KAMPANYE GENCAR PENCITRAAN VIRAL

Kampanye politik adalah satu hal lumrah yang seringkali ditemukan dalam  proses pertarungan politik dalam suatu negara. Terlihat pada hari ini yang ramai nya orang-orang untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin baik sebagai presiden, MPR, MPRD, DPR, DPRD, gubernur/wali kota, bupati, bahkan kepala desa yang dilaksanakan secara sistematis sesuai jangka waktunya.Tidak bisa di sangkal lagi bahwa melalui kampanye tersebut, aktor politik bisa dengan leluasa untuk mencari seluruh segmen pemilih untuk mendapatkan dukungan nantinya. Dalam politik setiap kandidat berhak melakukan kampanye sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan tentunya. Dan kampanye dilakukan dengan prinsip pembelajaran bersama dan tanggung jawab.

Kampanye tidak hanya di politik saja, ini terlihat dalam penjelasan Pfau dan Parrot (1993) di buku Persuasive communication campaigns tentang kampanye, yakni “A campaigns is conscious, sustained and incremental process designed to be implemented over a specified period of time for the purpose of influencing a specified audience” suatu proses yang dirancang secara sadar, bertahap, dan berkelanjutan yang dilaksanakan pada rentang waktu tertentu dengan tujuan mempengaruhi khalayak sasaran yang ditetapkan. Kampanye bisa dikatakan sebagai tindakan komunikasi yang terorganisir yang diarahkan pada khalayak tertentu, pada periode tertentu guna mencapai tujuan tertentu.

 

Charles U. Larson (1992 : 10) membagi 3 jenis model kampanye, diantaranya adalah:

  1. Product-oriented Campaign, yakni kampanye yang berorientasi pada produk. Umumnya terjadi pada dunia bisnis. Sudah tentu motivasinya adalah untuk mencari keuntungan finansial.
  2. Candidat-oriented Campaign, yakni kampanye yang berorientasi pada kandidat, umumnya di motivasi oleh hasrat untuk memperoleh kekuasaan  politik, jenis ini sering juga disebut Political Campaign.
  3. Ideologically campaign, yakni kampanye yang berorientasi pada tujuan-tujuan yang bersifat khusus dan seringkali berdimensi perubahan sosial. Disebut juga sebagai Sosial Change Campaign.

Nah, dalam kesempatan ini saya akan menjelaskan dari poin kedua perihal jenis model kampanye yakni, Candidat-oriented Campaign. Sebelum kesana akan kita bahas terlebih dahulu apa sih itu kampanye, apa sih itu politik, dan kenapa bisa juga berkaitan dengan kata pencitraan.

Pengertian kampanye politik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kampanye adalah:

1). gerakan (tindakan) serentak (untuk melawan, mengadakan aksi, dsb); 2) kegiatan yg dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yg bersaing memperebutkan kedudukan dalam parlemen dan sebagai nya untuk mendapat dukungan massa pemilih dalam suatu pemungutan suara.

Pengertian kampanye berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 2012 Tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah pada pasal 1 angka 26, Kampanye Pemilu adalah kegiatan Peserta Pemilu untuk meyakinkan para pemilih dengan menawarkan visi, misi, dan program Peserta Pemilu. Kemudian kita akan mengetahui apakah ada perbedaan dari propaganda, dan iklan pada kampanye.

  • Perbedaan Propaganda dengan Kampanye:

1). Propaganda tidak ada waktu.

2). Propaganda menginginkan perubahan cepat.

3). Kampanye tidak dibatasi waktu.

4). Kampanye memiliki pola-pola tertentu.

  • Perbedaan Kampanye dan Iklan

Kampanye sama dengan program kerja, butuh proses yang melibatkan jangka waktu yang panjang, kontinuitas dan konsistensi.Tujuan utama dari kempanye adalah pencitraan. Kampanye merupakan kegiatan peserta pemilu dengan tujuan untuk meyakinkan para pemilih dengan menawarkan visi, misi dan program peserta pemilu ( Pasal 1 angka 26 UU Nomor 10 tahun 2008). Kampanye ada sebuah istilah yang digunakan pada saat pemilu dan menonjolkan kelebihan program peserta pemilu.

 

Sedangkan iklan berguna untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan dan  produk-produk politik melalui media massa tertentu oleh kontestan tertentu. Bertujuan untuk menyampaikan informasi, meningkatkan ketanggapan seseorang pada suatu kandidat dan mempersuasi publik. Iklan merupakan sarana atau media yang dipakai/digunakan kampanye untuk mempublikasikan visi,misi dan program peserta pemilu. Iklan mementingkan komersial. Biasanya dalam praktiknya iklan-iklan di media itu membutuhkan biaya yang besar dan perusahaan pembuat iklan harus mendapat laba dari jasa pembuatan iklan tersebut. Iklan muncul sebagai media publikasi pada awalnya ditujukan untuk mendukung kegiatan komersial produsen, biasanya berupa pengenalan produk, informasidan menarik calon konsumen untuk membeli produknya. Iklan mencakup seluruh produk yang dapat dipublikasikan tanpa terkecuali.

 

Adapun metode kampanye menurut Peraturan Komisi Pemilihan Umum  Nomor 16 Tahun 2014 Tentang Pemillihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Pasal 15 diantaranya adalah:

  1. Pertemuan Terbatas
  2. Tatap muka dan dialog
  3. Penyebaran melalui media cetak dan media elektronik
  4. Penyiaran melalui radio dan atau televisi
  5. Penyebaran bahan kampanye kepada umum
  6. Pemasangan alat peraga di tempat umum
  7. Rapat umum
  8. Debat publik / debat terbuka antar calon
  9. Kegiatan Lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan

 

Dari pemaparan diatas lalu apa hubungan nya dengan pencitraan dari perihal kampanye dan politik, disini akan kita kaitkan dari tiga variabel itu sehingga bisa menjadi terkait dan inilah yang menjadi penjelasan saya terhadap tema ini, yakni kampanye gencar, pencitraan datang.

Pencitraan itu sendiri berasal dari kata Citra, Arti kata citra banyak ahli bahasa yang mengungkapkan, diantaranya :

  1. Huddleston dalam (Buchari Alma, 2008:55) memberikan definisi bahwa citra adalah ”Image is a set beliefs the personal associate with an Image as acquired trough experience”. Artinya citra adalah serangkaian kepercayaan yang dihubungkan denga sebuah gambaran yang dimiliki atau didapat dari pengalaman.
  2. Richard F. Gerson (1994) dalam Buchari Alma (2008:54) memberikan definisi bahwa citra merupakan tentang bagaimana konsumen, calon konsumen, dan pesaing melihat anda, reputasi anda adalah apa yang orang-orang katakan kepada pihak lain. Anda memerlukan baik citra penampilan fisik dan juga citra bisnis profesional sebagai reputasi positif, jika ada yang kurang maka bisnis anda bisa gagal.

Sedangkan politik pencitraan adalah politik yang dibuat untuk menggambarkan seseorang, pejabat, partai, ormas, dan lain-lain adalah baik atau buruk. Politik pencitraan positif digunakan untuk mengangkat elektibilitas diri dan golongannya sedangkan pencitraan negatif  untuk menjatuhkan musuh/lawannya.

Di tiap negara politik pencitraan ini biasa digunakan/dimanfaatkan untuk memunculkan tokoh yang diinginkan suatu golongan ataupun untuk mengangkat derajat dan kepangkatan dalam militer maupun dalam jabatan sipil. Karena ini namanya politik, tidak jarang dilakukan dengan jalan yang sangat radikal sehingga harus mengorbankan darah warga negaranya sendiri.

 

Alkisah di negeri antah berantah, ada seorang kolonel yang dirancang dalam 4 tahun naik pangkat menjadi Jenderal bintang 4. Maka dibentuklah sebuah tim sukses lengkap dengan biaya yang sangat besar bahkan dibiayai oleh orang asing. Bergeraklah tim ini merancang sebuah kerusuhan di tingkat masyarakat tertentu dan terciptalah kerusuhan besar itu. Si kolonel dirancang menyelesaikan kerusuhan besar itu dan bereslah dengan cepat. Penghargaan pertama kolonel naik pangkat menjadi jenderal bintang 1, begitu diciptakan hal lain sehingga si bintang satu segera naik jadi bintang 2 dan seterusnya hingga tercapailah target menjadi bintang 4 dalam 4 tahun.

Dikisah lain, saat proses politik pencitraan ada gagalnya karena persaingan proses pencitraan oleh kelompok lain sehingga bertabrakan. Hancurlah semua rencana bahkan hilang semua harapan masa depan karena harus dipecat dari kesatuan. Banyak cara politik ini dijalankan, ada yang namanya citra terdzalimi, citra suci, citra penjahat, dan lain sebagainya.

Maka dapat disimpulkan bahwa dalam pencitraan politik itu benar dan perlu adanya. Akan tetapi semua itu akan baik atau buruk, positif atau negatif tergantung pada individu dalam mempromosikan citra nya dan mampu bersaing dari individu lain. Dengan contoh pada penerapan pemilihin pemimpin di suatu negara khususnya di Indonesia. Dan hakikatnya kita pun tidak hanya perlu citra yang postif juga namun perlu adanya tindakan. Tidak hanya memaniskan diawal untuk masyarakat tapi memberikan kepastian. Tidak hanya omongan di depan keramaian tapi keaksian. Dan tidak hanya perkataan tapi ketepatan. Mari lakukan perubahan untuk indonesia menuju perbaikan dalam hal kebajikan akan keadilan untuk kehidupan sosial yang memastikan bahwa tindakan itu sesuai dengan citra yang individu ciptakan dalam hal berkampanye untuk mematahkan lawan.

 

 

 

Daftar Pustaka:

Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 16 Tahun 2014 Tentang Pemillihan Umum Presiden dan Wakil Presiden

Heryanto, Gun Gun. 2013.“ Regulasi Kampanye ”. Dalam Kompas, 8 Juni 2013. Jakarta. Mulyana, Deddy, M.A, Ph.D.2001.

Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Pawito, Ph. D. 2009.

Komunikasi Politik, Media Massa dan Kampanye Pemilihan. Yogyakarta: Jalasutra.

Pfau, M., dan Parrott, R. (1993). Persuasive communication campaigns

.Buku Elektronik. Needham Heights, MA: Allyn & Bacon. (diunduh pada 4 Juli 2014)

https://id.shvoong.com/social-sciences/communication-media-studies/2181313-definisi-atau-pengertian-citra/

 

Siti Aulia _ Universitas Muhammadiyah Surakarta

Post Author: adminwilayahtiga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *