PPA WOWOYES

A.  Pekembangan Sosial

1.         Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orang tua terhadap anak dalam berbagai aspek kehidupan sosial, atau norma-norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada anaknya bagaimana menerapkan norma-norma ini dalam kehidupan sehari-hari. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi, meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerjasama. (Susanto, 2011).

Menurut Hurlock (2011), perkembangan sosial adalah perolehan perilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Menjadi orang yang mampu bermasyarakat (sozialized) memerlukan tiga proses. Masing-masing proses terpisah dan sangat berbeda satu sama yang lain, tapi saling berkaitan, sehingga kegagalan dalam satu proses akan menurunkan kadar sosialisasi inividu.

Menurut Masitoh dkk (2009). Perkembangan sosial adalah perkembangan perilaku anak dalam menyesuaikan diri dengan aturan-aturan masyarakat dimana anak itu berada. Perkembangan sosial diperoleh anak melalui kematangan dan kesempatan belajar dari berbagai respons terhadap dirinya. Sedangkan Muhbin (dalam Nugraha dan Rachmawati 2004) mengatakan bahwa perkembangan sosial merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya.

Berdasarkan  pengertian diatas maka dapat disimpulkan perkembangan sosial anak sangat tergantung pada individu anak, peran orang tua, orang dewasa, lingkungan masyarakat dan termasuk Taman Kanak-kanak. Adapun yang dimaksud dengan perkembangan sosial anak adalah bagaimana anak usia dini berinteraksi dengan teman sebaya, orang dewasa dan masyarakat luas agar dapat menyesuaikan diri dengan baik.

2.         Aspek-aspek Perkembangan Sosial

Berdasarkan standar tingkat pencapaian perkembangan sosial dalam Permendikbud nomor 137 tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini terdapat beberapa indikator. Berikut ini indikator tingkat pencapaian perkembangan sosial anak usia 8-10 tahun :

a. Bermain dengan teman sebaya

b. Mengetahui perasaan temannya dan merespon secara wajar

c. Berbagi dengan orang lain

d. Menghargai hak/pendapat/karya orang lain

e. Menggunakan cara yang diterima secara sosial dalam menyelesaikan masalah (menggunakan fikiran untuk menyelesaikan masalah)

f. Bersikap kooperatif dengan teman

g. Menunjukkan sikap toleran

h. Mengekspresikan emosi yang sesuai dengan kondisi yang ada (senang-sedih-antusias dsb)

i. Mengenal tata krama dan sopan santun sesuai dengan nilai sosial budaya setempat

3.         Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial

Faktor yang dapat mengganggu proses sosialisasi anak (dalam Khairani 2013). Berpendapat bahwa ada 2 faktor utama yang mempengaruhi perkembangan sosial anak, yaitu faktor lingkungan keluarga dan faktor dari luar rumah atau luar keluarga.

  1. Faktor Lingkungan Keluarga

Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan sosial anak. Diantara faktor yang terkait dengan keluarga dan yang banyak berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak adalah hal – hal yang berkaitan dengan status sosial ekonomi keluarga, keutuhan keluarga, sikap dan kebiasaan orang tua.

  1. Faktor Dari Luar Rumah

Pengalaman sosial awal diluar rumah melengkapi pengalaman didalam rumah dan merupakan penentu yang penting bagi sikap sosial dan pola perilaku anak.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor perkembangan sosial yaitu faktor lingkungan keluarga dan faktor dari luar rumah yang dimana keluarga kelompok sosial pertama dalam kehidupan sosial anak dan pengalaman sosial melengkapi faktor lingkungan keluarga.

B.        Anak usia 8-10 tahun

1.         Definisi anak-anak usia 8 – 10 tahun

Menurut Hurlock (1999), masa anak-anak akhir berlangsung dari usia enam tahun sampai tiba saatnya individu menjadi matang secara seksual, atau dari 6-12 tahun. Masa kanak-kanak akhir ditandai dengan kondisi yang sangat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial anak.

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa definisi dari masa kanak-kanak akhir adalah kanak-kanak yang berada pada rentang usia enam sampai dua belas tahun yang meliputi perkembangan sosial pada masa kanak-kanak.

2. Karakteristik anak-anak usia 8-10 tahun

Sebagai konsekuensi dari fase perkembangan, anak usia Sekolah Dasar memiliki karakteristik khusus dalam berperilaku yang direalisasikan dalam bentuk tindakan-tindakan tertentu. Samsu Yusuf (dalam Budiamin dkk, 2006) mengidentifikasikan sebagai berikut:

  1. Pembangkangan (negativism)

Bentuk tingkah laku melawan. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Sikap orang tua terhadap anak seyogyanya tidak memandang  pertanda mereka anak yang nakal, keras kepala, tolol atau sebutan negatif lainnya, sebaiknya orang tua mau memahami sebagai proses perkembangan anak dari sikap “dependent” (ketergantungan) menuju kearah “independent” (bersikap mandiri).

  1. Agresi (agression)

Yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi merupakan salah bentuk reaksi terhadap rasa frustasi (rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya). Biasanya bentuk ini diwujudkan dengan menyerang seperti ; mencubit, menggigit, menendang dan lain sebagainya. Sebaiknya orang tua berusaha mereduksi, mengurangi agresifitas anak dengan cara mengalihkan perhatian atau keinginan anak. Jika orang tua menghukum anak yang agresif maka egretifitas anak akan semakin memingkat.

  1. Berselisih/bertengkar (quarreling)

Sikap ini terjadi jika anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap atau perilaku anak lain, sepert diganggu pada saat mengerjakan sesuatu atau direbut mainannya.

  1. Menggoda (teasing)

Menggoda merupakan bentuk lain dari sikap agresif, menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan) yang menimbulkan marah pada orang yang digodanya.

  1. Persaingan (Rivaly)

Yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. Sikap persaingan mulai terlihat pada usia 4 tahun, yaitu persaingan untuk prestice  (merasa ingin menjadi lebih dari orang lain) dan pada usia 6 tahun, semangat bersaing ini berkembang dengan baik.

  1. Kerja sama (cooperation)

Yaitu sikap mau bekerja sama dengan orang lain. Anak yang berusia dua atau tiga tahun belum berkembang sikap bekerja samanya, mereka masih kuat sikap “self-centered”-nya. Mulai usia tiga tahun akhir atau empat tahun, anak sudah mulai menampakan sikap kerja samanya. Pada usia enam atau tujuh tahun sikap ini berkembang dengan baik.

  1. Tingkah laku berkuasa (ascendant behavior)

Yaitu tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap business”. Wujud dari sikap ini adalah ; memaksa, meminta, menyuruh, mengancam dan sebagainya.

  1. Mementingkan diri sendiri (selfishness)

Yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya. Anak ingin selalu dipenuhi keinginannya dan apabila ditolak, maka dia protes dengan menangis, menjerit atau marah-marah

  1. Simpati (Sympathy)

Yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain mau mendekati atau bekerjasama dengan dirinya.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas maka diambil kesimpulan bahwa karakteristik anak-anak usia 8-10 tahun yaitu pembangkangan, agresi, berselisih/bertengkar, menggoda, persaingan, kerjasama, tingkah laku berkuasa ,mementingkan diri sendiri,dan simpati.

C. Kerangka Berpikir

Berdasarkan berita yang dimuat oleh Majalah Tempo pada tanggal 01 Februari 2017, ditemukan kasus penganiayaan yang dilakukan oleh pengasuh panti terhadap penghuni panti di Yayasan Tunas Bangsa oleh Lembaga Perlindungan Anak Riau saat dilakukan inspeksi mendadak. Dalam jangka panjang, penganiayaan tersebut dapat mengakibatkan kesalahan  perkembangan sosial pada anak.

Menurut Hurlock (2011), perkembangan sosial adalah perolehan perilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Menjadi orang yang mampu bermasyarakat (sozialized) memerlukan tiga proses. Masing-masing proses terpisah dan sangat berbeda satu sama yang lain, tapi saling berkaitan, sehingga kegagalan dalam satu proses akan menurunkan kadar sosialisasi inividu. Perkembangan sosial harus dimulai sejak masa anak-anak.

Anak-anak usia 8-10 tahun memiliki beberapa karakteristik antara lain pembangkangan, agresi, berselisih, menggoda, persaingan, kerjasama, tingkahlaku berkuasa,mementingkan diri sendiri, dan simpati.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Susanto. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Prenada. Media Group

Budiamin, Amin, dkk. 2006. Perkembangan Peserta Didik. Bandung: UPI PRESS.

Bungin, Burhan. 2014. Penelitian Kualitatif . Jakarta : Kencana Prenada Media

Creswell, John W. 2015. Penelitian Kualitatif & Desain Riset. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Departemen Sosial RI. 2005. Panduan Pelaksanaan Pembinaan Kesejahteraan Sosial Anak. Jakarta

Departemen Sosial RI. 2005. Petunjuk Teknis Pelayanan Sosial Anak Terlantar   didalam Panti. Jakarta

Dinas Sosial DKI Jakarta. 1985. Teori dan Praktek Pelayanan Sosial melalui Panti Asuhan.

Gunarsa, S. D., & Gunarsa, Y. S. D. 2003. Dasar dan Teori Perkembangan Anak. Jakarta: Gunung Mulia.

Hartini, N, “Deskripsi Kebutuhan Psikologis Pada Anak Panti Asuhan”, Universitas Airlangga Surabaya; Jurnal Insan Media Psikologi, 2001

Hurlock, E. B. 1980. Psikologi perkembangan anak: suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Istiwidayanti, Soedjarwo, penerjemah; Silabat, R.

M., editor. Ed ke-5. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Developmental Psycology: A Life-Span Approach.

Hurlock, Elizabeth B. 2011. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga.

Kompas, “Produk Kasih Sayang Panti Asuhan”, Cyber Media, 2 Oktober, Jakarta, 2005

Luthfiyasari, A. (2004). Peran Instrumental dan Ekspresif Orang tua serta Hubungannya dengan Sikap dan Perilaku Remaja pada Keluarga dengan Ibu Bekerja di Luar Negeri (TKW) [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Makmur Sunusi, Ph D. “Kualitas Pengasuhan di Panti Asuhan Anak di Indonesia”, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, http://www.depsos.go.id

Masitoh, dkk. 2009. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Moleong. 2009.  Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya

Papalia, D,E, Olds, S,W & Feldman, R,D. 2001. Development Psychology (8th  edition)”, Mc,Graw Hill Co, Inc, New York

Pedoman Perlindungan Anak. 1999. “Direktorat Jendral Bina Kesejahteraan Sosial, Anak, Keluarga dan Lanjut Usia”, Depsos RI, Jakarta

Republika. 2004. Pengaruh TKI terhadap Jumlah Perceraian di Paciran. Tersedia pada: http://www.republika.co.id. [diunduh 8 Maret 2009].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.