OPTIMALISASI SASIRANGAN RAMAH LINGKUNGAN SEBAGAI BENTUK KAMPANYE GERAKAN SLOW FASHION

        Image result for slow fashion

Oleh Rifki Zidan dari Universitas Lambung Mangkurat

Pada era modern saat ini inovasi-inovasi dalam berbagai sektor semakin bermunculan dengan tujuan mempermudah kehidupan manusia dalam berbagai aspek. Mulai sektor teknologi, kesehatan, hingga sektor industri pakaian atau industri fashion berkembang pesat dengan berbagai perubahan dalam waktu yang singkat.

Pada sektor industri pakaian, berbagai merek dagang semakin sering memasarkan berbagai koleksi pakaian yang baru di setiap musim. Di lain sisi para konsumen menjadi semakin mudah dalam menemukan jenis atau style pakaian yang sesuai dengan keinginannya, dengan pilihan harga yang beragam, serta kemudahan dalam mengaksesnya. Merek seperti Zara dan H&M merupakan salah satu contohnya. Dinamika yang cepat dan terus diperbarui dari merek dagang tersebut sering dikenal dengan istilah fast fashion. Fast fashion merupakan istilah yang digunakan pada merek-merek pakaian yang berfokus pada kecepatan dan harga yang terjangkau dengan tujuan untuk menjual koleksi-koleksi yang baru dalam kurun waktu yang cukup singkat (Perry, 2018).

Seiring berjalannya waktu, fast fashion dengan berbagai promosi dan kemudahan yang ditawarkannya semakin diminati banyak konsumen. Akan tetapi dinamika tersebut menuai banyak kritik karena dianggap tidak ramah lingkungan dengan sebab tekanan terhadap merek tersebut untuk menghasilkan sejumlah produk dalam waktu yang cepat dan dengan harga yang terjangkau menjadikannya tidak berfokus terhadap dampak yang dapat ditimbulkannya terhadap lingkungan. Beberapa komponen fast fashion yang terbukti berdampak buruk terhadap lingkungan adalah penggunaan kain dan pewarna sintetis yang beracun, mikroplastik yang dihasilkan dari bahan bakunya, limbah tekstil yang terus meningkat, dan limbah produksi yang mencemari air (Perry, 2018). Permasalahan tersebut mendorong lahirnya gerakan slow fashion atau sustainable fashion sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam industri fashion.

Slow fashion atau sustainable fashion merupakan gerakan dalam industri pakaian yang tidak hanya menuntut adanya dampak yang positif terhadap aspek ekonomi dan sosial, tetapi juga adanya kesadaran terhadap dampak yang akan ditimbulkan terhadap lingkungan yang diwujudkan melalui proses produksi, distribusi, pemasaran, dan pengolahan limbah yang ramah lingkungan (Kuruppu, 2018). Model bisnis atau dinamika dari gerakan slow fashion berdasarkan pada tujuan yang memuat awareness atau kesadaran, tanggung jawab, dan hubungan yang mutual antara produsen dengan konsumen (Preuit & Yan, 2017).

Sebagai gerakan yang belum lama muncul, studi akademik terhadap slow fashion masih tergolong rendah (Preuit & Yan, 2017). Di Indonesia, edukasi mengenai slow fashion untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gerakan tersebut masih rendah dan dilain sisi opsi merek dagang yang berdasar pada gerakan slow fashion masih terbatas. Sehingga sangat diperlukan suatu bentuk kampanye mengenai gerakan slow fashion sebagai media untuk mengedukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat luas mengenai gerakan tersebut mengenai gerakan tersebut. Selain itu juga diperlukan tindakan nyata berupa hadirnya merek dagang yang berdasarkan pada gerakan tersebut.

Sasirangan sebagai salah satu kain tradisional Indonesia yang berasal dari Kalimatan Selatan merupakan objek yang potensial untuk dikembangkan dalam rangka mengedukasi masyarakat mengenai gerakan slow fashion dan menjadi bentuk nyata dari gerakan tersebut di Indonesia khususnya di Kalimantan Selatan. Dalam sejarahnya, kain sasirangan pada mulanya dibuat dari bahan baku yang sangat alami, mulai dari kainnya, benang untuk menyirang, hingga bahan pewarnanya. Akan tetapi seiring berkembangnya zaman dan modernisasi, proses pembuatan kain sasirangan menjadi semakin kurang ramah lingkungan karena menggunakan bahan pewarna dan kain sintetis yang beracun dan mencemari lingkungan khususnya wilayah sungai. Meskipun demikian akhir-akhir ini kain sasirangan yang ramah lingkungan, sudah mulai dikembangkan oleh sebagian produsen.

Kain sasirangan yang merupakan kain khas Kalimantan Selatan sangat berpotensi untuk dikembangakan dalam rangka meningkatkan keberhasilan sektor kewirausahaan dan pariwisata (Anwar & Elrifadah, 2012). Disamping itu dengan kembali pada pola produksi sasirangan tradisional yang ramah lingkungan menjadikan kain sasirangan berpotensi untuk lebih diminati khususnya oleh para konsumen yang sadar akan dampak negatif bahan baku sintetis terhadap lingkungan. Terlebih lagi tren fashion yang ramah lingkungan akan terus berkembang di masa mendatang (Zainuddin, 2018). Potensi tersebut menunjukkan bahwa kain sasirangan semakin dikembangkan berdasarkan pada filosofi dari gerakan slow fashion, yang artinya sasirangan dapat menjadi media yang tepat dalam mengampanyekan gerakan tersebut secara spesifik di wilayah Kalimantan Selatan.

Akan tetapi saat ini hanya beberapa produsen saja yang memproduksi sasirangan yang ramah lingkungan (Zainuddin, 2018). Selain itu dalam promosi kain sasirangan yang ramah lingkungan di beberapa event maupun platform masih belum memuat edukasi dan kampanye gerakan slow fashion yang dikaitkan dengan kehadiran sasirangan ramah lingkungan. Sehingga perlu adanya upaya dalam mengoptimalisasi kehadiran sasirangan ramah lingkungan sebagai bentuk kampanye gerakan tersebut dan menjadi opsi merek pakaian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan bagi masyarakat. Beberapa langkah yang dapat diimplementasikan dalam upaya optimalisasi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Edukasi oleh pemerintah terhadap para produsen mengenai pembuatan sasirangan yang ramah lingkungan dengan output yang diharapkan adalah untuk mendorong para produsen memproduksi kain sasirangan yang ramah lingkungan.
  2. Edukasi oleh pemerintah dan komunitas gerakan slow fashion mengenai gerakan tersebut kepada para produsen kain sasirangan dengan output yang diharapkan adanya pemahaman para produsen tersebut mengenai korelasi antara gerakan slow fashion dengan kain sasirangan ramah lingkungan.
  3. Produsen sasirangan ramah lingkungan melakukan kampanye dan edukasi mengenai gerakan slow fashion dengan sasirangan sebagai medianya. Dengan demikian disamping memberikan edukasi mengenai gerakan slow fashion dimana sasirangan ramah lingkungan merupakan salah satu bentuknya, juga tetap mempromosikan sasirangannya sendiri sebagai suatu produk.
  4. Pihak-pihak yang terkait aktif dalam melakukan kampanye dan promosi melalui berbagai platform media sosial sehingga dapat menjangkau populasi masyarakat yang lebih luas.

Dengan adanya gerakan optimalisasi tersebut output yang diharapkan adalah para produsen semakin terdorong untuk mengembangkan usaha kain sasirangan yang berdasarkan pada gerakan slow fashion dan para konsumen semakin teredukasi mengenai gerakan tersebut sehingga semakin sadar untuk menjadi lebih selektif dalam memilih opsi produsen pakaian yang lebih ramah lingkungan. Selain itu konsumen juga mendapatkan opsi lebih dalam berbelanja produk pakaian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sehingga dengan optimalisasi kain sasirangan ramah lingkungan dapat menjadi media yang tepat dalam mengampanyekan dan mengimplementasikan gerakan slow fashion khususnya di Kalimantan Selatan. Disamping itu kain sasirangan yang merupakan warisan budaya dapat terus dilestarikan.

 

REFERENSI

 

Anwar, K., & Elrifadah. (2012). Karakteristik, Potensi, Keberhasilan Usaha Industri Kain Sasirangan dan Kebijakan Pengembangan Kain Sasrangan sebagai Produk Unggulan Kalimantan Selatan. Jurnal Aplikasi Manajemen, 852-859.

Kuruppu. (2018). Customer Perceptions on Sustainable Fashion and Strategy for Competitiveness. Journal of Fashion Technology & Textile Engineering, 6(2).

Perry, P. (2018, January 08). Lifestyle: Fashion: The Environmental Costs of Fast Fashion. Retrieved from Independent.co.uk Web site: https://www.independent.co.uk/life-style/fashion/environment-costs-fast-fashion-pollution-waste-sustainability-a8139386.html

Preuit, R., & Yan, R.-N. (. (2017). Fashion and Sustainability: Increasing Knowledge About Slow Fashion Through an Educational Module. International Journal of Environmental & Science Education, 1139-1154.

Zainuddin, H. (2018, March 07). Seputar Kalsel: Rumah Produksi Sasirangan Mulai Gunakan Pewarna Alam. Retrieved from Antara News Kalsel Web site: https://kalsel.antaranews.com/berita/64131/rumah-produksi-sasirangan-mulai-gunakan-pewarna-alam

 

Biodata penulis

Nama                                 : Rifki Zidan
Tempat tanggal lahir      : Banjarmasin, 09 Desember 1999
Alamat                               : Jalan Tokyo 3, Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Status                                 : Mahasiswa Psikologi Semester 5 Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat
Email                                 : rifkizidannn@gmail.com & rifkizidan@outlook.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *