Artikel Terbaik 1 (Ku Cerdas Karena Mu): Perkembangan Individu Dilihat dari Sistem Mikro: Pola Asuh Ibu

Keluarga adalah hal yang paling utama dan awal dari terbentuknya karakter seorang individu. Setelah belajar dan mengetahui tentang psikologi, saya sadar bahwa karakter, watak, sifat seorang individu terbentuk karena pengalaman masa lalunya serta terbentuk karena adanya interaksi antara proses belajar di keluarga dan lingkungan di luar keluarga. Ketika kita berbicara tentang keluarga maka hal yang utama adalah adanya ibu dan ayah yang menjadi contoh untuk anak, dimana anak mengikuti perilaku yang ditampakkan oleh ayah maupun ibunya. Apa yang terjadi jika di dalam keluarga tidak ada sosok atau figur ayah atau ibu? Tentu perkembangan anak akan berbeda ketika hanya diasuh dan besarkan oleh single parents yaitu hanya ibu saja ataupun hanya ayah saja.

Saya adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Saya kehilangan ibu saya ketika berumur 11 tahun. Saat itu adik saya yang pertama berumur 9 tahun, adik saya yang kedua berumur 3,5 tahun, dan adik saya yang terakhir berumur 1,5 tahun. Pada saat saya kehilangan ibu saya, saya sedang duduk di kelas 6 SD. Ibu saya meninggal karena kanker otot di bagian paha yang dideritanya sejak tahun 1999 sampai 2007. Sejak kecil saya dan adik-adik saya selalu diajarkan untuk mandiri dalam beberapa hal, misalnya membersihkan kamar sendiri, tidur sendiri, dibiasakan agar selalu rapi, bersih, dan juga sopan sama orangtua. Jika disuru oleh orangtua maka tidak boleh membantah. Ibu saya termasuk orang yang keras dan galak dalam mendidik anak-anaknya. Saat saya kecil, ibu saya beberapa kali jika sedang marah atas tingkah laku yang saya dan adik saya lakukan ketika hal itu tidak benar maka ibu saya akan memukul pantat atau betis saya dan adik saya. Tetapi walaupun hal itu menyakitkan saya justru merindukan marah dan pukulan dari ibu saya. Saya rindu dimarahi oleh seorang sosok ibu.

Saya belajar dari ibu saya bahwa sekolah itu penting, tidak boleh manja selama kita bisa melakukannya sendiri jangan pernah merepotkan orang lain. Banyak hal yang saya pelajari ternyata dari ibu saya, tetapi saya baru sadar setelah ibu saya meninggal bahwa saya bisa seperti sekarang karena hasil didikan, kasih sayang, dan perhatian yang diberikan oleh ibu saya. Ibu saya orang yang sangat pemberani, yah mungkin kalo jaman sekarang masuk dalam kategori cewek tangguh. Ibu saya bisa bawa semua jenis motor, walaupun saya belum pernah liat ibu saya bisa bawa semua jenis mobil. Ibu saya orang yang pandai bicara di depan umum, ibu saya juga memiliki banyak teman dari semua kalangan walaupun kalangan istri pejabat seperti DPR apalagi presiden belum menjadi teman ibu saya. Singkat cerita ayah saya seorang polisi sehingga teman-teman ibu saya kebanyakan sesama istri anggota atau bahkan istri bos-bos ayah saya. Intinya ibu saya dalam hal bergaul dan berteman bisa menempatkan posisinya, seperti ketika ia bergaul dengan ibu-ibu Bhayangkara maka dia tidak akan merendah ataupun meninggi ketika dia benar maka hal itu yang dipertahankan.

Ibu saya bisa melakukan hampir semua jenis olahraga. Beberapa yang sering dilakukan dikeluarga saya ketika ibu saya masih hidup adalah voli, renang, dan bulu tangkis. Saat saya kecil saya sering ikut ayah dan ibu untuk pergi kepertandingan voli. Hampir setiap akhir pekan ayah dan ibu bertanding voli, jika tidak ada pertandingan maka kami pergi berenang di kolam renang atau di laut.

Sejak ibu saya meninggal, saya merasa sedih karena ternyata saya sudah tidak bisa merayakan hari ibu seperti anak-anak lainnya. Ketika hari ibu saya ingin pergi ke kubur ibu saya, tetapi kuburan ibu saya sangat jauh yaitu di Gorontalo sehingga saya pergi menjenguk ibu saya hanya bisa setahun sekali. Saya masih ingat beberapa pesan terakhir ibu saya sebelum ibu saya meninggal. Kata ibu saya harus menjaga adik-adik saya, harus sayang sama ayah, biarkan saja kalo memang ayahmu mau menikah lagi, kalian tinggal sama nenek saja. Awalnya saya tidak mengerti ucapan ibu saya untuk apa, tetapi setelah ibu saya meninggal saya dan adik saya yang pertama dan kedua memutuskan untuk tinggal dan menjaga ayah.

Setiap hari saya merindukan ibu saya. Saya sedih dalam hati ketika teman saya bercerita tentang dia yang ditelfon ibunya setiap hari, ketika teman saya cerita dia curhat sama ibunya tentang masalahnya, ketika teman saya bercerita dia marah sama ibunya, ketika teman saya bercerita bahwa dia akhir pekan pergi ke mall bersama ibunya. Walaupun seperti itu saya bersyukur masih punya ayah dan saya sadar bahwa ibu saya sudah berada di tempat yang indah bersama Allah. Sesayang apapun saya sama ibu, tetapi Allah lebih sayang sama ibu. Setiap hari dalam sholat saya selalu mendoakan ibu saya agar bisa ditempatkan di tempat yang layak disisi Allah SWT dan semoga keluarga kami kelak dapat dipertemukan di surga Allah.

Saya hidup bersama ibu saya kurang lebih 11 tahun, saya merasa sedih ketika melihat adik-adik saya yang dapat menghabiskan waktunya hanya sebentar bersama ibu. Setelah ibu saya meninggal adik saya yang kedua dan ketiga terlihat membutuhkan sosok seorang ibu, sedangkan yang ketiga saya tidak tahu bagaimana pertumbuhan psikisnya karena sejak bayi dia sudah dirawat oleh nenek saya. Adik saya yang pertama perempuan mungkin dia yang sangat terpukul dengan kepergian ibu, tapi dia hanya memendamnya sehingga saat sekarang umurnya yang 18 tahun dia mencari perhatian ditempat lain. Saat SMP adik saya sering kabur dari rumah ketika dia berbuat suatu masalah. Saat itu saya belum paham mengapa adik saya berubah seperti ini. saya baru sadar bahwa adik saya memang sedang mencari orang-orang yang bisa membuatnya nyaman ketika saya belajar psikologi.

Kehilangan sosok ibu ditengah-tengah pertumbuhan dan perkembangan seorang anak akan berdampak pada proses sosial dan emosi anak yang menjadi tidak stabil. Kehilangan ibu membuat masing-masing dari kami memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Saat kecil ibu saya sering membelikan pakaian yang sama untuk saya dan adik saya. Ketika ibu saya sudah tidak ada, ayah saya ketika membelikan pakaian kami disuru memilih sendiri sehingga saya dan adik saya memiliki pilihan yang berbeda. Beberapa hari kemudian adik saya terlihat marah, dia merasa bahwa pilihan saya lebih baik daripada pilihannya. Sangat rumit kehidupan yang kami jalani sehingga banyak misteri yang muncul mengapa adik saya bisa tumbuh dan berkembang dengan kepribadian seperti itu.

Menurut orang-orang yang pernah mengasuh saya waktu kecil, mereka melihat perbedaan kasih sayang yang diberikan ayah kepada saya dan adik saya yang pertama. Untungnya ada ibu saya, sehingga ibu saya bisa menyeimbangkan kasih sayangnya terhadap anak-anaknya. Ketika kecil saya tidak mengerti apa-apa, tetapi ketika saya sudah besar dan belajar psikologi saya merasa peran ayah dan ibu sangat penting untuk tumbuh kembang seorang anak. Teori perkembangan kognitif Piaget adalah salah satu teori yang menjelasakan bagaimana anak beradaptasi dengan dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian sekitarnya. Menurut teori tahapan Piaget, setiap individu akan melewati serangkaian perubahan kualitatif yang bersifat invariant, selalu tetap, tidak melompat atau mundur. Perubahan kualitatif ini terjadi karena tekanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan serta adanya pengorganisasian struktur berfikir.

Piaget mengambil perspektif organismik, yang memandang perkembangan kognitif sebagai produk usaha anak untuk memahami dan bertindak dalam dunia mereka. Menurut Piaget, bahwa perkembangan kognitif dimulai dengan kemampuan bawaan untuk beradaptasi dengan lingkungan.

Ketika saya kecil ibu saya sering merancangkan baju atau busana terutama pada saat 17-agustusan. Kami diminta oleh ibu untuk mengikuti lomba-lomba yang diadakan di daerah tempat kami tinggal. Kami pernah ikut lomba dance, menyanyi, dan fashion show. Ibu saya senang bernyanyi. Ibu selalu memberikan wadah kepada kami agar bisa mengeluarkan potensi yang kami miliki. Jika ibu masih hidup mungkin saya bisa menjadi salah satu penari terhebat di dunia. Dulu saat pulang sekolah ibu saya mengajak saya dan adik saya untuk karaokean di rumah. Banyak hal-hal indah yang terjadi yang tidak bisa saya lupakan. Saya bersyukur karena saya pernah mempunyai sosok ibu yang sangat hebat walaupun hanya sebentar. Ibu saya mengajarkan agar tidak mudah menyerah, selalu coba hal baru, buat suatu inovasi, hidup butuh pengorbanan. Meskipun tidak sedikit penyesalan yang saya rasakan ketika ibu pergi. Sekarang saya hanya bisa membalas kebaikan ibu yang sudah melahirkan saya dan hidup bersama saya selama 11 tahun dengan doa yang tiada henti-hentinya kapanpun dan dimanapun ketika saya mengingat ibu saya akan langsung mengirimkan doa untuknya.

Buat kalian yang masih memiliki ibu, jagalah ibu kalian, rawatlah ibu kalian, bahagiakan ibu kalian selagi sempat. Jangan sampai kalian menyesal ketika kehilangan ibu maka kesempatan untuk membalas kebaikannya pun telah hilang meskipun hanya doa yang bisa kita berikan. Jangan buat ibu menangis, jangan buat ibu sedih dengan perkataan kasar kalian. Begitu besar pengorbanan seorang ibu untuk membahagiakan anaknya.

Terkadang saya merasa ingin seperti teman-teman lain yang begitu dengan mudahnya bisa curhat sama ibunya, mengeluh sakit kepada ibunya. Saya merasa benar-banar kehilangan sosok ibu ketika saya merantau untuk kuliah belajar menimba ilmu di Solo. Saya jauh dari keluarga, saya hanya bisa bercerita kepada ayah, tetapi terkadang saya tidak bisa mengungkapkan semua isi hati saya kepada ayah. Saya merasa beban ayah sudah berat jika saya mengeluh maka ayah saya akan kepikiran. Saya takut dan sedih jika ayah sampai jatuh sakit. Saya hanya punya ayah yang bisa saya bahagiakan. Saya yakin ibu saya dari alam sana selalu menjaga dan memperhatikan kami. Semua hal positif yang saya lakukan saya niatkan untuk Allah SWT dan ibu saya.

Saya rindu ibu, kangen ibu, sebentar lagi hari ibu, tapi ibu tidak ada disini disamping kami. Sekarang ibu hanya bisa kami kenang dalam hati yang terdalam. Ibu hidup dalam hati kami. Tulisan ini saya persembahkan untuk ibu saya dan seluruh ibu di dunia ini. Saya sayang Ibu, saya rindu sekali sama ibu….

 

Daftar Pustaka

 

Penney, Upton. 2012. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Post Author: adminwilayahtiga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *