MAHASISWA PSIKOLOGI? BISA BERKONTRIBUSI APA?

Oleh : Veais Nindika Pratama & Siti Maya Cahyanti

veaisnindika@gmail.com

Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung Semarang

 

Mahasiswa adalah sebutan bagi individu yang sedang menempuh jenjang pendidikan baik itu pendidikan akademis maupun pendidikan vokasi. Menurut Sarwono, mahasiswa adalah individu yang terdaftar secara resmi disebuah perguruan tinggi untuk mengikuti rangkaian pembelajaran yang merupakan calon cendikiawan muda dimana hasil akhir dari pembelajaran tersebut akan mendapatkan gelar akademik sesuai bidangnya. Mahasiswa dituntut untuk serba bisa dan menjadi harapan masyarakat ketika turun dilapangan karena dianggap mumpuni dalam bidang yang dipelajarinya. Tak terkecuali pada mahasiswa Psikologi. Ketika lulus para sarjana psikologi ini diharapkan dapat menerapkan dirinya sebagai seorang Ilmuwan Psikologi yang mana kita harus dapat berkontribusi dalam bidang penelitian, pengabdian dan lainnya. Apakah kita harus menunggu nama kita bergelar S.Psi dahulu untuk dapat berkontribusi? Tentu saja tidak. Walaupun kita masih menyandang status sebagai mahasiswa Psikologi kita bisa berkontribusi dalam bidang apapun juga, salah satunya dengan menjadi Relawan. Mengapa relawan? Dimana ilmu Psikologi akan diletakkan? Relawan kan identik dengan tim medis?.

Mari kita bahas sedikit mengenai definisi Relawan. Relawan adalah individu yang mengorbankan waktu serta tenaganya tanpa dibayar untuk mencapai tujuan tertentu dengan mengemban tanggung jawab tanpa atau dengan latihan khusus. Tetapi relawan dianjurkan untuk memiliki keahlian khusus dalam suatu bidang sehingga dapat membantu tenaga yang lebih professional. Relawan biasanya diturunkan ketika terjadi sebuah bencana yang menimbulkan korban jiwa serta menghancurkan tempat-tempat sekitar. Seseorang atau sekelompok orang dapat disebut seorang relawan apabila memiliki kemampuan dan kepedulian  untuk bekerja secara sukarela dan ikhlas.

Bencana tidak hanya berupa kejadian alam seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir, tsunami dan lain-lain. Tetapi juga dapat berupa bencana sosial, kerusuhan, tawuran, pemberontakan, terorisme dan peristiwa lain yang akan menimbulkan dampak negatif. Bencana adalah gangguan serius yang memiliki dampak, salah satunya dampak psikologis. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho memaparkan data statistik terkait bencana alam yang terjadi di Indonesia selama catur wulan pertama 2019. Berdasarkan data BNPB, wilayah yang paling banyak mengalami bencana terhitung sejak tanggal 1 Januari 2019 sampai 30 April 2019 adalah Provinsi Jawa Tengah, yaitu tercatat ada 472 kejadian, kemudian ada Jawa Barat sebanyak 367 kejadian, Jawa Timur 245 kejadian. Sedangkan sebaran bencana per kabupaten/kota, Kabupaten Sukabumi berada di angka 50 kali kejadian setelah itu Semarang dengan kejadian sebanyak 43 kali.

Berdasarkan data tersebut, kita mengetahui bahwa Jawa Tengah merupakan daerah rawan bencana dan Semarang merupakan salah satu daerah yang banyak mengalami bencana. Hal ini dapat menjadi pertimbangan kepada seluruh masyarakat untuk dapat mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Maka dari itu para masyarakat perlu mengetahui tentang adanya program mitigasi bencana. Yaitu sebuah program perbaharuan dari “Save More Lives” menjadi “Disaster Risk Reduction” atau dalam bahasa sehari-harinya kita kenal dengan istilah “Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati”.

Lalu dimana peran mahasiswa Psikologi jika ingin menjadi relawan? Peran Psikologi akan muncul pada saat “Bencana” dan “Pasca Bencana”, karna pasti para korban nya masih mengalami guncangan psikologis. Dampak yang ditimbulkan oleh bencana tidak hanya fisiknya, juga mempengaruhi kesehatan mentalnya, seperti trauma dan stress. Tetapi tidak semua korban mengalami trauma, sebagian dari mereka ada yang mengalami kecemasan, somatisasi bahkan depresi. Kejadian tersebut dapat diredakan oleh relawan yang berada ditempat, dan disinilah peran Psikologi diperlukan. Tetapi, peran Psikologi dapat lebih bekerja secara efektif apabila kebutuhan logistic sudah terpenuhi.

Ketika kebutuhan logistic sudah terpenuhi, maka yang harus diredakan adalah trauma paska kejadiannya tersebut. Dan disinilah para mahasiswa Psikologi dapat turun sebagai relawan dengan menggunakan prinsip PFA. Psychological First Aid (PFA) adalah pendekatan modular berdasarkan bukti untuk membantu anak-anak, remaja, dewasa, dan keluarga segera setelah bencana. PFA ini dikembangkan oleh National Child Traumatic Stress Network and National Centre for PTSD, dengan kontribusi dari individu yang terlibat dalam penelitian dan respons bencana. PFA dirancang untuk mengurangi tekanan awal yang disebabkan oleh peristiwa traumatis dan untuk menumbuhkan fungsi adaptif jangka pendek dan jangka panjang serta koping. Karena trauma yang dirasakan oleh korban dapat menurunkan fungsi neocortex yang berfungsi sebagai pusat berfikir logis dan analitis. Singkatnya, PFA ini merupakan langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan setelah mengalami kejadian traumatis. Karena PFA ini merujuk pada pertolongan pertama psikologis, maka mahasiswa Psikologi sendirilah yang dapat melaksanakan PFA ini, sehingga  relawan untuk bidang Psikologi sangat dibutuhkan, karena diharapkan dapat lebih mengerti dan membantu korban-korban yang pskologisnya terguncang.

 

Dalam menjalankan PFA, tidak sembarangan dalam bertindak, yaitu ada tata caranya yang kita kenal dengan prinsip 3L, yaitu; Look, Listen dan Link. Dimana sebelum memasuki ketiga tahap tersebut, para relawan harus memiliki Prepare yang baik.

  1. Prepare : Dalam arti disini adalah mengetahui dan mempelajari tentang krisis yang sedang berlangsung, mempelajari tentang ketersediaan servis dan dukungan serta keamanan. Artinya relawan harus benar-benar mengetahui bagaimana situasi dan kondisi ditempat kejaidan.
  2. Look : Yaitu melihat keadaan sekitar, peka terhadap keadaan, melihat seseorang yang paling membutuhkan dukungan serta keamanan. Relawan harus peka dengan kondisi dan keadaan individu yang psikologis nya sedang tidak baik dan membutuhkan pertolongan.
  3. Listen : Setelah didapati korban yang sedang membutuhkan pertolongan, maka relawan perlu membangun rapport dengan orang yang membutuhkan, mendengarkan segala keluhan dan ceritanya, mampu menempatkan diri untuk menjadi pendengar yang baik.
  4. Link : Tahapan berakhir disini, yaitu menghubungkan. Para relawan psikologi yang telah membuat pertolongan pada korban jika dapat tertangani maka pertolongan pertamanya berhasil. Tetapi jika tidak, maka relawan perlu menghubungkannya dengan yang lebih professional.entah itu dihubungkan dengan Psikolog ataupun dengan Psikiater.

Jadi disitulah peran Psikologi dapat diterapkan pada prinsip 3L, ia dapat menjadi jembatan penolong sebelum diberikan penolongan lebih lanjut. Dalam melaksanakan PFA pun, para mahasiswa Psikologi yang ingin menjadi relawan perlu mengikuti seminar dan pelatihan kebencanaan, sehingga ketika turun lapangan, dapat benar-benar membantu korban yang membuthkan pertolongan. Berikut adalah delapan tindakan inti dalam PFA :

  1. Kontak dan Keterlibatan: Untuk menanggapi kontak yang diprakarsai oleh penyintas, atau untuk memulai kontak dengan cara yang tidak mengganggu, penuh kasih sayang, dan bermanfaat.
  2. Keselamatan dan Kenyamanan: Untuk meningkatkan keselamatan langsung dan berkelanjutan, dan memberikan kenyamanan fisik dan emosional.
  3. Stabilisasi (jika perlu): Untuk menenangkan dan mengorientasikan penyintas yang kewalahan atau emosional.
  4. Pengumpulan Informasi tentang Kebutuhan Saat Ini dan Kekhawatiran: Untuk mengidentifikasi kebutuhan dan masalah yang mendesak, mengumpulkan informasi tambahan, dan menyesuaikan intervensi Pertolongan Pertama Psikologis.
  5. Bantuan Praktis: Menawarkan bantuan praktis kepada para penyintas dalam menangani kebutsuhan dan masalah yang mendesak.
  6. Koneksi dengan Dukungan Sosial: Untuk membantu menjalin kontak singkat atau berkelanjutan dengan orang-orang pendukung utama dan sumber-sumber dukungan lainnya, termasuk anggota keluarga, teman, dan sumber daya bantuan masyarakat.
  7. Informasi dalam Mengatasi: Untuk memberikan informasi tentang reaksi stres dan mengatasi untuk mengurangi kesusahan dan mempromosikan fungsi adaptif.
  8. Tautan dengan Layanan Kolaboratif: Untuk menghubungkan para penyintas dengan layanan yang tersedia yang dibutuhkan pada saat itu atau di masa depan.