Peran PFA Dalam Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi – Ubaid Kurniawan

Peran PFA Dalam Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi

Ubaid Kurniawan

(Universitas Islam Negeri Walisongo)

Pendahuluan

Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi yang menunjukan seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi disuatu komunitas. Oleh karena itu, kesehatan jiwa tak kalah penting dengan kesehatan fisik. Hasil riskesdas 2018 menunjukan gangguan depresi mulai terjadi rentang usia remaja (15-24 tahun), dengan prevalensi 6,2%. Pola prevalensi deperesi semakin meningkat seiring pertambahan usia, tertinggi pada umur 75+ tahun sebesar 8,9%,65-74 tahun sebesar 8,0% dan 55-64 tahun sebesar 6,5%.depresi merupakan peristiwa-peristiwa masa lalu dapat berupa kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan, atau stress berat jangka panjang.

Rendahnya informasi masyarakat tentang kosep kesehatan mental dan gangguan mental. Cukup banyak masyarakat yang memahami bahwa bicara tentang kesehatan mental, maka yang dimaksud adalah sebatas ‘penyakit’ (World Health Organization, 2005). Padahal, kesehatan mental bagian terpenting dari kesehatan seseorang. Seseorang yang bermental sehat dapat menggunakan kemampuan maupun potensi dirinya secara maksimal dalam menghadapi tantangan hidup, serta menjalin hubungan positif dengan orang lain. Sebaliknya, orang yang kesehatan mentalnya terganggu akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikir, serta kendali emosi yang pada akhirnya bisa mengarah pada perilaku buruk.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka penting bagi kita maupun masyarakat untuk memiliki kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental, karena sehat secara mental seseorang dapat memanfaatkan fungsi tubuhnya dengan optimal. Sebagai generasi muda menjadi penggerak bangsa yang diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental.

Pembahasaan

PFA merupakan singkatan dari Psychological First Aid merupakan pendekatan dalam pemberian bantuan untuk orang yang terkena dampak oleh keadaan darurat, bencana alam, atau peristiwa traumatis dimasa lalu. Pendekatan dengan manusiawi berupa dukungan sosial, emosional, atau praktis yang diberikan sesorang yang mengalami keadaan darurat, bencana alam, atau peristiwa traumatis.

Psychological First Aid atau PFA menjadi alternatif penanganan awal untuk mencegah dampak negatif yang lebih parah.dampak negatif tersebut bisa berupa depresi hingga memiliki niatan untuk mengakhiri hidupnya. Biasanya niatan untuk mengakhiri hidup dia merasa hidupnya sudah tidak ada yang peduli lagi, Ditinggalkan orang tercintai sehingga membuat larut dalam kesedihan.

Selama pandemi, banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat pasca instruksi pemerintah untuk belajar dari rumah, bekerja dari rumah, ataupun beribadah dari rumah dan lain sebagainya membuat situasi di Indonesia menjadi beda. Banyak dampak selama pandemi baik dari masyarakat maupun pemerintah itu sendiri. Ketidakstabilan ekonomi mengalami penurunan secara drastis. Banyaknya pengurangan pegawai atau PHK masal membuat masyarakat kehilangan pekerjaaan baik dari sektor industri, ataupun sektor lainnya. Diberlakukannya aturan social distancing membuat masyarakat yang berekonomi menegah bawah susah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Perubahan sistem pendidikan termasuk dampak dari pandemi ini baik jenjang Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas/ sederajat, maupun pada jenjang yang lebih tinggi, seperti Perguruan Tinggi (PT), kebijakan belajar dari rumah ditopang kuat dengan optimalisasi penggunaan teknologi komunikasi.dari sini lah, kita mengenal istilah “belajar online”. Sistem belajar ini diperkuat lagi dengan istilah “e-learning”. Tentunya setiap Perguruan Tinggi (PT) memiliki e-learning masing masing.mekanismenya pun sepenuhnya diberikan kepada teknologi. Kuliah online menggunakan aplikasi “video conference”, penilaian dan pengiriman tugas dengan sistem online, hingga absensi kehadiran juga dilakukan dengan sistem virtual-online baik melalui e-learning atau aplikasi chat yang ada dismart phone.

Akan tetapi, fenomena dilapangan mengafirmasi adanya kendala yang tak terelakkan.kita perlu sadari bahwa tidak semua siswa/ mahasiswa berasal dari keluarga kelas menengah atas. Tidak semua mahasiswa/ siswa sekolah memiliki smart phone dan laptop. Jika, ada mereka susah untuk mendapatkan akses internet. Bahkan didaerah tertentu tidak ditemukan jaringan internet. Sungguh mensulitkan bagi siswa/ mahasiswa dalam mengerjakan tugas yang diberi dosen/ gurunya.tugas yang terus menumpuk dan kesulitan dalam menemukan jaringan internet membuat siswa kelas 2 SMA di Kabupaten Gowa nekat untuk mengakhiri hidup di kamarnya dengan meminum racun serangga.pandemi ini memiliki dampak yang cukup besar baik dikalangan pelajar, mahasiswa, bahkan pekerja. Mereka mengalami stress akibat pandemi ini hingga menyebabkan siswa tewas karena mengalami depresi karena merasa terbebani dengan tugas sekolah tetapi jaringan internet yang sulit untuk diakses dikarenakan tinggal dipelosok/ pegunungan.

Akibat pandemi ini mengakibatkan kasus depresi di masyarakat meningkat baik dikalangan pelajar/ mahasiswa akibat pembelajaran jarak jauh/ belajar online, tak hanya pelajar/ mahasiswa yang terkena imbas dari pandemi ini banyak buruh terkena PHK selama pandemi. Depresi juga ada yang ringan, sedang, dan berat. Jika depresi ringan mungkin dengan cara didem/ tidak diutarakan, jika depresi berat bisa mengakhiri hidupnya seperti siswa kelas 2 SMA di Kabupaten Gowa. Oleh karena itu PFA berperan sangat penting dalam mengatasi reaksi emosinal di saat stress dan krisis saat pandemi ini.

PFA memiliki banyak peran seperti : membantu orang lain menghadapi peristiwa yang menegangkan, menciptakan lingkungan yang penuh kasih bagi penyintas, memberikan rasa aman bagi penyintas, memberikan dukungan langsung kepada orang yang berada dalam situasi penuh tekanan, dan mencegah gangguan mental yang lebih parah. Peran PFA yang sangat penting disaat pandemi ini setidaknya mencegah penyintas tidak depresi berat.

Pemberi PFA melakukan 6 langkah/ tahapan dalam memberikan PFA bagi penyintas/ penerima PFA. Yaitu dengan cara melihat, mendengarkan, kenyamanan, perlindungan, dan harapan. Cara pertama, melihat merupakan langkah mencari dan memastikan apa yang dibutuhkan oleh penyintas atau sesorang yang sedang dalam kesulitan/ tertekan. Cara kedua, mendengarkan dengan mengacu pada mendengarkan keluhan dan tidak menekan perasaan atau menjudge penyintas atau orang yang sedang dibantu, serta bagaimana pemberi PFA mampu mendengarkan secara aktif. Cara ketiga, kenyamanan merupakan langkah yang diperlukan untuk memberi rasa aman dan menyidiakan kebutuhan dasar bagi seseorang yang sedang dalam kesulitan/ tertekan. Cara keempat, perlindungan merupakan langkah untuk menjamin keamanan terhadap situasi bertujuan untuk membantu orang-orang yang terdampak oleh bencana/ peristiwa traumatis merasakan rasa aman. Cara keenam, harapan merupakan langkah terakhir yang dapat dilakukan sekaligus merupakan tujuan ketika memberikan PFA dengan mengembangkan harapan kepada orang yang membutuhkan bantuan. Harapan sangat penting untuk diberikan karena dikatakan mampu meningkatkan peluang untuk pemulihan penerima PFA.

Penerima PFA merupakan siapapun yang sedang mengalami keadaaan darurat, bencana, kejadian/ peristiwa traumatis bisa juga kelompok rentan dan lebih berisiko terkena konsekuensi negatif seperti anak-anak, remaja, lansia, ibu hamil, difabel, orang yang memiliki gangguan fisik atau jiwa, dan sedang atau pernah memiliki trauma. Sedangkan pemberi PFA adalah tenaga professional kesehatan/ kesehatan mental, relawan, orang awan yang terlatih, dan semua orang yang dapat memberikan dukungan setelah menerima pelatihan PFA. Hal paling terpenting adalah kemauan untuk menolong seseorang. Tenaga professional kesehatan/ kesehatan mental merupakan psikiatri atau psikolog yang sudah ahli dalam bidang kesehatan mental.

Perlu diperhatikan apa saja yang dilakukan pemberi PFA. Yaitu pemberi mengenali dan menerima perasaan yang disampaikan dan memahami situasinya, berikan waktu kepada klien untuk memproses dan ventilasi, dengarkan lebih banyak daripada berbicara, guna memahami hal apa yang dikhawatirkan klien, sabar dan tenang merupakan kunci utama sebagai pemberi PFA, gunakan pertanyaan terbuka untuk mengawali pembicaraan seperti : kapan, dimana, apa, dan siapa. Pastikan dalam memberikan PFA ini menaati asas “Do No Harm” (tidak menimbulkan bahaya/ permasalahan lebih lanjut bagi klien). Hal yang diharapkan dari pemberi PFA adalah observasi/ wawancara secara santu, fokus perhatian pada reaksi dan interaksi penyintas/ penerima dalam setting, mendemonstrasikan ketenangan dan berpikir dengan jelas contoh sebagai model bagi penyitas/ penerima, sensitive terhadap budaya dan keragaman yang ada, dan memperhatikan kelompok yang beresiko tinggi.

Hal yang perlu dihindari bahkan tidak dilakukan oleh pemberi PFA. Pertama, jangan memaksa orang lain atau penerima PFA untuk berbicara ketika penerima tidak ingin berbicara, sebagai pemberi PFA harus menyadari kondisi penerima terlebih dahulu. Kedua, jangan menghakimi, karena tindakan tersebut bukannya mengobati rasa traumatis terhadap penerima PFA justru membuat penerima mengalami traumatis yang mendalam. Ketiga, jangan menjanjikan sesuatu yang tidak dapat kita tepati atau memberikan jaminan palsu. Keempat, jangan menyalahgunakan kepercayaan dan kerahasiaan informasi yang telah disampaikan penerima PFA kepada kita. Kelima, jangan menyebar luaskan pengalaman atau cerita dari penyintas/ penerima kepada orang lain. Keenam, jangan meninggalkan penyintas/ penerima seorang diri, dan jika anda harus melakukannya, berilah alasan kenapa dan mintalah salah seorang yang ada di sekitar anda untukmenjaga penyintas/ penerima, dengan sediakan hal konkret yang membuat penyintas/ penerima merasa aman. Ketujuh jangan membiarkan penyintas/ penerima yang dapat membahayakan keselamatan diri seperti tindakan untuk mengakhiri hidupnya. Hindari dan jangan lakukan tindakan tersebut sebagai pemberi PFA.

Hal yang perlu diperhatikan oleh pemberi PFA yaitu kualitas,dengan kualitas yang baik akan memberi dampak kepada penerima PFA.kualitas pemberi PFA yang efektif yaitu,pribadi utuh,penguasaan diri,kreatif dan fleksibel,potensi untuk tumbuh,energi posoitif dan ketangguhan,dan mampu bereaksi secara tepat dan cepat.yang dimaksud pribadi utuh adalah sesorang yang memiliki sehat jasmani dan rohani dalam arti seseorang yang tidak autis/orang dalam gangguan jiwa. kreatif dan fleksibel harus dilakukan oleh pemberi PFA guna untuk menghibur penerima yang dibawah umur seperti membuat mainan sederhana dengan cara tersebut mungkin dapat mengurangi rasa depresi terhadap penerima PFA. energi positif dan ketangguhan juga diperlukan dalam pemberian PFA ini karena dengan energi positif berdampak kepada penerima untuk tetap semangat dalam menjalani hidup dengan cara positif.

Dengan pemberian PFA ini dapat menekan angka depresi di Indonesia. selama pandemi ini.diperkirakan setiap provinsi ada kelonjakan angka depresi selama pandemi.sebuah ungkapan yang lazim kita dengar yaitu “Mens sana in corpore sano” yang memiliki arti “di dalam tubuh yang sehat,terdapat jiwa yang kuat”.oleh karena itu,setiap tanggal 10 oktober diperingati hari kesehatan mental dunia oleh sebab itu marilah kita menjaga kesehatan mental kita.menjaga kesehatan mental minimal untuk diri kita sendiri maksimalkan untuk orang lain.kesehatan mental juga tak kalah penting dengan kesehatan fisik.oleh karena itu,dengan memberikan PFA menjadi solusi yang tepat dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental di masa pandemi ini.

Penutup

Dari apa yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa PFA dapat menjadi salah satu solusi bagi masyarakat maupun generasi muda untuk mengoptimalkan peningkatan kesadaran kesehatan mental, terutama pada kelompok yang rentan. Dengan memberikan PFA, mungkin dapat meringankan psikis seseorang selama pandemi ini.selain itu, masyarakat juga berperan penting mengenai kesehatan mental sehingga bisa mencegah terjadinya gangguan mental dan dapat menjalani kehidupan sehari-hari secara produktif.

Pemberian PFA berguna untuk mencegah hal negatif yang dapat mengancam keselamatan dirinya dikarenakan pertolongan psikologis pertama. PFA diberikan sesegera mungkin setelah terjadinya keadaan darurat, bencana, atau kejadian traumatis, serta dapat dilakukan dalam situasi apapun khususnya di tempat terjadinya keadaan darurat. Oleh karena itu, PFA memiliki peran meredakan gejala yang berpontensi lebih parah. Jika gejala tidak bisa ditangani oleh pemberi PFA alangkah baiknya datang ke orang yang lebih professional seperti psikiatri dan psikolog yang sudah ahli dalam kesehatan mental. Maka, menjadi hal terpenting bagi setiap orang untuk saling meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental, karena untuk membangun bangsa yang hebat, diperlukan sumber daya manusia yang kuat dan berjiwa sehat baik rohani maupun jasmani.

 

Daftar Pustaka

Dra. Sugiarti, M.Kes.,Psikolog, Webinar Inside Out UI (diselenggarakan oleh Inside Out,pada Minggu,19 Agustus 2020)

HIMPSI,22 Juni 2020,Kesehatan Jiwa dan Resolusi Pascapandemi di Indonesia file:///C:/Users/ubaid%20kurniawan/Downloads/TORBu ku%205%20HIMPSI.pdf

Pusdatin KemKes, 2019, Situasi Kesehatan Jiwa  diIndonesia file:///C:/Users/ubaid%20kurniawan/Downloads/InfoDatin-Kesehatan- Jiwa.pdf

Pijarpsikologi.org, 6 Agustus 2018, Psychological First Aid pada Korban Terdampak Becana https://pijarpsikologi.org/psychological-first-aid-pada-korban-terdampak-bencana/

Anjani Nur Permatasari, 20 Otober 2020, Kronologi Siswa SMA Ditemukan Tewas Bunuh Diri, Diduga Akibat Stress Belajar Online. https://www.kompas.tv/article/117155/kronologi-siswa-sma- ditemukan-tewas-bunuh-diri-diduga-akibat-stress-belajar-online

Nael Sumampouw, M.Psi, Psi Pusat Krisis Fakultas Psikologi UI, 2006, Psychological First Aid (PFA) https://staff.ui.ac.id/system/files/users/nathanael.elnadus/material/pfadepkes.pdf

Kementerian Kesehatan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, 08 juni 2018, Pengertian Kesehatan Mental. https://promkes.kemkes.go.id/pengertian-kesehatan-mental

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.