PANDU : Aplikasi Berbasis Kontrol Diri dan Mindfulness Sebagai Solusi Adiksi Gadget dan Sehat Mental selama Pandemi Covid-19 – Muhammad Hafidh

PANDU : Aplikasi Berbasis Kontrol Diri dan Mindfulness Sebagai Solusi Adiksi Gadget dan Sehat Mental selama Pandemi Covid-19

Muhammad Hafidh

(Universitas Diponegoro)

Berapa banyak di antara kita yang mampu untuk tetap fokus dan tidak mudah teralihkan, saat smartphone sudah berada dalam genggaman tangan ? Mungkin dalam jangka waktu sehari hanya sesekali kita benar-benar mampu untuk mengontrol diri dan hanya menggunakan aplikasi yang ada di dalam gadget sesuai kebutuhan. Pandemi juga memiliki dampak yang signifikan dalam penggunaan gadget di mana segala kegiatan termasuk pendidikan dan sosial dijalankan secara online atau daring. Data dari Kominfo (17/4/2020) menunjukkan bahwa ada kenaikan signifikan sebesar 30 hingga 40 persen dalam penggunaan gadget dan internet. Bahkan pada daerah tertinggal angka kenaikannya juga cukup tinggi yaitu sebesar 23 persen. Data ini sebenarnya menunjukkan suatu hal yang positif di mana masyarakat sudah mau untuk mengikuti anjuran dari pemerintah berupa physical distancing untuk menekan penularan dari Covid-19. Bantuan kuota dan peningkatan layanan internet juga semakin memudahkan akses bagi para pekerja maupun pelajar untuk memaksimalkan kegiatannya secara daring.

Namun, tentu saja ada konsekuensi atas semakin marak dan intensifnya penggunaan gadget dan internet ini. Dilansir dari detikhealth (5/8/2020), ada sebuah studi yang dilakukan oleh dokter spesialis kedokteran jiwa dari Siloam Hospitals Lippo Village yaitu dr Kristiana Siste Kurniasanti, SpKJ, bersama timnya kepada 2.933 remaja dan 4.734 orang dewasa berusia 20-40 tahun di 33 provinsi Indonesia. dr Kristiana menjelaskan, kecanduan internet pada remaja meningkat hingga 19,3 persen dengan rata-rata durasi bermain internet selama 11,6 jam per hari. Selain itu, kecanduan internet pada orang dewasa juga meningkat dari 3 persen sebelum pandemi menjadi 14,4 persen selama pandemi. Dari data ini disimpulkan bahwa ada sekitar 5 kali lipat peningkatan dari kecanduan atau adiksi terhadap penggunaan internet. Penggunaan dari gadget sendiri bila lebih dari 4 jam selama sehari akan meningkatkan kecenderungan adiksi (Aljomaa et al., 2016).

Aplikasi sosial media seperti Instagram, Twitter, dan TikTok yang digunakan oleh anak muda dan orang dewasa awal seringkali mengganggu fokus dalam kegiatan daring baik pembelajaran maupun pekerjaan online. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kontrol diri dari individu yang mengalami adiksi tersebut. Kontrol diri didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengatur, menyusun, membimbing, dan mengarahkan perilaku diri yang dapat membawa ke arah atau konsekuensi yang positif. Individu yang memiliki kontrol diri yang tinggi akan memperhatikan bagaimana cara ia berperilaku yang tepat pada situasi yang beragam (Ghufron & Risnawita, 2016). Dalam konteks penggunaan gadget dan internet, contoh indikasi dari kontrol diri yang buruk adalah adanya adiksi ataupun ketergantungan yang berlebihan terhadap gadget itu sendiri. Sebaliknya, jika seorang individu memiliki kontrol diri yang baik, tentu ia akan bersikap bijak dalam menggunakan gadget dan internet serta mampu membentengi dirinya dengan hal- hal negatif yang dapat diakibatkannya. Muna dan Astuti (2014) juga menjelaskan bahwa remaja dengan kontrol diri yang tinggi dapat terhindar dari kecenderungan adiksi media sosial. Adiksi atau kecanduan ini sendiri merupakan hal negatif yang menandakan kurang sehatnya mental seseorang. Kesehatan mental tentu bukan hal yang boleh kita sepelekan terutama di kondisi pandemi yang mengakibatkan seseorang lebih rentan mengalami gangguan.

Permasalahan ternyata tak berhenti di sana. Selama pandemi ini yang belum dapat dipastikan akan berakhir kapan, banyak sekali orang yang tiba-tiba mengalami permasalahan psikis seperti gejolak emosi, kontrol diri yang terganggu, dan kehilangan kendali dirinya. Tanda-tanda ini merupakan indikasi dari terganggunya kesejahteraan psikologis banyak orang di masa pandemi ini. Tentu untuk mengatasi masalah tersebut maka diperlukan sebuah solusi yang di dalamnya terdapat faktor-faktor yang berperan dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis dan membuat seseorang tetap sehat secara mental (Savitri & Listiyandini, 2017). Selama beberapa waktu terakhir, sering kita dengar kata Mindfulness yang ternyata dalam banyak riset dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang. Mindfulness menurut Baer, et.al. (2006) didefinisikan sebagai peningkatan kesadaran penuh dengan berfokus pada pengalaman saat ini (present-moment awareness) serta penerimaan tanpa memberikan penilaian (nonjudgemental acceptance). Individu yang memiliki mindfulness tinggi adalah individu yang sehat secara fisik dan mentalnya. Mereka tidak mudah cemas, depresi, memandang hidup secara positif, memiliki self esteem, dan memiliki hubungan yang baik dengan orang lain (Kabat-Zinn dalam West, 2008). Sebuah contoh penting dari mindfulness adalah saat seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan secara daring. Jika ia mencurahkan perhatian dengan baik dan mampu untuk tetap fokus, tentu ia akan menjalani perkuliahan dengan maksimal. Begitupun sebaliknya jika ia memiliki mindfulness yang rendah maka akan mudah sekali teralihkan sehingga berakibat buruk pada dirinya sendiri.

Melihat berbagai permasalahan tersebut dan mempertimbangkan betapa pentingnya menjaga kesehatan mental sejak dini, penulis memiliki inovasi untuk ikut memberikan sebuah kontribusi berupa ide yaitu untuk mengembangkan sebuah aplikasi di ponsel pintar agar tiap orang yang mengalami kesulitan kontrol diri selama pandemi dapat memanfaatkannya sebagai sarana self care. Aplikasi ini penulis beri nama PANDU, merupakan sebuah aplikasi yang berisikan fitur-fitur agar saat menggunakan gadget dan memanfaatkan internet pengguna mampu tetap fokus pada tujuannya dengan cara membatasi hal-hal yang sekiranya tidak penting dan berpotensi untuk mengalihkan. PANDU dikembangkan dengan tujuan memudahkan seseorang dalam mengatur waktu penggunaan gadget dan internet sehingga mereka tidak mudah terlena dan tidak jatuh kepada kecenderungan adiksi.

Aplikasi PANDU dibuat dengan mengutamakan fitur-fitur yang user friendly dan tidak membingungkan para pengguna baik dari kalangan muda hingga tua. Keunggulan dari aplikasi ini adalah menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dimengerti dan tidak perlu selalu terhubungkan dengan internet. Jika aplikasi sudah diinstal dan diaktifkan maka setiap kali membuka smartphone maka PANDU akan menampilkan pilihan pada pengguna berupa mode-mode yang bisa diaktifkan saat akan menggunakan pada waktu tersebut. Ada 4 mode yang bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan pengguna. Berikut adalah penjabaran dari mode-mode tersebut.

  1. Mode Belajar

Fitur ini cocok digunakan bagi pelajar terutama mahasiswa yang mengikuti perkuliahan daring dengan suatu platform tertentu seperti Zoom atau Google Meet. Jika fitur ini diaktifkan saat menggunakan smartphone, maka aplikasi akan mengatur sistem sehingga yang bisa diakses hanya platform belajar tersebut. Notifikasi dari sosial media juga akan tertahan untuk sementara, kecuali notifikasi yang memiliki korelasi dengan pembelajaran. Mode ini juga bisa diintegrasikan dengan jadwal belajar pengguna sehingga otomatis akan aktif jika ada jadwal pembelajaran yang sedang berlangsung.

  1. Mode Bekerja

Fitur ini ditujukan untuk para pekerja yang menjalani WFH atau work from home. Memiliki fitur yang hampir mirip dengan mode belajar namun lebih profesional dan mengatur penggunaan gadget sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.

  1. Mode Santai

Berbeda dengan fitur-fitur sebelumnya yang membantu pengguna untuk fokus, mode santai ini bertujuan untuk membuat pengguna bisa menggunakan gadgetnya untuk kebutuhan hiburan dan bersantai. Pengguna bisa memanfaatkan fitur ini untuk menggunakan sosial media maupun bermain games. Namun, fitur ini juga membantu pengguna untuk tetap ingat waktu sehingga membatasi dari kecenderungan adiksi dan hilang kendali. Pengguna dapat mengatur berapa lama mereka akan menggunakan waktu bersantai sehingga setelahnya dapat kembali produktif.

  1. Mode Bebas

Jika menggunakan fitur ini maka pengguna tidak akan dibatasi dalam menggunakan gadget maupun internet. Akan tetapi tetap ada pengingat berupa durasi waktu pengguna telah menggunakan gadgetnya, harapannya dengan fitur ini pengguna dapat menikmati menggunakan gadget secara bebas tapi tidak lupa waktu.

 

Gambar 1. Tampilan Awal PANDU Saat Membuka Smartphone

 

Selain itu PANDU juga dilengkapi dengan berbagai fitur lain yang melatih pengguna untuk membiasakan mindfulness dalam kehidupan sehari-harinya. Ada fitur track record atau riwayat penggunaan gadget oleh pengguna sebagai bahan evaluasi apakah masih atau sudah sembuh dari kecanduan. PANDU juga dilengkapi dengan fitur pengatur sekaligus pengingat jadwal harian. Fitur ini dapat membantu pengguna agar tidak terlalu memiliki ketergantungan dengan smartphone karena jika berlama-lama dapat meningkatkan risiko penyakit seperti alzheimer, tumor otak, gangguan tidur, kanker, bahkan bisa mematikan sperma (Manggia, 2014). Fitur terakhir yang dimiliki aplikasi ini dinamakan mindfulness practice yang berisikan tata cara dan latihan yang dapat membantu meningkatkan mindfulness pengguna. Contoh dari fitur ini ada empat hal yang merupakan penerapan dari menjaga sikap kesadaran secara penuh.

  1. Pengingat agar fokus mengerjakan satu tugas

Jika pengguna sudah mengatur jadwal hariannya maka sesekali akan muncul notifikasi berupa pesan singkat untuk mengingatkan sekaligus menyemangati pengguna agar fokus pada pekerjaan yang sedang ia lakukan pada waktu tersebut.

  1. Pengingat untuk melakukan aktivitas ringan

Jika pengguna menerapkan mindfulness bukan berarti ia harus selalu sibuk dan produktif terus menerus tanpa adanya waktu untuk beristirahat sejenak. Fitur ini akan membantu pengguna untuk sesekali meluangkan waktu mengerjakan aktivitas ringan yang bermanfaat seperti membaca buku atau duduk santai sambil meminum teh. Aktivitas ini dapat diatur sendiri oleh pengguna kapan waktunya dan apa kegiatannya.

  1. Panduan melatih fokus dan konsentrasi

Fitur ini berisikan sebuah panduan dan langkah-langkah yang dapat membantu pengguna melatih konsentrasinya agar bisa mindful dalam melaksanakan kegiatan selama pandemi.

  1. Pengingat untuk berolahraga

Selama pandemi kita dianjurkan tidak hanya berdiam diri saja di rumah masing-masing namun fisik kita juga butuh untuk tetap dilatih minimal dengan meluangkan waktu berolahraga selama lima belas menit sehari. Fitur ini berfungsi untuk mengingatkan pengguna untuk tidak lupa berolahraga agar menjaga kesehatan fisik dan mental.

Tantangan dalam mengembangkan aplikasi PANDU adalah pembuatan aplikasi dan penyebarluasannya agar digunakan oleh pengguna secara tepat sasaran. Aplikasi ini sebenarnya bisa dimanfaatkan baik oleh suatu perusahaan, sekolah, maupun kampus untuk memaksimalkan pekerja maupun pelajarnya. Komisi dan pemberdayaan terkait juga dapat mempertimbangkan untuk memanfaatkan aplikasi ini demi menekan angka adiksi terhadap gadget dan internet yang kian hari makin memprihatinkan. Teknologi harus dikembalikan lagi kepada fungsi asalnya yang seharusnya menjadi alat untuk membantu manusia bukan alat untuk merusak manusia tersebut. Namun, terlepas dari itu semua aplikasi PANDU sebenarnya merupakan sebuah sarana bagi individu agar lebih peduli terhadap kendali atas dirinya sendiri dan bagaimana cara pengguna menjaga kesehatan mentalnya sendiri selama pandemi masih berlangsung.

 

Gambar 2. Tampilan GUI (Graphic User Interface) Aplikasi PANDU

 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa PANDU merupakan sebuah aplikasi yang berbasis kontrol diri dan mindfulness yang dikonstruksikan sedemikian rupa agar dapat menjadi sarana bagi pengguna sehingga sembuh dari kecendrungan adiksi gadget. Aplikasi PANDU juga diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sarana menjaga kesehatan mental di tengah kondisi pandemi yang belum dipastikan akan berakhir kapan. Menurut penulis, sebagai mahasiswa Psikologi ada banyak sekali peluang yang harus kita eksplorasi demi kemajuan dari ilmu Psikologi itu sendiri dan implementasi dari teori tersebut agar tercipta manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh banyak orang. Pada tulisan ini penulis mengungkapan inovasi di bidang teknologi yang harusnya lebih banyak menerapkan ilmu dari Psikologi agar lebih manusiawi dan tidak merusak pencipta dari teknologi itu sendiri yaitu manusia. Hadirnya aplikasi PANDU harapannya dapat menjadi jawaban atas keresahan banyak orang terutama orang tua yang kebingungan menghadapi anaknya yang kecanduan terhadap benda yang hampir setiap jam digenggamnya. Lewat penerapan ilmu Psikologi mari kita berkontribusi dalam menciptakan Indonesia yang sehat mental ! “Kreativitas membutuhkan keberanian untuk melepaskan kepastian.” (Erich Fromm).

 

 

Daftar Pustaka

 

Aljomaa, S. S., Qudah, M. F. A., Albursan, I. S., Bakhiet, S. F., & Abduljabbar, A.S. (2016). Smartphone addiction among university students in the light of some variables. Computers in Human Behavior, 61, 155-164. doi: 10.1016/j. chb.2016.03.041.

Baer, R. A., Smith, G. T., Hopkins, J., Krietemeyer, J., & Toney, L. (2006). Using self-report assessment methods to explore facets of mindfulness. Assessment, 13(1), 27-45.

Dwianto, A. R. (2020). detikHealth : Kecanduan Internet di RI Meningkat Lima Kali Lipat Selama Pandemi Corona. Diakses pada 19 November 2020. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5121236/kecanduan-internet- di-ri-meningkat-lima-kali-lipat-selama-pandemi-corona

Ghufron, M. N. & Risnawita, R. (2016). Teori-teori psikologi. Yogyakarta: Ar- Ruzz Media.

Kabat-Zinn, J. (1994). Where you go there you are: Mindfulness meditation in everyday life. New York: Hyperion.

Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (2020). Penggunaan Internet Naik 40% Saat Bekerja dan Belajar dari Rumah. Diakses pada 19 November 2020. https://www.kominfo.go.id/content/detail/25881/penggunaan-internet-naik-40-saat-bekerja-dan-belajar-dari-rumah/0/berita_satker

Manggia, I. M. (2014). Ketika ponsel menjadi penyakit. Diunduh dari http://epaper.suaramerdeka.com/read/2014/09/21/24EM21i14MGU.pd f.

Muna, R. F., & Astuti, T. P. (2014). Hubungan antara kontrol diri dengan kecenderungan kecanduan media sosial pada remaja akhir. Empati, 3(4), 481-491.

Savitri, W. C., & Listiyandini, R. A. (2017). Mindfulness dan kesejahteraan psikologis pada remaja. Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, 2(1), 43-59.

Sumber Gambar : Karya Pribadi Penulis.