Manajemen Stress Mahasiswa

Istilah mahasiswa tentunya terdengar tidak asing ditelinga kita. Mahasiswa adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Saat menjadi mahasiswa tentunya berbeda dibandingan ketika menjadi siswa. Tuntutan sebagai calon ilmuwan membuat mereka mempunyai tanggung jawab yang besar dalam bidang akademik. Seperti dituntut untuk sering pergi ke perpustakaan mencarai buku referensi dan banyak membaca buku-buku serta jurnal penelitian guna memenuhi tugas yang diberikan sang dosen kepada mereka. Tugas yang diberikan dari dosen dapat dikatakan adalah hal yang ‘urgent’ untuk dikerjakan dan diselesaikan karena berkaitan dengan nilai IPK. Tidak hanya itu, dalam perguruan tinggi biasanya terdapat sebuah wadah pengembangan soft-skill atau bakat dan minat mereka berupa organisasi-organisasi mahasiswa. Dalam organisasi mahasiswa, tentunya terdapat serangkaian kegiatan-kegiatan sesuai tujuan organisasi tersebut. Misalkan rapat rutinan, mengadakan sebuah acara, dan lain-lain yang menyita waktu, pikiran, serta tenaga mereka yang bergabung didalamnya. Ada juga mahasiswa yang menyibukkan dirinya dengan bekerja. Seperti penjaga toko, kasir, ataupun pekerjaan yang lain. Yang tentunya juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit dan harus seimbang dengan padatnya jadwal perkuliahan.

Walaupun kesibukan dan rutinitas yang dijalani setiap mahasiswa itu berbeda-beda, namun dapat disimpulkan bahwa mahasiswa rentang akan stress karena beban akademik perkuliahan yang berat serta kegiatan diluar perkuliahan yang menyita kebanyakan waktu mereka. Stres pada mahasiswa dapat terjadi karena tekanan akademik, dinamika organisasi, ataupun tuntutan pekerjaan. Reaksi dari stress yang tinggi biasanya adalah ‘melarikan diri’ secara fisik maupun psikis. Melarikan diri secara fisik ialah meninggalkan perkuliahan (bolos kuliah/titip absen) atau enggan mengerjakan tugasnya lagi. Melarikan diri secara psikologis ialah melarikan diri dari dunia nyata ke dunia khayalan. Contohnya mencoba melupakan situasi yang penuh stress dengan cara minum alkohol, menghisap ganja, atau hal negatif lain. Dampak yang ditumbulkan akibat stress adalah penurunan kondisi fisik dan psikologis.
Stres yang berlebihan tersebut disebabkan salah satunya karena mahasiswa dituntut untuk banyak berpikir. Untuk menanganinya, bisa dengan teknik penenangan pikiran. Munandar (2001) menyebutkan teknik-teknik penenang pikiran meliputi :
a) Meditasi
Meditasi dapat dianggap sebagai suatu keadaan mental (mind). Seperti yoga dan berdzikir dapat menuju ke tercapainya keadaan mental tersebut. Dengan berkonsentrasi dan tidak bergerak dalam jangka waktu tertentu, mengendalikan kegiatan berpikir kit. Misalnya memusatkan pikiran kita pada satu kata seperti berdzikir menyebut nama Allah secara terus menerus. Penelitian menunjukkan meditasi menyebabkan adanya relaksasi fisik. Pada saat yang sama, kita mengendalikan secara penuh emosi, perasaan dan ingatan. Dan pikiran menjadi tenang.
b) Relaksai Autogenik
Secara harfiah diartikan relaksasi yang ‘ditimbulkan sendiri’. Teknik ini berpusat pada gambaran perasaan tertentu yang dihayati bersama terjadinya peristiwa tertentu yang terikat kuat dalam ingatan, sehingga timbulnya kenangan tentang peristiwa akan pula menimbulkan penghayatan gambaran perasaan yang sama.
c) Relaksasi Neuromuscular
Berkaitan dengan otot dan komponen sistem saraf yang mengendalikan aktivitas otot. Sasarannya untuk mengurangi ketegangan otot. Mula-mula dikembangkan kesadaran perasaan pikiran tentang bagaimana rasanya kalau relaks dan bagaimana perbedaannya dengan kalau merasa tegang. Selama melakukan relaksasi neuromuscular, berkonsentrasi untuk menegangkan atau merelakskan otot-ototnya berdasarkan kemauannya. Dan berlangsung selama jangka waktu tertentu.
Dari penjelasan diatas, mahasiswa dapat sedikit mengurangi stress yang dihadapinya. Dapat dijadikan teknik untuk mengendalikan atau memanajemen stress karena beban tanggung jawab sebagai mahasiswa. Stres sebenarnya dapat terjadi pada siapa saja, beberapa teknik diatas dapat dilakukan pula oleh kalangan siapa saja.

Sumber :
Munandar, Ashar Sunyoto. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. UI-Press : Jakarta

Post Author: adminwilayahtiga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *