihayati bersama terjadinya peristiwa tertentu yang terikat kuat dalam ingatan, sehingga timbulnya kenangan tentang peristiwa akan pula menimbulkan penghayatan gambaran perasaan yang sama.
c) Relaksasi Neuromuscular
Berkaitan dengan otot dan komponen sistem saraf yang mengendalikan aktivitas otot. Sasarannya untuk mengurangi ketegangan otot. Mula-mula dikembangkan kesadaran perasaan pikiran tentang bagaimana rasanya kalau relaks dan bagaimana perbedaannya dengan kalau merasa tegang. Selama melakukan relaksasi neuromuscular, berkonsentrasi untuk menegangkan atau merelakskan otot-ototnya berdasarkan kemauannya. Dan berlangsung selama jangka waktu tertentu.
Dari penjelasan diatas, mahasiswa dapat sedikit mengurangi stress yang dihadapinya. Dapat dijadikan teknik untuk mengendalikan atau memanajemen stress karena beban tanggung jawab sebagai mahasiswa. Stres sebenarnya dapat terjadi pada siapa saja, beberapa teknik diatas dapat dilakukan pula oleh kalangan siapa saja.

Sumber :
Munandar, Ashar Sunyoto. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. UI-Press : Jakarta

The Psychology Of Magic Or The Magic Of Psychology?

Sumber foto : RecruitingTools.com

The Psychology Of Magic Or The Magic Of Psychology?

Tiara Khoirunnisa

Magic biasanya ditampilkan dalam sebuah acara pertunjukkan dimana kita sebagai penonton kadang tercengang dan menarik rasa keingintahuan kita  akan trik yang di gunakan pesulap tersebut,  seperti kelinci yang keluar dari topi, tebakkan kartu yang tepat oleh pesulap, atau pertunjukkan memotong tubuh mausia kemudian dapat menyambungkannya lagi. apakah itu bagian dari kekuatan supranatural ataukah itu adalah gabungan dari ilmu pengetahuan pasti banyak dari kita yang bertanya-tanya akan hal itu.

Pertujukkan seni magic sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi, menurut sejarah pertama kali sulap ini di ceritakan bahwa raja Cheops memanggil salah satu pesulap untuk memainkan trik magic di depan raja dengan memenggal kepala ayam lalu mengembalikanya kembali seperti awal. Bagaimana bisa hal ini terjadi apakah ini adalah sebuah permaian kogitif pesulap.

Pesulap adalah ahli dalam ilusi, dan mereka telah mengembangkan metode yang menakjubkan untuk memanipulasi pengalaman kita Secara intuitif, hubungan antara magic dan psikologi tampak jelas: pesulap menggunakan teknik seperti misdirection untuk memanipulasi perhatian kita, ilusi untuk mengubah persepsi kita, dan memaksa untuk mempengaruhi keputusan kita. Beberapa perintis awal dalam Psikologi mengakui kaitan erat antara magic dan psikologi ini dan mempublikasikan makalah ilmiah menarik yang menyelidiki teknik magic. Meskipun beberapa peneliti telah menggunakan trik magic untuk mempelajari kognisi secara tidak langsung (misalnya, psikolog perkembangan), beberapa telah berusaha untuk mengikat magic ke dalam ilmu psikologi.

Pada tahun 2005, Kuhn dan Tatler menerbitkan salah satu paper terbaru tentang pengalihan perhatian, yang menggambarkan bagaimana prinsip magic dapat digunakan untuk mempelajari perhatian visual. Sementara tulisan ini menarik minat, banyak ilmuwan pada saat itu skeptis tentang gagasan menggunakan magic untuk mengeksplorasi kerja pikiran. Meskipun hubungan antara magic dan psikologi itu intuitif, pendekatan ini membutuhkan paradigma baru dan mungkin cara berpikir baru tentang mekanisme kognitif. Namun, karena beberapa peneliti memiliki akses ke armamentarium rahasia teknik magis, mempelajari magic secara ilmiah menjadi hak istimewa sekelompok kecil peneliti yang memiliki pengalaman langsung dalam magic.

Pada dekade terakhir telah melihat lonjakan dalam  penelitian yang telah menggunakan magic untuk menjelajahi berbagai topik dalam psikologi. Kerangka konkret sekarang menjelaskan bagaimana magic dapat dipelajari secara ilmiah dan keuntungan yang dapat diberikan oleh arah ini. Apa yang dulunya bidang terbatas untuk beberapa ilmuwan telah berkembang pesat menjadi domain penelitian yang dinamis. Sementara banyak penelitian telah berfokus pada misdirection,  magic psychology telah diperluas ke bidang-bidang seperti pengambilan keputusan, pemecahan masalah, objek permanen, pembentukan keyakinan, tindakan visualmotor, sense of agency, dan antisipasi perseptual .

Menjadi pesulap profesional membutuhkan ribuan jam latihan dan sebagian besar pesulap belajar keterampilan mereka melalui jejaring sosial informal. Beberapa pesulap juga mempelajari keilmuan psikologi salah satunya dedy corbuzier, ia adalah seorang sarjana psikologi. Keilmuan psikologi bagi para pesulap banyak berguna diatas panggung, ada tiga konsep utama psikologi yang sering di gunakkan dalam pertunjukkan magic, yaitu:

  1. Psychologycal misdirection (pengalihan perhatian secara psikologi)

Ada kepercayaan umum bahwa seorang pesulap menyembunyikannya metode (yaitu teknik yang digunakan) dengan mengandalkan kecepatan. Tapi anggapan itu salah bahwa ‘tangan lebih cepat dari mata’ kenyatannya kebanyakan manipulasi dilakukan dengan kecepatan normal. Daripada mengandalkan kecepatan, kesuksesan sebuah trik magic biasanya bergantung pada pengalihan perhatian sehingga penonton tidak memperhatikan bagaimana hal itu terjadi.

Pengalihan perhatian secara psikologi mengontrol perhatian penonton dengan memanipulasi harapan mereka. Tujuan pesulap adalah untuk mengurangi kecurigaan bahwa mereka sedang di tipu oleh trik magic tersebut. Sebagai contoh, dia bisa membutuhkan alat khusus yang diperlukan tersembunyi dari pandangan penonton dengan memasukkannya kembali ke sakunya. Jika itu tindakan memasukkan tangannya ke sakunya tampak normal , tindakan akan menyebabkan kecurigaan jauh lebih sedikit pada penoton dan karena itu akan jauh lebih mungkin untuk tidak diperhatikan. Cara lain untuk mengurangi kecurigaan adalah dengan menjaga penonton dalam ketegangan seperti apa yang  mereka lihat seperti dengan tambahan musik yang menengangkan atau pesulap kelihatan akan gagal dalam aksinya. Sebagaimana para penonton tidak tahu apa yang akan mereka harapkan. Terkait hal ini, aturan kunci dalam magic menyatakan bahwa trik magic tidak boleh diulang. Memang, telah ditunjukkan bahwa baik pengulangan dan pengetahuan sebelumnya tentang apa yang akan dilihat penonton meningkatkan kemungkinan bahwa mereka mengamati akan mendeteksi trik.

  1. Cognitive illusion (ilusi kognitif)

Sebagian besar pesulap  cenderung mengandalkan tingkat yang lebih tinggi yaitu faktor kognitif,  daripada hanya menggunakan ‘asap dan cermin’ untuk menciptakan sebuah ilusi panggung. Contoh dari ini adalah menghilang koin. Di sini, penonton merasakan pesulap mentransfer koin dari satu tangan ke tangan lainnya, lalu menghilang. Namun kenyataannya, koin itu tidak pernah berubah tangan, diam-diam disebunyikan pada tangannya agar tetap tidak terilhat oleh penonton. Kunci untuk melibatkan trik magic dengan tangan kita harus menemukan sejauh mana tindakan ‘salah’ yang terjadi diubah untuk membuat penonton  merasa mereka melihat hal yang nyata . Mengapa efek semacam itu bisa terjadi? Jawabannya adalah karena Kecepatan saraf yang terbatas transmisi menyebabkan penundaan 100 ms antara stimulus kedatangan dan persepsi sadar. Salah satu cara untuk mengkompensasi hal ini adalah untuk memprediksi masa kini  (yaitu memprediksi hasil dari suatu peristiwa sebelum benar-benar diproses). Strategi ini sangat berguna dalam situasi yang membutuhkan respon cepat, prediksi semacam itu juga bisa membuat kita rentan untuk tertipu. Efek seperti ilusi koin yang hilang dan ilusi bola yang menghilang  menjadi bukti antara  konsistensi dengan prediksi yang dibuat oleh penonton. 

  1. Mental forcing

Dalam kasus kekuatan mental, penonton diminta untuk secara sederhana memikirkan sebuah kartu, pesulap kemudian memanipulasi penampilan salah satu kartu
untuk mendukung pilihan tertentu (diperlihatkan sedikit lebih lama dari kartu-kartu yang lain agar kartu tersebutlah yang dipilih oleh penonton). pada kekuatan mental ini pesulap dapat membuat penonton dipengaruhi oleh rangsangan bawah sadar. Penonton seakan-akan digiring oleh persepsi tidak sadar mereka tanpa menyadari sebenarnya ada intervensi pesulap kepadanya akan kartu yang ia pilih, penonton melihat tidak ada yang janggal atau aneh, pesulap meningkatkan pesan bahwa pilihan itu benar-benar adil. Efek semacam itu bisa berpotensi untuk diinvestigasi pembentukan dan distorsi ingatan manusia.

Dari penjelasan diatas kita sudah mengetahui bahwasannya magic itu bukan hanya soal hal-hal supranatural tetapi bisa di jelaskan dalam keilmuan psikologi, pesulap menggunakan keilmuan psikologi untuk menarik perhatian penonton. Magic bisa menjadi tontonan untuk segala usia, tontonlah sesekali bersama keluarga, tidak perlu kita harus membongkar semua triknya, karena hiburan yang sesungguhnya manakala kita terkesan dan tersenyum akan trik magic tersebut.

 

Sumber :

 

Gustav Kuhn, Alym A. Amlani, and Ronald A. Rensink. (2008) “Towards a science of magic”. Trends in Cognitive Sciences Vol.12 No.9

 

Diakses dari https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyg.2016.01358/full, pada 13/04/2018