INDONESIA SIAGA KEJAHATAN SEKSUAL !!

indonesia darurat kejahatan seksual

”Tidak ada Bangsa menjadi Bangsa yang Besar,yang Rakyatnya adalah kecil dan sempit dalam hati  dan  tindakan” Ir. Soekarno

Seringkali kita menyaksikan bahkan melihat secara langsung kasus kasus kejahatan di lingkungan terdekat, media massa maupun media cetak pada bulan ini, minggu ini, bahkan hari ini. Memang, akhir akhir ini kita sering mendengar kasus kasus kejahatan kian mulai marak, terutama tentang kasus Kejahatan seksual. Pada pengertianya, Kejahatan merupakan segala tindakan atau usaha dari individu yang mengakibatkan objek sasarannya menjadi merugi dan terlukai. Sedangkan Seksual yakni menurut Depkes RI adalah suatu kekuatan dan dorongan hidup yang ada diantara laki-laki dan perempuan, dimana kedua makhluk ini merupakan system yang memungkinkan terjadinya keturunan yang sambung menyambung sehingga eksistensi manusia tidak pernah pudar. Jadi kejahatan Seksual merupakan segala macam bentuk atau usaha dari individu untuk merugikan suatu individu yang menjadi objek sasarannya dan mengancam kelangsungan hidup daripada individu individu tersebut. Korban dari kejahatan ini kebanyakan meliputi Perempuan dan Anak-anak (laki laki dan perempuan).

Di Indonesia, angka kejahatan seksual cukup mencengangkan. Dimana menurut dari Catatan Tahunan (CATAHU) tahun 2016 Komnas Perempuan, angka kejahatan seksual  perempuan sangat tinggi. Pada ranah Personal, angka kekerasan seksual pada tahun 2016 menempati urutan kedua dalam persentase kekerasan terhadap perempuan, dimana sebelumnya pada tahun 2014 angka kekerasan seksual menduduki peringkat ketiga. Bentuk kekerasan seksual tertinggi adalah perkosaan 72% Adapun Domain daripada kejahatan ini terbagi didalam 2 ranah, yaitu dalam Ranah Personal dan Ranah Komunitas. Dalam ranah Personal, dimana pengertiannya ialah pelaku ialah orang terdekat atau menjalin suatu relasi (Pacar), kekerabatan, perkawinan (suami), orang yang masih mempunyai ikatan darah terhadap korban (ayah, kakak, adik, paman, kakek), Kekerasan Seksual pada tahun 2016 ini menempati posisi kedua dimana pada tahun 2014 angka kekerasan ini mendapati posisi ketiga pada kekerasan Ranah Personal. Adapun Domain daripada kejahatan ini terbagi didalam 2 ranah, yaitu dalam Ranah Personal dan Ranah Komunitas. Dalam ranah Personal, dimana pengertiannya ialah pelaku ialah orang terdekat atau menjalin suatu relasi (Pacar), kekerabatan, perkawinan (suami), orang yang masih mempunyai ikatan darah terhadap korban (ayah, kakak, adik, paman, kakek), Kekerasan Seksual pada tahun 2016 ini menempati posisi kedua, dimana pada tahun 2014 angka kekerasan ini mendapati posisi ketiga pada kekerasan Ranah Personal, Ranah Personal yakni suatu kejahatan dimana pelakunya adalah orang yang memiliki hubungan darah (ayah, kakak, adik, paman, kakek), kekerabatan, perkawinan (suami) maupun relasi intim (pacar). Bentuk kekerasan tertinggi ialah perkosaan 72% (2.399 kasus), pencabulan 18% (601 kasus), dan pelecehan seksual lain 5% (166 kasus). Sedangkan pada Ranah Komunitas yakni pelaku dan korban tidak memiliki hubungan kekerabatan, darah atau pun perkawinan. Bisa jadi pelakunya adalah majikan, tetangga, guru, teman sekerja, tokoh masyarakat, ataupun orang yang tidak dikenal. Kekerasan seksual mendapati posisi tertinggi, yaitu 61% dari kekerasan terhadap perempuan pada Ranah Komunitas, jenis kekerasan seksual tertinggi diantaranya perkosaan (1.657 kasus), lalu pencabulan (1.064), pelecehan seksual (268 kasus), kekerasan seksual lain (130 kasus), melarikan anak perempuan (49 kasus) dan percobaan perkosaan (6 kasus).

Sedangkan dari korban anak anak, KPAI menyatakan kekerasan pada anak selalu meningkat setiap tahun. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat tingginya angka kekerasan seksual terhadap anak selama tiga tahun terakhir. Kekerasan seksual rata-rata mencapai setengah dari keseluruhan kasus kekerasan terhadap anak. Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, mengatakan pada 2014 dan 2015, kasus kekerasan seksual terhadap anak mencapai lebih dari 50 persen dari seluruh kasus kekerasan yang ada. “Pada 2014, 52 persen dari 4.638 kasus merupakan kekerasan seksual terhadap anak. Tahun berikutnya, kami mencatat 58 persen kasus kekerasan seksual kepada anak dari 6.726 kasus kekerasan. Pada Januari hingga April 2016, pihaknya telah mencatat sebanyak 48 persen kasus kekerasan seksual dari 339 laporan kasus kekerasan yang masuk. Menurut Arist, 16 persen kasus kekerasan seksual pada 2016 dilakukan oleh anak berusia di bawah 17tahun. Sementara itu, bentuk umum kekerasan seksual yang dilakukan selama tiga tahun terakhir adalah perkosaan yang diikuti penganiayaan, sodomi, dan incest.

Oleh karena sebab peningkatan kekerasan seksual yang sangat signifikan, menjadikan alasan untuk kita menyiagakan status kekerasan seksual menjadi status kejahatan seksual yang sifatnya lebih Darurat atau Waspada. Fakta 2014, bahwasanya para pelaku kejahatan seksual bukan hanya para pedofil laki laki tapi juga pedofil perempuan, ada juga yang bukan pedofil, bahkan ada pula remaja yang berumur kisaran antara 9 – 17 tahun akibat dari pembiaran penanganan.

Ada suatu akibat pasti ada pula sebabnya, inilah beberapa factor factor yang menyebabkan orang orang, khususnya para pelaku kejahatan seksual di Indonesia melakukan perilaku keji tersebut. Diantaranya adalah :

  1. Keterbatasan Hukum di Indonesia

Ancaman hukuman bagi para pelaku kejahatan seksual relative ringan yakni, minimal 3 – 15 tahun penjara. Disamping itu proses penegakan hukum rumit, berbelit, lalu ada hal lain yakni biaya pengobatan yang teramat mahal serta pengorbanan mental yang tinggi.

  1. Nutrisi Fisik

Anak anak khususnya, sering mendapati asupan kurang baik bagi masa perkembangan seks anak dan memicu pendewasaan secara dini pada masa masa remaja, dan hal tersebut salah satu pemicu terjadinya kejahatan seksual di usia dini. Contohnya seperti ayam suntik, yang ada kandungan zat kimia tertentu menyebabkan perkembangan seks pada anak perempuan khususnya yang seringkali disebut pubertas, dsb.

  1. Nutrisi Psikologis

Disini pengertian nutrisi psikologis bukan berwujud suatu makanan seperti yang diatas, melainkan ialah suatu stimulan atau rangsangan dari luar yang diterima oleh individu dan menyebabkan terjadinya perilaku kekerasan atau kejahatan seksual. Misalnya ialah, tayangan yang mengandung unsur kekerasan, seks, pornografi, dan minim nilai yang pada akhirnya mencuci otak para penonton dari tayangan tersebut.

  1. Perkembangan Teknologi dan Informasi

Hal ini tidak dapat kita sangkal lagi, karena seperti yang telah kita ketahui memang saja perkembangan teknologi menjadi salah satu penyebab munculnya perilaku kekerasan seksual. Terlebih lagi sekarang adanya smartphone yang sangat membantu kegiatan meluncur di dunia maya, dan sangat memprihatinkan bilamana penggunanya ialah anak anak karena gambar, video, atau konten konten yang bersifat pornografi sangat mudah diakses.

  1. Pola Asuh

Mengapa pola asuh ? di Indonesia kebanyakan orang tua ketika sedang menunggu anaknya yang telah pulang sekolah cenderung hanya suka menanyakan kegiatan aktivitas belajarnya saja, dan mengabaikan bagaimana aktivitas socialnya ketika di sekolahan. Dan hal tersebut membuat kurangnya keterbukaan anak kepada orang tua.

Memang perlu diketahui factor factor yang dapat menyebabkan timbulnya perilaku kekerasan seksual, agar kelak kita mampu mengantisipasi dini agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Memang, dalam penanggulangan guna memberantas kejahatan ini harus melibatkan banyak sector, dari pemerintah hingga ke masyarakat sendiri. Karena bilamana hal tersebut belum mampu bersinergi hasilnya pun akan kurang maksimal.

Untuk sampai saat ini, memang ada beberapa hal yang telah dan dapat dilakukan  guna meminimalisir kejahatan seksual khususnya di Indonesia, diantaranya adalah:

  1. Pemerintah

Pemerintah memang sudah membuat suatu penguatan hukuman bagi pelaku kejahatan seksual, dimana pada bulan oktober tahun 2016 DPR mengesahkan PERPU nomor 1 tahun 2016 tentang perlindungan Anak, dimana hukumannya cukup menakutkan yakni hukuman kebiri bagi para pelaku kejahatan seksual. Dengan tujuan mengurangi angka kejahatan seksual terhadap anak dan perempuan di Indonesia.

  1. Masyarakat

Dalam masyarakat, memang perlu adanya peningkatan kesadaran dan kewaspadaan akan kekerasan seksual, di samping itu ada pula upaya semacam Sex-Education bagi para warga guna mencegah terjadinya kasus tersebut.

  1. Orang Tua

Pentingnya para Orang tua agar lebih terbuka dan lebih perhatian anak. Karena orang tua sangat penting bagi keamanan anak anaknya. Disamping itu, dengan lebih terbuka dan perhatian peran orang tua terlihat sangat optimal sebagai pilar fondasi suatu keluarga.

  1. Media

Media seringkali menampilkan tayangan yang berbau kekerasan, seks dan pornografi. Media diminta untuk bertanggung jawab akan hal tersebut karena dapat mempengaruhi para penikmat tayangan tersebut, terutama pada anak anak yang notabene masih polos dan lugu. Alangkah baiknya media membantu mengkampanyekan kepada masyarakat tentang bahaya kejahatan seksual demi mewujudkan masyarakat bebas kejahatan seksual.

  1. Penanganan Psikologis

Penanganan Psikologi memang perlu, dengan harapan yang sama, agar mampu mengurangi angka kejahatan seksual. Dalam hal ini, displin ilmu dapat Psikologi melakukan kegiatan advokasi yang memuat aspek preventif, promotif, dan kuratif terhadap kejahatan seksual.

 

KESIMPULAN

Kejahatan Seksual merupakan suatu fenomena yang mengancam dan menambah, terlebih lagi pada anak anak yang kelak menjadi generasi penerus bangsa. Indonesia termasuk kategori yang masih rawan akan kejahatan seksual, dimana melihat dari angka kejahatan seksual terbilang tinggi, namun dalam beberapa sector telah ada upaya untuk mengurangi angka kejahatan tersebut. Dan seperti yang telah kita ketahui, upaya tersebut harus dilakukan oleh secara holistik, dalam arti upaya tersebut dilakukan secara menyeluruh, dalam konteks ini dilaksanakkan oleh pemerintah sampai ke masyarakatnya sendiri.

Dan semoga saja negara kita dapat meminimalisir dan terhindar dari segala kejahatan, khususnya kejahatan seksual. Seperti Islandia, yang notabene memiliki angka kejahatan terendah, dapat dikatakan bahwasanya negara tersebut bebas dari segala kejahatan, termasuk kejahatan Seksual.

 

 

Daftar Pustaka

http://www.komnasperempuan.go.id/wp-content/uploads/2016/03/Lembar-Fakta-Catatan-Tahunan-_CATAHU_-Komnas-Perempuan-2016.pdf diakses pada 12 November 2016 waktu 23.00 WIB

http://news.liputan6.com/read/2451254/kpai-pelecehan-seksual-pada-anak-meningkat-100

diakses pada 13 November 2016 waktu 16.00 WIB

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/16/05/15/o77luc382-kekerasan-seksual-dominasi-kasus-kejahatan-terhadap-anak diakses pada 12 November 2016 pukul 21.00

http://nasional.kompas.com/read/2016/10/12/13333281/dpr.sahkan.perppu.kebiri.menjadi.undang-undang diakses pada 12 November 2016 pukul 21.00

http://tabloid-nakita.com/Balita/Hati-Hati-Pola-Asuh-Ini-Berisiko-Lahirkan-Pelaku-Kejahatan-Seksual diakses pada 12 November 2016 pukul 21.00

http://www.icutweb.com/2015/02/10-negara-paling-aman-di-dunia.html diakses pada 12 November 2016 pukul 21.00

 

 

Post Author: adminwilayahtiga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *