BIODANZA SRT : ALTERNATIF TERAPI BARU SEBAGAI PENINGKATAN KESEHATAN MENTAL REMAJA DALAM MENURUNKAN TINGKAT STRES DAN DEPRESI PADA KORBAN CYBERBULLYING

BIODANZA SRT : ALTERNATIF TERAPI BARU SEBAGAI PENINGKATAN KESEHATAN MENTAL REMAJA DALAM MENURUNKAN TINGKAT STRES DAN DEPRESI PADA KORBAN CYBERBULLYING

Oleh : Irene Putri Christijanto Fakultas Psikologi Unaki Semarang

 

PENDAHULUAN

Salah satu dampak dari globalisasi yaitu membawa perkembangan pada dunia internet. Berbagai alat komunikasi baik handphone maupun smartphone telah dilengkapi oleh fasilitas internet. Akses internet menciptakan hubungan antar masyarakat terjalin tanpa batasan jarak. Fasilitas yang disajikan dari adanya internet yaitu kenikmatan dalam menjelajahi berbagai media sosial. Telah banyak media sosial yang dapat diunduh dalam play store secara gratis seperti facebook, twitter, line, path, instagram, dan lain-lain. Namun, adanya berbagai media sosial tersebut tentunya tidak lepas dari munculnya dampak positif maupun negatif bagi penggunanya. Dampak negatif tersebut salah satunya berupa maraknya kasus cyberbullying.

Masa remaja menjadi penyebab tertinggi maraknya kasus cyberbullying. Cyberbullying mengacu pada bullying yang terjadi melalui instant messaging, email, chat room, website, video game, atau melalui gambar atau pesan yang dikirim melalui telepon selular (Kowalski, 2008). Bentuk dan metode cyberbullying bisa berupa pesan ancaman melalui e-mail, mengunggah foto yang mempermalukan korban, membuat situs web untuk menyebar fitnah dan mengolok-olok korban hingga mengakses akun jejaring sosial orang lain untuk mengancam korban dan membuat masalah (Bemoe, 2011).

Negara Indonesia sudah mencacat banyak korban terkait dengan kasus cyberbullying. Data yang diperoleh UNICEF (2016), sebanyak 41 hingga 50 persen remaja di Indonesia dalam rentang usia 13 sampai 15 tahun pernah mengalami tindakan cyberbullying. Survey lain telah dilakukan oleh Ipssos pada 18.687 warga di 24 negara termasuk Indonesia juga menemukan bahwa satu dari delapan orangtua menyatakan anak mereka pernah menjadi korban pelecehan dan penghinaan melalui media online dan dalam penelitian tersebut terungkap juga bahwa sebanyak 55% orangtua menyatakan mereka mengetahui seorang anaknya mengalami perundungan di dunia maya (Napitupulu, 2012). Kasus nyata yang senada belum lama ini pernah dialami oleh anak dari Uya Kuya yaitu Cinta Kuya. Pada April 2018, Cinta Kuya sempat mendapatkan bully pada akun Instagramnya karena ia telah berhasil mendapat tiket cek sound pada konser BTS (Boyband Korea) yang hanya dibagikan ke 22 pemenang. Para pelaku berpendapat bahwa Cinta Kuya dapat memenangkan tiket itu lantaran dia putri seorang artis ternama. Cibiran pedas dari para pelaku pun menyebabkan Cinta Kuya menangis dan menimbulkan ayahnya ikut turun tangan dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Pada korban tindakan cyberbullying dapat menimbulkan dampak stres hingga menuju pada tingkat yang paling parah yaitu depresi. Stres merupakan suatu keadaan tertekan baik itu secara fisik maupun psikologis (Ardiani, 2007). Depresi merupakan gangguan mental yang serius yang ditandai dengan perasaan sedih dan cemas yang dapat menghilang dalam beberapa hari tetapi dapat juga berkelanjutan yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari (National Institute of Mental Health, 2010). Pada The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) memberikan beberapa kriteria diagnostik atau gejala depresi mulai dari adanya tanda mengalami penurunan suasana hati atau mood hampir sepanjang hari hingga setidaknya selama dua minggu hingga tingkat yang paling berat yaitu sering memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup. Sebuah kajian meta-analisis Bottino, Regina, dan Correia (2015) juga menemukan bahwa perundungan maya berhubungan dengan stres emosional, kecemasan sosial, penggunaan obat terlarang, gejala depresi, serta ide dan usaha untuk bunuh diri.

Penanggulangan terhadap tindakan cyberbullying menjadi sebuah persoalan besar. Orangtua berperan sebagai layaknya sahabat untuk anak di dalam rumah. Para orangtua menyempatkan waktu untuk melakukan caring and sharing di tengah kesibukan mereka. Para orangtua juga dituntut untuk memberikan pengawasan ekstra jika anak berselancar dalam dunia maya. Selain itu, dalam kurikulum 2013 di sekolah digalakkan akan penerapan pendidikan karakter dalam pelajaran. Pendidikan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional sebagimana diungkapkan dalam pasal 1 Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama (KPAI, 2014). Peradilan Indonesia juga menghadirkan UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang berisi bahwa siapa saja yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan informasi elektronik yang melanggar kesusilaan, akan dipidana dengan penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak satu miliar rupiah (Malihah, 2018).

Berbagai penanganan baik preventif maupun kuratif telah berusaha diterapkan untuk menanggulangi menyebarnya cyberbullying yang berdampak serius bagi para korban. Salah satunya yaitu biodanza. Biodanza adalah alternatif baru yang dapat mengurangi stres dan depresi pada korban cyberbullying dengan cara melakukan gerakan tarian secara berkelompok mengikuti alunan musik sehingga diharapkan remaja berusaha untuk mampu menerima diri sendiri maupun orang lain.

 

PEMBAHASAN

Semakin berkembangnya akses media sosial menjadikan remaja memerlukan pengawasan yang ekstra terutama untuk mencegah maraknya korban cyberbullying sebagai salah satu akibat dampak negatif. Penerapan biodanza tersebut mencoba menjadi alternatif untuk menghilangkan stres bahkan depresi para korban cyberbullying. Biodanza itu sendiri merupakan nama lain dari dance of life atau System Rolando Toro (SRT) yang ditemukan oleh Rolando Toro Araneda pada tahun 1960. Biodanza mulai diperkenalkan di Indonesia tahun 2010 di Yogyakarta pada saat setelah tragedi letusan dahsyat dari gunung Merapi. Program terapi ini dilakukan dalam kelompok dengan mengkolaborasikan antara musik, bernyanyi dan gerak tari atau dansa yang menjadikan pesertanya menjadi lebih rileks dan bahagia. Sistem Biodanza SRT memiliki tujuan yaitu untuk memfasilitasi dan menciptakan iklim yang tidak menghakimi (dengan memberikan rasa hormat dan perhatian pada diri sendiri dan orang lain) yang dapat mendorong orang untuk membangun hubungan interpersonal yang lebih memiliki fungsional dan agar dapat menjalani kehidupan mereka sepenuhnya serta dapat meningkatkan kreativitas.

Biodanza SRT memiliki berbagai fungsi yang efektif dalam mengurangi stres dan depresi pada korban cyberbullying, diantaranya yaitu sebagai fungsi primisif (permissive function), fungsi fasilitasi (facilitating function), dan fungsi transeden (transcendent function). Pengelolaan ketiga fungsi tersebut secara baik dan benar bisa memberikan pengajaran pada remaja bagaimana dapat mengelola emosi secara sosial. Remaja merupakan tahapan dimana terjadi ambiguitas dalam pencarian identitas diri sehingga membuat kepercayaan diri mereka masih kurang.

Remaja yang rapuh, belum dewasa, dan secara sosial naif yang kemampuan dan pengetahuannya masih belum cukup untuk membuat keputusan secara efektif tersebut yang menjadi target para pelaku cyberbullying. Alhasil, pelaku yang mengalami cyberbullying tersebut akan mengalami adanya depresi seperti yang diungkapkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Khusnul Aini dan Rista Apriana (2018) yang menyatakan cyberbullying berdampak pada kejadian depresi pada mahasiswa prodi ners. Pada tahap ini biodanza memiliki fungsi yang turut berperan penting yaitu sebagai fungsi permisif. Fungsi permisif dalam hal tersebut mengajak remaja menari dengan berganti pasangan dimana harus menyesuaikan setiap pasangan yang tentunya akan meningkatkan kepercayaan diri serta melatih untuk mudah beradaptasi dengan kondisi orang lain.

Banyak penelitian terkait yang telah dilakukan terkait efektifitas fungsi permisif tersebut. Penelitian dari Roberta Rosa, Antonio Ascione, dan Davide Di Palma (2019) yang berjudul “Biodanza laboratory and experimental pedagogy” dan di dapatkan hasil bahwa biodanza SRT dapat menjadi pendekatan pedagogis eksperimental yang mampu secara positif merangsang pengembangan harga diri, kepercayaan diri, kemanjuran diri, promosi pembelajaran dan motivasi juga dalam sistem sekolah. Selain itu, Marıa Mar Lopez-Rodrıguez, Ingrid Baldrich-Rodrıguez, Alicia Ruiz-Muelle, Alda Elena Cortes-Rodrıguez, Teresa Lopezosa-Estepa, dan Pablo Roman (2017) dalam penelitian berjudul “Effects of biodanza on stress, depression, and sleep quality in university students” telah menyatakan bagaimana suatu kesenian, kolaborasi antar individu dan intervensi psikososial sangat efektif dalam melakukan pencegahan dan mengelola stres maupun depresi pada mahasiswa. Adanya fungsi permisif tersebut bisa meningkatkan kepercayaan diri dan merupakan preventif yang efektif untuk korban cyberbullying.

Setiap remaja memiliki fasilitator di rumah yaitu orangtua. Interaksi yang berkesinambungan antara orangtua terhadap remaja maupun interaksi remaja terhadap orangtuanya tentunya banyak memberikan pedoman remaja untuk membentuk sosialnya. Namun, apabila kurangnya interaksi orangtua dan anak tentu dapat mengakibatkan anak merasa sendirian yang sekaligus berujung pula pada sikap kurangnya pantauan orangtua sehingga orangtua juga tidak terlibat dalam aktivitas online anak yang akan menjadikan anak lebih rentan terlibat dalam aksi cyberbullying (Willard, 2005). Sejalan dengan hal tersebut, ada penelitian yang telah dilakukan Tino Leonardi (2013) yang didapatkan hasil penelitian yang menyatakan terdapat hubungan yang signifikan antara kompetensi sosial dengan perilaku cyberbullying yang dilakukan oleh remaja usia 15-17 tahun. Oleh sebab itu anak yang merasa sendirian akan berkemungkinan besar menjadi korban cyberbullying. Pada tahap inilah maka biodanza dapat berperan aktif dalam memiliki fungsi sebagai fasilitasi terhadap remaja korban cyberbullying. Gerakan biodanza yang dilakukan secara berpasangan dapat membuat remaja tersebut tidak hanya merasa senang karena ia merasa tidak sendirian namun juga bisa menjadi jalan untuk mengasah tingkat kepedulian sosial.

Sejalan dengan penerapan fungsi fasilitasi tersebut, terdapat beberapa penelitian yang telah melandasinya. Penelitian telah dilakukan oleh Marcus Stueck dan Paul S. Tofts (2016) dalam judul “Biodanza effects on stress reduction and well being” diperoleh hasil bahwa biodanza yang telah diterapkan pada anak yang mengalami putus sekolah memberikan dampak efektif pada peningkatan aktivasi perasaan, peningkatan suasana hati, aktivitas fisiologis seperti jantung, efektivitas imunologis, meningkatkan ekspresi emosi sekaligus yang terpenting adalah dapat menciptakan well being. Penelitian lain dilakukan oleh Diletta Calamassi, Angelo Palfrader, Cristina Biagiotti, dan Roberto Galli (2019) dengan judul penelitian “Biodanza in healthcare residences” menunjukkan hasil bahwa biodanza sangat membantu baik secara pribadi maupun dalam meningkatkan hubungan antara orang-orang dalam kelompok kerja. Hal ini menunjukkan dengan adanya penerapan biodanza diharapkan stres dan depresi korban cyberbullying dapat diminimalisir dengan adanya penerimaan sosial.

Remaja yang emosinya belum matang akan cenderung mudah meledak emosinya, tidak dapat menampilkan ekspresi emosi yang tepat di hadapan umum, sehingga mudah berubah dari suatu suasana hati yang lainnya dan remaja yang belum matang emosinya ini menyebabkan kurang mampu menilai situasi secara kritis sebelum bereaksi secara emosional, sehingga akan lebih mudah terbawa suasana hati dan lingkungannya yang menjadikan faktor lain penyebab semakin maraknya korban dari cyberbullying di kalangan remaja (Hurlock, 2003). Pernyataan tersebut telah sejalan dengan hasil penelitian dari Nur Maya (2015) yang meneliti tentang efektifikas penggunaan aplikasi facebook pada pelajar dimana banyak pelajar yang mengutarakan setelah meng-update status dengan mencaci dan memaki seseorang maka mereka akan merasa puas. Sebagai fungsi yang terakhir dari biodanza inilah yang tidak kalah penting untuk mengurangi tingkat stres dan depresi pada korban cyberbullying yaitu berperan sebagai fungsi transenden. Pada fungsi transenden, biodanza memiliki fungsi utama untuk membina ego dan mencegah timbulnya prasangka dan label sosial yang negatif melalui keseluruhan dan bagian-bagian dalam gerakan tarian yang dilakukan.

Berdasarkan fungsi transenden tersebut, ada berbagai penelitian yang mendasarinya, diantaranya penelitian yang telah dilakukan Marcus Stueck, Alejandra Villegas, Franziska Lahn, Katrin Bauer, Paul Tofts dan Ulrich Sack (2016) dengan judul penelitian “Biodanza for kindergarten children (TanzproBiodanza): reporting on changes of cortisol levels and emotion recognition” diperoleh hasil bahwa dalam studi pada 10 anak-anak (usia 46), terjadi peningkatan dalam pengenalan dan konsentrasi emosi. Ini menunjukkan potensi Tanzpro-Biodanza efektif untuk mempromosikan pengurangan stres dan peningkatan keterampilan sosial. Lain halnya penelitian yang telah dilakukan oleh Roberta Rosa, Tiziana De Vita, Felicia Napolitano (2018) dengan judul “The “biodanza SRT” proposal in neurodegenerative diseases” menunjukkan hasil biodanza SRT merupakan strategi inovatif dan efektif yang memungkinkan peningkatan psikologis, motorik umum, dan kesejahteraan emosional-relasional, dan peningkatan kualitas hidup (Quality of Life / QoL). 

Berdasarkan uraian diatas, diharapkan melalui biodanza SRT dapat membawa kontribusi positif sebagai alternatif terapi baru dalam mengurangi tingkat stres dan depresi pada korban cyberbullying dengan mengacu pada tiga fungsi yaitu fungsi fungsi primisif, fungsi fasilitasi, dan fungsi transeden yang diterapkan dalam gerakan-gerakan. Gerakan dari biodanza SRT ini dimulai dari gerakan ringan dan menuju hingga ke gerakan lebih cepat dimana remaja dapat lebih ekspresif dalam melakukannya. Setelah gerakan cepat, para peserta diminta untuk menutup mata dan mendapatkan sentuhan dari pasangan dalam kelompoknya, maka saat inilah juga beberapa peserta merasakan emosi yang membuatnya hampir menangis.

 

PENUTUP

Terapi biodanza SRT berpotensi dapat menurunkan tingkat stres dan depresi pada remaja korban cyberbullying karena melalui gerakan tarian membuat remaja yang stres dan depresi menjadi lebih rileks dan kembali aktif serta bersemangat. Selain itu, melalui tarian yang berpasangan dapat melatih remaja saling menerima diri maupun orang lain dan mampu mengontrol emosi. Dengan adanya biodanza SRT, remaja bisa mengekspresikan apa yang membuatnya stres maupun depresi melalui aktifitas komunikasi nonverbal yaitu berupa musik dan tarian dalam kelompok.

 

DAFTAR PUSTAKA

[KPAI] Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2014). Kasus pengaduan anak berdasarkan klaster perlindungan anak. Dapat diakses pada http://www.kpai.go.id/berita/kpai-kasus-bullying-dan-pendidikan karakter/&ei=HjgebuBr&lc=idID&s=1&m=771&host=www.google.co.id&ts =1495008925&sig=AJsQQ1BpCkE3WQtYnQwCpyp2cx15HZNpPw.

Aini, K., & Apriana, R. (2018). Dampak cyberbullying terhadap depresi pada mahasiswa prodgi ners. Jurnal Keperawatan, 6(2), 91-97.

Bemoe, A. (2011, 06 September). Cyber bullying mengintip sekolah. Diakses pada tanggal 17 Juni 2019 dari Cyber Bullying Mengintip Sekolah.htm.

Bottino, S. M. B., Bottino, C. M. C., Regina, C. G., Correia, A. V. L., & Ribeiro, W. S. (2005). Cyberbullying and adolescent mental health: Systematic review. Cad. Saude Publica, 31(3), 463-475.

Calamassi, D., Palfrader, A., Biagiotti, C., & Galli, R. (2019). Biodanza in healthcare residences: Qualitative Study. Journal of Nursing, 9, 41-58.

Emilia & Leonardi, T. (2013). Hubungan antara kompetensi sosial dengan perilaku cyberbullying yang dilakukan oleh remaja usia 15-17 tahun. Jurnal Psikologi Kepribadian dan Sosial, 2(2), 79-89.

Hurlock, E. B. (1990). Psikologi remaja. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

___________. (2003). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Jahja, Y. (2011). Psikologi perkembangan. Jakarta: Kencana.

Karkou V., Sue Oliver dan Sophia Lycouris. (2017). The oxford handbook of dance and wellbeing. United States of Amerika: Oxford University Press.

Kowalski, R. M., Limber, S. P., & Agatston, P. W. (2008). Cyberbullying: Bullying in the digital age. Oxford: Blackwell Plublishing Ltd.

Maslim, R. (2013). Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ-III dan DSM 5. Jakarta: PT. Nuh Jaya.

Maya, N. (2015). Fenomena cyberbullying di kalangan pelajar. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 4(3), 443-450.

Napitupulu, E. L. (2012, 23 Januari). Kekerasan di dunia maya mengancam anakanak. Berita. Diunduh tanggal 17 Juni 2019.

Rodriguez, M. M. L., Rodriguez, I. B., Muelle, A. R., Rodriguez, A. E. C., Estepa, T. L., & Roman, P. (2017). Effects of biodanza on stress, depression, and sleep quality in university students. The Journal of Alternative and Complementary Medicine, 0(0), 1-8.

Rosa, R., Ascione, A., & Palma, D. D. (2019, January). Biodanza laboratory and experimental pedagogy. Paper presented at the Department of Motor and Wellbeing Sciences, University Parthenope of Naples, Italy.

Rosa, R., Vita, T. D., & Napolitano, F. (2018). The “Biodanza SRT” proposal in neurodegenerative diseases. Journal Acta Medica Mediterranea, 34, 15071511.

Stueck, M., & Tofts, P. S. (2016). Biodanza effects on stress reduction and wellbeing – a review of study quality and outcome. Time 8(1), 57-66.

Stueck, M., Villegas, A., Lahn, F., Bauer, K., Tofts, P., & Sack, U. (2016). Biodanza for kindergarten children (Tanzpro-Biodanza): Reporting on changes of cortisol levels and emotion recognition. And International Journal for Theory, Research and Practice, 11(1), 75-89.

Unicef, Studi terakhir: Kebanyakan anak Indonesia sudah online, namun masih banyak yang tidak menyadari potensi resikonya. (Februari 2014). http//www.unicef.org/indonesia/id/media_22169.html. Diakses 17 Juni 2019.

Willard, N. (2005). Cyberbullying and cyberthreats. Washington: U.S. Departement of Education.