TERORISME DALAM BINGKAI PSIKOLOGI

Dalam sebuah kehidupan pasti tidak akan lepas dari yang namannya konflik, konflik yang ada saat ini dapat melatih manusia untuk menentukan kepribadian dan sikap yang harus di tampilkan seorang individu dalam menghadapi serta mencoba masuk ke dalam masalah tersebut, karena manusia pada dasarnya telah dianugerahi oleh Tuhan dengan kemampuan id, ego dan super-ego dalam menentukan sebuah pilihan. Namun pada praktiknya, ada yang dinamakan doktrin, yang tersebar luas di masyarakat dimana individu tidak bisa lepas darinya (doktrin, red), sehingga kadang kepribadian juga terpengaruh dan tak jarang menimbulkan masalah atau tindakan yang dinamakan patologi sosial. Seperti pada artikel kali ini, akan coba membahas mengenai aksi terorisme yang sedang hangat dibicarakan diseluruh dunia, yang dikupas dengan sudut pandang psikologi yang khas.

Pengertian dari terorisme sendiri adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan peperangan, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa secara acak serta seringkali merupakan warga sipil yang tidak bersalah atau diluar dari kelompok terorisme.[1] Terorisme memang sudah menjadi hal yang lama terjadi di dunia ini, namun tindakan ini semakkin menguat dengan adanya kasus teror yang terjadi di Amerika Serikat yang disebut sebagai peristiwa World Trade Center (WTC) di New York pada tanggal 11 September 2001. Serangan teror yang dilakukan melalui udara tersebut mengakibatkan banyak korban jiwa yang berjatuhan serta menjadi truma bagi masyarakat pada waktu itu bahwa kejadian yang terjadi merupakan kejadian yang tidak mengedepankan sikap perikemanusiaan sesama mahluk hidup yang saling hidup berdampingan. Namun, bermula dari kejadian tersebut, hendaknya kita melihat dan menilai terorisme secara bijak dari berbagai sudut pandang, termasuk psikologi. Bahwa kita sadari pasti ada faktor internal dan eksternal yang menjadi sebab perilaku atau tindakan terorisme.

Sebagai makhluk sosial, kita hendaknya memiliki kepekaan akan fakta dalam sebuah lingkungan, dan mengerti bahwa apa yang dilakukan seseorang semata-mata bukanlah apa yang dia inginkan (faktor internal, red) melainkan ada penyebab dari yang lain yang membuat keyakinan seorang individu semakin kuat yang berasal dari luar. Karena pada komponen yang mendasar bahwa manusia hidup di dalam tiga lingkaran yang berpengaruh yaitu pendirian individu, pendirian kelompok dan pendirian secara struktural. Mengapa demikian?. Pendirian merupakan wujud dari sebuah keputusan dalam menyelami arti kepribadian yang kita miliki. Sebagai individu pasti semuanya akan memiliki yang namanya visi dan misi dalam kehidupan ini dengan wujud yang berbeda tapi memiliki makna yang sama, dilanjutkan kedalam pendirian kelompok dimana dalam hal ini perbedaan yang ada didalam masing-masing individu digabungkan menjadi satu tujuan yang akan menghasilkan pendirian secara struktural yang merupakan kombinasi pendirian antara individu dengan kelompok. Apabila ketiga komponen tersebut terikat semakin kuat, tidak dapat dipungkiri bahwa keputusan seseorang dalam bertindak akan semakin terlaksana.

Tindakan teror memang menjadi sesuatu yang menakutkan dunia, apapun caranya. Hingga sekarang, telah banyak terjadi kasus-kasus terror, tak terkecuali di negeri kita, Indonesia. Dengan falsafah pancasilanya yang telah mendasar  dan mengakar, tidaklah lantas membuat bangsa di negeri ini hidup dengan tentram, dan aman. Belakangan ini banyak aksi teror yang terjadi di negeri ini. Kita mengambil beberapa contoh kasus terorisme yang pernah terjadi di Indonesia, misalnya; 12 Oktober 2002: Bom meledak di Paddy’s Cafe dan Sari Club, dua restoran di Jalan Legian, Kuta, Denpasar, Bali. Teror ini terkenal dengan tragedi Bom Bali I. Kemudian pada 5 Agusutus 2003: Bom meledak di Hotel JW Marriot, Jakarta. 1 Oktober 2005: Bom meledak di Kuta Bali. Bom meledak di tiga tempat: Kafe Nyoman, Kafe Menega, dan Restoran Raja’s di Kuta Square, Denpasar. Tragedi ini kerap disebut Bom Bali II. Pada 17 Juli 2009: Bom meledak di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Ledakan bom Marriot merupakan yang kedua kalinya, setelah 2003. 28 Oktober 2015: Bom kembali meledak di Mall Alam Sutera. Saksi mata menerangkan ada suara ledakan pada pukul 12.05 di dalam toilet kantin karyawan di lantai LG Mal Alam Sutera. Polisi menangkap seorang pelaku tunggal.[2]

Dari contoh kasus-kasus yang terjadi diatas, yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kita menyikapi tindak terorisme ini, terutama dari kacamata Psikologi. Walaupun menurut Hudson (1999), berbeda dengan ilmuwan politik dan sosiolog, yang tertarik dalam konteks politik dan sosial dari tindakan terorisme, relatif masih sedikit psikolog yang mempelajari terorisme, terutama tertarik pada tingkat mikro dari teror individu atau kelompok.[3] Sebelum jauh kesana, ada beberapa point yang kami dapatkan dari Diskusi Sosial dengan tema seputar Terorisme yang disampaikan oleh narasumber, Abdan Shadiqi, S.Psi, beberapa penyebab dari terorisme itu sendiri adalah : Tingginya sikap kesukuan dan separatisme pada individu; Kemiskinan dan kesenjangan serta kelajuan globalisasi; Pengaruhnya paham demokrasi dan non-demokrasi; Pelanggaran harkat kemanusiaan; dan Radikalisme agama.

Beberapa penyebab di atas berpeluang tidak hanya dirasakan oleh para aktor teror, melainkan juga dirasakan oleh masyarakat pada umumnya bahwa segala tekanan dan permasalahan pasti akan selalu dicari sebuah solusinya, dalam hal ini bisa saja para pelaku teror menyimpulkan sebuah solusi dengan melakukan tindakan terorime itu sendiri.

Setelah mengetahui beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab adanya sikap terorisme, kita juga perlu melihat prosesnya. Mengapa demikian, karena dalam sebuah proses tersebut akan membentuk sebuah pola maupun strategi dalam melakukannya, biasanya, apabila sikap tersebut sudah di dasarkan pada sikap ingin menguasai, maka radikalisme dan fudamental merupakan komponen utama untuk membulatkan tekad atau paham ideologi untuk melakukan tindakan kekerasan maupun teror yang sekarang sedang genjar terjadi.

Berbagai hipotesis yang beredar di seluruh kalangan mengenai aksi teror, khususnya di bidang psikologi, di mana aksi teror atau sikap ingin menyakiti ini masuk kedalam sebuah penyakit jiwa atau psikis pada manusia. Dimana terbagi menjadi tiga hipotesis; yaitu (1) Frustation-Aggresion Hypothesis (perceived deprivation atau persepsi kehilangan, permasalahan yang menyangkut kebutuhan politik, ekonomi, dan personal) , (2) Negative Identity Hypothesis (marah dan perasaan tak berdaya yang melibatkan penolakan dari peran yang diinginkan keluarga dan masyarakat), (3) Narsissistic Rage Hypothesis (permasalahan mental, sosiopatik, arogan, narsistik, gangguan kepribadian).[4]

Selain mengandalkan hipotesis yang ada mengenai tindakan terorisme, stigma mengenai teroris yang kita berikan kepada kelompok mereka harus diperhatikan, mengapa demikian harus dilakukan juga, karena pengakuan yang di dapatkan kelompok teroris dari masyarakat mengakibatkan menambahhnya kepercayaan dan kemenangan di atas angin oleh para teroris. Alasan tersebut dapat dibuktikan bahwa tindakan teroris bertujuan untuk menakutkan dan menyerang, otomatis apabila kita merasa takut akan tindakan mereka maka kelompok mereka akan semakin merasa percaya diri bahwa apa yang mereka lakukan.

Atas dasar itu, artikel ini juga akan sedikit mengulas secara singkat, bagaimana mencari solusi untuk tindakan terorisme yang terjadi saat ini, dengan menggunakan lima pendekatan terhadap masalah tindakan terorisme[5]:

Pertama, dengan Pendekatan Keamanan (hukum) yaitu menggunakan hukuman penjara yang telah disepakati dalam undang-undang,

Kedua, Pendekatan Perilaku (disengagement) yaitu dipisahkan dengan kelompok dan dilakukan pendidikan di tempat penjara digabung dengan kelompok tahanan lain (tetapi kadang penjara juga menjadi tempat rekrutmen),

Ketiga, Pendekatan Ekonomi, yaitu diberi bantuan ekonomi, didalam lapas juga dibantu secara ekonomi.

Keempat, adalah Pendekatan Sosial, yaitu melalui relasi sosial, keluarga, masyarakat, pergaulan (lapas juga ada program asimilasi),

Kelima, Pendekatan deradikalisasi (counter-ideology, kognitif), yaitu dengan mengubah belief-nya.

Namun dalam pencapaiannya untuk menghilangkan rasa atau sikap teror yang sudah pernah di lakukan bukanlah hal mudah seperti membalikan telapak tangan. Karena di antara kecenderungan psikologis terorisme yang meliputi; belief, value, attitude dan behaviour, aspek belief ini lah yang merupakan hal tersulit untuk di ubah kembali ke dalam pemikiran dan sikap yang jauh lebih normal.

Ada pendapat menarik dari Dr. Fidiansyah yang merupakan Seksi Religi, Spiritualitas dan Psikiatri dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kejiwaan Indonesia (PDSKJI), yaitu kelompok yang memang menghubungkan apa yang Einstein sejak dahulu kala mengatakan, “ilmu tanpa agama adalah suatu hal yang bisa membutakan, tapi agama tanpa ilmu bisa lumpuh”. Jadi dalam perkembangan ilmu psikiatri tidak dapat dipisahkan antara dua komponen, yaitu agama dan ilmu. Yang selama ini terjadi adalah pendikotomian ilmu pengetahuan yang kita dapat secara sepihak, lalu menghilangkan aspek spiritualitas. Padahal definisi kesehatan yang kita pakai dalam undang-undang kesehatan itu jelas. Kesehatan terdiri dari fisik, mental, spiritual, dan sosial. Jadi tidak dapat dipisahkan aspek spiritual (agama dan ideologi, red) dan sosial dalam sebuah penentuan diagnosis dalam sebuah gangguan atau penyimpangan.[6]

Ketika ada penyimpangan yang dialami, maka terapi yang dilakukan dalam bentuk konseling ada banyak. Ibaratnya, jika seseorang dikonseling oleh maling maka akan jadi maling, jika seseorang dikonseling oleh koruptor maka akan jadi koruptor, dan jika seseorang dikonseling oleh orang yang memiliki pemahaman atau ideologi yang ngawur, jadinya bisa ngawur juga seperti tindakan terorisme.

Jadi konseling ada prosesnya, ada empat pendekatan untuk mengobati penyimpangan tindakan. Kalau ada aspek yang sakit organ-biologi akan diberikan obat, kalau ada aspek psikologi kita rubah perilakunya, kalau ada cara berpikir yang keliru dirubah kognitifnya, kalau ada perubahan lingkungan yang berpengaruh kita rubah modifikasi daripada lingkungan sosialnya, kalau ada pemahaman yang keliru dari spiritualitasnya kita kembalikan pada agamanya untuk mengatasinya (ideologi, red).

Ilmu psikologi dengan segala variannya bisa memberikan perspektif yang menarik dalam mengkaji perilaku teror. Misalnya, psikologi klinis, psikologi sosial dan psikologi agama.

Namun, psikologi agama sebagai salah satu cabang psikologi berperan penting dalam menjelaskan motivasi kekerasan keagamaan yang dilakukan oleh individu-individu yang menggunakan agama sebagai inspirasi, dan upaya pencegahannya, termasuk misalnya bagaimana mengubah seorang yang radikal atau teroris sekalipun menjadi tidak lagi terlibat dalam radikalisme dan perilaku teror.

Motivasi tindakan terorisme  bisa  bersifat  patologi psikologis atau patologi social, tetapi  bisa  juga  bersifat politik, walaupun penelitian mutakhir yang dilakukan oleh sejumlah psikiater dan psikolog menyimpulkan  bahwa  para  teroris  umumnya  adalah  kumpulan  orang-orang  yang  normal yang   sama   sekali   jauh  dari  karakteristik  abnormal   atau   patologis.[7] Bahkan, penelitian menegaskan bahwa mereka adalah kumpulan orang normal yang menyadari sepenuhnya tindakan mereka karena aksi teror mereka didasarkan atas ideologi dan keyakinan tertentu, serta digerakkan oleh tujuan tertentu.

Maka aspek belief yang merupakan hal tersulit untuk di ubah kembali ke dalam pemikiran dan sikap yang jauh lebih normal (yang nanti pemikiran atau kognisi yang benar juga akan berpengaruh terhadap perilakunya) harus di counter dan dikembalikan dengan pemahaman agama (ideology, red) yang benar, selain menggunakan lima pendekatan yang terdiri dari; hukum, perilaku, ekonomi, social, dan deradikalisasi, juga dilakukan terapi dengan psikologi agama.

Referensi

[1] https://diex92.wordpress.com/2010/04/09/pengertian-terorisme/

[2] http://www.antaranews.com/berita/539920/ringkasan-teror-bom-di-indonesia

[3] http://www.loc.gov/rr/frd/pdf-files/Soc_Psych_of_Terrorism.pdf

[4][5] Shadiqi. M. Abdan, Mengupas Radikalisme dan Terorisme dari
Sudut Pandang Psikologi, disampaikan dalam Diskusi Sosial ILMPI Wilayah 3 pada 20 Agustus 2016.

[6] Fidiansyah, dalam acara program Lawyers Club di Tv One tanggal (16/2/2016), diakses di https://www.youtube.com/watch?v=AXB_VpMP_rM pada 26 Agustus 2016.

[7] http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/28355/3/GAZI%20SALOOM-FPS-2011.pdf

Post Author: adminwilayahtiga

2 thoughts on “TERORISME DALAM BINGKAI PSIKOLOGI

  • 33Marcy

    (May 17, 2017 - 4:49 pm)

    I must say it was hard to find your site in google. You write awesome articles but you should rank your
    page higher in search engines. If you don’t know 2017
    seo techniues search on youtube: how to rank a website Marcel’s way

    • adminwilayahtiga

      (September 19, 2017 - 1:04 am)

      All I can say is thanks 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *