TEORI PSIKOANALISIS SOSIAL

Biografi Karen Horney

Karen Horney lahir dengan nama Karen Danielsen Horney di Eilbek, sebuah kota kecil dekat Hamburg Jerman pada tanggal 15 September 1885. Karen Horney merupakan anak perempuan satu-satunya Berndt (Wackels) Danielsen seorang kapten kapal, dan Clothilda van Ronzelen Danielsen. Ibu Karen Horney berusia 18 tahun lebih muda dari ayahnya, dia merupakan istri kedua. Keluarga Danielsen adalah sebuah keluarga yang tidak bahagia, hal ini dipicu oleh perbuatan saudara tiri Karen yang membuat ayah tirinya membenci ibunya. Karen merasakan permusuhan yang sangat besar terhadap ayahnya yang keras dan taat beragama, dan Karen menganggap ayahnya sebagai seorang munafik yang taat. Akan tetapi, ia mengidolakan ibunya yang selalu mendukung dan menjaganya dari ayahnya yang keras. Walapun demikian, Karen bukanlah seorang anak yang bahagia. Karen membenci perlakuan pilih kasih yang diberikan kepada kakak laki-lakinya, dan selain itu, ia khawatir dengan kebancian dan pertengkaran antara kedua orangtuanya.

Ketika berusia 13 tahun, Horney memutuskan untuk menjadi seorang dokter, tetapi pada saat itu tidak ada satupun universitas di Jerman yang menerima perempuan. Namun pada saat berusia 16 tahun, Karen memasuki Gymnasium sebuah sekolah yang akan berlanjut ke universitas dan kemudian ke sekolah kedokteran. Karen menjadi seseorang yang mandiri selama sisa hidupnya. Namun menurut Paris(1994) kemandirian Horney hanyalah di luarnya saja. Di dalam hatinya Horney memendam sebuah keputusan kompulsif untuk bisa bersama dengan seseorang yang hebat.

Pada tahun 1906, ia memulai studinya di University of Freiburg dan ia kemudian menjadi wanita pertama di Jerman yang belajar mengenai obat-obatan. Di sana ia bertemu dengan Oskar Horney, seorang mahasiswa ilmu politik yang kemudian menikah dengan Horney pada tahun 1909. Horney dan suaminya menetap di Berlin. Suami Horney bekerja di sebuah perusahaan batubara dan Karen mengambil spesialisasi untuk psikiatri.

Horney terbiasa membaca tulisan-tulisan dari Freud, dan pada tahun 1910 ia mulai mengerjakan sebuah analisis bersama Karl Abraham yang merupakan kolega dekat Freud yang nantinya membuat analisis tentang Melanie Klein. Tahun 1917 Horney berhasil menyelesaikan tulisan pertamanya tentang psikoanalisis yang berjudul “The Technique of Psychoanalytic Therapy” yang mencerminkan pandangan freud yang konvensional dan menunjukkan sedikit indikasi adanya pemikiran pribadi Horney di kemudian hari.

Karen Horney memperoleh gelar MD pada tahun 1915 setelah 5 tahun melakukan psikoanalisis. Dalam perjalanannya mencari laki-laki yang tepat, Horney terlibat dalam beberapa hubungan asmara. Setelah Perang Dunia I Horney menikmati kehidupannya sebagai psikiatri yang sukses. Pada tahun 1923, suami Horney kehilangan pekerjaannya dan tiga tahun kemudian Karen dan Oskar berpisah.

Awal perpisahan dengan Oskar merupakan masa produktif untuk Horney. Horney mulai menyukai menulis dan tulisannya makin memerlihatkan perbedaan penting dengan teori Freudian. Horney percaya bahwa kultur, bukan anatomi, membuat perbedaan psikis antara laki-laki dan perempuan. Ketika Freud berpikiran negatif terhadap pemikiran Horney, ia menjadi lebih terbuka mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan Freudian.

Pada tahun 1932, Horney meninggalkan Jerman untuk bekerja sebagai associate director di Chicago Psychonalitic Institute yang baru berdiri. Alasan yang membuat Horney mengambil keputusan tersebut adalah adanya iklim politik anti-Yahudi di Jerman dan semakin berkembangnya ketidaksetujuan terhadap pemikirannya yang baru.

Horney kemudian pindah ke New York dua tahun kemudian dan menjadi anggota group zodiac yang beranggotakan Fromm, Fromm Reichmann, Sullivan dll. Horney juga merupakan anggota dari New Yor Psychoanalitic Institute namun dia jarang sependapat dengan anggot-anggota lama. Tahun 1939 Horney menerbitkan buku yang berjudul New Ways In Psychoanalisis yang di dalamnya Horney mengajak untuk meninggalkan teori insting dan  lebih menitikberatkan pada ego dan pengaruh sosial. Kemudian, pada tahun 1950 Horney menerbitkan buku lagi yang berjudul Neurosis and Human Growth. Buku ini menjabarkan teori-teori yang tidak lagi hanya sebuah reaksi terhadap pemikiran Freud melainkan teori yang merupakan ekspresi pemikiran pribadinya yang kreatif. Horney meninggal dunia akibat kanker pada 4 Desember 1952 pada usia 65 tahun.

Pengantar Teori Psikoanalisis Sosial

Tulisan awal Horney mempunyai ciri khas Freudian, namun seperti Adler dan Jung lama kelamaan Horney tidak sepaham dengan psikoanalisis ortodoks/konvensional dan membentuk sebuah teori revisi yang merefleksikan pengalaman-pengalaman pribadinya, baik pengalaman klinis maupun bukan.

Meskipun tulisan Horney hampir sebagian besar berkaitan dengan masalah kejiwaan dan kepribadian neurotik, namun juga dapat diterapkan dalam kepribadian normal dan sehat. Horney setju dengan Freud bahwa trauma pada masa kanak-kanak awal merupakan hal yang penting, tetapi letak perbedaannya dengan Freud adalah pada keyakinannya bahwa dorongan sosial lebih berperan penting dalam perkembangan kepribadian dibandingkan dengan dorongan biologis.

Perbedaan antara Horney dan Freud

Horney mengkritik teori Freud dalam beberapa aspe. Pertama, ia memperingatkan bahwa mengikuti sepenuhnya pandangan psikoanalisis ortodoks/konvensional akan mengarah pada pada tidak berkembangnya pemikiran teoritis dan praktek terapi (Horney, 1937). Kedua, Horney (1937, 1939) tidak sependapat dengan ide  Freud mengenai psikologi feminin. Ketiga, ia menegaskan bahwa pandanagan psikoanalisis seharusnya menitikberatkan pada pentingnya pengaruh kultur dalam membentuk kepribadian. Menurut Horney (1939) “manusia tidak hanya diatur oleh prinsip kesenangan saja, tetapi oleh dua prinsip, yaitu keamanan dan kepuasan.” Masalah kejiwaan bukan merupakan akibat dari insting melainkan akibat dari “usaha seseorang mencari jalan agar dapat melalui jalan yang penuh rintangan.” Keadaan tersebut diciptakan oleh lingkungan sekitar dan bukan oleh insting atau anatomi.

Walaupun Horney semakin menentang pandangan Freud, tetapi Hotrney tetap mengakui pengetahuan yang dimiliki Freud. Perdebatannya dengan Freud bukan terletak pada keakuratan observasi yang dilakukan Freud tetapi pada validitas interpretasinya. Dengan kata lain Horney mengatakan bahwa pandangan Freud menyebabkan cara pandang manusia yang pesimis berdasrkan insting bawaan dan kepribadian yang tidak berkembang. Sedangkan di pihak lain, cara pandang Horney mengenai konsep kemanusiaan adalah cara pandang yang optimis dan berpusat pada dorongan kultural yang mudah mengalami perubahan (Horney, 1950).

Pengaruh Kultur

“setiap orang adalah seorang pesaing yang nyata atau pesaing yang potensial bagi orang lain” (Hoerney, 1937, hlm. 284). Daya saing dan rasa permusuhan dasar yang timbul oleh kultur modern menyebabkan perasaan terpisah. Perasaan sendiri di dunia yang tidak ramah ini akan menyebabkan meningkatkanya kebutuhan akan kasih sayang (needs for effection), yang pada akhirnya membuat orang menilai cinta terlalu tinggi. Sebagai akibatnya, banyak orang melihat cinta dan kasih sayang sebagai jawaban atas semua permasalahan yang mereka hadapi. Memang cinta yang tulus dapat menjadi pengalaman yang baik dan bermanfaat bagi seseorang. Alih-alih mendapat manfaat dan kebutuhan akan cinta, orang-orang neurotik akan berusaha mendapatkan cinta dengan cara apapun.

Menurut Hoeney masayarakat Barat mempunyai perananan yang menimbulkan lingkaran setan ini, diantaranya dalam bebrapa hal. Pertama, orang-orang dalam masyarakat ini diperkenalkan dengan ajaran kultur tentang kekeluargaan dan kerendahan hati. Akan tetapi, ajaran ini bertentangan dengan sikap lain yang juga terkenal di masyarakat., yaitu agresivitas dan dorongan untuk menang atau menjadi lebih baik dari orang lain. Kedua. Keinginan masyarakat untuk sukses dan berhasil mencapai sesuatu tidak pernah berakhir. Dengan demikian, biarpun orang telah memperoleh ambisi materiil, keinginan-keinginan  lain akan selalu bertambah. Ketiga, masyarakat Barat menyakinkan orang-orang bahwa mereka hidup bebas dan dapat memperoleh apapun yang mereka inginkan melalui kerja keras dan keteknan. Akan tetapi, kenyataannya, bagi sebagian orang kebebasannya dibatasi oleh faktor genetis, posisi sosial, dan daya saing orang lain.

Pentingnya pengalaman masa kanak-kanak

Horney (1939) membuat hipotesis bawa masa kanak-kanak yang berat berperan penting dalam menimbulkan kebutuhan-kebutuhan neurotik. Kebutuhan-kebutuhan ini menjadi kua tkaena hal ini merupakan satu-satunya cara bagi sang anak untuk merasakan perasaan aman. Walaupun demikian, satu pengalaman awal tidak bisa berperab membentuk kepribadian di kemudian hari. Hoerney, berpendapat bahwa “keselruuhan pengalaman-pengalaman masa kanak-kanaak membentuk struktur karakter tertentu, atau juga, memlulai perkembangannya.” Dengan kata lain, keseluruhan hubungan yang terjalin di masa-masa awal membentuk perkembangan kepribadian seseorang. “dengan demikian, sikap-sikap terhadap orang lain yang dilakukan di masa dewasa bukan merupakan pengulangan dari sikap-sikap yang dilakukan di masa dewasa bukan merupakan pengulangan dari sikap-sikap yang dilakukan di masa bayi, melainkan timbul dari struktur karakter yang dasarnya berkembang pada masa kanak-kanak”

Permusuhan dasar dan kecemasan

Apabila orang tua tidak dapat memnuhi kebutuhan-kebutuhan sang anak akan keamanan an kepuasan, maka sang anak akan mengembangkan perasaan permusuhan dasar (basic hostility) terhadap orang tuanya. Akan tetapi anak jarang menunjukkan secara terang-terangan rasa permusuhan ini sebagai kemarahan, melainkan mereka menekan rasa permusuhan mereka terhadap orang tuany adan tidak menyadari akan keberadaan rasa permusuhan tersebut. Rasa permusuhan yang ditekan kemudian mengarah kepada perasaan tiak aman yang kuat dan kecemasan yang samar-smar. Kondisi ini disebut sebgaai kecemasan dasar (basic anxiesty), yang Hoerney (1950) jelaskan sebagai “perasaan terisolasi dan tidak berdaya di dunia yang diangap tidak ramah”. Sebelumnya dia menggambarkan gambaran yang lebih jelas dengan menyebutkan kecemasan dasar sebagai “perasaan kecil, tidak berarti, tidak berdaya, ditinggalkan, terancam bahaya, di dunia yang siap untuk menyiksa, menipu, mnyerang, mempermalukan, mengkhianati, dan iri.” (hoerney, 1937, hlm. 92)

Walaupun ia kemudian mengubah tulisannya tentang cara-cara mempertahankan diri dari kecemasan dasar, hoerney (1937) pada awalnya mengindentifikasi empat cara umum yang dilakukan orang untuk menjaga diri mereka dari perasaan sendirian di dunia yang tidak ramah. Cara pertama adalah kasih sayang. Beberapa orang mungkin berusaha untuk membeli cinrta mereka dengan cara menuruti permintaan orang lain, barang-barang materiil, atau hasrat seksual.

Cara mempertahankan diri yang kedua adalah submissinveness. Orang-orang neuritik dapat patuh kepada orang lain, kepada institusi seperti perusahaan, atau kepada agama. Orang-orang neuritik yang patuh kepada orang lain sering kali melakukannya untuk bisa mendapatkan kasih sayang.

Cara mempertahankan diri yang selanjutnya adalah menjauh (withdrawal). Orang-orang neurotik seringkali melindungi diri mereka dari kecemasan dasar dengan cara mengembangkan kemandirian dari orang lain atau dengan memisahkan diri secara emosional dari orang lain. Dengan menjauh secara psikologis, orang-orang neurotik merasa tidak bisa disakiti oleh orang lain. Cara-cara ini menjadi tidak sehat ketika seseorang merasa harus selalu menggunakan cara-cara tersebut dan oleh karenanya tidak dapat menggunakan strategistrategi interpersonal yang beragamm

Dorongan kompulsif

Horney menyakini bahwa orang-orang neurotik tidak menikmati penderitaan dan ketidakbahagiaan. Mereka tidak dapat mengubah tingkah laku mereka atas kemauan mereka sendiri. Akan tetapi, mereka harus secara terus-menerus dan berulang kali menjaga diri mereka dari kecemasan dasar. Strategi pertahanan diri ini membuat mereka terperangkap dalam lingkaran setan dimana kebutuhan-kebutuhan kompulsif untuk mengurangi kecemasan dasar mengarah pada tingkah aku yang memupuk harga diri rendah, rasa permusuhan kepada siapapin/apapun, pencarian kekuasaan yang tidak wajar, meningkatnya perassan lebih baik dari orang lain, dan ketakutan yang terasa terus menerus, yan gsemuanya itu akan mengakibatkan kecemasan dasar yang lebih besar.

Kebutuhan-kebutuhan neurotik

Horney menemukan sepuluh kebutuhan neurotik yang menggambarkan orang-orang neurotik dalam usahanya melawan kecemasan dasar. Kebutuhan-kebutuhan ini saling tumpang tindih satu sama lain dan satu orang dapat menerapkan lebih dari satu kebutuhan.

Kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah sebagi berikut :

  1. Kebutuhan neurotik akan kasih sayang dan penerimaan diri

orang neurotik berusaha menyenangkan orang lain, memenuhi harapan orang lain, dan cenderung tidak menyukai adanya permusuhan.

  1. Kebutuhan neurotic akan rekan yang kuat

Kurangnya rasa percaya diri membuat orang neurotic berusaha mendekatkan diri kepada pasangan yang lebih kuat atau berpengaruh.

  1. Kebutuhan neurotik untuk membatasi hidupnya dalam lingkup yang sempit

Orang-orang neurotik bersaha untuk tidak menonjol, berada di tempat kedua, dan merasa puas dengan stimulus yang sangat sedikit.

  1. Kebutuhan neurotik akan kekuasaan

kebutuhan ini biasa dibarengi dengan kebutuhan akan penghargaan sosial dan kepemilikan, menjelma menjadi kebutuhan unruk mengatur orang lain dan menghindari perasaan lemah atau tidak pintar.

  1. Kebutuhan neurotik untuk memanfaatkan orang lain

Orang-orang neurotik sering kali menilai orang lain berdasarkan bagaimna orang tersebut bisa dimanfaatkan untuk kepentingan mereka, tetapi takut dimanfaatkan oleh orang lain.

  1. Kebutuhan neurotik akan penghargaan sosial atau gengsi

Beberapa orang melawan kecemasan dasar dan berusah untuk menjdai yang pertama.

  1. Kebutuhan neurotik akan kekaguman pribadi

Orang-orang neurotik memiliki kebutuhan untuk dikagumi atas diri mereka daripada atas apa yang mereka miliki.

  1. Kebutuhan neurotik akan ambisi dan pencapaian pribadi

Orang-orang neurotik sering mempunyai dorongan untuk menjadi yang terbaik, mereka harus mengalahkan orang lain untuk membuktikan keunggulan mereka.

  1. Kebutuhan neurotik akan kemandirian dan kebebasan

Beberapa orang neurotik mempunyai kebutuhan yang kuat untuk menjauhi orang lain dengan  membuktikan bahwa mereka bisa bertahan hidup tanpa orang lain.

  1. Kebutuhan neurotik kesempurnaan dan ketidakmungkinan untuk salah

Orang neurotik berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi sempurna dan mereka takut membuat kesalahan dan mempunyai kelemahan pribadi sehingga mereka selalu berusaha untuk menyembunyikan kelemahan mereka dihadapan orang lain.

 

Kecenderungan Neurotik

Horney mulai melihat bahwa sepuluh kebutuhan diatas yang ia temukan dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori umum. Pada tahun 1945, Horney mengidentifikasi 3 sikap dasar yang disebut kecenderungan neurotik (neurotic trends), yakni mendekati orang lain, melawan orang lain, dan menjauhi orang lain.

Kecenderungan ini juga bisa berlaku untuk individu-individu normal dan individu-individu neurotik. Individu normal sering kali sadar ketika menjalankan strateginya, sementara individu neurotik tidak sadar akan sikap yang mereka ambil. Individu normal memiliki kebebasan untuk memilih tindakan mana yang akan mereka pilih, sementara individu neurotik terpaksa untuk bertindak. Konflik yang dialami individu normal bersifat ringan, sementara individu neurotik memiliki konflik yang berat dan sulit dihadapi.

Seseorang dapat menggunakan masing-masing dari kecenderungan neurotik untuk mengatasi konflik dasar, tetapi sayangnya solusi ini pada dasarnya tidak produktif. Horney menggunakan istilah konflik dasar karena pada dasarnya anak-anak yang sangat muda terdorong ke tiga arah pertahanan diri tersebut. Pada anak yang sehat dorongan ini tidak selalu bertentangan, tetapi perasaan terpisah yang Horney jelaskan sebagai kecemasan dasar mendorong anak-anak untuk bertindak kompulsif dengan menjadikan satu dari ketiga kecenderungan neurotik dominan.

Mendekati Orang Lain

Sebuah kebutuhan neurotik untuk melindungi diri dari perasaan ketidakberdayaan. Untuk melindungi diri dari perasaan ini, orang yang penurut menggunakan salah satu atau kedua kebutuhan neuritik yang pertama, yakni berusaha mendapatkan kasih sayang dan penerimaan dari orang lain atau mereka mencari pasangan yang kuat. Horney menjelaskan kebutuhan ini sebagai “ketergantungan yang tidak wajar”.

Kecenderungan neurotik dengan cara mendekati orang lain melibatkan serangkaian strategi, yakni sebuah cara berpikir, merasakan, bertingkah laku. Horney juga menyebutnya sebagai filosofi hidup. Orang neurotik yang mengadopsi filosofi ini, mereka bersedia untuk mementingkan orang lain daripada dirinya.

Melawan Orang Lain

Jika orang penurut menganggap semua orang baik, maka orang agresif menganggap semua orang tidak ramah sehingga mereka mengadopsi strategi orang lain. Orang-orang neurotik yang agresif lebih memilih untuk melawan orang lain dengan cara tampil kuat dan kejam. Mereka termotivasi untuk memanfaatkan orang tersebut demi kepentingan mereka sendiri.

Lima dari sepuluh kebutuhan neurotik dirangkum menjadi kecenderungan neurotik melawan orang lain. Diantaranya adalah kebutuhan untuk kekuasaan, memanfaatkan orang lain, memperoleh penghargaan dan gengsi, dikagumi, dan mencapai sesuatu. Orang agresif lebih condong untuk bermain dengan tujuan menang daripada hanya untuk menikmati perlombaan. Orang penurut terdorong untuk mendapatkan kasih sayang dari semua orang, sementara orang agresif menganggap semua orang sebagai musuh potensial. Akan tetapi kedua tipe ini sama-sama membutuhkan orang lain.

Menjauhi Orang Lain

Beberapa orang memisahkan diri dari orang lain supaya dapat mengatasi konflik dasar terisolasi. Strategi ini merupakan ekspresi dari kebutuhan akan kesendirian, kebebasan, dan kemandirian. Akan tetapi, kebutuhan ini menjadi neurotik ketika orang berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan membuat jarak emosional antara diri mereka dan orang lain secara terus-menerus.

Banyak dari orang neurotik menganggap berhubungan dengan orang lain sebagai tekanan yang berat. Mereka menghargai kebebasan dan kemandirian serta sering terlihat menyendiri dan sulit didekati. Mereka menghindari komitmen sosial, tetapi ketakutan terbesar mereka adalah apabila mereka membutuhkan orang lain.

Orang-orang yang memisahkan diri dari orang lain mempunyai kebutuhan yang sangat kuat untuk menjadi kuat dan berpengaruh. Mereka takut akan kompetisi, takut hal itu dapat membuyarkan perasaan keunggulan mereka yang tidak nyata.

Kesimpulannya dari ketiga kecenderungan neurotik memiliki serangkaian karakteristik yang serupa dengan yang dimiliki individu normal dan masing-masing dari sepuluh kebutuhan neurotik dapat ditempatkan dengan mudah di dalam tiga kecenderungan neurotik.

KONFLIK INTRAPSIKIS

Seiring dengan perkembangan teorinya, Horney mulai memberikan perhatian pada lebih pada konflik-konflik dalam diri yang dialami, baik oleh individu-individu normal maupun oleh individu-individu neurotik.

Terdapat dua konflik intrapsikis paling paling penting, yaitu gambaran diri ideal dan kebencian diri. Secara singkat, gambaran diri ideal merupakan usaha untuk mengatasi konflik dengan membuat gambaran diri sendiri yang seperti dewa. Kebencian diri merupakan kecendrungan yang saling berhubungan, tetapi juga tidak masuk akal dan kuat untuk menganggap rendah dirinya yang sebenarnya.

Gambaran Diri Ideal

Horney percaya bahwa makhluk hidup, jika diberikan sebuah lingkungan dengan kedisiplinan dan kehangatan, akan mengembangkan perasaan aman dan percaya diri serta kecendrungan untuk memiliki pemahaman diri. Sayangnya, pengaruh-pengaruh negatif awal sering kali, menghambat kecendrungan alami seseorang untuk memperoleh pemahaman diri. Selain itu, juga terdapat perasaan terpisah dari diri mereka yang semakin berkembang. Oleh karena merasa terpisah dari diri mereka sendiri, maka seseorang merasa harus mendapatkan kepekaan akan identitas yang stabil. Dilema ini dapat diatasi hanya dengan menciptakan sebuah gambaran diri ideal.

Horney (1950) mengungkapkan tiga aspek dari gambaran ideal, yaitu.

  1. Pencarian Neurotik akan Kemuliaan

Pencarian neurotik akan kemuliaan mencangkup empat elemen.

  1. Pengidealan diri. Setelah orang mulai meyakini diri ideal mereka adalah sesuatu yang nyata, mereka mulai menjadikan diri ideal mereka bagian dari seluruh aspek kehidupan mereka.
  2. Kebutuhan akan kesempurnaan. Elemen ini mengacu pada dorongan untuk mengubah keseluruhan kepribadian menjadi seperti diri ideal. Orang-orang neurotik tidak puas hanya dengan melakukan sedikit perubahan; mereka hanya menerima kesempurnaan total.
  3. Ambisi neurotik. Elemen ini marupakan dorongan terus menerus untuk meraih keunggulan. Walaupun orang-orang neurotik mempunyai keinginan untuk bisa melakukan apapun dengan sangat baik, namun mereka menyalurkan energi mereka untuk aktivitas yang lebih memungkinkan mereka untuk meraih kesuksesan.
  4. Dorongan untuk mencapai kesuksesan dengan cara menjatuhkan orang lain. Elemen ini merupakan elemen yang paling berbahaya yang tujuan utamanya adalah untuk membuat orang lain malu atau kalah melalui kesuksesannya untuk memperoleh kekuasaan…untuk menimbulkan ketidak bahagiaan pada orang lain—yang lebih sering merupakan tujuan untuk mempermalukan orang lain.

 

  1. Permintaan Neurotik

Aspek kedua dari gambaran diri ideal adalah permintaan neurotik. Dalam pencarian akan kemuliaan, orang-oraang neurotik membangun dunia imajinasi—yaitu sebuah dunia yang bertolak belakang dengan dunia nyata. Oleh karena mempercayai bahwa ada sesuatu yang salah dengan dunia luar, maka mereka menyatakan bahwa mereka spesial dan oleh karena itu berhak mendapat perlakuan yang sesuai dengan pandangan ideal tentang diri mereka. Oleh karena permintaan mereka sangat disesuaikan dengan gambaran diri ideal mereka, maka mereka tidak melihat bahwa permintaan mereka akan perlakuan spesial adalah hal yang belebihan.

 

  1. Kebanggan Neurotik

Aspek ketiga dalam penggambaran diri ideal adalah kebanggaan neurotik, kembagaan yang salah dan didasari bukan pada pandangan realistis dari diri sebenarnya, tetapi pada gambaran yang salah dari diri ideal. Kebanggaan neurotik sama sekali berbeda dengan kebanggan yang sehat atau harga diri realistis. Harga diri realistis timbul berdasarkan atribut-atribut serta pencapaian-pencapaian realistis dan biasanya tidak diekspresikan dengan nyata. Disisi lain kebanggaan neurotik timbu, berdasarkan gambaran diri yang ideal dan biasanya dinyatakan dengan lantang untuk menjaga dan mendukung pandangan yang mulia tentang diri sendiri (Horney, 1950).

 

Kebencian Diri

Orang-orang yang melakukan pencarian neurotik akan kemuliaan tidak akan pernah bahagia dengan diri mereka. Ketika mereka menyadari bahwa diri mereka sebenarnya tidak bisa memenuhi tuntutan yang tak pernah terpuaskan tentang diri ideal mereka, mereka akan mulai membenci dan menganggap rendah diri mereka.

Horney menemukan enam cara utama mengekspresikan kebencian. Tuntutan yang tak henti-henti terhadap diri mereka sendiri. Kebencian dapat menyebabkan tuntutan yang tak henti-henti terhadap diri, yang digambarkan oleh tirani atas apa yang sebaiknya.

  1. Dakwaan terhadap diri yang kejam. Dakwaan terhadap diri muncul dalam berbagai bentuk—dari ekspresi yang tampak mengagumkan dan nyata, seperti merasa bertanggung jawab atas terjadinya bencana alam hingga mempertanyakan secara mendetail tentang manfaat dari motivasi mereka sendiri.
  2. Penghinaan terhadap diri. Penghinaan terhadap diri ini biasanya diekspresikan dengan cara meremehkan, merendahkan, meragukan, mendiskreditkan, dan mengolok-olok diri sendiri.
  3. Frustrasi diri. Frustrasi diri bermula dari kebencian diri dan dibentuk untuk membuat gambaran diri yang mengagumkan menjadi nyata.
  4. Penyiksaan diri atau penganiayaan diri. Penyiksaan diri ini dapat muncul dengan tujuan yang berbeda. Seperti beberapa orang bertujuan menimbulkan beberapa penderitaan untuk diri sendiri, namun ada juga yang bertujuan agar mendapat kepuasaan tersendiri apabila menyiksa diri.
  5. Tindakan dan dorongan menghancurkan diri. Keenam dan bentuk terakhir dari kebencian adalah tindakan dan dorongan untuk menghancurkan diri, yang dapat berupa kehancuran fisik maupun psikologis, disadari maupun tidak disadari, akut maupun kronis, dan yang benar-benar dilakukan maupun yang hanya dibayangkan.

Psikologi Feminim

Bagi Horney, perbedaan psikis antara pria dan wanita bukanlah hasil dari perbedaan anatomi, melainkan hasil dari perbedaan kultur dan harapan sosial terhadap masing-masing dari mereka. Horney (1937) meyakini bahwa kecemasan dasar merupakan penyebab utama dari kebutuhan pria untuk mengalahkan wanita dan dari keinginan wanita untuk mempermalukan pria.

Horney mengakui keberadaan Oedipus complex, ia meyakini bahwa hal ini merupakan akibat dari kondisi-kondisi lingkungan dan bukan akibat dari penyebab biologi. Tetapi, Horney (1967) tidak melihat adanya bukti terjadinya Oedipus complex di seluruh dunia. Ia mengatakan bahwa hal itu hanya ditemukan pada beberapa kasus saja dan merupakan ekspresi neurotik dari kebutuhan akan cinta.

Horney sepaham dengan pemikiran Adler bahwa banyak wanita memiliki masculine protest, yaitu mereka mempunyai kepercayaan tidak masuk akal bahwa pria lebih baik daripada wanita. Pada tahun 1994, Bernard J. Paris mempublikasikan sebuah pidato yang Horney berikan di tahun 1935 pada sebuah klub profesional dan pebisnis wanita di mana ia mengungkapkan ide-idenya tentang psikologi feminim. Horney merasa bahwa “tidak terlalu penting untuk mencari jawaban dari pertanyaan tentang perbedaan dibandingkan dengan memahami dan menganalisis signifikansi nyata dari ketertarikan pada ‘sudut pandang’ feminin” (Horney, 1994, hlm. 233).

 

Psikoterapi

Horney percaya bahwa neurosis muncul dari konflik dasar yang biasanya berawal dari masa kanak-kanak. Seiring dengan orang berusaha untuk mengatasi konflik ini, mereka cenderung mengadopsi satu dari tiga kecenderungan neurotik, yaitu mendekati, melawan atau menjauhi orang lain.

Tujuan umum dari terapi Horney adalah untuk membantu pasien berkembang perlahan menuju realisasi diri. Tujuan spesifik dari terapinya adalah agar pasien menghilangkan gambaran diri ideal mereka, menghentikan pencarian neurotik akan kemuliaan mereka, dan mengubah kebencian diri menjadi penerimaan terhadap diri mereka yang sebenarnya.

Tujuan terapis adalah untuk meyakinkan pasien-pasien bahwa solusi mereka saat ini lebih condong pada mendukung daripada mengurangi inti masalah dari neurosis, yang mana tugas ini membutuhkan banyak waktu dan kerja keras. Walaupun seorang terapis dapat membantu mengarahkan pasien-pasien menuju pengenalan diri, terapis baru benar-benar berhasil jika dibangun dari analisis diri (Horney, 1942, 1950). Pasien-pasien harus memahami perbedaan antara gambaran diri ideal mereka dan diri mereka sebenarnya.

Teori Horney menggunakan banyak teknik yang sama yang juga digunakan oleh terapis-terapis yang berdasarkan teori Freud, terutama dalam hal interpretasi mimpi dan asosiasi bebas. Horney menganggap mimpi sebagai usaha untuk mengatasi konflik-konflik, tetapi solusi yang diperoleh dapat berupa solusi neurotik maupun solusi yang sehat. Pada teknik kedua, yaitu asosiasi bebas, pasien-pasien diminta untuk mengatakan segala hal yang muncul di pikiran mereka betapapun sepelenya atau memalukannya hal-hal tersebut. (Horney, 1987). Mereka juga diminta untuk mengekspresikan perasaan apapun yang muncul dari asosiasi tersebut. Asosiasi bebas akan dapat mengungkapkan gambaran diri ideal pasien-pasien secara bertahap membangun rasa percaya diri dalam kemampuan mereka untuk bertanggung jawab atas perkembangan psikologis mereka.

 

Penelitian Terkait

Teori psikoanalisis sosial dari Horney tidak secara langsung menginspirasi sejumlah besar penelitian di psikologi kepribadian modern. Akan tetapi, pemikirannya tentang kecenderungan neurotik cukup relevan dengan banyak penelitian tentang neurotisme yang dilakukan masa kini.

 

Dorongan Neurotik untuk Menghindari Hal-hal Negatif

Dalam pandangan Horney (1942), orang-orang neurotik terus-menerus melindungin diri mereka dari kecemasan dasar dan strategi pertahanan diri ini memerangkap mereka dalam sebuah siklus negatif.

 

Mungkinkah Neurotisme Merupakan Hal yang Baik?

Michael Robinson dan rekan membuat sebuah penelitian untuk mencari tahu hubungan antara neurotisme, pengenalan ancaman, dan mood. Mereka membuat sebuah hipotesis yang berbunyi bahwa sensitivitas neurotik terhadap ancaman akan bisa bermanfaat karena orang-orang semacam ini dapat mengenali masalah kemudian mungkin akan menjauhi masalah tersebut, dan kesuksesan dalam menjauhi masalah itu akan membuat mereka merasa lebih baik. Robinson dan rekan menemukan bahwa ternyata ada cara untuk menjadi “orang neurotik yang sukses.” Secara spesifik, mereka menemukan bahwa bagi mereka yang mempunyai kecenderungan menjadi neurotik, kemampuan mereka untuk bereaksi secara adaptif terhadap kesalahan (yaitu untuk memperlambat respons dan berpikir lebih hati-hati) sambil menilai ancaman berhubungan dengan bahwa mereka mengalami lebih sedikit mood negatif dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sangat penting untuk menyadari bahwa walaupun banyak penelitian yang menunjukkan sisi buruk dari neurotisme, tidak semua aspek dari hal tersebut merupakan seseuatu yang buruk. Banyak orang-orang neurotik yang berkemampuan baik dalam menghindari hasil-hasil negatif sehingga membuat hari-hari mereka terasa lebih baik.

Post Author: ilmpiwil3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *