Sebelum membahas pathological liars terlau jauh, kita beralih sebentar ke pathological lying. Pathological Lies atau bisa disebut juga mythomania  atau pseudologia fantastica merupakan perilaku kronis dari kebohongan kompulsif atau kebiasaan. Berbeda dengan  white lies yang dilakukan sesekali untuk menghindari aga tidak menyakiti perasaa orang lain atau untuk menghindari masalah. Pathological Lies  ini melakukan kebohongan dengan alasan yang tidak jelas.

Perlu diketahui bahwa pathological lying (PL) ini belum diklasifikasikan dalam DSM-5 atau ICD-10. DSM-5 menyebutkan bahwa “deception is a symptom of antisocial personality disorder and is used for external incentive (malingering)and to assume a sick role (factitious disorder)”. PL juga merupakan salah satu dari 20 item yang digunakan di dalam Hare Psychopathy Cheklist-Revised (PCL). Namun, item ini tidak semata-mata memberikan diagnose tetapi untuk menilai perilaku berbohong yang berhubungan dengan psikopati.

Dike And Collagues menyatakan bahwa Pathological Lies tercipta ketika kebohongan itu persisten, meresap, tidak proporsional, dan tidak termotivasi dari faktor eksternal lainnya. Mereka juga menyatakan bahwa karakteristik utama dari Pathological Lies ini berada pada sifat kompulsifnya. Si Pathological Liar tidak dapat mengendalikan kebohongan mereka atau impulsif.

Jadi, bisa dikatakan bahwa si Pathological Liar ialah seseorang yang berbohong secara kompulsif dan impulsif. Meski banyak kemungkinan yang menjadi penyebab dari Pathological Lies. Namun, belum sepenuhnya dipahami mengapa seseorang berbohong seperti ini.

Semua orang pasti pernah berbohong. Di dalam penelitian menyatakan bahwa rata-rata orang melakukan 165 kebohongan setiap harinya. Sebagian besar kebohongan itu dianggap sebagai white lies. Berikut perbedaan antara white lies dengan pathological lies.

White Lies:

  1. Tidak beresiko
  2. Tidak berbahaya
  3. Untuk menjaga perasaan orang lain atau menghindar dari suatu permasalahan.

Contohnya, ketika kita berasalan sakit agar bisa menghindar dari suatu acara.

Pathological Lies :

  1. Diceritakan secara sering, kompulsif, dan konsisten
  2. Diceritakan tanpa alasan atau keuntungan yang jelas.
  3. Dilakukan secara terus-menerus.
  4. Membuat si pathological liar terlihat seperti heroik atau seolah-olah menjadi korban.
  5. Tidak memiliki rasa bersalah atau takut ketika ketahuan.

Contohnya, mengaku memiliki penyakit yang mengancam jiwa yang tidak mereka miliki atau jenis kebohongan yang mengesankan orang lain.

Mengidentifikasi pembohong patologis tentunya tidak mudah. Meskipun sifat manusia itu sering curiga terhadap apa yang terlihat “terlalu bagus untuk menjadi kenyataan,” tapi tidak semua kebohongan yang diceritakan oleh Pathological Liar adalah berlebihan. Mereka juga bisa mengatakan kebohongan “biasa” yang mungkin diceritakan oleh seseorang tanpa paksaan untuk berbohong. Berikut ini adalah beberapa tanda yang dapat membantu kita utnuk mengidentifikasi si Pathological Liar:

  1.  Mereka sering berbicara tentang pengalaman dan pencapaian di mana mereka tampak heroik.
  2.  Mereka menjadi korban dalam mereka sendiri dan  sering mencari simpati.
  3.  Cerita mereka cenderung rumit dan sangat detail.
  4.  Mereka menanggapi pertanyaan dengan rumit dan cepat, tetapi tanggapannya tidak jelas dan tidak memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.
  5. Mereka mungkin memiliki versi berbeda dari cerita yang sama, karena lupa dengan detail sebelumnya.

Mengetahui pembohong patologis bisa sangat membuat frustrasi karena kebohongan itu tampaknya tidak ada gunanya. Hal itu dapat menguji kepercayaan dalam hubungan apa pun dan membuatnya sulit bahkan untuk melakukan percakapan sederhana dengan orang tersebut. Berikut adalah beberapa petunjuk untuk membantu Anda menangani percakapan dengan pembohong patologis:

  1. Jangan marah, meskipun kita frustasi saat mendengarkannya, sangat penting untuk mengontrol marah tersebut ketika menghadapi si pathological liar ini.
  2. Berikan penyangkalan, seseorang yang secara patologis berbohong mungkin memiliki kecenderungan untuk pertama kali merespons dengan kebohongan. Jika kamu tau tentang kebohongannya, kemungkinan besar mereka akan menyangkalnya dan mungkin akan marah serta menyatakan keterkejutan atas tuduhan itu.
  3. Ingatlah bahwa kebohongan ini bukan tentang dia, sulit untuk tidak menganggap dibohongi secara pribadi, tetapi kebohongan patologis bukan tentang dia. Orang tersebut mungkin didorong oleh gangguan kepribadian yang mendasarinya, entah itu kecemasan (anxiety), atau harga diri yang rendah (low self-esteem).
  4. Bersikaplah suportif, ketika berbicara dengan orang tersebut tentang kebohongan mereka, ingatkan mereka bahwa dia tidak perlu mencoba untuk membuat kamu terkesan. Beri tahu mereka bahwa kamu menghargai dia apa adanya. Bersikaplah suportif dan baik hati, tetapi tegas.
  5. Jangan melibatkannya, jika kamu lihat dia sedang berbohong maka jangan melibatkan dia. Kamu bisa mempertanyakan apa yang dia katakan, yang dapat mendorong dia untuk menghentikan kebohongannya. Kamu juga bisa memberi tahu mereka bahwa kamu tidak ingin melanjutkan percakapan kalau dia tidak jujur.
  6. Sarankan bantuan medis, tanpa menghakimi atau bermaksud mempermalukan, sarankan agar dia untuk mempertimbangkan bantuan profesional dan beri tahu mereka.

Si Pathological Liar ialah pendongeng sekaligus pemain yang sangat baik. Mereka tahu bagaimana memikat audiens mereka dengan menceritakan kisah-kisah yang rumit dan fantastis. Seiring dengan mengetahui cara merangkai dan mengekspresikan cerita yang terperinci, orang juga terpesona oleh apa yang mendorong seseorang untuk berbohong. Wajar jika ingin tahu mengapa mereka berbohong, terutama ketika tampaknya tidak ada alasan yang jelas untuk kebohongan mereka.

Mendiagnosis pembohong patologis bisa saja sulit karena banyak kemungkinan penyebabnya. Berbicara dengan orang tersebut dan melakukan riwayat medis serta wawancara biasanya tidak cukup untuk membuat diagnosis karena kecenderungan orang tersebut untuk berbohong.

Bagian penting dari mendiagnosis pembohong patologis adalah menentukan apakah mereka menyadari bahwa mereka berbohong atau mempercayai kebohongan yang mereka ceritakan. Beberapa profesional menggunakan poligraf (tes pendeteksi kebohongan). Tes ini bukan untuk menangkap mereka dalam kebohongan, tetapi untuk melihat seberapa baik atau sering mereka “mengalahkan” poligraf karena ini menunjukkan bahwa mereka percaya kebohongan mereka atau telah menjadi pandai menggunakan langkah-langkah lan untuk meyakinkanorang lain mengenai kebohongan mereka. Beberapa professional juga mawawancarai keluarga dan eman-teman ketika mendiagnosis pembohong patologis.

Perawatan akan tergantung pada apakah si pembohong patologis ini memiliki gejala dari kondisi kejiwaan yang mendasarinya atau tidak. Perawatan akan mencakup psikoterapi dan mungkin juga termasuk obat untuk masalah lain yang mungkin memicu perilaku, seperti obat-obatan yang digunakan untuk mengobati kecemasan atau depresi.

Bagaimana cara kita untuk berempati dan mengatasi si pembohong patologis bermuara pada pemahaman tentang apa yang mungkin menyebabkan orang ini berbohong sambil mendukungnya. Kemungkinan kebohongan itu adalah gejala dari masalah lain yang dapat diobati.

So, Encourage them to get the help they need!

REFERENSI:

Grubin, D. (2005). Commentary: Getting at the truth about pathological lying. Journal of the American Academy of Psychiatry and the Law Online, 33(3), 350-353.

Hare RD: Hare Psychopathy Checklist‐Revised (2nd ed) (PCL‐R); in Encyclopedia of Psychology and Law. Edited by Cutler B. Thousand Oaks, CA, Sage Publications, 2008

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th ed. Arlington, VA, American Psychiatric Association, 2013

Dike, C. C., Baranoski, M., & Griffith, E. E. (2005). Pathological lying revisited. Journal of the American Academy of Psychiatry and the Law Online, 33(3), 342-349.

The ICD‐10 Classification of Mental and Behavioural Disorders: Clinical Descriptions and Diagnostic Guidelines. Geneva, World Health Organization, 1992

Vrij A: Detecting lies and deceit: the psychology of lying and the implications for professional practice. Chichester, UK: John Wiley & Sons, 2000