Rendahnya Kualitas Layanan Kesehatan Mental di universitas-universitas di Indonesia

Tulisan oleh : Zahrotun Nafisah

 

Dewasa ini dapat permasalahan psikologis di berbagai belahan dunia mulai setring disorot. Banyak diantaranya yang meneliti bahkan dengan gencar mengkampanyekan gerakan sadar kesehatan mental. Tak terkecuali aktivis kampus serta lembaga-lembaga resmi di tingkat pemerintahan. Cara yang dilakukan pun sangat beragam, ada yang berkampanye melalui media sosial, dan ada pula yang melakukan aksi-aksi sosial di tengah masyarakat. Dengan tujuan utama, menanamkan kesadaran kesehatan mental kepada masyarakat.

Namun, di tengah usaha yang dilakukan oleh para aktivis pejuang kesadaran kesehatan mental ini terdapat fenomena yang mencengangkan. Yaitu minimnya layanan psikologi di negara ini, bahkan dalam lingkungan akademik, seperti universitas.

Padahal di Indonesia sendiri sudah terdapat banyak universitas yang menyelenggarakan pendidikan psikologi (dalam hal ini terdapat jurusan psikologi) di dalamnya. Namun, di universitas tersebut tidak terdapat layanan psikologi sama sekali. Tak terkecuali universitas-universitas besar yang terdapat di kota-kota besar sekalipun.

Hal ini berbanding terbalik dengan universitas-universitas di negara maju. Sebut saja Australia dan Inggris misalnya. Di universitas yang terdapat di dua negara tersebut, sudah terdapat layanan psikologis khusus untuk mahasiswanya. Hal ini dikarenakan mereka menyadari bahwasanya tekanan akademik dapat mengganggu proses belajar mahasiswanya serta akan berpengaruh pada hasil akademik pula. Sehingga mereka memberikan layanan tersebut agar dapat membantu mahasiswa mereka agar dapat nyaman belajar serta dapat menyelesaikan studinya dengan baik.

Berbeda dengan di Indonesia, dimana universitas yang mengadakan jurusan psikologi pun belum tentu memiliki layanan ini. Penyebabnya tak lain adalah persoalan biaya. Karena jika di usut, penyelenggaraan layanan psikologi ternyata tidaklah murah. Karena juga mencakup layanan seperti tes intelejensi dan lain-lain yang alat tesnya dan perlengkapan lainnya yang tentu saja tidak murah. Serta kurangnya kesadaran birokrasi tentang pentingnya kesehatan mental mahasiswanya.

Padahal jika ingin dilihat dari kacamata kebutuhan. Mahasiswa sebenarnya membutuhkan layanan ini. Karena menurut penelitian, tekanan akademik dapat berpengaruh bagi kesehatan mental serta fisik seseorang. Juga dapat berpengaruh pula pada motivasi berprestasi dari mahasiswa itu sendiri. Sehingga apabila kesehatan mental para mahasiswa terjamin, maka motivasi berprestasi dan kemampuan individu itu akan baik. Dan tentu saja kualitas individu tersebut juga akan membantu nama baik universitas itu sendiri.

Selain itu, kendala yang lain justru terdapat pada mahasiswa itu sendiri. Stigma negatif di masyarakat yang menganggap bahwa orang yang pergi ke psikolog adalah mereka yang “gila” menjadi boomerang tersendiri. Pasalnya stigma tersebut yang menyebabkan banyaknya mahasiswa yang enggan pergi ke psikolog, walaupun mereka sendiri dalam keadaaan yang kacau secara mental. Seperti stres berkepanjangan. Sehingga walaupun telah tersedia layanan psikologi di kampus pun, jumlah klien yang konsultasi pun sangatlah sedikit. Sehingga adanya layanan ini menjadi tidak efektif.