COPING PANDEMI DENGAN COMPASSION – Jihan Wahyunda

COPING PANDEMI DENGAN COMPASSION

Jihan Wahyunda

Universitas Muria Kudus

Bergantinya tahun 2019 menjadi tahun baru 2020. Segala harapan, ekspektasi memenuhi ruang pikiran manusia. Maret 2020, Indonesia dikabarkan bahwa Covid-19 sudah mulai menyebar ke berbagai daerah. Segala tindakan preventif untuk meminimalisir angka korban yang terpapar covid. Mulai dari pekerjaan, pendidikan dilakukan di rumah atau berbasis Online. Aturan yang semakin ketat untuk melakukan physical distancing, mengurangi interaksi diluar rumah, dan hanya boleh keluar rumah saat hanya kepentingan saja. Segala rencana yang sudah disusun rapi dalam sebuah perusahaan, organisasi harus dipaksakan untuk dibatalkan. Pandemi ini memaksa semua orang untuk mengurangi intensitas kegiatan di luar rumah, selain itu kondisi ini juga membuat seseorang berada dalam kebingungan harus menyalahkan siapa atas segala rencana yang sudah disusun rapi, segala harapan yang sudah di gantungkan yang akhirnya menjadi sebuah wacana saja. Mau menyalahkan pandemi ini pun tidak bisa karena semua berada diluar kendali kita. Stressor mulai menghampiri manusia, hingga manusia itu mengalami stress. Stress merupakan keadaan dari ketidaksesuaian antara stressor yang menimbulkan tekanan.stress yang berkepanjangan sehingga menimbulkan kecemasan bahkan depresi. Cemas merupakan respon tubuh terhadap stress. Sebanyak 64,3% dari 1.522 responden memiliki masalah psikologis cemas atau depresi setelah melakukan periksa mandiri via daring terkait kesehatan jiwa dampak dari pandemi COVID-19 yang dilakukan di laman resmi Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). Pandemi seperti ini orang-orang berpikir harus menjadi produktif, banyak yang merasa tidak berguna karena tidak mengerjakan sesuatu.

Stress hingga menimbulkan cemas lalu depresi merupakan dampak psikologis dari Pandemi. Orang-orang ingin menjadi produktif agar merasa dirinya berguna. Pandemi ini bukanlah ajang untuk berkompetisi untuk menjadi produktif. Pandemic ini justru membuat orang dapat berkontemplasi dengan alam untuk.tidak harus menjadi produktif, ada saatnya seseorang dengan sengaja memusatkan atensi penuh pada dirinya. Langkah yang tepat dalam membuat intensitas angka cemas, depresi dan sebagainya adalah dengan memunculkan Compassion dan melakukan Mindfullness. Compassion dan mindfulness bisa menjadi sebuah pendekatan intervensi dan sekaligus sebagai preventif untuk kesehatan mental. Dalam Pandemic yang sedang terjadi di berbagai belahan dunia membuat semua orang merasa menderita karena harus mengisolasikan dirinya, Harus membatasi interaksi sosial diluar rumah dan sebagainya. Selain itu juga, merasa bahwa pandemic ini seseorang harus produktif dalam keseharianya, padahal pandemic ini bukan lah ajang berkompetisi untuk menjadi produktif.

Menyadari dengan sepenuhnya tentang pandemic ini, menyadari bahwa pandemic ini bukanlah akhir dari segalanya merupakan bagian dari Compassion. Compassion dapat diimplementasikan di saat pandemic ini. Compassion dapat diimplementasikan dengan cara menyadari sepenuhya apa yang terjadi saat ini, menyadari bahwa ini bukanlah akhir segalanya dan berbelas kasih atas penederitaan yang dialami. Ketika seseorang menyadari bahwa pandemic ini bukanlah hanya seorang yang mengalami, tapi di berbagai belahan dunia juga mengalami dampak dari pandemic ini, seseorang akan sadar dan berbelas kasih terhadap dirinya bahwa ia tidak sendiri mengalami hal ini. Compassion membuat seseorang menyadari bahwa hal tersebut merupakan bagian hidup mereka, yaitu bagian dari pengalaman mereka sendiri. Seperti yang dikatakan Neff (2003) mengatakan bahwa compassion merupakan pemahaman tanpa kritik terhadap penderitaan, kegagalan atau ketidakmampuan diri dengan cara memahami bahwa hal tersebut merupakan bagian dari pengalaman manusia sebelumnya. Dapat disimpulkan dari pengertian tersebut bahwa itu Compassion dapat digunakan sebagai regulasi emosi. Pertama yang harus diperhatikan ketika menggunakan compassion adalah kita harus memahami diri kita diri dalam penderitaanya. Pandemi ini seseorang dapat melihat lebih dalam dari dirinya dari sebuah penderitaan yang dirasakan. Hal yang tidak boleh dilakukan adalah denial terhadap perasaan dan bagaimana ia memandang dirinya. Saat ia merasa sedih, atau kecewa, seseorang harus merasakan kehadiran perasaan yang datang dan dengan memahami apa pesan yang disampaikan dalam emosi tersebut, karena sejatinya emosi adalah sebuah barometer atau alarm bagi tubuh tentang pesan yang disampaikan. Ini merupakan salah satu aspek dari Neff (2003) tentang self kindness yang merupakan kemampuan untuk memahami diri keika individu mengalami kekurangan. Self kindness merupakan komponen untuk mengukur sejauh mana individu memiliki kekurangan. Yang kedua mengikuti aspek dari Neff yaitu Common humanity. Common humanity merupakan individu yang mampu melihat kegagalan sebagai sesuatu yang wajar dan dialami setiap oleh manusia. Saat pandemic seseorang akan merasa bahwa semua rencana yang sudah tersusun rapi yang akhirnya tidak dapat direalisasikam karena kondisi pandemic ini atau bisa dibilang gagal, dari kegagagalan itulah seseorang melihat apa makna sebenarnya ketika semua rencana yang sudah tersusun dengan rapi malah gagal. Dengan proses berpikir tentang apakah rencana ini memang diproses lagi dan akan direalisasikan tahun berikutnya, atau jika renacana ini dilaksanakan sekarang malah akan berdampak buruk bagi orang-orang sekitar.

Selain Compassion, ada juga Mindfulness yang dapat dijadikan sebagai jalan untuk untuk mengurangi atau sebagai coping stress. Mindfulness merupakan salah satu aspek Compassion juga dari Neff (2003) yaitu keasadaran penuh atas situasi saat ini serta mampu menyeimbangkan pikiran dalam situasi yang menekan. Jadi, Mindfullness merupakan bagian dari Compassion Sebuah temuan ilmiah bahwa mindfulness dapat mengurangi stress kognitif dan ketergugahan reaktif akibat stress (Epel, E., Daubenmier, J., Moskowitz, J.T., Folkman, S., & Blackburn, E., 2009). Mindfulness berorientasi pada kehidupan saat ini dan sekarang. Kehidupan yang sedang dijalani, aktivitas yang dijalani tanpa menoleh ke arah masa lalu. Jalan ini bisa dimulai dengan dari hal yang paling kecil, seperti saat sedang mencuci piring kita merasakan aliran air yang menyentuh kulit kita,
tangan kita yang menggosok dengan penuh penghayatan saat itulah mindfulness terjadi. Saat olahraga pun dalam keadaan pandemi seperti ini merupakan salah satu alternative dalam menghindari terpaparnya virus covid ini, dimana dengan berolahraga kita merasakan detak jantung yang yang berdetak lebih kencang, menikmati berbagai gerakan tubuh dan keringat yang mengalir di sekujur tubuh, saat itu juga kesadaran sudah berada pada rumahnya, yang tak lain adalah hati itu sendiri. Berlatih dengan latihan mindfulness sederhana yaitu mencari waktu dan kesempatan yang tenang. Duduk dikursi atau dapat duduk bersila, lalu perhatikanlah dan amatilah napas yang keluar masuk tubuh, cukup perhatikan dan rasakan.

Atensi yang disengaja yang berorientasi pada kehidupan “being”. “being” ibarat bumi dan akar pohon yang ada dibawah. Ibarat akar adalah keberadaan yang kita tidak sadari, yang jauh dari pergumulan duniawi sehingga kita merasa asing terhadap diri sendiri. Saat itulah, mindfulness merupakan sebuah alarm bagi diri kita untuk senantiasa hidup di masa kini dan sekarang. Mindfulness dapat dikataan sebuah jalan manusia dalam membebaskan dirinya dari penjara masa lalu dan berfokus pada kehidupan sekarang.

Termakan kabar Hoax, tanpa menyaring dengan baik akan berakibat stress. Stress yang merupakan akar dari segala penyakit. Pandemi ini tidak hanya berfokus pada fisiologis, tapi juga pada Psikologis. Manusia dihampiri dengan kecemasan, depresi yang tidak henti-hentinya. Compassion yang didalamnya terdapat Mindfullness menjadikan intervensi dalam Regulasi Emosi. Karena terisolasi menjadkan bias pikiran pada pandemic ini sebagai ajang untuk menjadi produktif. Bukankah akan menjadi baik jika kita mengasihani diri kita sendiri tanpa harus menghakimi? Bukankah kita mengalami pandemi ini tidak sendirian? Rangkul jiwamu, bawa dirimu kedalamnya, ketenangan akan menghampiri dalam mencegah masuknya pergumulan duniawi atau riuhnya pikiran saat ini. Satu yang perlu diingat, pandemic ini bukan akhir dari segalanya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Iman, Setiadi. 2016. Psikologi Positif: Pendekatan Saintifik Menuju Kebahagiaan. Jakarta: kompas

Hanum Hasmarlin, Hirmaningsih. 2019. Self-Compassion dan Regulasi Emosi pada Remaja. Jurnal Psikologi. Volume 15: 150-151 http://pdskji.org/home

Neff, K. D. (2003). Self-compassion: An Alternative Conceptualization of A Healthy Attitude Toward Oneself. Self and Identity, 2, 85-101.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.