Kolaborasi Self Concept & Dunia Kerja

Kolaborasi Self Concept Dan Dunia Kerja

(Oleh; Septian Wahyu R, Staff BPPK ILMPI Wil.3)

 fix

 

Berhubungan dengan pekerjaan ada quote menarik yang perlu jadi renungan untuk diikhtiarkan kaum mahasiswa.

“Pekerjaan itu tidak ditunggu, tetapi dicari!”~Anonim~

Bagaimana kawan, bingung, takut, atau perlu untuk melakukan katarsis sesaat?, Oke, mari kita sedikit kupas tentang kompetensi psikologi yang kita miliki sebagai calon sarjana psikologi tentunya dengan dunia kerja. Dan semoga bisa menjadi penguat kita untuk ber-psikologi.

Kita mulai dari obrolan tentang kerja, menurut kamus besar bahasa Indonesia (2005, halaman 554) “kerjadiartikan sebagai kegiatan untuk melakukan sesuatu yang dilakukan atau diperbuat dan sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah, mata pencaharian”. Maka dalam kerja ada aspek usaha dan tujuan yang ingin dicapai, yaitu lebih kepada penghasilan. Tentu kita sudah banyak paham akan berbagai macam pekerjaan yang berkaitan dengan kegiatan kerja. Namun walaupun begitu banyak orang yang kerja tidak paham apa manfaat bekerja. Sehingga sering kita temui individu-individu yang bekerja formalitas tanpa totalitas. Ini masalahjuga, karena pasti pekerjaan itu tidak akan maksimal, bahkan minimal dan ala kadarnya jika tidak dilakukan secara totalitas. Bahkan ada yang bilang totalitas itu tanpa batas.

Perlu diketahui sebagai manfaat bekerja sebuah hal yang sunnah dalam dunia kerja, hehe. Berikut point-point dari manfaat bekerja:

  1. Mengembangkan potensi diri
  2. Membentuk pribadi yang bertanggung jawab
  3. Mengangkat harkat dan martabat
  4. Meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan
  5. Mencukupi kebutuhan hidup
  6. Mengaplikasikan hasil belajar

Negara kita sedang berusaha membangun sebuah pembangunan yang diekspektasikan bisa menanjak menuju negara maju. Walaupun begitu analisis SWOT perlu untuk dilakukan, yaitu metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats). Kita bahas salah satu hal yang menurut penulis penting untuk diketahui, walau yang lain juga penting. Ini terkait dengan kelemahan, berupa permasalahan lapangan pekerjaan di indonesia.

Permasalahan pertama terkait rendahnya kualitas (ketrampilan) tenaga kerja. Jadi, kebanyakan tenaga kerja terampil kita kurang di kecerdasan sikap, kemampuan bahasa Inggris, serta pengoperasian komputer (soft skill). Nah, ini perlu untuk didiskusikan karena bahasa dan teknologi menjadi sebuah syarat kemampuan yang sudah diaamiinkan oleh institusi atau perusahaan. Kedua tentang akses informasi lapangan kerja yang sulit. ketidaktahuan cara mencari informasi kerja menjadi kendala bagi pencari kerja, terutama bagi orang-orang yang tidak memiliki link atau jaringan. Kemudian yang ketiga adalah persebaran tenaga kerja tidak merata. Di wilayah barat-tengah-timur Indonesia kerap kita temui ketidakmerataan tersebut. Keempat berkaitan dengan Pegawai Outsourching yang merana, kadang gaji yang diperoleh karyawan dipangkas hingga 30%. Kelima problem gaji (UMR), kecilnya upah dan tingginya harga barang. Rata-rata gaji pekerja formal hanya Rp 1.227.109. Sedangkan untuk informal hanya Rp 779.812 (Asmat, 2014. merdeka.com. LIPI, Jakarta). Keenamlapangan kerja yang dipilih atau didapat tidak sesuai latar belakang pendidikan. Pengambilan “lahan pekerjaan” lintas basic skill ini kemudian kerap kita jumpai, sehingga harus ada training-training khusus, dan cenderung individu lambat dalam mengembangkan kemampuannya.

Permasalahan yang dihadapi di atas ada yang berasal dari individu sendiri dan ada yang berasal dari luar individu (kebijakan, red). Nah, yang berasal dari luar individu ini lebih besar persentasenya. Ini tentu adalah masalah bagi individu yang memang tersandera oleh faktor kebijakan yang ada. Bagaimana kemudian cara kita menyikapinya adalah penting di tengah-tengah ketidak-ideal-an kondisi yang ada, apalagi berkaitan dengan kerja, yang menjadi motor pengahasilan dan penghidupan kita.

Ada hal penting yang harus kita serap untuk imunitas kita dalam berjuang untuk kerja, ataupun pekerjaan, yaitu self concept (konsep diri) yang merupakan pandangan dan perasaan kita tentang diri kita.Konsep Diri didefenisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungan dengan orang lain (Stuart & Sundeen 2005). Ada banyak hal tentang kerja, bekerja, dan atau pekerjaan yang kadang kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Misalnya ketika Anda belum bekerja, tentu akan banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengetuk.

“Apa yang mencemaskan saya?”

“Bagaimana orang lain memandang saya?”

“Apa yang harus saya lakukan ini…?”

“Bagaimana pandangan saya tentang penampilan saya?”

Karena salah satu faktor yang mempengaruhi konsep diri adalah kegagalan. Kegagalan yang terus menerus dialami seringkali menimbulkan pertanyaan kepada diri sendiri dan berakhir dengan kesimpulan bahwa semua penyebabnya terletak pada kelemahan diri. Kegagalan membuat orang merasa dirinya tidak berguna. Begitu juga dengan depresi, orang yang sedang mengalami depresi akan mempunyai pemikiran yang cenderung negatif dalam memandang dan merespon segala sesuatunya, termasuk menilai diri sendiri. Segala situasi atau stimulus yang netral akan dipersepsi secara negatif. Orang yang depresi sulit melihat apakah dirinya mampusurviveatau tidak dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Orang yang depresi akan menjadi super sensitif dan cenderung mudah tersinggung.

Nah jika sudah seperti itu, panggillah self concept, hadirkan the power of self conceptAnda. Maka, penting bagi mahasiswa untuk memiliki konsep diriyang baik. Konsep diri (self concept)dikatakan baik antara lain jika; memiliki keyakinan akan kemampuan mengatasi masalah, merasa setara dengan orang lain, mampu membuka diri terhadap masyarakat luas, percaya diri, dan menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak di setujui masyarakat,dan cenderung berusaha menolak usaha orang lain untuk mendominasinya.

Saatnya mengakhiri dengan ngobrol seputar lingkup kompetensi kerja Psikologi. Perlu dipahami bahwa Psikologi melingkupi seluruh komponen pekerjaan di bidang apapun selama masih ada manusia di dalamnya, mantab tidak?.

Semakin berkembangnya jaman (teknologi, sosio-kultural) & pengembangan ilmu psikologi (penelitian), Psikologi sudah menjadi multi disiplin keilmuan. Misal: Psikologi Agama, Psikologi Konsumen, Psikologi Wanita, Psikologi Media, Psikologi Kerekayasaan, Psikologi Positif, Psikologi Kriminal, Psikologi Transpersonal, Psikologi Anak & Usia Lanjut, dll. Psikologi sebagai ilmu (teoritis) dan praktik (praktisi). Derajat keilmuannya dimulai dari jenjang sarjana, kemudian jenjang selanjutnya merupakan “pendalaman” dari materi yang didapat di jenjang sebelumnya.Psikologi memberikan 2 ruang untuk memperdalam ilmu psikologi, yaitu sebagai Ilmuwan Psikologi (Peneliti, dosen) dan Psikolog (Praktisi). Dua ruang tersebut diperoleh melalui jalur pascasarjana (jenjang S2). Ilmuwan (Master) Psikologi – Sains Psycholog, Merupakan jenjang S2 di bidang Psikologi yang dikhususkan untuk mendalami teori-teori psikologi dan pengembangan ilmu psikologi.Peminatan bidang yang (biasanya) ditawarkan: Klinis, Pendidikan, Sosial, dan Industri-Organisasi. Sedangkan yang kedua adalah Magister Psikologi (Profesi) – Psikolog, yang merupakan jenjang S2 di bidang Psikologi yang dikhususkan untuk praktik-praktik psikologi yang berbasis kasus psikologis (individu atau kelompok).Mendapatkan gelar Psikolog dan memiliki ijin praktik psikologi.Peminatan bidang yang ditawarkan: Klinis, Pendidikan, dan Industri-Organisasi. Perlu dipahami juga bahwa kesesuaian pekerjaan dengan latar belakang pendidikan menjadi penambah kekuatan untuk kedepannya, karena itu akan mematangkan kita.

Yang tidak kalah penting, berikut hal-hal tambahan yang perlu diperhatikan; pertama terkait skill, yang mencakup softskill dan hardskill. Ketrampilan apa yang bisa kamu tawarkan dan atau berikan. Kemudian kedua tentang networking, yaitu berapa luas jaringan atau kolega yang kamu miliki. Ketiga adalah branding-menjual diri, apa yang kamu punya terkait dengan kelebihan. Yang terakhir adalah modal, seberapa besar modal yang kamu punya baik itu materiil-non materiil. Sekian sharing artikel yang singkat ini, semoga yang singkat ini tidak menyingkat semangat kita untuk terus berproses. Thanks, dan wassalam.

 

Referensi:

Post Author: adminwilayahtiga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *