Di dalam keseharian kita, tak jarang mendengar kalimat “cowok kok letoy banget sih.” atau “jangan nangis, kan cowok”. Atau bahkan kita sendiri tanpa sengaja pernah mengatakan kalimat-kalimat itu. Banyak laki-laki yang sejak kecil diajarkan untuk menjadi laki-laki yang kuat dan tangguh. Anggapan yang kemudian terpeleset menjadi perilaku menonjolkan kekerasan ini adalah contoh dari toxic masculinity

Secara sederhana, toxic masculinity adalah perilaku sempit terkait dengan gender dan sifat laki-laki yang dominan, cenderung melebih-lebihkan standar maskulinitas laki-laki. Toxic masculinity pada dasarnya merupakan konstruksi sosial tenang bagaimana seharusnya laki-laki berperilaku dengan “memaksakan” standar “jantan” atau “ laki-laki sejati” dimana laki-laki tidak boleh menangis, tidak boleh bermain dengan anak perempuan. Mereka dilatih dengan permainan fisik dan stereotip lainnya. Konsep inilah yang cenderung erat dengan budaya patriarki, dimana laki-laki dianggap sebagai subjek di dalam tatanan sosial.

Ciri-ciri Toxic Masculinity

  1. Mempunyai pandangan bahwa laki-laki tidak seharusnya mengeluh dan menangis.
  2. Laki-laki cenderung bersikap kasar terhadap orang lain
  3. Rasa mendominasi terhadap orang lain.
  4. Agresif bahkan kasar secara seksualitas terhadap pasangan atau orang lain.
  5. Menganggap kegiatan dalam rumah tangga seperti memasak, menyapu, berkebun, dan mengasuh anak sebegai tugas perempuan.

Dampak Toxic Masculinity

  1. Pria tidak sepenuhnya mengekspresikan diri karena orang mungkin melihatnya sebagai tanda kelemahan atau kerentanan.
  2. Toxic masculinity bisa mendorong laki-laki untuk merasa “berhak” untuk bersikap agresif, melakukan kekerasan dan diskriminasi gender.

Penyebab dari Toxic Masculinity

  1. Pemahaman maskulin sebagai nilai sosial
  2. Privilege
  3. Masculine power

Berikut beberapa cara untuk mencegah terjadinya Toxic Masculinity

  1. Mengajarkan menumbuhkan rasa empati
  2. Selalu ajarkan untuk mengekspresikan diri dengan baik
  3. Hindari perkataan yang merendahkan perempuan.

Summary

Edwards, Schaefer. 2020. “Toxic Masculinity: Roots, Reality, and Breaking the Cycle”. Thesis Project. North Carolina : University of North Carolina.

Farike, Ireine dkk. 2022. Visualisasi Toxic Masculinity Buku “The End Of Eddy” Karya Édouard Louis Dalam Mixed Media Painting. e-Proceeding of Art and Desain. Vol. 5, No.1

Novalina, Martina dkk. 2021. Kajian Isu Toxic Masculinity di Era Digital dalam Perspektif Sosial dan Teologi. Jurnal Teologi dan Pelayanan. Vol 8 No. 1 (12-27)

Nadia, Fairuz. Toxic Masculinity https://yayasanpulih.org/2020/02/toxic-masculinity/Diakses pada 27 Juli 2022, pukul 19.40

Kategori: FUNFACT