Lansia dalam Perspektif Psikososial Erickson

Oleh: Ayu Dinyati, Universitas Lambung Mangkurat

Bayangkan diri anda memasuki mesin waktu dan terdampar di diri anda alam usia 55 tahun. Apa yang anda harapkan? Cucu-cucu yang lucu? Pengalaman hidup yang selalu bisa anda ceritakan kepada tetangga? Ataukah panti werdha? Tempat anda bersenang-senang dengan teman-teman seusia anda.

 

Bagi beberapa orang panti werdha mungkin adalah mimpi buruk, tetapi banyak yang tidak ketahui tentang dinamika perasaan yang dihadapi oleh seorang lansia. Bahkan mungkin di panti werdha, kebutuhan masa tua dapat dipenuhi tanpa harus bergantung dengan keluarga yang sedang dalam masa produktif. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia menetapkan, bahwa batasan umur lansia di Indonesia adalah 60 tahun ke atas. Saat ini,angka harapan hidup secara keseluruhan wanita adalah 80,7 tahun dan untuk pria 75,4 tahun (Santrock, 2012). Sebagian besar lansia di Indonesia pada tahun 2012 berstatus kawin (57,81%) dan cerai mati (39,06 %). Pada tahun 2005 – 2012 sebagian besar penduduk lansia (sekitar 90%) masih memegang peranan penting di dalam lingkungan rumah tangga berstatus sebagai kepala rumah tangga dan persentase penduduk laki-laki lansia (61,17%) yang menjadi kepala rumah tangga lebih tinggi dibandingkan penduduk perempuan lansia (37,05) (Buletin,). Angka- angka ini menunjukkan perlunya perhatian bagi lansia sebagai manusia yang mempertahankan keturunan dan manusia yang perlu memenuhi kebutuhannya.

 

Noorkasiani (dalam Heningsih, 2014) mengungkapkan masalah psikososial yang paling banyak terjadi pada lansia seperti, kesepian, perasaan sedih, depresi dan kecemasan (Annisa, D.F., Ibrahim, Y., & Ifdil, I., 2017). Adanya kecemasan menyebabkan kesulitan mulai tidur, masuk tidur memerlukan waktu lebih dari 60 menit, timbulnya mimpi yang menakutkan dan mengalami kesukaran bangun pagi hari,bangun di pagi hari merasa kurang segar). penelitian tentang gambaran perilaku lansia terhadap kecemasan di Panti Sosial Tresna Werdha Theodora Makassar dapat disimpulkan bahwa dari 11 lansia yang diteliti ada 27,3% mengalami cemas dan depresi dan hanya 9,1% cemas namun tidak depresi, 18,2% mengalami cemas dan insomnia dan 27,3% yang cemas namun tidak insomnia,18,2% mengalami cemas namun ada dukungan keluarga dan 18,2% cemas tapi tidak ada dukungan keluarga, 9,1% mengalami cemas tapi tidak terganggu dengan kondisi lingkungan panti dan 27,3% cemas sehingga terganggu dengan kondisi lingkungan panti. (irto titus)

Erick H. Erickson menjelaskan perkembangan sosio-emosi manusia dalam beberapa konsep dan tahapan. Menurut Erickson, meskipun kepribadian sebagian dibentuk oleh sejarah dan kultur manusia memiliki kendali yang terbatas akan takdir mereka. Manusia dapat mencari identitas mereka sendiri dan tidak dibatasi oleh kultur dan sejarah. Anda tentu seringkali merasa bertanggung jawab terhadap anak-anak anda ketika anda mulai memasuki masa tua. Anda mungkin khawatir apakah anak anda telah berlaku baik kepada atasannya atau apakah anak anda tidak lupa menyapa tetangga yang baru pindah. Semua ini dijelaskan Erickson dalam konsep generativitas vs stagnasi. Generativitas sebagai “generasi akan manusia baru sebagaimana produk dan gagasan baru”. Generativitas diungkapkan sebagai tindakan mngajar, membimbing, menciptakan dan aktivitas pembacaan cerita yang membawa pengetahuan baru dalam keberadaan dan menyampaikan pengetahuan lama kepada generasi sebelumnya (Feist, J., & Feist, G.J., 2012). Menurut Erickson, manusia mempunyai insting untuk mempertahankan jenisnya. Insting tersebut disebut prokreativita (Alwisol, 2008). Mengajar orang lain tentang budaya adalah dorongan yang ditemui di semua masyarakat, untuk menjamin kesinambungan masyarakat itu sendiri (Alwisol, 2008). Dalam hal ini seorang lansia akan bertanggung jawab terhadap pengetahuan yang harus diwariskan dan dipertahankan kepada generasi di bawahnya. Seorang lansia yang merasa lebih mementingkan pengalaman untuk dirinya sendiri sebenarnya sedang merasakan tekanan karena tanggung jawab untuk menjaga kesinambungan masyarakat tersebut menjadi tidak mampu ia laksanakan. adanya konsep generativitas kemudian berlawanan dengan konsep stagnansi. Siklus generativitas dari produktivitas dan kreativitas bakal lumpuh kalau orang terlalu mementingkan diri sendiri, menyerap untuk diri sendiri dan perkembangan budaya menjadi mandeg (Alwisol, 2008).

Teori aktivitas dari Erickson menyatakan bahwa pada orang lanjut usia, semakin besar aktivitas dan keterlibatan mereka, semakin puas mereka terhadap kehidupannya. Para peneliti menemukan bahwa apabila orang lanjut usia itu aktif, enerjik dan produktif, mereka akan lebih baik dalam menghadapi masa tua dan lebih bahagia dibandingkan mereka yang dijauhkan dari masyarakat. Teori ini menyatakan bahwa apabila peran-peran mereka dihapuskan, seperti di awal pensiun, mereka perlu menemukan peran pengganti yang dapat membuat mereka tetap aktif terlibat (Santrock, J.W., 2012). Hal ini dapat pula menjelaskan fenomena post power syndrome yang biasa dialami oleh lansia. Lansia butuh waktu untuk menyesuaikan kehilangan peran di suatu pekerjaan. Hal ini juga akan membantu dalam mempertahankan fungsi otak lansia. Tentu anda dapat membayangkan betapa sepinya hari-hari tua anda ketika tiba-tiba anda tidak lagi memiliki aktivitas rutin yang sebenarnya juga melibatkan kebutuhan interaksi social anda. Dalam lanjutannya Erickson menyatakan masa lansia sebagai masa integritas vs keputusasaan. Pada tahap ini, melibatkan refleksi terhadap masa lalu dan entah menyimpulkan secara positif pengalamannya atau menyimpulkan bahwa kehidupannya belum dimanfaatkan secara baik (Santrock, J.W., 2012). Integritas berarti perasaan akan keutuhan dan koherensi, kemampuan untuk mempertahankan rasa “kesayaan” serta tidak kehilangan kekuatan fisik dan intelektual (Feist, J., & Feist, G.J., 2012).

Dalam perjalanan individu hingga mencapai tahap ini, lansia mungkin memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Ketika berbagai ingatan dalam mengenai masa lalu bermunculan, orang lanjut usia melakukan survey, observasi dan refleksi. Dari sini muncul berbagai pertimbangan kembali terhadap pengalaman-pengalaman sebelumnya dan makna-makna yang menyertai, seringkali disertai dengan pemahaman yang telah direvisi atau diperluas (Santrock, J.W., 2012). Meskipun pengalaman ini tidak selalu tentang hal yang baik, tetapi bagaimana seorang lansia memaknai masa lalu sebagai hal yang positif akan membantu individu mendapatkan integritas dan mental yang sehat. Sebaliknya, apabila lansia mendapatkan pengalamannya sebagai sesuatu yang negative, maka lintasan kenangan semasa hidupnya dapat menjadi hal yang negative berbentuk keputusasaan atau kecemasan. Putus asa berarti tanpa harapan. Reorganisasi terhadap masa lalu dapat memberikan suatu gambaran yang lebih tepat mengenai individu, memberujan makna baru dan berarti bagaimana seseorang menjalani kehidupannya (Santrock, J.W., 2012).

Evaluasi terhadap pengalaman hidup dapat meningkatkan harapan hidup seseorang ketika refleksi masa lalunya di maknai sebagai sesuatu yang positif dan sebaliknya. Seperti seorang lansia yang menyesali perbuatannya ketika masih muda, lansia tersebut akan mengalami kecendrungan putus asa dan cemas terhadap kematian. Dukungan social adalah salah satu solusi efektif dari dinamika psikologis pada orang lanjut usia dalam menangani maupun mencegah kecemasan. Dukungan social berkaitan dengan kurangnya simtom-simtom penyakit dan dengan kemampuan memenuhi perawatan kesehatan diri dan kematian (Santrock, J.W., 2012). Dengan dukungan social juga dapat mengurangi kemungkinan seorang lanjut usia untuk tinggal di institusi atau panti werdha. Pasangan, anak, cucu, menantu dan teman sebayanya merupakan lingkungan social yang tepat dibandingkan dengan lingkungan institusi. Oleh karena itu, setiap dari anda akan berpengaruh dalam menurunkan tingkat kecemasan pada lansia dengan dukungan anda.

Daftar Pustaka

Alwisol. (2008). Psikologi Kepribadian. UMM Press: Malang

Annisa, D.F., Ibrahim, Y., & Ifdil, I. (2017). Kondisi Kecemasan Lansia Di Panti Sosial Tesna Werdha Sabai Nan Aluih (PTSW) Sicincin. Jurnal Fokus Konseling, 3(1), 57-66.

Feist, J., & Feist, G.J. (2012). Teori Kepribadian. Penerbit Salemba Humanika: Jakarta.

Irto Titus, I., Rachman,A.W, Rahman, A. (2017). GAMBARAN PERILAKU LANSIA TERHADAP KECEMASAN DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA THEODORA MAKASSAR. Jurnal Bagian Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku FKM Unhas Makassar.

Santrock, J.W. (2012). Life-Span Development. Edisi Ketigabelas Jilid 2. Penerbit Erlangga: Jakarta.

 

Deskripsi Penulis

Nama Ayu Dinyati. Lahir di Banjarbaru, 13 April 1997. Saya  tinggal di Komp.Hunian Bumi Damai Jalan Pintu Air Kec. Martapura Kalsel. Seorang mahasiswa dan penyiar radio local juga pengajar privat bahasa inggris untuk anak-anak. Nomer telepon 085751002633 dan email ayu.dinyati@gmail.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.