Merapikan Puzzle Mahasiswa: Menjadi Mahasiswa Aktif, Produktif, Prestatif

 

Merapikan Puzzle Mahasiswa: Menjadi Mahasiswa Aktif, Produktif, Prestatif

 

I am not what happened to me

I am what I choose to become

-Carl Jung-

 

Mahasiswa dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBI) didefinisikan sebagai seseorang yang sedang menempuh studi di perguruan tinggi. Selain itu, menurut Siswoyo (2007) mahasiswa dapat didefinisikan sebagai individu yang sedang menuntut ilmu di tingkat perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.

Berbicara tentang mahasiswa, tak lepas dengan kegiatan-kegiatan yang sering bersinggungan dengan eksistensinya di dunia kampus, baik yang bersifat akademis maupun non akademis. Salah satu contohnya ialah kegiatan organisasi kampus atau biasa disebut Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti Badan Eksekutif Mahasiswa(BEM), Himpunan Mahasiswa, Lembaga Dakwah Kampus, Studi Ilmiah Mahasiswa, dan lain-lain. UKM yang ada di kampus mempunyai fungsi bagi para mahasiswa khususnya mahasiswa baru, yaitu sebagai wadah yang menyalurkan bakat maupun minat mahasiswa, dan penampung serta penyambung aspirasi-aspiras mahasiswa di domain kampus tersebut.

Idealnya, mahasiswa yang diharapkan harus mampu menjalankan fungsi sebagai berikut:

  1. Sebagai Iron Stock – mahasiswa itu harus bisa menjadi pengganti orang-orang yang memimpin di pemerintahan nantinya, yang berarti mahasiswa akan menjadi generasi penerus untuk memimpin bangsa ini nantinya.
  1. Agent Of Change – dituntut untuk menjadi agen perubahan. Disini maksudnya, jika ada sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar dan itu ternyata salah, mahasiswa dituntut untuk merubahnya sesuai dengan harapan yang sesungguhnya.
  2. Social Control – harus mampu mengontrol sosial yang ada di lingkungan sekitar (lingkungan masyarakat). Jadi… selain pintar di bidang akademis, mahasiswa harus pintar juga dalam bersosialisasi dengan lingkungan.
  3. Moral Force – diwajibkan untuk menjaga moral-moral yang sudah ada. Jika di lingkungan sekitarnya terjadi hal-hal yang tak bermoral, maka mahasiswa dituntut untuk merubah serta meluruskan kembali sesuai dengan apa yang diharapkan.

Pada sejarah Indonesia, ada beberapa organisasi kemahasiswaan yang dimulai pada zaman pre-penjajahan sampai dengan era kemerdekaan, telah melakukan beberapa pergerakan. Salah satu contohmya ialah pergerakan mahasiswa di tahun 1998, pada masa itu mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam beberapa LEM (Lembaga Eksekutif Mahasiwa) universitas terhimpun menjadi satu menuntut reformasi dan menghapuskan politik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang pada akhirnya mengakibatkan kepala negara pada tahun tersebut yaitu Bapak Soeharto mengundurkan diri dari kursi kepemimpinan. Mereka berjuang demi kemaslahatan dan kesejahteraan rakyat Indonesia yang memang pada masa itu mengalami situasi yang kurang begitu baik ataupun ketimpangan akibat krisis ekonomi. Sayangnya, pergerakan mahasiswa dari waktu ke waktu justru semakin meredup dari segi keaktifan, produktivitas, dan prestasinya dalam bidang akademik maupun non akademik. Oleh sebab itu, kita perlu berupaya setidaknya menumbuhkan kembali budaya aktif, produktif dan prestatif di kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa baru yang masih membutuhkan arahan.

Aktif atau Keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan (Sardiman, 2001). Aktifitas fisik adalah siswa giat aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain maupun bekerja, ia tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Siswa yang memiliki aktifitas psikis (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyak–banyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pembelajaran. Jadi, bahwasanya keaktifan mahasiswa ialah suatu intensitas tinggi atau rendahnya mahasiswa dalam mengikuti beberapa kegiatan, dimana melibatkan aktifitas fisik maupun psikis dari pribadi itu sendiri. Keaktifan mahasiswa dapat diukur dari segi keterlibatannya dalam mengikuti serangkaian acara di kampusnya seperti seminar,konferensi, pelatihan , dan kontribusinya dalam bidang akademik serta non akademik seperti unit kegiatan mahasiswa.

 

Produktivitas dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi individu dan dimensi organisasi. Pengkajian masalah produktivitas dari dimensi individu yaitu melihat hubungannya dengan karakteristik-karakteristik kepribadian individu dan apa yang dihasilkan. Dalam konteks ini, pengertian produktivitas adalah sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini (Kusnendi, 2003). Dengan begini, dapat disimpulkan bahwasanya produktif ialah suatu upaya individu untuk menciptakan serta menghasilkan gagasan, ide atau karya yang dapat bermanfaat bagi kemajuan diri, universitas, lingkungan sosial serta negara.

 

Prestasi Menurut Chaplin (2006) prestasi adalah suatu tingkatan khusus dari kesuksesan karena mempelajari tugas-tugas, atau tingkat tertentu dari kecakapan/keahlian dalam tugas-tugas sekolah atau akademis. Namun, penilaian akan prestasi tidak hanya dilihat dari segi kegiatan akademis, namun dalam hal non-akademis pula.  Adapun prestasi dalam bidang non akademis salah satunya adalah kesuksesan individu atas kemampuannya mengawal organisasi selama periode kepengurusan, dll. Menurut A.Maslow, prestasi merupakan sebagian dari individu sendiri, dengan prestasi individu mampu merasakan keberadaan dirinya karena merasa dihargai dan diapresiasi akan prestasi tersebut. Sehingga menjadi mahasiswa yang prestatif dapat dimulai dari diri sendiri. Lalu, prestasi seperti apa yang dimaksud? Prestasi tersebut dapat berupa nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi, menjadi juara di berbagai bidang perlombaan PIMNAS(Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional), olaraga dan bidang lain yang ditekuninya, menciptakan solusi atas permasalahan sekitar, dan sebagainya.

 

Adapun langkah-langkah untuk menjadi mahasiswa aktif, produktif dan prestatif, yaitu:

  1. Mengatur niat
  2. Mengenali diri
  3. Mengatur tujuan dan menuliskan mimpi
  4. Mencari cara untuk mengembangkannya dan kerja keras
  5. Mengondisikan lingkungan dan diri
  6. Melihat peluang
  7. Mengevaluasi dan terus memperbaiki diri
  8. Yakin, doa, sabar dan tawakal

 

Setelah mengetahui pengertian serta langkah-langkah menjadi mahasiswa aktif, produktif dan prestatif, yang perlu ditekankan di sini adalah manfaatnya. Perlu disadari bahwa kita tidak bisa seratus persen menjadi mahasiswa yang aktif, produktif dan prestatif. Setia individu memiliki kecenderungan untuk dominan kepada salah satunya. Manfaat menjadi aktif, produktif dan prestatif ialah kemudahan dalam menjalankan fungsi mahasiswa yaitu sebagai agent of change, iron stock, social control dan moral force. Selain itu kemudahan untuk mengembangkan keterampilan komunikasi, sosial dan keterampilan yang dibutuhkan di kehidupan nyata, serta memudahkan mahasiswa untuk bermanfaat dan memposisikan diri diberbagai kondisi yang membutuhkannya. So, masih ragu kalau menjadi mahasiswa aktif, produktif dan prestatif itu penting?

Post Author: adminwilayahtiga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *