The Psychology Of Magic Or The Magic Of Psychology?

Sumber foto : RecruitingTools.com

The Psychology Of Magic Or The Magic Of Psychology?

Tiara Khoirunnisa

Magic biasanya ditampilkan dalam sebuah acara pertunjukkan dimana kita sebagai penonton kadang tercengang dan menarik rasa keingintahuan kita  akan trik yang di gunakan pesulap tersebut,  seperti kelinci yang keluar dari topi, tebakkan kartu yang tepat oleh pesulap, atau pertunjukkan memotong tubuh mausia kemudian dapat menyambungkannya lagi. apakah itu bagian dari kekuatan supranatural ataukah itu adalah gabungan dari ilmu pengetahuan pasti banyak dari kita yang bertanya-tanya akan hal itu.

Pertujukkan seni magic sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi, menurut sejarah pertama kali sulap ini di ceritakan bahwa raja Cheops memanggil salah satu pesulap untuk memainkan trik magic di depan raja dengan memenggal kepala ayam lalu mengembalikanya kembali seperti awal. Bagaimana bisa hal ini terjadi apakah ini adalah sebuah permaian kogitif pesulap.

Pesulap adalah ahli dalam ilusi, dan mereka telah mengembangkan metode yang menakjubkan untuk memanipulasi pengalaman kita Secara intuitif, hubungan antara magic dan psikologi tampak jelas: pesulap menggunakan teknik seperti misdirection untuk memanipulasi perhatian kita, ilusi untuk mengubah persepsi kita, dan memaksa untuk mempengaruhi keputusan kita. Beberapa perintis awal dalam Psikologi mengakui kaitan erat antara magic dan psikologi ini dan mempublikasikan makalah ilmiah menarik yang menyelidiki teknik magic. Meskipun beberapa peneliti telah menggunakan trik magic untuk mempelajari kognisi secara tidak langsung (misalnya, psikolog perkembangan), beberapa telah berusaha untuk mengikat magic ke dalam ilmu psikologi.

Pada tahun 2005, Kuhn dan Tatler menerbitkan salah satu paper terbaru tentang pengalihan perhatian, yang menggambarkan bagaimana prinsip magic dapat digunakan untuk mempelajari perhatian visual. Sementara tulisan ini menarik minat, banyak ilmuwan pada saat itu skeptis tentang gagasan menggunakan magic untuk mengeksplorasi kerja pikiran. Meskipun hubungan antara magic dan psikologi itu intuitif, pendekatan ini membutuhkan paradigma baru dan mungkin cara berpikir baru tentang mekanisme kognitif. Namun, karena beberapa peneliti memiliki akses ke armamentarium rahasia teknik magis, mempelajari magic secara ilmiah menjadi hak istimewa sekelompok kecil peneliti yang memiliki pengalaman langsung dalam magic.

Pada dekade terakhir telah melihat lonjakan dalam  penelitian yang telah menggunakan magic untuk menjelajahi berbagai topik dalam psikologi. Kerangka konkret sekarang menjelaskan bagaimana magic dapat dipelajari secara ilmiah dan keuntungan yang dapat diberikan oleh arah ini. Apa yang dulunya bidang terbatas untuk beberapa ilmuwan telah berkembang pesat menjadi domain penelitian yang dinamis. Sementara banyak penelitian telah berfokus pada misdirection,  magic psychology telah diperluas ke bidang-bidang seperti pengambilan keputusan, pemecahan masalah, objek permanen, pembentukan keyakinan, tindakan visualmotor, sense of agency, dan antisipasi perseptual .

Menjadi pesulap profesional membutuhkan ribuan jam latihan dan sebagian besar pesulap belajar keterampilan mereka melalui jejaring sosial informal. Beberapa pesulap juga mempelajari keilmuan psikologi salah satunya dedy corbuzier, ia adalah seorang sarjana psikologi. Keilmuan psikologi bagi para pesulap banyak berguna diatas panggung, ada tiga konsep utama psikologi yang sering di gunakkan dalam pertunjukkan magic, yaitu:

  1. Psychologycal misdirection (pengalihan perhatian secara psikologi)

Ada kepercayaan umum bahwa seorang pesulap menyembunyikannya metode (yaitu teknik yang digunakan) dengan mengandalkan kecepatan. Tapi anggapan itu salah bahwa ‘tangan lebih cepat dari mata’ kenyatannya kebanyakan manipulasi dilakukan dengan kecepatan normal. Daripada mengandalkan kecepatan, kesuksesan sebuah trik magic biasanya bergantung pada pengalihan perhatian sehingga penonton tidak memperhatikan bagaimana hal itu terjadi.

Pengalihan perhatian secara psikologi mengontrol perhatian penonton dengan memanipulasi harapan mereka. Tujuan pesulap adalah untuk mengurangi kecurigaan bahwa mereka sedang di tipu oleh trik magic tersebut. Sebagai contoh, dia bisa membutuhkan alat khusus yang diperlukan tersembunyi dari pandangan penonton dengan memasukkannya kembali ke sakunya. Jika itu tindakan memasukkan tangannya ke sakunya tampak normal , tindakan akan menyebabkan kecurigaan jauh lebih sedikit pada penoton dan karena itu akan jauh lebih mungkin untuk tidak diperhatikan. Cara lain untuk mengurangi kecurigaan adalah dengan menjaga penonton dalam ketegangan seperti apa yang  mereka lihat seperti dengan tambahan musik yang menengangkan atau pesulap kelihatan akan gagal dalam aksinya. Sebagaimana para penonton tidak tahu apa yang akan mereka harapkan. Terkait hal ini, aturan kunci dalam magic menyatakan bahwa trik magic tidak boleh diulang. Memang, telah ditunjukkan bahwa baik pengulangan dan pengetahuan sebelumnya tentang apa yang akan dilihat penonton meningkatkan kemungkinan bahwa mereka mengamati akan mendeteksi trik.

  1. Cognitive illusion (ilusi kognitif)

Sebagian besar pesulap  cenderung mengandalkan tingkat yang lebih tinggi yaitu faktor kognitif,  daripada hanya menggunakan ‘asap dan cermin’ untuk menciptakan sebuah ilusi panggung. Contoh dari ini adalah menghilang koin. Di sini, penonton merasakan pesulap mentransfer koin dari satu tangan ke tangan lainnya, lalu menghilang. Namun kenyataannya, koin itu tidak pernah berubah tangan, diam-diam disebunyikan pada tangannya agar tetap tidak terilhat oleh penonton. Kunci untuk melibatkan trik magic dengan tangan kita harus menemukan sejauh mana tindakan ‘salah’ yang terjadi diubah untuk membuat penonton  merasa mereka melihat hal yang nyata . Mengapa efek semacam itu bisa terjadi? Jawabannya adalah karena Kecepatan saraf yang terbatas transmisi menyebabkan penundaan 100 ms antara stimulus kedatangan dan persepsi sadar. Salah satu cara untuk mengkompensasi hal ini adalah untuk memprediksi masa kini  (yaitu memprediksi hasil dari suatu peristiwa sebelum benar-benar diproses). Strategi ini sangat berguna dalam situasi yang membutuhkan respon cepat, prediksi semacam itu juga bisa membuat kita rentan untuk tertipu. Efek seperti ilusi koin yang hilang dan ilusi bola yang menghilang  menjadi bukti antara  konsistensi dengan prediksi yang dibuat oleh penonton. 

  1. Mental forcing

Dalam kasus kekuatan mental, penonton diminta untuk secara sederhana memikirkan sebuah kartu, pesulap kemudian memanipulasi penampilan salah satu kartu
untuk mendukung pilihan tertentu (diperlihatkan sedikit lebih lama dari kartu-kartu yang lain agar kartu tersebutlah yang dipilih oleh penonton). pada kekuatan mental ini pesulap dapat membuat penonton dipengaruhi oleh rangsangan bawah sadar. Penonton seakan-akan digiring oleh persepsi tidak sadar mereka tanpa menyadari sebenarnya ada intervensi pesulap kepadanya akan kartu yang ia pilih, penonton melihat tidak ada yang janggal atau aneh, pesulap meningkatkan pesan bahwa pilihan itu benar-benar adil. Efek semacam itu bisa berpotensi untuk diinvestigasi pembentukan dan distorsi ingatan manusia.

Dari penjelasan diatas kita sudah mengetahui bahwasannya magic itu bukan hanya soal hal-hal supranatural tetapi bisa di jelaskan dalam keilmuan psikologi, pesulap menggunakan keilmuan psikologi untuk menarik perhatian penonton. Magic bisa menjadi tontonan untuk segala usia, tontonlah sesekali bersama keluarga, tidak perlu kita harus membongkar semua triknya, karena hiburan yang sesungguhnya manakala kita terkesan dan tersenyum akan trik magic tersebut.

 

Sumber :

 

Gustav Kuhn, Alym A. Amlani, and Ronald A. Rensink. (2008) “Towards a science of magic”. Trends in Cognitive Sciences Vol.12 No.9

 

Diakses dari https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyg.2016.01358/full, pada 13/04/2018

Post Author: adminwilayahtiga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *